Chapter 10 of 70

Bab 10 — Lambang Dua Sayap

1.6k words

Pagi itu, matahari menyinari Aurelis dengan cahaya keemasan. Atap-atap berwarna biru dan merah memantulkan sinarnya. Kereta kuda melintasi jalan berbatu, para pedagang mulai membuka kios, dan aroma roti hangat menguar dari toko di dekat gerbang timur. Di kejauhan, menara-menara putih ibu kota berdiri megah di bawah langit cerah. Dunia tampak damai. Terlalu damai, menurut Ignis Pendragon. Ia berdiri di depan jendela kamarnya, memandangi kota yang pernah ia kunjungi berkali-kali dalam kehidupan pertamanya. Dahulu, ia mengenal Aurelis sebagai pusat kekuasaan, perdagangan, dan intrik politik. Namun, setelah kembali ke masa kecilnya, setiap sudut kota terasa menyimpan kemungkinan baru. Satu keputusan kecil dapat mengubah masa depan. Dan sekarang, ia memiliki satu petunjuk yang tak bisa diabaikan. DUA SAYAP. SATU SUMPAH. Ignis memejamkan mata, mengulang kalimat itu dalam pikirannya. Lambang dua sayap telah muncul di alam kutukan, bersamaan dengan gerbang bertanda sembilan garis dan kata PACTUM. Caelan juga telah menemukan catatan tentang lampiran ketujuh yang hilang dari sebuah perjanjian kuno. Terlalu banyak kebetulan untuk dianggap tidak berkaitan. Namun, ia belum memiliki bukti bahwa semua petunjuk itu berasal dari sumber yang sama. “Kalau aku langsung mencari arsip rahasia, orang-orang akan bertanya mengapa seorang anak delapan tahun begitu tertarik pada sejarah kuno.” Ia menghela napas. “Tubuh ini benar-benar merepotkan.” “Apakah Tuan Muda sedang mengeluhkan sesuatu?” Ignis menoleh. Mira Valen berdiri di ambang pintu sambil membawa nampan sarapan. Seperti biasa, perempuan itu mengenakan pakaian pelayan rumah tangga yang rapi. Tatapannya lembut, tetapi cukup tajam untuk menyadari perubahan kecil dalam perilaku anak yang diasuhnya. “Tidak ada,” jawab Ignis tenang. Mira meletakkan nampan di meja. “Kalau begitu, Tuan Muda sebaiknya makan dahulu. Tuan Garrick mengatakan latihan pagi ini akan sedikit lebih berat.” Ignis berhenti mengambil sendok. “Garrick mengatakan apa?” “Beliau bilang Tuan Muda terlalu sering mengandalkan kepala daripada tubuh.” Ignis terdiam sesaat. Lalu ia menatap sarapannya dengan ekspresi masam. “Untuk sekali ini, aku tidak bisa membantahnya.” Mira terkekeh pelan. Ignis mungkin memiliki ingatan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun, tetapi tubuhnya tetaplah tubuh seorang anak. Ia bisa mengingat cara membaca gerakan lawan, memahami kelemahan formasi, dan menyusun strategi pertempuran. Namun, ketika harus mengubah semua itu menjadi gerakan nyata, otot-otot kecilnya masih memiliki batas. Masa depan tidak akan menunggunya sampai tubuhnya siap. Karena itulah ia harus berlatih. Tetapi sebelum itu, ia perlu mencari lambang dua sayap. Dan ia tahu tempat terbaik untuk memulai. --- Setelah sarapan, Ignis meminta izin mengunjungi perpustakaan keluarga. Permintaan itu tidak menimbulkan kecurigaan. House Pendragon memiliki koleksi buku yang luas, mulai dari catatan pertempuran leluhur hingga laporan wilayah kekuasaan mereka. Seorang anak bangsawan yang tertarik membaca bukanlah sesuatu yang aneh. Setidaknya, selama ia tidak meminta buku yang seharusnya tak boleh disentuh anak-anak. Perpustakaan keluarga terletak di sayap timur kediaman utama. Ruangannya luas, dengan rak-rak kayu gelap yang menjulang hingga langit-langit. Cahaya matahari masuk melalui jendela tinggi, menerangi debu halus yang melayang di udara. Seorang pustakawan tua menyambutnya dengan membungkuk. “Tuan Muda Ignis. Apakah Anda mencari buku tertentu?” “Catatan tentang lambang keluarga dan perjanjian kuno,” jawab Ignis. “Aku ingin mempelajari sejarah House Pendragon.” Itu bukan kebohongan. Hanya saja, ia tidak menyebutkan bagian sejarah yang sebenarnya ingin dicari. Pustakawan tersebut tampak sedikit terkejut, tetapi segera mengangguk. “Kalau begitu, saya akan menunjukkan rak sejarah keluarga.” Ignis menghabiskan hampir satu jam menelusuri buku-buku tua. Ia menemukan lambang pedang bersilang, naga yang melingkari mahkota, serta berbagai simbol yang digunakan keluarga bangsawan selama beberapa abad terakhir. Namun, tak satu pun cocok dengan lambang yang diingatnya. Ia mencari gambar dua sayap yang terbuka ke arah berlawanan, seolah melindungi sesuatu di antara keduanya. Tidak ada. Bahkan setelah memeriksa catatan tentang perjanjian kuno, ia tidak menemukan simbol serupa. Ignis menutup sebuah buku dengan perlahan. Tidak tercatat di perpustakaan keluarga. Itu belum membuktikan bahwa lambang tersebut sengaja dihapus. Bisa saja simbol itu berasal dari organisasi kecil, keluarga yang telah punah, atau tradisi yang tidak pernah masuk ke catatan resmi Pendragon. Ia tidak boleh menarik kesimpulan terlalu cepat. Namun, ada satu hal yang menarik perhatiannya. Di bagian akhir sebuah buku berjudul Catatan Perjanjian Bangsawan Era Purba, terdapat gambar kecil berupa dua sayap yang mengapit lingkaran kosong. Bukan lambang yang sama. Sayap pada gambar itu mengarah ke dalam, sementara simbol yang dilihat Ignis di alam kutukan tampak terbelah ke arah luar. Meski begitu, bentuk dasar keduanya cukup mirip. Di bawah gambar tersebut terdapat keterangan singkat. Simbol pengesahan bersama yang digunakan sebelum pembentukan Kekaisaran Solvaris. Ignis membaca kalimat itu sekali lagi. Sebelum pembentukan Solvaris. Artinya, simbol tersebut mungkin jauh lebih tua daripada struktur politik dunia saat ini. Ia segera memeriksa halaman berikutnya. Kosong. Bukan halaman yang disobek, melainkan bagian yang memang tidak pernah diisi. Tidak ada nama pembuat, lokasi penemuan, ataupun keterangan mengenai pihak yang menggunakan simbol itu. “Apakah ada masalah, Tuan Muda?” Suara pustakawan membuat Ignis mengangkat kepala. “Siapa yang menulis buku ini?” Pustakawan tua itu mendekat, memeriksa sampulnya. “Catatan ini disusun dari beberapa sumber oleh seorang sejarawan kekaisaran. Sayangnya, sebagian besar sumber aslinya tidak lagi berada di sini.” “Apakah ada salinannya di perpustakaan umum Aurelis?” “Mungkin. Namun, untuk naskah yang lebih tua, Anda harus meminta izin khusus.” Ignis mengangguk. Ia tidak akan mendapatkan semua jawaban hari ini. Tetapi setidaknya, ia telah menemukan arah. Jika lambang dua sayap digunakan sebelum berdirinya Kekaisaran Solvaris, pencariannya tidak boleh terbatas pada sejarah House Pendragon. Ia harus memeriksa catatan dari masa yang bahkan mendahului kelahiran kekaisaran. Dan untuk itu, ia membutuhkan akses ke arsip yang lebih luas. Arsip tempat Caelan bekerja. --- Sore harinya, Ignis meninggalkan perpustakaan setelah mencatat judul buku dan nomor katalog yang diperlukan. Ia berniat mengunjungi Caelan pada kesempatan berikutnya, tetapi langkahnya terhenti ketika melewati taman kediaman. Evelyne Astervale sedang duduk di bangku batu, ditemani seorang pelayan muda. Gadis itu melihatnya lebih dahulu. “Ignis!” Ia melambaikan tangan, lalu berlari menghampirinya. Rambutnya bergerak mengikuti langkah kecilnya. “Kau dari perpustakaan lagi?” “Ya.” “Kau benar-benar suka membaca.” “Aku suka menemukan jawaban.” Evelyne memiringkan kepala. “Jawaban untuk apa?” Ignis terdiam sesaat. Untuk pertama kalinya, ia menyadari betapa sulitnya menjelaskan pencariannya kepada seseorang yang belum mengetahui apa pun tentang kehidupan pertamanya. “Sejarah,” jawabnya akhirnya. “Aku ingin tahu apakah semua cerita yang kita pelajari benar.” Evelyne tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah Ignis seolah mencoba memahami sesuatu yang tak bisa dilihatnya. “Menurutku, tidak semua cerita itu benar,” katanya. Ignis menatapnya. “Kenapa?” “Karena orang bisa menceritakan hal yang sama dengan cara berbeda. Kadang-kadang mereka lupa. Kadang-kadang mereka hanya menceritakan bagian yang mereka sukai.” Jawaban sederhana itu membuat Ignis terdiam lebih lama daripada yang ia inginkan. Anak delapan tahun di hadapannya tidak memiliki ingatan tentang perang, kutukan, atau sejarah yang diputarbalikkan. Namun, Evelyne memahami sesuatu yang kerap dilupakan orang dewasa: cerita tidak selalu sama dengan kenyataan. “Pemikiran yang bagus,” ujar Ignis. Evelyne tersenyum bangga. “Tentu saja. Aku juga pintar.” Untuk sesaat, sudut bibir Ignis terangkat. Dalam kehidupan pertamanya, ia menghabiskan begitu banyak waktu mengejar kekuatan hingga hampir lupa bahwa dunia tidak hanya berisi musuh, penderitaan, dan rahasia. Mungkin, kali ini ia bisa melakukan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya mengubah nasibnya sendiri. Melainkan juga menjaga orang-orang yang kelak akan berjalan bersamanya. “Aku harus pergi,” katanya. “Besok kita bertemu lagi?” Ignis menatapnya sejenak. “Kalau tidak ada halangan.” Evelyne mengulurkan jari kelingkingnya. “Janji?” Ignis memandang jari kecil itu, lalu menyambutnya dengan jarinya sendiri. “Janji.” Ia tidak tahu apakah janji sederhana itu akan bertahan menghadapi masa depan yang menantinya. Namun, untuk sekarang, ia memilih menepatinya. --- Malam tiba. Di dalam kamarnya, Ignis duduk di meja dan menyalin bentuk lambang yang ditemukannya ke selembar kertas. Ia menggambar dua sayap dengan hati-hati, lalu membandingkannya dengan ingatan tentang simbol di gerbang alam kutukan. Ada kemiripan. Tetapi belum cukup untuk memastikan hubungan keduanya. Ia menyimpan gambar itu di antara catatan pribadinya, kemudian mematikan lampu. Saat kepalanya menyentuh bantal, ketegangan lama kembali merayapi tubuhnya. Tidur bukanlah tempat beristirahat baginya. Tidur adalah pintu menuju penderitaan. Napasnya perlahan menjadi teratur. Lalu dunia menghilang. Ketika Ignis membuka mata, ia sudah berdiri di hamparan tanah hitam yang tak berujung. Langit di atasnya tidak memiliki bintang. Kabut kelabu bergerak seperti makhluk hidup, dan jauh di hadapan sana, sebuah gerbang menjulang dari kegelapan. Sembilan garis menyerupai tanduk terukir di permukaannya. Ignis menahan napas. Gerbang itu sama seperti yang pernah dilihatnya. Namun, malam ini ada sesuatu yang berbeda. Di tengah gerbang, di antara sembilan garis tersebut, muncul lambang dua sayap yang selama ini ia cari. Perlahan, simbol itu menyala dengan cahaya pucat. Sebuah suara bergema dari balik kabut. “Kau mulai mencari.” Ignis mengepalkan tangan. “Siapa kau?” Tidak ada jawaban langsung. Sebaliknya, lambang dua sayap itu terbelah di tengah. Di baliknya, sesaat, Ignis melihat bayangan dua sosok yang berdiri saling membelakangi. Satu membawa sesuatu menyerupai tombak. Yang lain memiliki siluet sepasang sayap besar. Lalu sebuah kata terdengar, begitu jelas hingga terasa terukir di dalam tulangnya. “Pactum.” Gerbang bergetar. Untuk pertama kalinya, sembilan garis pada permukaannya tidak hanya memancarkan cahaya merah. Salah satunya berubah menjadi putih keperakan, sementara garis lain tetap gelap. Ignis melangkah maju. “Apa hubungan simbol ini dengan keluargaku?” Kabut bergulung liar. Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat. “Darahmu mewarisi sebuah sumpah.” Jantung Ignis berdegup keras. “Sumpah apa?” Keheningan menyelimuti tempat itu. Kemudian, tepat sebelum gerbang tertutup oleh kabut, suara tersebut memberikan satu jawaban. “Sumpah yang seharusnya tidak pernah dilanggar.” Tanah hitam di bawah kaki Ignis retak. Dari dalam celah-celahnya, tangan-tangan pucat mulai muncul. Ia segera mengambil posisi bertahan, tetapi pandangannya tetap terpaku pada gerbang. Kini ia memiliki satu kepastian. Lambang dua sayap bukan sekadar simbol kuno. Simbol itu berkaitan dengan sumpah yang masih hidup—dan entah bagaimana, darah Pendragon menjadi bagian darinya. Kabut menelan gerbang. Tangan-tangan pucat mulai merangkak mendekat. Dan dari kejauhan, terdengar suara tawa yang sama sekali tidak menyerupai manusia. Ignis menggertakkan gigi. “Baiklah,” bisiknya. “Kalau kalian ingin aku mencari kebenaran, setidaknya beri aku kesempatan untuk bertahan hidup lebih lama.” Kegelapan menerjang. Malam kutukan pun dimulai. Bersambung. Teaser Bab 11 — Anak Genius dengan Rahasia: Di balik latihan dan kehidupan bangsawan, Ignis mulai menyadari bahwa perubahan kecil yang ia buat telah menarik perhatian seseorang yang seharusnya belum mengenalnya.

End of Chapter 10