Chapter 1 of 4

kemampuan sampah

1.1k words

Kabut menggantung rendah di antara reruntuhan Jakarta. Tiga tahun. Sudah tiga tahun sejak dunia berakhir. Gedung-gedung pencakar langit yang dulu memenuhi langit kini tinggal kerangka baja dan beton. Jalan raya tertutup kendaraan terbengkalai, sebagian sudah ditumbuhi tanaman liar yang tumbuh terlalu cepat setelah perubahan dunia. Tidak ada lagi suara klakson. Tidak ada lagi kemacetan. Tidak ada lagi orang yang mengeluh karena harga bensin naik. Yang tersisa hanya angin, bau karat, dan sesekali suara raungan dari kejauhan. Alex berjalan di tengah reruntuhan sambil membawa tas punggung yang hampir putus talinya. Perutnya berbunyi. Keras. Dia berhenti. Menatap perutnya. Kemudian menatap langit. "Kalau tubuhku bisa ngomong..." Dia menghela napas. "...pasti dia sudah mengajukan surat pengunduran diri." Tidak ada yang tertawa. Alex menoleh ke belakang. Lima orang berjalan beberapa meter darinya. Tidak ada yang memperhatikan leluconnya. "Yah." Dia mengangkat bahu. "Penonton zaman sekarang tidak menghargai komedi." Pria yang berjalan paling depan menoleh sekilas. "Diam dan terus jalan, Alex." "Siap, Bos." Alex kembali berjalan. Namanya Alex. Usianya dua puluh enam tahun. Dan di dunia yang telah berubah menjadi neraka selama tiga tahun terakhir, dia memiliki sesuatu yang seharusnya membuatnya istimewa. Sebuah kemampuan. Semua orang yang berhasil membangkitkan kekuatan menyebut mereka Awakened. Ada yang bisa memperkuat tubuh. Ada yang mampu mengendalikan api. Ada yang memiliki penglihatan jauh lebih tajam dari manusia biasa. Ada pula yang bisa menyembuhkan luka. Kemampuan mereka menentukan apakah seseorang akan hidup atau mati. Sayangnya... Alex mendapatkan kemampuan yang paling menyedihkan yang pernah dia dengar. Rollback. Kemampuan untuk mengembalikan kondisi benda. Kedengarannya hebat. Masalahnya? Alex sendiri tidak tahu cara menggunakannya dengan benar. Yang bisa dia lakukan hanyalah memperbaiki benda sedikit demi sedikit. Pisau tumpul menjadi agak tajam. Baju robek menjadi sedikit lebih baik. Sepatu rusak bisa diperbaiki. Kaleng penyok bisa kembali berbentuk. Dan makanan busuk... bisa menjadi sedikit kurang busuk. Tidak cukup untuk dimakan. Tidak cukup untuk dijual. Tidak cukup untuk menyelamatkan siapa pun. Di dunia yang dipenuhi zombie dan monster mutan, kemampuan seperti itu nyaris tidak berguna. Alex sudah terbiasa dengan pandangan orang-orang. Tatapan yang mengatakan bahwa dia adalah beban. Suara yang mengatakan bahwa dia seharusnya tidak ikut. Dan yang paling menyakitkan... tatapan teman-temannya sendiri. "Berhenti." Suara pemimpin kelompok membuat Alex mengangkat kepala. Mereka berada di depan sebuah supermarket yang setengah runtuh. Bangunan itu sudah lama dijarah. Rak-raknya kosong. Kaca depannya pecah. Tetapi mereka tetap masuk. Harapan adalah sesuatu yang sulit dibunuh. Mereka menyebar. Alex mengikuti salah satu temannya ke bagian belakang. Beberapa menit kemudian, terdengar teriakan. "ADA MAKANAN!" Semua orang berlari. Alex ikut berlari. Di sebuah gudang kecil, mereka menemukan tiga kotak makanan kaleng yang tertutup debu. Mata semua orang langsung berbinar. "Berapa banyak?" "Setidaknya dua puluh kaleng!" "Syukurlah..." Salah seorang wanita hampir menangis. Alex tersenyum. Untuk pertama kalinya hari itu, suasana terasa sedikit lebih ringan. Kemudian seseorang mengambil salah satu kaleng. "Rusak." Kaleng itu penyok parah. Tutupnya hampir terbuka. "Yang ini juga." "Ini berkarat." "Sebagian besar sudah tidak bisa dimakan." Suasana kembali membeku. Alex menatap kaleng di tangan temannya. Kemudian sebuah ide muncul. "Berikan kepadaku." Semua orang menoleh. Pria di sebelahnya mendengus. "Mau apa?" "Rollback." Alex mengambil kaleng itu. Dia meletakkan telapak tangannya di atas permukaan logam yang dingin. Menarik napas. Kemudian mengaktifkan kemampuannya. Sebuah sensasi aneh menjalar dari telapak tangan ke seluruh tubuh. Kaleng itu bergetar. Karat di permukaannya perlahan menghilang. Penyoknya menghilang. Permukaan logam kembali mengilap. Beberapa orang membelalakkan mata. "Berhasil!" Alex tersenyum bangga. "Nah." Dia mengangkat kaleng itu. "Masih ada gunanya aku dibawa." Namun beberapa detik kemudian seseorang bertanya. "Isinya?" Alex terdiam. Dia membalik kaleng tersebut. Kosong. Tentu saja. Kaleng itu memang kembali seperti baru. Tetapi tidak ada makanan di dalamnya. Alex menatap kaleng tersebut. Kemudian menatap orang-orang di sekelilingnya. "Ah." Dia batuk kecil. "Detail kecil." Seseorang mendengus. "Kita tidak butuh kaleng baru." Alex memasang wajah masam. "Kaleng baru tetap punya nilai." "Nilainya berapa?" Alex terdiam. Dia melihat kaleng itu. Melihat keadaan dunia. Kemudian menjawab dengan jujur. "...kalau zaman normal mungkin tiga ribu rupiah." Tidak ada yang tertawa. Alex memasukkan kaleng itu ke tas. "Ya sudah. Tiga ribu." Mereka melanjutkan pencarian. Hari itu mereka hanya mendapatkan tujuh kaleng makanan. Dua botol air. Dan sekantong beras yang sudah dipenuhi kutu. Alex memperbaiki semuanya. Namun hasilnya sama. Barang-barangnya terlihat baru. Tetapi tidak ada yang bertambah. Malamnya mereka kembali ke tempat persembunyian. Api kecil menyala di tengah ruangan. Semua orang makan dalam diam. Alex duduk di sudut. Dia memegang sebuah kaleng kosong. Menatap permukaannya. "Rollback..." Dia menggumamkan nama kemampuannya. Sudah tiga tahun. Selama tiga tahun dia mencoba memahami kekuatannya. Tetapi hasilnya selalu sama. Mengembalikan benda. Bukan isinya. Memperbaiki wadah. Bukan sesuatu yang ada di dalamnya. "Kalau begini terus..." Alex menggaruk kepala. "...kemampuan ini memang sampah." Dia tertawa kecil. Tidak ada yang menjawab. Beberapa meter darinya, pemimpin kelompok sedang berbicara dengan anggota lain. Alex tidak berniat menguping. Sampai dia mendengar namanya. "Kita tidak bisa terus membawanya." Alex berhenti bergerak. "Alex?" "Iya." "Dia tidak punya kemampuan tempur." "Dan makanannya juga sama seperti kita." "Lebih buruk. Kita harus melindunginya." Alex menundukkan kepala. Tangannya mengepal. Dia sudah menduga. Tetap saja... mendengarnya langsung terasa berbeda. Kemudian suara temannya terdengar. "Dia masih bisa memperbaiki peralatan." "Peralatan tidak membuat kita kenyang." Hening. Alex tersenyum kecil. Pahit. "Begitu rupanya." Dia berdiri. Tidak ada yang memperhatikannya. Alex berjalan keluar dari tempat persembunyian. Duduk di atas beton yang retak. Langit malam Jakarta terlihat gelap. Tidak ada lampu kota. Tidak ada bintang yang terlihat karena kabut. Hanya kegelapan. Alex memeluk lututnya. Dia seharusnya marah. Seharusnya menangis. Namun yang muncul justru satu pikiran sederhana. "Kalau mereka mau membuangku..." Dia menatap tasnya. "...setidaknya aku harus membawa sesuatu." Senyumnya perlahan kembali. Mata Alex menyipit. "Oke." "Kalau aku memang harus hidup sendirian..." Dia berdiri. "Mulai sekarang, semua barang yang kutemukan adalah milikku." Untuk pertama kalinya malam itu, dia terlihat bersemangat. Alex tidak tahu bahwa keputusan kecil tersebut akan mengubah hidupnya. Dia juga tidak tahu bahwa kemampuan yang selama tiga tahun dianggap sampah... sebenarnya bukan kemampuan untuk memperbaiki sesuatu. Melainkan kemampuan untuk mengembalikannya. Dan perbedaannya... adalah dunia. Di kejauhan, terdengar suara raungan. Alex menoleh. Dua mata merah muncul dari balik kabut. Kemudian sepasang mata lainnya. Lalu tiga. Alex menelan ludah. "...Oke." Dia mengangkat sebuah batang besi yang sudah bengkok. "Mungkin aku harus belajar lari dulu sebelum belajar kaya." Raungan itu semakin dekat. Alex berbalik dan berlari. Tanpa mengetahui bahwa malam itu, sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Sesuatu yang akan membuat kemampuan Rollback miliknya akhirnya menunjukkan wajah sebenarnya.

End of Chapter 1

Previous
Next Chapter