Chapter 12 of 26
Chapter 12: BISIKAN DARI BALIK KEGELAPAN
897 words
BAB 12 — BISIKAN DARI BALIK KEGELAPAN
Celestia membeku.
Mata Kael masih menatapnya dari balik kaca.
Cahaya biru di dalam matanya berdenyut perlahan.
Namun bukan itu yang membuat Celestia merasa takut.
Melainkan perasaan bahwa ia mengenal cahaya tersebut.
Ia pernah melihatnya.
Pada Alana.
"Kael..."
Suara Celestia hampir tidak terdengar.
Kael tidak bergerak.
Kelima prajurit di sekelilingnya tetap berlutut.
Kemudian Kael mengangkat tangan.
Para prajurit langsung berdiri.
Gerakan mereka serempak.
Seperti satu tubuh.
Kael menatap ruang observasi.
"Keluar."
Celestia menggenggam senjatanya.
Ia tidak menjawab.
Kael mengulangi.
"Celestia."
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
"Keluar."
Celestia akhirnya membuka pintu ruang observasi.
Ia berjalan turun perlahan.
Kelima prajurit mengelilinginya.
Namun Kael memberi isyarat.
Mereka mundur.
Celestia berdiri beberapa meter di depannya.
"Apa hubunganmu dengan Alana?"
Kael diam.
"Jawab."
"Aku tidak membawanya ke sini."
"Aku tidak bertanya itu."
Celestia menatap matanya.
"Kenapa energimu sama dengan energinya?"
Kael memalingkan wajah.
"Karena aku pernah melihatnya."
"Di mana?"
"Di tempat yang sama tempat kau melihatnya."
Celestia terdiam.
"Penumbra."
Kael mengangguk.
"Ya."
Salah satu prajurit bergerak.
Kael langsung mengangkat tangan.
Prajurit itu berhenti.
Celestia memperhatikan.
"Mereka dikendalikan olehmu."
Kael menatap para prajurit.
"Mereka memilih sendiri."
Celestia mengerutkan kening.
"Memilih?"
"Sebagian manusia memilih kekuatan daripada kebebasan."
Kael menatap Celestia.
"Mereka ingin menjadi lebih kuat."
"Dan kau?"
Kael tidak menjawab.
Celestia melangkah mendekat.
"Kau juga memilihnya?"
Untuk beberapa detik Kael hanya diam.
Kemudian ia membuka sarung tangan di tangan kanannya.
Bekas luka geometris terlihat jelas.
Bekas luka yang sama seperti yang Celestia lihat pada perangkat Penumbra.
"Aku tidak punya pilihan."
Celestia menatapnya.
"Semua orang mengatakan itu ketika mereka melakukan sesuatu yang mengerikan."
Kael menatapnya tajam.
"Aku melakukan apa yang diperlukan agar dunia tetap hidup."
"Dengan mengorbankan Alana?"
Kael terdiam.
Celestia menyadari jawabannya.
"Jadi benar."
Kael menunduk.
"Alana bukan korban pertama."
Celestia merasa dadanya sesak.
"Berapa banyak?"
"Puluhan."
"Dan kau membiarkannya?"
"Aku mencoba menghentikan mereka."
Celestia tertawa kecil.
Tawa yang pahit.
"Tapi kau gagal."
Kael tidak membantah.
Tiba-tiba—
lampu laboratorium mati.
Semua menjadi gelap.
Kemudian sebuah suara terdengar.
Bukan dari pengeras suara.
Bukan dari manusia.
Suara itu muncul langsung di dalam pikiran Celestia.
"Kak..."
Celestia membeku.
Alana.
"Alana?"
Kael menatapnya.
"Kau mendengarnya."
Celestia mengangguk.
Suara itu kembali.
"Kak, jangan percaya dia."
Celestia menatap Kael.
Kael menggeleng.
"Jangan dengarkan."
"Dia tahu apa yang terjadi malam itu."
Celestia merasa jantungnya berhenti.
"Malam itu..."
Kael memejamkan mata.
Celestia menatapnya.
"Apa yang terjadi malam Alana menghilang?"
Kael tidak menjawab.
"Kael."
Hening.
Kemudian suara Alana kembali terdengar.
"Dia ada di sana."
Celestia menatap Kael.
"Kau ada di sana."
Kael membuka mata.
"Ya."
Celestia merasa tubuhnya bergetar.
"Lalu kenapa kau tidak menyelamatkannya?"
Kael menarik napas.
"Karena aku terlambat."
"Berbohong."
"Aku tidak berbohong."
"Kalau begitu ceritakan semuanya."
Kael menatap lantai.
Kemudian ia mulai berbicara.
"Lima tahun lalu, Project Chimera mengalami kegagalan."
Celestia diam.
"Rift terbuka lebih besar dari perkiraan."
"Alana berada di dalam fasilitas."
"Ya."
"Dan kau?"
"Aku diperintahkan untuk mengamankan inti energi."
Celestia menatapnya.
"Jadi kau memilih inti daripada Alana."
Kael menggeleng.
"Tidak."
Ia menatap Celestia.
"Aku memilih keduanya."
Celestia terdiam.
"Bagaimana?"
"Aku mencoba masuk ke ruang eksperimen."
Kael mengepalkan tangannya.
"Namun Penumbra sudah mengambil alih."
Ia berhenti.
"Alana berdiri di tengah rift."
Celestia menahan napas.
"Dia menatapku."
Kael memejamkan mata.
"Dia memintaku untuk pergi."
Celestia berbisik.
"Kenapa?"
"Karena dia tahu rift itu akan runtuh."
Hening.
"Dan sebelum semuanya hancur..."
Kael menatap Celestia.
"Alana memberiku sesuatu."
"Apa?"
Kael mengeluarkan sebuah pecahan kristal biru.
Celestia langsung mengenalinya.
Sapphire.
Pecahan kecil dari energi yang sama.
"Dia bilang..."
Kael menatap kristal itu.
"...'jaga kakakku'."
Celestia tidak mampu berkata apa-apa.
Air mata mengalir di wajahnya.
Alana memikirkan dirinya.
Bahkan pada saat terakhir.
Kael melanjutkan.
"Aku berusaha menepati janjinya."
Celestia menatapnya.
"Kalau begitu kenapa kau bekerja dengan mereka?"
Kael diam.
Kemudian ia berkata.
"Karena mereka satu-satunya orang yang memiliki cara untuk membuka kembali rift."
Celestia membeku.
"Mereka bisa membawa Alana kembali."
"Ya."
"Dan apa yang mereka minta?"
Kael menatapnya.
"Mereka meminta sesuatu sebagai gantinya."
Celestia tahu jawabannya sebelum Kael mengatakannya.
"Sapphire."
Kael mengangguk.
"Mereka membutuhkan energi Sapphire untuk membuka gerbang permanen."
Celestia menggenggam kalungnya.
"Jadi selama ini..."
Kael menatapnya.
"Mereka menginginkanmu."
Suara Alana terdengar lagi.
Kali ini sangat pelan.
**"Kak..."
Celestia memejamkan mata.
"Jangan berikan Sapphire."
Kemudian suara itu menghilang.
Celestia membuka mata.
Kael masih berdiri di depannya.
"Kau percaya padaku sekarang?"
Celestia menatapnya lama.
"Aku percaya bahwa kau juga korban."
Kael terdiam.
"Tapi aku belum mempercayaimu."
Kael mengangguk.
"Itu cukup."
Tiba-tiba lantai bergetar.
DUM.
DUM.
DUM.
Lampu darurat menyala merah.
Sebuah suara sistem terdengar.
DIMENSIONAL BREACH DETECTED.
Kael langsung menoleh.
"Rift."
Celestia merasakan Sapphire berdenyut keras.
"Di mana?"
Kael menunjuk ke bawah.
"Di bawah fasilitas."
Celestia menatapnya.
"Alana."
Kael mengangguk.
"Kita harus pergi."
Mereka berlari.
Di belakang mereka, para prajurit bergerak mengikuti.
Namun kali ini—
mereka tidak lagi menundukkan kepala kepada Kael.
Mereka menatap ke arah rift.
Seolah-olah mendengar sesuatu.
Sesuatu yang hanya mereka bisa dengar.
Kemudian salah satu prajurit berkata dengan suara yang bukan miliknya.
"Dia sudah bangun."
Celestia berhenti.
Kael membeku.
"Apa?"
Prajurit itu menoleh.
Mata putihnya menyala.
"Penumbra."
Kemudian seluruh tubuhnya pecah menjadi bayangan.
Ledakan energi menghantam ruangan.
Celestia mengangkat perisai.
Kael menarik senjatanya.
Dan dari kedalaman fasilitas—
terdengar suara ribuan bisikan.
"Celestia..."
"Celestia..."
"Celestia..."
Suara-suara itu semakin keras.
Semakin dekat.
Kemudian satu suara terdengar paling jelas.
Suara Alana.
"Kak... jangan biarkan mereka membuka pintu."
Celestia menggenggam Sapphire.
Cahaya biru memenuhi tubuhnya.
"Aku tidak akan membiarkannya."
Di hadapan mereka—
sebuah pintu baja mulai terbuka perlahan.
Di baliknya hanya ada kegelapan.
Dan sesuatu sedang menunggu di sana.