Chapter 3 of 4
sampah adalah harta
1.2k words
Pagi datang bersama rasa pegal di seluruh tubuh.
Alex membuka mata di dalam minimarket yang telah dia jadikan tempat berlindung.
Cahaya matahari masuk melalui celah atap yang runtuh. Debu beterbangan di udara.
Untuk beberapa detik, Alex hanya menatap langit-langit.
Kemudian matanya jatuh pada botol air di sampingnya.
Botol yang kemarin kosong.
Sekarang penuh.
Alex langsung duduk.
"Masih ada."
Dia mengambilnya dan mengguncangnya.
Air bergoyang di dalamnya.
Bukan mimpi.
Senyumnya perlahan muncul.
"Rollback..."
Dia menatap telapak tangannya.
"Selama tiga tahun aku salah memahami kekuatanku."
Kemarin, dia mengira kemampuannya hanya bisa memperbaiki benda.
Sekarang dia tahu kenyataannya berbeda.
Jika sebuah benda dikembalikan ke kondisi sebelumnya, maka sesuatu yang seharusnya ada di dalamnya juga bisa ikut kembali.
Dan jika itu benar...
Alex menelan ludah.
Dunia yang sudah mati ini mungkin masih menyimpan banyak sekali harta.
Dia berdiri.
"Kalau begitu..."
Dia melihat seluruh minimarket.
"...waktunya berburu."
---
Alex menghabiskan pagi itu mengobrak-abrik setiap sudut minimarket.
Tidak ada makanan segar.
Sebagian besar rak sudah kosong.
Namun setelah tahu rahasianya, Alex tidak lagi menganggap barang lama sebagai sampah.
Biskuit yang kedaluwarsa?
Rollback.
Mi instan yang kemasannya kusam?
Rollback.
Kaleng yang berkarat?
Rollback.
Botol kosong?
Rollback.
Bahkan gula yang sudah menggumpal berhasil dikembalikan menjadi seperti baru.
Alex memasukkan semuanya ke dalam tas.
Namun setelah menggunakan kemampuan lebih dari dua puluh kali, kepalanya mulai berdenyut.
Dia terpaksa berhenti.
"Huff..."
Alex duduk di lantai.
Jadi benar.
Rollback menghabiskan energinya.
Dia tidak tahu apakah batas itu akan bertambah seiring waktu, tetapi untuk sekarang dia harus berhati-hati.
Alex melihat hasil buruannya.
Beberapa makanan.
Air.
Baterai.
Korek api.
Tidak banyak.
"Tidak cukup."
Dia menghela napas.
Minimarket itu mungkin cukup untuk bertahan beberapa hari.
Tetapi Alex tidak mau kembali menjadi orang yang hidup dari belas kasihan orang lain.
Dia ingin punya tempat sendiri.
Persediaan sendiri.
Dan kalau memungkinkan...
uang sendiri.
Masalahnya, dia tidak tahu harus mencari ke mana.
Alex membuka peta tua yang ditemukan di laci kasir.
Sebagian besar sudah rusak.
Jakarta yang dia kenal tiga tahun lalu sudah berubah total.
Jalan tertutup reruntuhan.
Beberapa wilayah menjadi sarang zombie.
Wilayah lain dikuasai hewan mutan.
Tetapi satu hal masih bisa dia andalkan.
Tempat-tempat yang dulu ramai kemungkinan besar masih menyimpan barang.
Dan supermarket adalah target terbaik.
"Kalau orang-orang sudah menjarah semuanya..."
Alex menunjuk beberapa area di peta.
"...mereka pasti tidak akan meninggalkan semua toko."
Dia melipat peta.
"Berarti tinggal cari."
---
Hari pertama, Alex berjalan ke arah selatan.
Dia menemukan sebuah minimarket kecil.
Kosong.
Benar-benar kosong.
Bahkan raknya sudah dicopot.
Alex menghela napas.
"Pelakunya rajin."
Hari kedua, dia menemukan toko kelontong.
Masih ada makanan.
Namun semuanya sudah hancur karena bangunan itu kebanjiran.
Alex mencoba Rollback pada beberapa kaleng.
Berhasil.
Tetapi energinya terkuras terlalu banyak.
Dia meninggalkan tempat itu setelah mengambil barang yang menurutnya paling berharga.
Hari ketiga lebih buruk.
Alex hampir mati.
Dia sedang melewati jalan sempit ketika mendengar suara geraman.
Seekor anjing berdiri di ujung jalan.
Atau sesuatu yang dulunya anjing.
Tubuhnya dua kali lebih besar dari anjing biasa.
Bulu di punggungnya rontok.
Tulang rusuknya menonjol.
Dan rahangnya terlalu besar.
Alex membeku.
"Anjing..."
Makhluk itu menggeram.
"...mutan."
Alex perlahan mundur.
Tangannya mencari sesuatu di tas.
Dia menemukan pisau yang sudah dia Rollback.
"Jangan mendekat."
Makhluk itu melangkah maju.
Alex mengangkat pisau.
"Serius."
Satu langkah.
Dua langkah.
"Jangan."
Makhluk itu menerjang.
"WOI!"
Alex berbalik dan berlari.
Dia tidak pernah merasa harga dirinya lebih tidak berguna daripada saat itu.
Anjing mutan mengejarnya.
Alex melompati mobil.
Masuk ke gang.
Naik pagar.
Kemudian tersandung.
"Aduh!"
Cakar makhluk itu hampir mengenai punggungnya.
Alex melempar sebuah kaleng.
Makhluk itu berhenti sesaat.
Alex menggunakan kesempatan itu untuk kabur.
Dia berlari sampai masuk ke sebuah bangunan tua dan mengunci pintunya.
Dari luar terdengar benturan keras.
BRAK!
Alex menahan napas.
Beberapa detik kemudian suara itu menghilang.
Dia terduduk.
"Catatan penting."
Alex mengusap wajah.
"Rollback tidak membuatku kebal."
Dia menatap pisaunya.
"Dan pisau bagus tidak ada gunanya kalau pemiliknya pengecut."
Alex terdiam.
Kemudian mengangguk.
"Besok cari senjata."
---
Hari keempat, Alex mulai lebih berhati-hati.
Dia tidak lagi berjalan di jalan utama.
Dia berpindah dari satu bangunan ke bangunan lain.
Menghindari suara.
Menghindari zombie.
Menghindari monster.
Dan yang paling penting...
menghindari tempat yang terlihat terlalu sepi.
Karena pengalaman Alex mengajarinya bahwa tempat terlalu sepi biasanya berarti sesuatu yang lebih buruk tinggal di sana.
Menjelang sore, dia menemukan sebuah pusat pertokoan tua.
Bangunannya rusak parah.
Sebagian atap runtuh.
Namun papan nama yang hampir tertutup tanaman masih terlihat.
Alex membuka peta.
Kemudian mencocokkannya.
Matanya membesar.
"Ini..."
Dulu tempat ini adalah salah satu pusat perbelanjaan besar di daerah tersebut.
Di dalamnya terdapat supermarket besar.
Alex menelan ludah.
"Kalau benar..."
Dia langsung bergerak.
Namun perjalanan menuju gedung itu tidak mudah.
Jalan masuk tertutup mobil-mobil yang bertumpuk.
Alex harus memanjat.
Beberapa kali dia hampir jatuh.
Di sisi lain terdapat sekelompok zombie.
Alex menunggu hampir dua puluh menit sebelum mereka pergi.
Setelah itu dia melewati lorong sempit di antara dua bangunan.
Bau busuk menusuk hidung.
Mayat-mayat lama berserakan.
Alex menutup hidung.
"Semoga mereka sudah kenyang."
Tiba-tiba sebuah tangan keluar dari bawah mobil.
Alex hampir berteriak.
Zombie itu menarik kakinya.
"WOI!"
Alex menendang kepalanya.
Sekali.
Dua kali.
Zombie itu tetap bergerak.
Alex panik.
Dia mengeluarkan pisaunya dan menusukkannya ke kepala zombie.
Makhluk itu akhirnya diam.
Alex terengah-engah.
Dia menatap tubuh tersebut.
"Maaf."
Dia berdiri.
"Lain kali jangan pegang kaki orang."
---
Matahari hampir tenggelam ketika Alex akhirnya mencapai bagian belakang pusat pertokoan.
Dia menemukan pintu masuk kecil yang tertutup besi.
Kuncinya sudah berkarat.
Alex mengaktifkan Rollback.
Krek.
Gembok kembali seperti baru.
Dia tersenyum.
"Terima kasih, dunia."
Dia membuka pintu.
Di baliknya ada lorong gelap.
Alex menyalakan senter.
Debu memenuhi lantai.
Rak-rak toko terlihat di kedua sisi.
Dia berjalan perlahan.
Kemudian menemukan sebuah papan petunjuk.
SUPERMARKET — LANTAI DASAR
Alex berhenti.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Dia mengikuti petunjuk itu.
Tangga menuju lantai dasar penuh reruntuhan.
Alex harus menyingkirkan puing satu per satu.
Tangannya terluka.
Celananya robek.
Namun akhirnya dia sampai.
Di depannya terbentang pintu supermarket yang besar.
Kacanya retak.
Papan namanya hampir jatuh.
Alex mendorong pintu.
Berderit panjang.
Dia masuk.
Gelap.
Sangat gelap.
Namun cahaya senter menyapu rak-rak yang masih berdiri.
Alex perlahan berjalan.
Satu rak.
Dua rak.
Tiga rak.
Dan kemudian dia berhenti.
Di kejauhan terlihat tumpukan kardus.
Botol.
Kaleng.
Tas.
Peralatan rumah tangga.
Beberapa rak bahkan masih penuh.
Alex membuka mulut.
Tidak ada suara keluar.
Kemudian dia tertawa kecil.
"Ketemu."
Dia berjalan mendekat.
Tangannya menyentuh sebuah bungkus makanan yang telah kusam.
Alex mengaktifkan Rollback.
Cahaya keemasan muncul.
Kemasan itu berubah.
Warna kembali cerah.
Aroma makanan menyeruak.
Alex menatapnya.
Kemudian melihat seluruh supermarket.
Matanya perlahan berbinar.
"Berarti..."
Dia melihat satu rak penuh makanan.
"...semua ini..."
Dia menoleh ke rak berikutnya.
"...bisa dipulihkan."
Senyum Alex semakin lebar.
"Tiga tahun ditinggalkan..."
Dia merentangkan kedua tangan.
"...dan sekarang semuanya jadi milikku."
Alex berjalan menuju rak pertama.
Dia mengeluarkan ransel.
Kemudian mulai bekerja.
"Baik."
Dia menarik napas.
"Mulai hari ini..."
Rollback.
Sebuah kaleng kembali sempurna.
Rollback.
Sebuah botol kosong kembali penuh.
Rollback.
Biskuit kedaluwarsa kembali segar.
Alex tertawa.
"...sampah adalah harta."
Namun Alex tidak tahu...
bahwa supermarket itu ternyata tidak benar-benar kosong.
Dari bagian terdalam gedung...
terdengar suara sesuatu bergerak.
Krek...
Alex berhenti.
Senyumnya menghilang.
Dia menoleh ke arah lorong gelap.
Suara itu terdengar lagi.
Krek... krek...
Alex menggenggam pisaunya.
"Jangan bilang..."
Dua mata kuning perlahan terbuka di antara rak-rak.
Alex menelan ludah.
"...ada yang sudah punya supermarket ini lebih dulu?"