Chapter 4 of 4

Kristal di Dalam Zombie

1.2k words

Suara itu masih terdengar. Krek... Alex berdiri membeku di antara rak-rak supermarket. Tangannya menggenggam pisau. Senter di tangan kirinya bergerak perlahan, menyapu lorong gelap di depan. Tidak ada apa-apa. Hanya rak makanan. Kardus. Dan bayangan panjang yang bergerak mengikuti cahaya senter. Krek... krek... Alex menelan ludah. "Hei." Tidak ada jawaban. "Kalau kau manusia, kita bisa bicara baik-baik." Hening. "Kalau kau zombie..." Alex mengangkat pisaunya. "...aku juga sebenarnya tidak mau bertengkar." Tidak ada jawaban. Alex menghela napas lega. "Bagus." Dia melangkah. KREK! Sesuatu bergerak dari kegelapan. Alex tersentak. "Aaaah!" Sebuah sosok menerjang keluar dari balik rak. Alex mundur terburu-buru dan jatuh terduduk. BRAK! Makhluk itu menghantam lantai tepat di depannya. Alex merangkak mundur. "Apa-apaan?!" Makhluk itu berdiri. Tingginya hampir dua meter. Tubuhnya kurus, tetapi otot-ototnya menonjol tidak wajar. Kulitnya pucat keabu-abuan. Namun yang paling mengerikan adalah kepalanya. Tidak ada mata. Tidak ada hidung yang jelas. Bagian wajahnya tertutup jaringan daging yang mengeras. Mulutnya terbuka lebar. Krak... Alex menatapnya. "Kenapa kepalamu seperti jamur?" Zombie itu tiba-tiba menoleh ke arahnya. Alex membeku. "Sebentar." Dia baru menyadari sesuatu. Zombie itu tidak memiliki mata. Tetapi... dia tahu persis di mana Alex berada. Zombie itu menerjang. Alex berguling. BRAK! Rak di belakangnya hancur. "WOI!" Alex berlari. Zombie itu mengejarnya. Langkahnya berat. Namun setiap kali Alex membuat suara sedikit saja, kepala zombie langsung berbalik. Alex bersembunyi di balik rak. Dia menahan napas. Zombie berhenti. Diam. Alex mengintip. Makhluk itu berdiri beberapa meter darinya. Tidak bergerak. Alex perlahan mengeluarkan napas. "Dia tidak bisa melihat..." Sebuah pikiran muncul. "...tapi bisa mendengar." Alex tersenyum. "Kalau begitu..." Dia mengambil sebuah kaleng dari lantai. Melemparkannya ke arah berlawanan. TING! Zombie langsung menerjang ke sumber suara. Alex melongo. "Berhasil." Dia hendak berlari. Namun kakinya menginjak sebuah botol plastik. KRESEK! Zombie langsung berbalik. "Ah." Alex memucat. "Kesalahan kecil." Zombie menerjang lagi. Alex berlari sekuat tenaga. Dia melewati tiga lorong. Belok kiri. Kemudian kanan. Zombie terus mengejar. Alex melihat sebuah tangga kecil. Dia menaikinya. Zombie mengikuti. "Jangan!" Alex berlari lebih cepat. Kemudian melihat sesuatu di atas. Sebuah papan reklame tua tergantung dengan kabel yang hampir putus. Alex berhenti. Matanya berbinar. "Kalau ini berhasil..." Dia mengambil sepotong besi dan memukul kabelnya. TING! Zombie langsung berlari ke arahnya. "Sedikit lagi!" TING! Makhluk itu semakin dekat. Alex memukul kabel terakhir. PRAK! Papan reklame jatuh. BRAAAK! Zombie tertimpa. Alex terdiam. Debu memenuhi udara. Dia menunggu. Tidak bergerak. "Menang?" Sebuah tangan keluar dari bawah papan. Alex menjerit. "BELUM?!" Dia berbalik dan berlari. Namun kali ini dia tidak berlari menjauh. Dia berlari menuju rak besi yang tinggi. Kemudian menarik salah satu penyangganya. GRAK! Rak miring. Zombie menerjang. Alex menarik napas. "Maaf." Dia menendang rak. BRUUUK! Seluruh rak roboh. Zombie tertimpa bersama kardus dan barang-barang. Kali ini tidak bergerak. Alex berdiri beberapa meter jauhnya. Menunggu. Lima detik. Sepuluh detik. Tidak ada gerakan. Alex mendekat perlahan. Menusukkan pisaunya. Tidak ada reaksi. Dia menghela napas panjang. "Astaga." Alex duduk di lantai. "Aku hampir mati gara-gara zombie yang bahkan tidak punya mata." Dia tertawa gugup. Kemudian memandangi mayat tersebut. Baru sekarang dia melihat sesuatu yang aneh. Di bagian dada zombie terdapat sebuah cahaya kecil. Alex mendekat. Di antara daging yang menghitam, ada sebuah kristal kecil. Ukurannya hanya sebesar kuku. Kristal itu memancarkan cahaya merah samar. Alex mengambilnya. Begitu jarinya menyentuh kristal... Cahaya itu menghilang. Alex terkejut. Kristal tersebut berubah menjadi debu. Sementara cahaya hangat mengalir ke tangannya. Sensasi itu berbeda dari Rollback. Energi masuk ke tubuhnya. Tidak banyak. Namun jelas terasa. Alex menatap tangannya. "Barusan..." Dia mengepalkan tangan. Tubuhnya terasa sedikit lebih ringan. Kepalanya lebih jernih. Dia mencoba menggunakan Rollback pada sebuah kaleng. Cahaya muncul lebih cepat dari sebelumnya. Alex membelalakkan mata. "Jadi kristal itu..." Dia kembali melihat mayat zombie. "...bisa meningkatkan kemampuan?" Alex terdiam. Kemudian tertawa. "Kenapa tidak ada yang memberitahuku?" Dia berpikir sebentar. Kemudian menggeleng. "Ah." "Karena aku dibuang." Alex tersenyum miris. Namun dia tahu sesuatu sekarang. Kristal seperti ini tidak muncul pada zombie biasa. Dia pernah membunuh zombie. Tidak pernah melihat kristal. Tetapi monster ini berbeda. Tubuhnya bermutasi. Tidak memiliki mata. Pendengarannya sangat sensitif. Dan memiliki kristal di dalam tubuh. Zombie mutan. Alex mengusap dagunya. "Berarti..." Zombie mutan adalah sumber kristal. Dan kristal dapat memperkuat Awakened. Alex menatap lorong gelap supermarket. Kemudian wajahnya berubah serius. "Kalau begitu..." Dia mengangkat satu jari. "...kristal ini pasti berharga." Senyum goblin kembali muncul. "Dan aku menemukannya gratis." --- Alex beristirahat hampir satu jam. Dia makan biskuit yang sudah di-Rollback dan minum air dari botol yang dia pulihkan. Setelah tubuhnya terasa lebih baik, dia kembali menjelajah. Namun kali ini dia lebih berhati-hati. Supermarket bagian dalam memang menyimpan banyak makanan, tetapi dia tidak ingin mati hanya karena terlalu rakus. Dia mengambil beberapa makanan ringan, air, obat-obatan dasar, dan memasukkannya ke dalam carrier yang baru saja dia pulihkan. Setelah itu dia menemukan pintu menuju bagian outdoor. Di sana terdapat toko perlengkapan rumah dan kebutuhan perjalanan. Alex langsung tertarik. "Senjata." Dia menemukan sebuah kapak kecil. Kondisinya buruk. Gagang kayunya retak. Alex mengaktifkan Rollback. Cahaya keemasan. Kapak itu kembali seperti baru. Alex mengayunkannya. "Wah." Dia tersenyum. "Ini lebih meyakinkan daripada pisau." Dia mengambil satu bilah cadangan, beberapa jaket tebal, carrier besar, sarung tangan, sepatu, tali, dan perlengkapan bertahan hidup lainnya. Setiap barang rusak dia pulihkan. Setiap barang yang masih bagus dia masukkan ke dalam tas. Alex semakin terlihat seperti orang yang sedang pindahan rumah daripada penyintas kiamat. "Kalau aku terus begini..." Dia mengangkat carrier besar. "...aku benar-benar butuh kendaraan." Dia berjalan keluar. Udara sore menyambutnya. Di bagian outdoor terdapat halaman parkir luas yang sudah dipenuhi rumput liar. Alex menyusuri area tersebut. Kemudian melihat sesuatu di balik sebuah kendaraan tua. Tulang. Alex berhenti. Di sana terdapat sebuah tengkorak manusia. Sisa seragam masih melekat pada tulang-belulangnya. Lambang kepolisian terlihat samar. Alex berjongkok. "Polisi..." Di dekat mayat itu terdapat sebuah pistol. Alex mengambilnya. Berat. Berkarat. Bagian larasnya rusak. Alex memeriksanya. "Kalau ini bisa dipulihkan..." Matanya berbinar. Senjata api. Itu jauh lebih berharga daripada kapak. Alex meletakkan pistol di telapak tangannya. "Rollback." Tidak terjadi apa-apa. Alex mengerutkan kening. Dia mencoba lagi. "Rollback." Kepalanya tiba-tiba terasa seperti dipukul palu. DUK! Alex langsung memegang kepalanya. "AAARGH!" Dia jatuh berlutut. Pistol terlepas dari tangannya. Napasnya memburu. Penglihatannya berkunang-kunang. "Kenapa..." Dia menatap pistol tersebut. Dia mencoba mengaktifkan kemampuan sekali lagi. Baru sesaat. Sakit kepala langsung menusuk. Alex menghentikannya. "Barang ini..." Dia mengusap pelipis. "...terlalu berat." Bukan berat secara fisik. Rollback membutuhkan energi yang jauh lebih besar untuk mengembalikan benda sekompleks pistol. Alex menatap kristal yang tadi dia dapatkan. Kemudian pistol. Dia mencoba lagi. Kali ini cahaya Rollback muncul sedikit lebih lama. Tetapi tetap gagal. Sakit kepalanya kembali datang. Alex terpaksa berhenti. "Belum cukup." Dia berpikir. Satu kristal telah membuat kemampuan Rollback sedikit lebih kuat. Tetapi ternyata belum cukup untuk memperbaiki pistol. Alex mengepalkan tangan. "Kalau satu tidak cukup..." Dia menatap kristal yang sudah menyatu dengan tubuhnya. "...berapa?" Dia mencoba memperkirakan. "Empat?" Alex mengangguk. "Setidaknya empat kristal lagi." Berarti total lima kristal. Lima zombie mutan. Alex memandang bangunan supermarket yang gelap. Untuk beberapa detik, dia merasa ngeri. Kemudian matanya kembali berbinar. "Jadi..." Dia mengangkat kapak. "...aku harus berburu." Senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum seorang pahlawan. Bukan pula senyum seorang pemburu monster. Melainkan senyum seseorang yang baru menemukan cara mendapatkan kekuatan... dan sudah mulai menghitung keuntungan di kepalanya. Alex memasukkan pistol rusak itu ke dalam carrier. "Kalau berhasil diperbaiki..." Dia tersenyum. "...berapa harga pistol di dunia kiamat?" Namun sebelum dia sempat melangkah lebih jauh... dari dalam gedung terdengar suara. Krak. Alex berhenti. Kemudian suara kedua. Krak... Alex perlahan mengangkat kapaknya. Wajahnya berubah serius. Dia baru saja mengira zombie tadi adalah satu-satunya mutan di supermarket. Ternyata... mungkin bukan.

End of Chapter 4