Chapter 2 of 4

yang dibuang

1.4k words

Alex berlari sampai paru-parunya terasa terbakar. Suara raungan dari belakang semakin jauh. Untungnya. Dia berhenti di balik sebuah bus yang terguling, lalu membungkuk sambil memegangi lutut. "Hah... hah..." Dia menoleh ke belakang. Tidak ada apa-apa. Kabut kembali menelan jalanan. Alex mengusap keringat di dahinya. "Masih hidup." Dia menarik napas panjang. "Bagus." Kemudian dia menatap batang besi bengkok yang masih digenggamnya. "Sayangnya senjataku mati duluan." Dia mengaktifkan Rollback. Cahaya tipis menyelimuti batang besi. Krek. Besi yang bengkok perlahan kembali lurus. Alex tersenyum. "Nah." Dia memutar batang besi itu. "Setidaknya aku punya keahlian." Namun senyum itu tidak bertahan lama. Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki. Bukan monster. Manusia. Alex langsung bersembunyi. Beberapa detik kemudian, lima sosok muncul dari balik kabut. Kelompoknya. Alex keluar dari persembunyian. "Kalian!" Mereka semua berhenti. Pria yang berada paling depan menatapnya dengan wajah kesal. "Alex." "Aku kira kalian sudah kabur." "Kami mencarimu." Alex mengangkat alis. "Serius?" "Iya." "Kenapa?" Tidak ada yang menjawab. Alex memandang wajah mereka satu per satu. Kemudian dia menyadari sesuatu. Mereka tidak terlihat lega karena menemukan dirinya. Mereka terlihat... kesal. "Oh." Alex mengangguk pelan. "Jadi bukan mencariku." Dia menunjuk ke belakang. "Kalian takut aku membawa monster ke tempat persembunyian." Pemimpin kelompok itu tidak menyangkal. "Kau seharusnya tidak lari ke arah yang berbeda." "Aku tidak sengaja." "Kau selalu seperti itu." Alex terkekeh. "Kalau begitu jangan berdiri di sini. Ayo pulang." Tidak ada yang bergerak. Alex berhenti. "Kenapa?" Pemimpin kelompok itu menatapnya lama. "Besok pagi kita pergi." "Bagus." "Kita tidak akan membawamu." Senyum Alex menghilang. Angin melewati reruntuhan. Untuk beberapa detik, hanya suara logam berderit yang terdengar. Alex akhirnya tertawa kecil. "Lucu." Tidak ada yang ikut tertawa. "Aku serius." "Aku juga." Alex menunjuk dirinya sendiri. "Kalian mau meninggalkanku?" "Iya." "Setelah tiga tahun?" "Iya." "Setelah semua yang kulakukan?" Pemimpin kelompok itu menghela napas. "Alex..." "Aku memperbaiki senjata kalian." "Iya." "Aku memperbaiki generator." "Iya." "Aku memperbaiki sepatu, tas, pintu, bahkan kompor sialan yang kalian gunakan setiap hari." "Kami tahu." "Kalau begitu kenapa?" Jawabannya sederhana. "Karena kau tidak bisa bertarung." Alex terdiam. "Kita memasuki wilayah yang semakin berbahaya. Monster di utara jauh lebih kuat. Persediaan kita semakin sedikit. Setiap orang yang kita bawa harus mampu membantu bertahan hidup." Pemimpin itu menatap Alex. "Kau tidak bisa." Alex menggigit bagian dalam pipinya. Dia ingin membantah. Tetapi dia tidak punya alasan. Karena itu benar. Kemampuan Rollback miliknya tidak bisa membunuh zombie. Tidak bisa menghancurkan monster. Tidak bisa membuatnya lebih kuat. Tidak bisa menyembuhkan luka. Yang bisa dia lakukan hanyalah membuat benda rusak kembali seperti baru. Dan di dunia seperti ini... itu tidak cukup. "Aku bisa belajar." Alex akhirnya berkata. "Kau sudah tiga tahun belajar." Jawaban itu menghantam lebih keras daripada yang dia kira. Alex menunduk. "Benar juga." Seorang wanita yang berdiri di belakang pemimpin kelompok akhirnya maju. "Alex..." Dia adalah Mira. Salah satu teman Alex sejak awal kiamat. Dia yang paling sering membelanya. "Kami sebenarnya tidak ingin seperti ini." Alex menatapnya. "Kalau begitu jangan lakukan." Mira terdiam. "Sesederhana itu." "Aku..." "Kalau kalian tidak ingin meninggalkanku, jangan tinggalkan aku." Mira menunduk. Alex tertawa pelan. "Sudahlah." Dia berbalik. "Setidaknya kalian jujur." Dia berjalan beberapa langkah. Kemudian berhenti. "Oh, satu lagi." Semua orang menatapnya. Alex mengangkat jari. "Sepatu kalian." Mereka bingung. "Kenapa?" "Besok jangan lupa aku sudah memperbaikinya." Alex menunjuk sepatu mereka. "Jadi kalau kalian mati karena sepatu rusak, jangan salahkan aku." Mira hampir tersenyum. Namun Alex sudah berbalik. Dia kembali berjalan. Tidak ada yang memanggilnya. Tidak ada yang mengejarnya. Itulah bagian yang paling menyakitkan. Mereka benar-benar membiarkannya pergi. --- Alex kembali ke tempat persembunyian sebelum matahari terbenam. Dia masuk tanpa bicara. Tasnya sudah dikemasi. Tidak banyak. Satu pisau. Dua botol kosong. Satu selimut. Beberapa pakaian. Dan setengah bungkus biskuit. Alex memandangi isinya. Kemudian menghela napas. "Hebat." Dia memasukkan biskuit ke mulut. Mengunyah pelan. "Kalau begini aku cuma punya waktu tiga hari sebelum mati kelaparan." Dia berpikir. Satu menit. Dua menit. Kemudian matanya berbinar. "Atau..." Dia menatap barang-barang di sekelilingnya. "Kalau aku memperbaiki barang-barang bekas lalu menjualnya?" Alex mulai menghitung. Pisau rusak. Peralatan rumah tangga. Baterai. Sepatu. Pakaian. Kabel. Generator. Dia bahkan bisa memperbaiki kendaraan. "Kalau ada orang yang mau membeli..." Senyumnya semakin lebar. "...aku bisa kaya." Untuk pertama kalinya sejak diusir, Alex merasa sedikit bersemangat. Dia mulai memasukkan beberapa barang bekas ke dalam tas. Satu radio rusak. Dua pisau tumpul. Sebuah jam tangan mati. Kabel tembaga. Baterai kosong. Dan sebuah botol plastik. Alex menatap botol itu. Kemudian memasukkannya ke tas. "Modal usaha." Dia mengangguk puas. Namun saat dia hendak pergi, terdengar suara dari belakang. "Alex." Dia berhenti. Mira berdiri di pintu. Alex menoleh. "Ada apa?" Mira membawa sebuah bungkusan kecil. Dia menyerahkannya. "Ini." Alex menerimanya. Dua bungkus makanan kering. Alex memandang Mira. "Kau mencuri?" "Menabung." "Oh." Alex memasukkan makanan itu ke tas. "Terima kasih." Mira tersenyum tipis. "Maaf." Alex diam. Kemudian berkata, "Jangan minta maaf." "Alex..." "Kalau suatu hari nanti aku jadi kaya..." Dia tersenyum. "...aku tidak akan memberimu diskon." Mira tertawa kecil. "Dasar bodoh." Alex ikut tersenyum. Namun setelah Mira pergi, senyumnya menghilang. Dia tahu. Ini mungkin terakhir kalinya mereka bertemu. --- Pagi berikutnya. Kelompok itu pergi. Alex berdiri jauh dari gerbang. Dia tidak mengucapkan selamat tinggal. Tidak ada gunanya. Dia hanya menonton sampai sosok mereka menghilang di balik reruntuhan. Setelah itu dia mengambil tasnya. "Baiklah." Dia menepuk pipinya sendiri. "Waktunya menjadi pengusaha." Alex berjalan ke arah berlawanan. Sendirian. Tidak ada senjata hebat. Tidak ada kemampuan tempur. Tidak ada kelompok. Tidak ada tempat aman. Hanya dua botol kosong dan beberapa barang rusak di dalam tas. Dia berjalan selama hampir satu jam sebelum menemukan sebuah bangunan kecil yang dulunya minimarket. Pintunya sudah roboh. Rak-rak kosong. Lantai dipenuhi debu. Alex masuk. "Rumah baru." Dia melihat sekeliling. "Gratis pula." Alex tertawa kecil. Dia mulai memeriksa barang-barang yang tersisa. Tidak banyak. Sebuah botol plastik. Kaleng makanan kosong. Baterai. Beberapa bungkus makanan yang sudah kadaluarsa. Sebuah dispenser rusak. Alex mengangkat botol plastik. Botol itu kosong. Kotor. Penyok. Dia menatapnya cukup lama. Kemudian sebuah pikiran muncul. "Kalau aku bisa memperbaiki botol ini..." Dia mengaktifkan Rollback. Cahaya tipis muncul. Penyok menghilang. Kotoran menghilang. Plastik kusam berubah bening. Botol itu menjadi baru. Alex tersenyum puas. "Bagus." Dia membalik botol tersebut. Kosong. "Ya." Alex mengangguk. "Seperti biasa." Dia hendak melemparkannya ke samping ketika terdengar suara aneh. Gluk. Alex berhenti. Dia menatap botol. "......" Gluk. Suara cairan. Mata Alex perlahan melebar. Dia mengguncang botol. Ada sesuatu di dalamnya. Alex buru-buru membuka tutupnya. Air. Bening. Penuh sampai hampir ke leher botol. Alex membeku. Tangannya gemetar. Dia menatap air itu. Kemudian menatap tangannya sendiri. "Mustahil." Dia mengaktifkan Rollback lagi. Tidak terjadi apa-apa. Alex menelan ludah. Dia mencicipinya. Air biasa. Tidak berbau. Tidak keruh. Air minum. Alex perlahan duduk di lantai. Jantungnya berdegup semakin cepat. Selama tiga tahun... dia selalu berpikir kemampuannya hanya mampu memperbaiki benda. Tetapi sekarang... sebuah botol kosong telah kembali. Bukan hanya botolnya. Isinya juga. Alex menatap botol tersebut. Kemudian senyum perlahan muncul di wajahnya. Senyum yang berbeda dari sebelumnya. Bukan senyum orang yang sedang bertahan hidup. Melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan tambang emas. "...Jadi begitu." Dia berdiri. Matanya berbinar. "Kalau botol bisa..." Tatapannya beralih ke kaleng kosong. "...berarti kaleng juga bisa." Lalu ke baterai mati. "Kalau baterai?" Kemudian ke bungkus makanan kedaluwarsa. "Kalau makanan?" Alex mulai tertawa. Pelan. Kemudian semakin keras. "Hahaha..." Dia memegang kepalanya. "Tiga tahun." "TIGA TAHUN aku mengira kemampuanku cuma buat memperbaiki barang!" Dia menatap langit-langit minimarket. "Dan kalian membuangku?" Alex tertawa lagi. "Terima kasih." Dia menyeringai. "Kesalahan terbesar dalam hidup kalian." Di luar bangunan, suara raungan terdengar. Alex berhenti tertawa. Dia mengambil pisau. Menatap jalan yang dipenuhi kabut. Kemudian menatap botol air di tangannya. Senyumnya kembali muncul. "Pertama..." Dia memasukkan botol itu ke tas. "...aku cari makanan." "Kedua..." Dia mengangkat satu jari. "...aku cari tempat aman." Dua jari. "Ketiga..." Senyumnya berubah menjadi seringai. "...aku cari tahu berapa harga semua ini." Alex melangkah keluar dari minimarket. Tiga tahun setelah kiamat, manusia berjuang mendapatkan kekuatan untuk bertahan hidup. Ada yang menjadi petarung. Ada yang menjadi pemburu. Ada yang menjadi penyembuh. Dan sekarang... seorang pria yang baru saja dibuang oleh kelompoknya menemukan bahwa kemampuan yang dianggap sampah mungkin adalah kemampuan paling berharga di dunia yang telah hancur. Alex belum menyadarinya. Namun hari itu adalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Karena Rollback tidak hanya mampu mengembalikan sebuah botol. Ia mampu mengembalikan hampir segala sesuatu... ke kondisi terbaiknya.

End of Chapter 2

Chapter 2: yang dibuang - penguasa logistik | Novel AI Studio