BAB 11 — BAYANGAN TUNDUK
Jejak Kegelapan
Beton dingin menggesek buku-buku jari Celestia yang terluka ketika ia menekan punggungnya rapat-rapat ke dinding belakang ruang observasi, berusaha menyatu dengan bayang-bayang.
Bernapas terasa seperti menelan pecahan kaca. Setiap tarikan napas menjadi perjuangan untuk menahan kepanikan yang terus naik dari dalam dadanya.
Setiap tarikan napas yang lambat dan menyakitkan membawa aroma tajam ozon bercampur bau darah lama dan logam dari lantai-lantai bawah fasilitas penelitian. Pahanya terasa terbakar akibat berlari sekuat tenaga melewati koridor-koridor yang runtuh di dalam labirin bawah tanah.
Jantungnya menghantam tulang rusuk seperti hewan yang terperangkap dan mati-matian mencari jalan keluar.
Namun Celestia tidak boleh menyerah sekarang.
Tidak ketika ia sudah begitu dekat dengan kebenaran.
Dengan hati-hati, ia bergerak menuju kaca tebal ruang observasi yang telah dipenuhi goresan.
Dari balik kaca itu, ia dapat melihat laboratorium utama di bawah.
Debu menempel di permukaannya dalam noda-noda berminyak, membiaskan cahaya merah redup dari lampu darurat menjadi pola-pola geometris yang aneh dan membuat pandangannya terdistorsi.
Kemudian terdengar langkah kaki.
Berat.
Serempak.
Bunyinya menggema di ruang kosong dengan dentingan logam yang menggugah rasa tidak nyaman.
Lima orang prajurit memasuki ruangan dalam satu barisan sempurna.
Postur mereka kaku.
Gerakan mereka terasa terlalu teratur.
Terlalu mekanis.
Masing-masing mengenakan zirah taktis berwarna abu-abu arang yang ramping dan tampak menyerap sisa cahaya di ruangan.
Dari kejauhan, mereka terlihat seperti lima kehampaan yang sedang berjalan.
Tidak ada gerakan ragu.
Tidak ada kelelahan.
Tidak ada ketidaksempurnaan manusiawi.
Mereka bergerak dengan kelancaran yang justru terasa mengerikan.
Setiap sepatu menghantam lantai pada waktu yang sama, menciptakan ritme mengerikan yang terdengar seperti satu detak jantung raksasa berdenyut melalui lantai logam.
Melihat mereka terasa seperti menyaksikan sebuah mesin dengan banyak anggota tubuh, bukan sekelompok manusia yang memiliki keluarga, kehidupan, dan masa lalu.
Kepala mereka berputar secara bersamaan.
Senjata mereka terangkat pada sudut yang sama.
Tidak ada satu pun perintah verbal.
Tidak diperlukan.
Di depan pasukan itu berdiri seorang pria yang lebih tinggi daripada yang lainnya.
Bahunya lebar dan posturnya tegak sempurna, memancarkan kewibawaan mutlak yang tidak memberi ruang untuk dibantah.
Kael.
Selama berbulan-bulan, rumor tentang efisiensi brutalnya telah beredar di zona-zona bawah tanah Jakarta.
Ia dikenal sebagai pelindung legendaris bagi mereka yang lemah.
Banyak orang menyebutnya penyelamat.
Perisai yang tidak dapat dihancurkan.
Seseorang yang akan berdiri di antara umat manusia dan Rift yang mengoyak dimensi.
Namun ketika Celestia melihatnya secara langsung, yang ia rasakan bukan rasa aman.
Melainkan ketakutan yang dalam dan naluriah.
Bulu kuduk di lengannya berdiri.
Wajah Kael tampak seperti topeng keteguhan yang dingin dan tanpa emosi.
Rahangnya mengeras dalam garis tegas yang seolah tidak pernah mengenal belas kasihan.
Kenangan masa kecil Celestia di reruntuhan Jakarta kembali muncul.
Dulu, para prajurit berseragam adalah simbol keselamatan.
Mereka adalah pria dan wanita pemberani yang menarik para penyintas keluar dari reruntuhan yang terbakar setelah kemunculan Rift dimensional pertama.
Namun sekarang, ilusi itu telah hancur sepenuhnya.
Postur kaku para prajurit di bawah sana tidak lagi terlihat seperti disiplin militer.
Mereka lebih menyerupai mayat yang dihidupkan kembali oleh dalang tak kasatmata.
Celestia perlahan memejamkan mata.
Ia menarik kesadarannya ke dalam, mencari sumber kekuatan yang tersimpan jauh di dalam dirinya.
Di balik dadanya, Celestial Energy bergerak perlahan seperti bara api yang tertidur.
Kehangatan tipis menyebar melalui darahnya yang dingin, merambat hingga ke ujung-ujung jarinya.
Ia membuka saluran kekuatan itu.
Energi mentah yang selama ini tertidur perlahan membanjiri inderanya.
Pandangan di balik kelopak matanya berubah.
Ketika Celestia membuka mata kembali, dunia fisik telah berubah.
Laboratorium itu kini tampak seperti jaringan kompleks yang dipenuhi arus energi bercahaya.
Garis-garis emas samar memetakan struktur ruangan, mengungkap aliran tersembunyi dari kehidupan dan materi.
Cahaya keemasan berputar di balik retinanya, menyelimuti laboratorium dingin itu dengan kilauan hangat yang kontras dengan kenyataan gelap di hadapannya.
Inilah kekuatannya.
Sekaligus kutukannya.
Kekuatan yang terbangun pada malam ketika keluarganya mati di dalam kobaran api.
Kekuatan itu memungkinkan Celestia melihat apa yang tidak mampu dilihat manusia biasa.
Benang-benang tak kasatmata yang menghubungkan takdir.
Aliran energi mentah.
Dan bayangan mengerikan dari kemungkinan masa depan.
Namun ketika ia memandang para prajurit itu, cahaya keemasan dalam penglihatannya mulai tertutup kabut ungu yang tebal dan menyesakkan.
Sulur-sulur energi negatif yang gelap dan berminyak melilit tubuh para prajurit seperti ular tipis yang terus menggeliat.
Benang-benang itu tidak mencekik mereka.
Tidak pula membatasi gerakan mereka.
Sebaliknya, benang tersebut seolah mengarahkan setiap gerakan mereka, terhubung langsung dengan sistem saraf.
Mereka sedang dikendalikan oleh kekuatan dari luar.
Tubuh mereka hanyalah wadah bagi kesadaran gelap yang bersifat parasit.
Atau mungkin...
Mereka sendiri yang dengan sukarela menyambungkan tubuh mereka ke jaringan itu.
Menukar kemanusiaan mereka dengan kekuatan gelap.
Kael berhenti di tengah sebuah platform bundar yang luas.
Kelima prajurit langsung menyebar, membentuk perimeter pertahanan di sekelilingnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kael melepaskan sebuah koper berat yang diperkuat dari sabuk taktisnya, lalu meletakkannya di atas meja logam.
Klik.
Kunci pertama terbuka.
Klik.
Kunci kedua menyusul.
Satu demi satu mekanisme pengaman terlepas, disertai desisan udara bertekanan.
Di dalam koper itu terdapat sebuah perangkat yang seketika membuat perut Celestia terasa mual.
Sebuah bola obsidian bergerigi.
Permukaannya dibungkus urat-urat perak yang berdenyut, menyerupai jaringan hidup alih-alih logam.
Urat-urat itu berdenyut perlahan, mengalirkan cairan berwarna ungu kehitaman melalui inti perangkat dengan ritme yang mengerikan.
Celestia mengenalinya.
Teknologi Penumbra.
Kekuatan korupsi yang sama yang telah merobek langit dan membawa monster-monster ke Bumi 12.
Namun Kael tidak menunjukkan ketakutan sedikit pun.
Ia tidak ragu.
Ia hanya menatap perangkat asing itu dengan ketenangan yang membuat Celestia semakin takut.
Kemudian ia mengangkat tangan kosongnya.
Telapak tangannya dipenuhi bekas luka geometris aneh yang memancarkan cahaya samar.
Dengan gerakan lembut—hampir seperti seseorang menyentuh sesuatu yang ia cintai—Kael menempelkan telapak tangannya yang penuh bekas luka ke permukaan bola obsidian.
Seketika—
dengungan bernada tinggi mengguncang lantai.
Kaca ruang observasi bergetar.
Celestia langsung menutup kedua tangannya di depan mulut.
Matanya melebar ketika dengungan itu semakin keras.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Kemudian energi Penumbra mulai mengalir melalui tubuh Kael.
Cahaya biru muncul di matanya.
Celestia membeku.
Cahaya itu sama seperti yang pernah ia lihat pada wujud spektral Alana.
Di bawah sana, Kael mengangkat kepalanya.
Kelima prajurit tetap berdiri dalam diam.
Kemudian sesuatu bergerak di sekitar mereka.
Bayangan.
Tipis.
Hitam.
Mereka merayap di lantai seperti tinta hidup.
Celestia menahan napas.
Bayangan itu menyentuh kaki para prajurit.
Dan para prajurit tidak melawan.
Justru—
mereka menundukkan tubuh mereka.
Mereka merangkak maju dengan kedua tangan dan lutut, lalu menempelkan kepala mereka yang diselimuti asap ke sepatu Kael.
Kepatuhan mutlak.
Tidak ada perlawanan.
Tidak ada keganasan.
Mereka menaati perintah Kael tanpa suara seperti anjing-anjing terlatih, bahkan menekan kepala mereka lebih rendah ke lantai yang dingin.
Horror yang dingin dan mutlak meresap jauh ke dalam dada Celestia.
Kini kebenarannya menjadi jelas.
Amarah pahit membakar dadanya.
Namun amarah itu segera ditelan oleh gelombang kesepian yang jauh lebih dingin.
Kepercayaan adalah kemewahan yang tidak lagi mampu ia miliki.
Jika pasukan militer elit Jakarta telah menjual jiwa mereka kepada Penumbra, maka siapa pun bisa menjadi musuh.
Tidak ada lagi pihak yang dapat ia andalkan.
Dalam pertarungan ini, ia benar-benar sendirian.
Hanya satu sosok yang berdiri menghadapi kegelapan yang terus mendekat.
Beban dari penglihatan-penglihatan tentang kiamat kembali menekan pundaknya.
Kali ini terasa lebih berat.
Lebih menyesakkan.
Ia tidak dapat mempercayai siapa pun.
Hanya dirinya sendiri yang mampu memikul beban ini.
Dan hanya dirinya sendiri yang dapat menemukan cara untuk menghentikan kegilaan ini sebelum dunia terbakar.
Celestia mencoba mundur lebih dalam ke bayang-bayang ruang observasi.
Ia melangkah perlahan.
Sangat perlahan.
Namun—
Krek.
Sepotong kecil kaca pecah di bawah sepatu botnya.
Suara itu begitu kecil.
Hampir tidak berarti.
Namun di dalam laboratorium yang sunyi dan mati, bunyinya terdengar seperti letusan senjata.
Kepala Kael langsung terangkat.
Gerakannya terlalu cepat.
Tidak manusiawi.
Tatapannya menembus kegelapan lantai atas.
Celestia membeku.
Napasnya tertahan di tenggorokan.
Kemudian mata mereka bertemu melalui kaca.
Untuk sesaat, Celestia melihat mata Kael dengan jelas.
Mata itu memancarkan cahaya biru dingin.
Cahaya yang sama.
Cahaya yang pernah ia lihat di dalam wujud spektral adiknya, Alana.
Darah Celestia seketika terasa membeku.
Sebuah kesadaran mengerikan muncul di dalam benaknya.
Ada sesuatu yang menghubungkan Kael dengan Alana.