Chapter 9 of 70

Bab 9: Nama yang Dihapus dari Sejarah

1.7k words

Pagi menyelimuti Domain Pendragon dengan cahaya keemasan. Burung-burung berkicau di antara pepohonan, sementara para pelayan mulai sibuk di halaman kediaman utama. Dari kejauhan, suara benturan pedang terdengar teratur dari tempat latihan keluarga. Kehidupan berjalan seperti biasa, seolah tidak ada rahasia kuno yang terkubur di balik dinding-dinding batu putih itu. Namun, bagi Ignis Pendragon, pagi ini bukanlah pagi yang biasa. Ada satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya sejak malam sebelumnya. Carilah nama yang telah dihapus dari catatan. Ignis duduk di tepi ranjang, menatap buku catatan kecil di atas meja. Di dalamnya terdapat berbagai pengamatan yang sudah ia kumpulkan sejak kembali ke usia delapan tahun: simbol lingkaran hitam dengan sembilan garis menyerupai tanduk, kata PACTUM, sosok misterius di alam kutukan, serta keberadaan sebuah lampiran yang hilang dari kronik keluarga. Semua petunjuk itu tampaknya mengarah ke masa lalu yang sama. Tetapi ia belum memiliki bukti untuk menghubungkannya. “Kalau aku langsung mengambil kesimpulan, aku hanya akan mengulangi kesalahan yang sama.” Ignis menutup buku catatannya. Di kehidupan pertama, ia terbiasa mengandalkan kekuatan untuk memecahkan masalah. Ketika berhadapan dengan monster, ia bisa mengamati pola serangan, menemukan celah, lalu mengakhirinya dengan sabitnya. Namun, rahasia sejarah tidak bisa ditebas. Ia membutuhkan informasi, kesabaran, dan orang-orang yang dapat dipercaya. Setelah bersiap, Ignis meninggalkan kamarnya dan menuju ruang makan. Mira Valen sudah menunggunya dengan sarapan hangat. “Tuan muda, Anda terlihat kurang tidur lagi.” Ignis menghentikan langkahnya. “Memangnya kelihatan?” “Sedikit.” Mira meletakkan sepiring roti di hadapannya. “Anda masih anak-anak. Kalau terus memaksakan diri, tubuh Anda yang akan menyerah lebih dulu.” Ignis hampir tertawa mendengarnya. Dahulu, ia pernah bertahan melewati malam-malam panjang di wilayah yang bahkan tidak mampu dibayangkan oleh manusia biasa. Ia pernah bertarung sampai darahnya mengering dan tulangnya terasa remuk. Namun, sekarang, ia bahkan tidak bisa berlatih terlalu lama tanpa membuat otot-otot kecilnya kelelahan. Tubuh ini mengingatkannya setiap hari bahwa kesempatan kedua bukan berarti ia bisa mengabaikan batasannya. “Aku akan tidur lebih awal malam ini,” jawabnya. Mira menyipitkan mata, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Kalau begitu, saya akan mengingat janji itu.” “Baiklah.” Ignis melanjutkan sarapannya tanpa berdebat. --- Setelah makan, Ignis kembali mengunjungi arsip keluarga. Caelan Voss sedang duduk di belakang meja, dikelilingi tumpukan dokumen dan buku inventaris. Lelaki itu mengangkat pandangan ketika Ignis masuk. “Tuan muda Pendragon. Apakah ada sesuatu yang ingin Anda cari?” “Aku ingin mengetahui perkembangan pemeriksaan katalog lama.” Caelan meletakkan pena. “Ah, mengenai Kotak E-17. Saya sudah memeriksa sebagian catatan penyimpanan. Kotak itu memang pernah tercatat, tetapi perpindahannya tidak dijelaskan secara lengkap.” “Jadi, kotaknya benar-benar pernah ada?” “Berdasarkan katalog yang tersisa, ya. Namun, saya belum bisa memastikan apakah isinya masih utuh atau bahkan masih berada di dalam wilayah kediaman ini.” Ignis mengangguk pelan. Setidaknya, mereka tidak lagi mengejar sesuatu yang hanya muncul dalam imajinasinya. “Apakah aku boleh membaca catatan pemindahannya?” “Catatan inventaris biasa boleh. Tetapi dokumen yang berkaitan dengan bagian arsip tersegel memerlukan izin kepala keluarga.” Ignis tidak membantah. Memaksa Caelan membuka dokumen terlarang hanya akan membuat pria itu curiga, sementara ia belum memiliki alasan yang cukup kuat untuk menjelaskan permintaannya. Caelan kemudian mengeluarkan sebuah buku inventaris yang sampulnya telah menguning. “Ini catatan pemindahan dari sekitar dua ratus tahun lalu. Saya menemukan beberapa nomor yang tidak berurutan, tetapi hal semacam itu cukup umum dalam dokumen lama.” Ignis menerima buku tersebut. Ia membuka halaman demi halaman dengan hati-hati. Sebagian besar isinya hanya mencatat pemindahan senjata tua, peralatan ritual, buku-buku keluarga, dan dokumen administratif. Beberapa barang telah dipindahkan berkali-kali karena perubahan tata ruang arsip. Lalu, di salah satu halaman, ia menemukan sebuah catatan pendek. Kotak E-17 — Catatan Perjanjian Purba. Di bawahnya terdapat tulisan tambahan. Status penyimpanan belum dikonfirmasi. Ignis menahan napas sejenak. “Caelan, siapa yang menulis catatan ini?” Caelan membungkuk untuk memeriksanya. “Tidak tercantum. Catatan ini disalin dari inventaris sebelumnya, jadi penulis aslinya mungkin sudah tidak diketahui.” “Apakah ada keterangan tentang orang yang memindahkannya?” “Tidak ada nama yang bisa dipastikan. Hanya kode petugas penyimpanan yang sekarang sudah tidak digunakan.” Ignis menatap tulisan itu cukup lama. Ia ingin percaya bahwa semua petunjuk tersebut saling berkaitan. Namun, catatan tentang sebuah perjanjian kuno tidak otomatis membuktikan adanya upaya penghapusan sejarah. Mungkin kotak itu hilang karena kelalaian. Mungkin isinya tidak penting. Atau mungkin seseorang memang sengaja memindahkannya. Untuk saat ini, ketiganya masih mungkin. “Terima kasih. Aku akan mengembalikan buku ini.” Caelan menerima inventaris tersebut, tetapi sebelum Ignis pergi, ia memanggilnya kembali. “Tuan muda, boleh saya bertanya sesuatu?” “Apa?” “Mengapa Anda begitu tertarik pada catatan-catatan lama?” Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi Ignis tahu ia harus berhati-hati. Ia tidak mungkin menjelaskan bahwa dirinya pernah hidup selama tiga puluh lima tahun, menjelajahi The Worldscar, dan mati setelah menemukan kebenaran yang mengguncang sejarah dunia. “Aku hanya ingin tahu mengapa beberapa bagian sejarah keluarga tidak pernah dibicarakan.” Caelan terdiam sejenak. “Itu pertanyaan yang wajar,” katanya akhirnya. “Namun, ingatlah bahwa sesuatu yang tidak tercatat belum tentu sengaja disembunyikan. Terkadang, orang-orang hanya gagal menjaga ingatan mereka.” Ignis mengangguk. “Kalau begitu, aku akan mencari tahu bagian mana yang sekadar terlupakan.” Untuk pertama kalinya, Caelan memandangnya dengan ketertarikan yang sedikit berbeda. Bukan karena Ignis melakukan sesuatu yang luar biasa, melainkan karena anak berusia delapan tahun itu menyampaikan pertanyaan dengan keseriusan yang jarang ditemukan pada anak seusianya. Tetapi Caelan tidak mengajukan pertanyaan lebih jauh. Ignis pun meninggalkan arsip tanpa membawa jawaban baru, hanya satu petunjuk tambahan: jejak pemindahan Kotak E-17 mungkin masih bisa ditemukan jika ia memperoleh izin yang tepat. --- Menjelang sore, Ignis berlatih bersama Garrick Thorne. Pelatih itu tidak memberinya latihan yang lebih berat meskipun Ignis memintanya. “Tidak.” “Kenapa?” “Karena keseimbanganmu masih buruk ketika mengubah arah.” Garrick mengangkat pedang kayunya. “Coba serang aku.” Ignis melangkah maju dan mengayunkan pedangnya. Garrick menangkis dengan mudah, lalu memutar pergelangan tangannya untuk mengalihkan serangan. Ignis kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. “Lagi,” perintah Garrick. Mereka mengulang gerakan itu berkali-kali. Ignis memahami setiap kesalahannya. Ia bahkan tahu bagaimana gerakan tersebut seharusnya dilakukan oleh seorang petarung berpengalaman. Masalahnya, tubuhnya belum mampu mengikuti pemahamannya. Ketika latihan berakhir, kedua lengannya terasa berat. Garrick menyilangkan tangan. “Kau cepat belajar, tetapi jangan salah mengartikan itu sebagai kemampuan untuk melewati dasar-dasar.” “Aku mengerti.” “Bagus. Besok kita ulangi lagi.” Ignis menghela napas kecil. Ia pernah membunuh monster yang mampu meruntuhkan benteng. Sekarang, ia harus menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar menjaga keseimbangan. Anehnya, ia mulai memahami mengapa Garrick begitu keras kepala. Kekuatan yang dibangun di atas fondasi rapuh hanya akan membuat seseorang jatuh lebih cepat. --- Malam datang. Ignis berbaring di tempat tidurnya dengan buku catatan berada di sisi bantal. Ia telah menulis tiga pertanyaan yang ingin dijawabnya. Siapa nama yang dihapus dari sejarah? Apa hubungan perjanjian kuno dengan lambang sembilan tanduk? Dan mengapa suara di alam kutukan mengetahui bahwa dirinya telah kembali? Ia memejamkan mata. Beberapa saat kemudian, rasa dingin merayap dari dadanya ke seluruh tubuh. Ignis membuka mata, tetapi kamar tidurnya sudah lenyap. Ia kembali berdiri di tanah hitam yang retak, di bawah langit merah gelap. Reruntuhan menjulang di kejauhan, sementara angin membawa bisikan yang tidak bisa dipahaminya. Kali ini, ia tidak langsung bergerak. Ia mengingat tempat terakhir yang dilihatnya pada kunjungan sebelumnya. Gerbang batu dengan sembilan tanda, dua sayap yang terbelah, dan kata PACTUM yang terukir di permukaannya. Namun, gerbang itu tidak terlihat di sini. Sebagai gantinya, berdiri sebuah pilar hitam di tengah reruntuhan. Permukaannya dipenuhi tulisan yang nyaris terhapus. Ignis mendekat. Sebagian besar tulisan itu tidak dikenalnya. Beberapa huruf menyerupai bahasa kuno yang pernah ia lihat di reruntuhan The Worldscar dalam kehidupan pertama. Ia mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh permukaan batu. “Kalau ini hanya ilusi, seharusnya tidak ada alasan bagiku untuk mengambil risiko.” “Dan jika bukan?” Suara itu muncul dari belakangnya. Ignis berbalik. Sosok tinggi berjubah gelap berdiri di antara reruntuhan. Wajahnya tetap tersembunyi, seolah kegelapan di sekitarnya menolak untuk memperlihatkannya. “Aku ingin mengetahui nama yang dihapus dari sejarah,” kata Ignis. “Kau menyuruhku mencarinya. Jadi, setidaknya berikan petunjuk yang bisa kupahami.” Sosok itu tidak segera menjawab. “Nama bukan sekadar rangkaian bunyi, pewaris kecil. Ada nama yang hilang karena dilupakan. Ada pula nama yang sengaja dikubur agar dunia tidak mengingat apa yang pernah dilakukannya.” “Nama siapa yang kau maksud?” “Bukan itu pertanyaan yang seharusnya kau ajukan.” Ignis mengepalkan tangan. “Lalu apa?” Sosok tersebut mengangkat satu tangan dan menunjuk pilar hitam. “Bacalah apa yang masih tersisa.” Ignis kembali menatap tulisan di pilar. Ia mengamati setiap goresan, mencoba menemukan pola di antara huruf-huruf yang terputus. Di bagian paling bawah, tersembunyi di balik retakan batu, terdapat tiga kata yang masih bisa dibaca. DUA SAYAP. SATU SUMPAH. Ignis terdiam. Dua sayap. Ia langsung teringat lambang yang terukir pada gerbang batu sebelumnya. “Apakah ini berkaitan dengan perjanjian antara Pendragon dan naga?” Sosok berjubah itu tidak menjawab. Namun, untuk pertama kalinya, keheningan tersebut terasa seperti peringatan. “Jangan terburu-buru menyatukan semua potongan,” katanya. “Pengetahuan yang diperoleh terlalu cepat dapat membuatmu melihat kebohongan sebagai kebenaran.” Tanah di bawah kaki Ignis bergetar. Retakan menjalar di sepanjang pilar hitam. Tulisan yang tersisa mulai memudar, seolah ada sesuatu yang sedang menghapusnya dari dunia. Ignis berusaha menghafal bentuk huruf-huruf itu, tetapi sebelum ia sempat menyelesaikannya, sosok berjubah mengucapkan kalimat terakhir. “Jika kau ingin menemukan nama itu, carilah lambang dua sayap di dunia tempat kau terbangun.” Cahaya hitam menelan seluruh pandangannya. --- Ignis terbangun dengan napas tersengal. Cahaya bulan masuk melalui jendela kamarnya. Tubuh kecilnya basah oleh keringat, dan dadanya terasa dingin seperti baru saja menyentuh es. Ia segera meraih buku catatannya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia menulis: Dua sayap. Satu sumpah. Di bawahnya, ia menggambar lambang yang masih diingatnya: dua sayap terbelah di sekitar sebuah lingkaran. Ignis menatap gambar itu lama sekali. Ia belum mengetahui siapa pemilik lambang tersebut, ataupun apakah lambang itu benar-benar berkaitan dengan sejarah Pendragon. Namun, kali ini ia memiliki petunjuk yang dapat dicari di dunia nyata. Bukan sekadar suara misterius. Bukan sekadar simbol yang muncul dalam mimpi. Melainkan sebuah lambang yang mungkin masih tercatat di suatu tempat di Eryndor. Ignis menutup buku catatannya dan menyimpannya di bawah bantal. “Baiklah,” bisiknya ke dalam kegelapan. “Kalau kau tidak mau memberitahuku namanya, aku akan menemukannya sendiri.” Di luar jendela, seekor burung malam melintas di atas pepohonan Domain Pendragon. Ignis tidak melihatnya. Dan untuk saat ini, tidak ada alasan baginya untuk menduga bahwa perjalanan panjangnya kelak akan mempertemukannya dengan seekor gagak kecil yang nasibnya pernah berakhir di tangannya sendiri. Masa depan belum berubah dengan sendirinya. Namun, kali ini, Ignis sedang bergerak menuju kebenaran dengan mata yang terbuka. Bersambung — Bab 10: Lambang Dua Sayap

End of Chapter 9