Chapter 13 of 26

Chapter 13: PINTU KEDUA

885 words

BAB 13 — PINTU KEDUA Dingin menggigit pipi Celestia ketika gelombang kejut menerjang ruang bawah tanah yang lembap. Logam mengerang di bawah tekanan atmosfer yang tiba-tiba berubah. Suaranya seperti binatang sekarat. Di seberang ruangan, Commander Kael berdiri membeku selama beberapa detik. Tubuhnya kaku. Kedua tangannya mencengkeram perangkat asing itu dengan kekuatan hingga buku-buku jarinya memutih. Cahaya biru—dingin dan menyilaukan—berdenyut dari perangkat tersebut. Di belakangnya, makhluk Penumbra bergerak. Bentuknya seperti mimpi buruk yang hidup. Tubuhnya terdiri dari kehampaan yang terus berubah, dengan cakar tajam dan sulur-sulur panjang yang bergerak menuju inti energi raksasa milik Project Chimera. Celestia membeku. Matanya terpaku pada makhluk itu. Kemudian pada Kael. "Ritual selesai." Suara Kael memecah udara steril di ruangan itu. Namun kali ini suaranya berbeda. Tidak ada keraguan. Tidak ada ketakutan. Matanya, yang sebelumnya dipenuhi kesedihan, kini menyala dengan cahaya yang hampir tidak manusiawi. Cahaya ekstatis. Celestia mengangkat senjatanya. "Kael..." Kael menatapnya. "Sudah terlambat." "Belum." Celestia merasakan Sapphire berdenyut di dadanya. Dum. Dum. Dum. Cahaya biru mulai merembes melalui kulitnya. Kael memperhatikan perubahan itu. "Kau akhirnya mengerti." "Aku tidak mengerti apa pun." "Justru sebaliknya." Kael mengangkat perangkat di tangannya. "Selama ini kau mengira Penumbra adalah musuh." Celestia menatap makhluk di belakangnya. "Bukankah begitu?" Kael menggeleng. "Penumbra adalah pintu." "Dan apa yang ada di baliknya?" Kael tersenyum tipis. "Jawaban." Seketika makhluk Penumbra mengeluarkan suara yang membuat seluruh ruangan bergetar. Bukan jeritan. Bukan raungan. Melainkan ribuan suara manusia yang berbicara bersamaan. Celestia menutup telinganya. Namun suara itu tidak berasal dari luar. Suara itu muncul di dalam kepalanya. Kak... Celestia membeku. Alana. "Alana?" Kael menoleh. "Kau mendengarnya?" Celestia tidak menjawab. Suara Alana kembali terdengar. Kak, jangan percaya dia. Celestia menatap Kael. "Dia ada di dalam sana." Kael menggeleng. "Yang kau dengar bukan Alana." "Kau tidak tahu." "Aku tahu." Kael menatap makhluk Penumbra. "Karena aku yang membawanya ke sana." Celestia terdiam. "Apa?" Kael menggenggam perangkat itu semakin kuat. "Lima tahun lalu, Alana tidak sengaja masuk ke dalam rift." Celestia mengepalkan tangan. "Kau bilang kau mencoba menyelamatkannya." "Aku memang mencoba." "Berbohong!" Energi Celestia meledak. Gelombang cahaya biru menghantam lantai. Retakan menyebar. Kael mundur. Namun ia tidak menyerang. "Celestia, dengarkan aku." "Aku sudah terlalu lama mendengarkan kebohongan!" Cahaya di sekitar Celestia semakin terang. "Aku kehilangan keluargaku." "Alana direnggut dariku." "Dan selama lima tahun kalian menggunakan tubuhnya untuk eksperimen!" Kael menundukkan kepala. "Aku tahu." Celestia terdiam. Jawaban itu justru membuat amarahnya semakin besar. "Kalau begitu hentikan semuanya." Kael menatapnya. "Aku tidak bisa." "Kenapa?" "Karena Project Chimera sudah mencapai titik tanpa kembali." Di belakangnya, inti energi raksasa mulai berdenyut. Dum. Dum. Dum. Cahaya biru menyebar ke seluruh ruangan. Kemudian berubah menjadi ungu. Celestia menatap inti tersebut. "Berapa lama?" Kael melihat indikator pada perangkatnya. "Tiga menit." Celestia mengangkat senjatanya. "Kalau begitu kita punya tiga menit." Kael menggeleng. "Kau tidak bisa menghentikannya." "Aku tidak bertanya." Celestia berlari. Makhluk Penumbra langsung bergerak. Sulur hitam melesat ke arahnya. Celestia menghindar. Satu sulur menghantam dinding. Ledakan mengguncang ruangan. Kael mengangkat tangannya. "Berhenti!" Makhluk itu membeku. Celestia menatapnya. "Kau bisa mengendalikannya?" "Sebagian." "Kalau begitu gunakan!" Kael mengarahkan perangkat. Cahaya biru menghantam makhluk Penumbra. Tubuh makhluk itu bergetar. Sulur-sulurnya berhenti. Celestia berlari menuju inti energi. Sapphire di dadanya bersinar semakin terang. Ia menempelkan telapak tangan pada permukaan inti. Dunia seketika berubah. Ia melihat masa lalu. Laboratorium. Alana. Kael. Para ilmuwan. Rift. Kemudian sesuatu yang lain. Sebuah sosok berdiri di balik Alana. Tinggi. Tanpa wajah. Tubuhnya terbuat dari kegelapan. Celestia menatapnya. "Apa kau...?" Sosok itu mengangkat tangan. Dan seluruh penglihatan pecah. Celestia tersentak kembali. Ia jatuh berlutut. Kael berlari mendekat. "Apa yang kau lihat?" Celestia menatapnya. "Dia bukan Penumbra." Kael membeku. "Apa?" "Makhluk itu hanya penjaga." Kael menatap inti. Celestia berdiri perlahan. "Ada sesuatu yang lebih besar di baliknya." Alarm berbunyi. TWO MINUTES REMAINING. Kael melihat perangkatnya. "Kita harus pergi." Celestia menggeleng. "Alana masih di sana." "Celestia—" "Aku bisa merasakannya." Sapphire kembali berdenyut. Dum. Dum. Dum. Kemudian suara Alana terdengar. Kali ini lebih jelas. Kak... Air mata mengalir di pipi Celestia. "Aku di sini." Jangan takut. Celestia memejamkan mata. "Aku akan membawamu pulang." Tidak bisa. "Aku tidak peduli." Kak... dengarkan aku. Suara Alana mulai melemah. Pintu kedua... Celestia membuka mata. "Pintu kedua?" Jangan biarkan mereka membukanya. Kemudian suara itu hilang. Celestia menatap Kael. "Apa itu pintu kedua?" Kael tidak menjawab. Celestia langsung mengerti. "Kau tahu." Kael menundukkan kepala. "Ya." "Apa yang ada di baliknya?" Kael mengangkat wajah. "Tempat asal Penumbra." Celestia merasakan darahnya menjadi dingin. "Dan kalau pintu itu terbuka?" Kael menatap inti energi. "Mereka tidak akan datang." Ia berhenti. "Kita yang akan masuk." Alarm kembali berbunyi. ONE MINUTE REMAINING. Celestia menatap inti energi. Kemudian menatap Kael. "Kita hentikan." Kael mengangguk. Mereka bergerak bersamaan. Celestia menyalurkan energi Sapphire ke inti. Kael menggunakan perangkat Penumbra untuk menahan resonansi. Cahaya biru dan ungu bertabrakan. Ruangan bergetar hebat. Makhluk Penumbra menjerit. Retakan dimensional terbuka di udara. Celestia berteriak. "Kael!" "Aku tahu!" "Ini tidak cukup!" Kael melihat indikator. Energi terus meningkat. "Tidak ada pilihan!" Celestia mengerahkan seluruh kekuatannya. Cahaya memenuhi ruangan. Untuk sesaat, ia melihat Alana di dalam rift. Gadis itu berdiri sendirian. Menangis. Namun tersenyum. "Kak..." Celestia mengulurkan tangan. "Alana!" Jari mereka hampir bersentuhan. Kemudian sesuatu menarik Alana kembali ke kegelapan. Celestia berteriak. "ALANA!" Ledakan terjadi. Cahaya putih memenuhi seluruh fasilitas. Dan sebelum semuanya menghilang— sebuah suara terdengar dari balik rift. Bukan suara Alana. Bukan suara Kael. Sesuatu yang jauh lebih tua. "Pintu kedua telah ditemukan." Kemudian— semuanya gelap.

End of Chapter 13

Chapter 13: Chapter 13: PINTU KEDUA - Perjalanan mistis | Novel AI Studio