Kata itu terus terngiang di kepala Ignis.
PACTUM.
Satu kata yang tertinggal dari gerbang batu dalam tidurnya.
Ignis duduk di tepi ranjang saat cahaya pagi menembus jendela. Ia mengambil buku catatan rahasianya dan menuliskan kata tersebut dengan huruf besar.
Di bawahnya, ia menambahkan gambar sederhana: sebuah lingkaran dengan sembilan garis melengkung, serta lambang menyerupai sayap terbelah yang dilihatnya pada gerbang.
Ia memandangi gambar itu cukup lama.
Dalam bahasa kuno yang pernah ia pelajari pada kehidupan pertama, pactum berarti perjanjian atau ikatan yang dibuat berdasarkan kesepakatan. Maknanya bisa berbeda bergantung pada konteks—perjanjian antarkerajaan, kontrak sihir, atau ikatan yang menghubungkan dua makhluk.
Namun, satu hal mengganggunya.
Mengapa kata itu muncul di tempat yang terhubung dengan kutukannya?
Dan mengapa simbol yang sama muncul dalam arsip keluarganya?
“Kalau memang ada hubungan, aku harus menemukannya tanpa menarik perhatian yang tidak perlu.”
Ia menutup buku catatan, menyembunyikannya kembali, lalu bersiap menjalani hari seperti biasa.
Pagi ini, ia punya dua tujuan: menyelesaikan latihan bersama Garrick dan meminta izin kepada Caelan untuk memeriksa bahasa kuno yang digunakan dalam kronik Pendragon.
Ia tidak akan membiarkan rasa penasaran mengganggu fondasi kekuatannya.
---
Latihan pagi berlangsung lebih berat daripada biasanya.
Garrick menempatkan tiga sasaran kayu pada jarak berbeda, kemudian memberikan sebuah pedang kayu kepada Ignis.
“Serang sasaran pertama, mundur, lalu pindah ke sasaran kedua. Jangan kehilangan keseimbangan.”
Ignis mengangguk.
Ia bergerak maju dan mengayunkan pedang.
Sasaran pertama terkena tepat di tengah, tetapi langkah mundurnya terlalu lebar. Ketika berbalik menuju sasaran kedua, tubuhnya kehilangan keseimbangan.
Garrick mengetuk sisi pedangnya dengan tongkat.
“Mati.”
Ignis mengerutkan kening.
“Kalau ini pertarungan sungguhan, kau sudah terkena serangan sebelum sempat berbalik,” jelas Garrick. “Jangan hanya menghitung seberapa cepat kau bisa menyerang. Hitung juga waktu yang kau perlukan untuk kembali bertahan.”
Ignis menarik napas panjang.
Pada kehidupan pertamanya, ia sering menggunakan kecepatan dan tekanan untuk memaksa lawan bereaksi. Gaya bertarungnya dengan sabit besar Crimson Requiem mengandalkan perpindahan momentum, jangkauan bilah, serta serangan beruntun yang sulit dibaca.
Namun, semua itu belum cocok untuk tubuhnya sekarang.
Ia harus membangun kembali koordinasi, keseimbangan, dan kekuatan dasarnya.
“Sekali lagi,” katanya.
Garrick mengangkat alis.
“Kau belum lelah?”
“Sudah.”
“Lalu kenapa meminta mengulanginya?”
“Karena aku masih salah.”
Untuk sesaat, Garrick tidak berkata apa-apa. Kemudian, ia mengangguk.
“Bagus. Setidaknya kau tahu alasan untuk berlatih.”
Latihan berlanjut hingga matahari naik lebih tinggi. Pada akhir sesi, Ignis masih melakukan beberapa kesalahan, tetapi gerakannya sedikit lebih stabil dibandingkan sebelumnya.
Kemajuannya kecil.
Namun, kemajuan yang bisa diulang jauh lebih berharga daripada satu keberhasilan yang terjadi secara kebetulan.
---
Menjelang siang, Ignis kembali ke gedung arsip.
Caelan sedang memeriksa beberapa lembar perkamen di dekat jendela. Di sampingnya terdapat sebuah kamus bahasa kuno dengan sampul cokelat yang mulai mengelupas.
Ignis menunjuk buku itu.
“Pak Caelan, bolehkah aku meminjam kamus tersebut untuk membacanya di sini?”
Caelan menatapnya.
“Kau sudah bosan dengan kronik sejarah?”
“Tidak. Aku menemukan sebuah kata yang tidak sepenuhnya kupahami.”
“Bahasa apa?”
“Bahasa kuno. Kata pactum.”
Tangan Caelan berhenti bergerak.
Hanya sesaat, tetapi Ignis menyadarinya.
“Di mana kau menemukannya?”
“Dalam catatan sejarah yang sedang kubaca.”
Itu bukan jawaban lengkap, tetapi juga bukan kebohongan. Ignis memang pernah menemukan kata tersebut dalam sejarah kuno pada kehidupan sebelumnya, dan sekarang ia sedang mencari konteks yang tepat.
Caelan menutup perkamen di hadapannya.
“Pactum berarti perjanjian. Dalam dokumen kuno, kata itu terkadang digunakan untuk kesepakatan antara dua pihak yang mengikatkan diri pada kewajiban tertentu.”
“Apakah selalu berarti perjanjian antarmanusia?”
“Tidak. Beberapa teks kuno menggunakan istilah itu untuk kontrak sihir, sumpah, bahkan ikatan antara manusia dan makhluk nonmanusia.”
Ignis menahan napas.
Itu sesuai dengan dugaannya.
“Apakah keluarga Pendragon pernah memiliki perjanjian semacam itu?”
Caelan tidak langsung menjawab.
“Banyak keluarga bangsawan memiliki perjanjian yang sudah ada jauh sebelum kerajaan-kerajaan sekarang terbentuk. Sebagian masih berlaku, sebagian telah berakhir, dan sebagian lagi hanya diketahui melalui catatan yang tidak lengkap.”
“Bagaimana dengan Pendragon?”
Caelan mengusap dagunya.
“Sejarah resmi keluarga kita lebih banyak mencatat perang melawan naga daripada perjanjian dengan mereka.”
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
“Namun, sejarah resmi tidak selalu mencakup setiap hal yang pernah dilakukan leluhur kita.”
Ignis menatapnya dengan saksama.
Kalimat itu bukan pengakuan bahwa sejarah telah dipalsukan. Caelan hanya mengakui batas catatan yang tersedia.
Justru karena itulah Ignis mempercayai jawabannya.
“Bolehkah aku membaca teks aslinya?”
“Tidak semuanya. Sebagian naskah terlalu rapuh untuk sering dibuka, dan beberapa memiliki batasan akses. Tetapi aku bisa menunjukkan contoh dokumen publik yang menggunakan istilah itu.”
Caelan mengambil sebuah buku tipis dari rak terdekat.
Di dalamnya terdapat salinan beberapa perjanjian lama antara keluarga bangsawan dan kelompok pedagang. Ignis membacanya perlahan, memperhatikan cara kata pactum digunakan dalam kalimat yang berbeda.
Ia tidak menemukan simbol sembilan tanduk.
Tidak ada nama Azhrael.
Tidak ada pula catatan tentang leluhur yang menjadi Dragon Tamer.
Namun, di halaman terakhir, terdapat sebuah penjelasan singkat mengenai bentuk perjanjian yang dikenal sebagai Pactum Sanguinis—perjanjian darah.
Menurut catatan tersebut, ikatan semacam itu dapat menghubungkan dua pihak melalui darah, sihir, atau sumpah yang diperkuat oleh keduanya.
Ignis membaca bagian itu dua kali.
Perjanjian darah.
Ia teringat kutukan yang diwariskan setiap seratus tahun kepada seorang genius Pendragon.
Apakah kutukan tersebut merupakan bagian dari sebuah perjanjian?
Atau justru akibat dari perjanjian yang telah dilanggar?
Ia belum memiliki bukti untuk memilih salah satunya.
“Pak Caelan, apakah Pactum Sanguinis masih digunakan?”
“Dalam bentuk tertentu, mungkin. Tetapi banyak ritual kuno sudah hilang, dan beberapa tidak pernah dipahami sepenuhnya bahkan oleh orang-orang yang mencatatnya.”
Caelan mengambil kembali buku tersebut dengan hati-hati.
“Jangan menganggap semua ritual darah sebagai sesuatu yang sama. Istilah yang serupa tidak menjamin mekanisme yang sama.”
Ignis mengangguk.
Ia sudah mendapatkan hal yang dibutuhkannya: pengetahuan dasar yang bisa menjadi pijakan untuk penyelidikan lebih jauh.
Sebelum pergi, ia kembali bertanya tentang Kotak E-17.
Caelan memeriksa catatan di mejanya.
“Aku belum menemukan kotaknya. Aku perlu membandingkan inventaris lama dengan daftar penyimpanan saat ini.”
“Baik.”
“Kalau dokumen itu masih ada, kita akan mengurus izin yang sesuai. Sampai saat itu, jangan mencoba memasuki ruang penyimpanan sendiri.”
“Aku tidak akan melakukannya.”
Caelan menatapnya sejenak, seolah memastikan keseriusan jawabannya.
“Bagus.”
Ignis meninggalkan arsip tanpa membawa dokumen apa pun.
Ia belum menemukan jawaban mengenai kutukannya, tetapi sekarang ia mengetahui bahwa istilah yang dilihatnya berkaitan dengan sebuah konsep nyata dalam sejarah sihir Eryndor.
Itu jauh lebih berguna daripada sekadar menebak.
---
Sore harinya, Ignis menghabiskan waktu di halaman belakang kediaman.
Ia duduk di bawah pohon tua, membuka buku catatan, lalu menuliskan tiga kemungkinan.
Pertama, kutukan itu merupakan bagian dari perjanjian yang dibuat oleh leluhurnya.
Kedua, kutukan itu muncul setelah perjanjian tersebut dilanggar.
Ketiga, kata pactum dan simbol sembilan tanduk hanya memiliki hubungan tidak langsung.
Ia memberi tanda pada kemungkinan ketiga.
Bukan karena ia paling menyukainya, melainkan karena ia harus mengakui bahwa belum ada bukti yang cukup untuk memastikan dua kemungkinan lainnya.
“Kalau aku ingin menemukan kebenaran, aku harus berhenti memilih jawaban hanya karena cocok dengan dugaanku.”
Suara langkah kaki terdengar mendekat.
Evelyne muncul dari jalan setapak sambil membawa dua buah apel kecil.
“Kau sedang belajar?”
“Mencatat.”
“Bukankah itu sama saja?”
“Tidak juga.”
Evelyne duduk di sisi lain bangku dan meletakkan satu apel di dekatnya.
“Kalau begitu, kau boleh mencatat sambil makan.”
Ignis memandang apel itu.
“Untukku?”
“Tidak. Untuk pohon.”
Ignis menoleh ke arah pohon di belakang mereka.
Evelyne menahan senyum selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa kecil.
“Astaga, tentu saja untukmu!”
Ignis menerima apel tersebut.
“Terima kasih.”
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman untuk beberapa saat. Evelyne membaca bukunya, sementara Ignis menyimpan catatannya dan mulai makan.
Tidak ada percakapan besar tentang masa depan atau takdir. Mereka hanya menikmati sore yang tenang di taman.
Namun, ketika Evelyne hendak pergi, ia berhenti sejenak.
“Ignis?”
“Ya?”
“Kalau suatu hari kau menemukan sesuatu yang membuatmu khawatir, kau boleh menceritakannya kepadaku.”
Ignis memandangnya.
“Aku belum tentu bisa menjelaskannya.”
“Tidak apa-apa. Aku juga belum tentu bisa membantu.”
Evelyne tersenyum.
“Tapi setidaknya, kau tidak harus memikirkan semuanya sendirian.”
Setelah mengucapkan itu, ia berjalan pergi.
Ignis memandangi apel di tangannya.
Dalam kehidupan pertamanya, ia terlalu terbiasa menanggung semuanya sendiri. Ia menganggap penderitaan sebagai sesuatu yang harus disembunyikan agar tidak membebani orang lain.
Sekarang, ia belum tahu apakah ia mampu membuka diri kepada siapa pun.
Tetapi ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama hanya karena sudah terbiasa melakukannya.
---
Malam tiba.
Ignis menutup buku catatannya dan bersiap tidur. Sebelum berbaring, ia membaca kembali tulisan di halaman terakhir.
Pactum Sanguinis.
Perjanjian darah.
Ia belum mengetahui apakah kata itu berhubungan dengan kutukannya, tetapi ia tidak akan melupakannya.
Ketika kesadarannya mulai tenggelam, suara misterius itu kembali muncul.
“Kau belajar tentang perjanjian.”
Ignis tidak terkejut lagi.
“Aku belajar tentang sebuah istilah. Itu berbeda.”
Terdengar tawa pendek dari balik kegelapan.
“Kau mulai berhati-hati dengan kata-katamu.”
“Aku mulai lelah dengan jawaban yang tidak lengkap.”
“Kalau begitu, kau akan sangat kecewa saat menemukan kebenaran.”
Ignis mengepalkan tangannya.
“Apakah leluhurku membuat perjanjian dengan naga?”
Kali ini, keheningan berlangsung lebih lama.
Ketika suara itu akhirnya menjawab, nadanya terdengar lebih berat.
“Pernah ada masa ketika naga tidak dianggap sebagai musuh Pendragon.”
Jantung Ignis berdetak keras.
Kalimat itu tidak membuktikan bahwa leluhurnya adalah Dragon Tamer. Namun, untuk pertama kalinya, suara tersebut memberikan pernyataan yang secara langsung bertentangan dengan gambaran sederhana dalam sejarah resmi.
“Lalu apa yang terjadi?”
“Waktu mengubah banyak hal.”
“Itu bukan jawaban.”
“Memang bukan.”
Ignis menahan amarahnya.
Ia ingin terus bertanya, tetapi lingkungan di sekelilingnya mulai berubah. Tanah hitam terbentang di bawah kakinya, dan di kejauhan, gerbang batu dengan sembilan tanda kembali muncul.
Kali ini, celah di tengahnya sedikit lebih lebar.
Di baliknya, Ignis melihat cahaya redup yang bergerak seperti bara di bawah abu.
Suara itu terdengar sekali lagi.
“Jika kau ingin mengetahui perjanjian yang terlupakan, carilah nama yang telah dihapus dari catatan.”
“Nama siapa?”
Namun, gerbang itu menutup sebelum ia mendapat jawaban.
Ignis terbangun menjelang pagi.
Ia duduk diam selama beberapa saat, mengingat setiap kata yang didengarnya.
Naga tidak selalu dianggap sebagai musuh Pendragon.
Sebuah perjanjian pernah ada.
Dan seseorang mungkin telah dihapus dari catatan.
Ia belum tahu apakah ketiganya merupakan bagian dari rahasia yang sama. Tetapi sekarang ia memiliki pertanyaan yang jauh lebih spesifik untuk ditelusuri.
Bukan sekadar siapa yang mengubah sejarah.
Melainkan siapa yang sengaja dihilangkan dari sejarah itu sendiri.
Bersambung — Bab 9: Nama yang Dihapus dari Sejarah