Chapter 7 of 70

Bab 7 — Jejak di Dalam Arsip

1.5k words

Pagi itu, Ignis Pendragon menyelesaikan latihan dasarnya lebih awal dari biasanya. Garrick Thorne berdiri di tepi halaman latihan sambil menyilangkan kedua tangan. Tatapannya mengikuti anak berambut perak yang sedang mengayunkan pedang kayu ke arah sasaran. “Berhenti.” Ignis menahan ayunannya. “Kenapa?” “Karena sejak tadi kau mengulang kesalahan yang sama.” Garrick berjalan mendekat, kemudian menunjuk posisi kaki Ignis. “Kau terlalu banyak memikirkan ke mana pedangmu akan bergerak. Akibatnya, seluruh tubuhmu terlambat mengikuti gerakan itu.” Ignis menunduk, memeriksa kuda-kudanya. Ia tahu teknik yang lebih rumit. Ia bahkan masih mengingat bagaimana mengalihkan momentum lawan, memanfaatkan celah pertahanan, dan mengakhiri pertarungan dalam satu gerakan. Namun, semua pengetahuan itu berasal dari tubuh yang telah berlatih selama puluhan tahun. Tubuhnya sekarang belum memiliki fondasi yang sama. “Ulangi,” perintah Garrick. Ignis kembali mengangkat pedangnya. Satu ayunan. Dua ayunan. Tiga. Pada ayunan keempat, ia kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Garrick menghela napas. “Kau punya kemauan keras. Itu bagus. Tapi jangan mengira kemauan keras bisa menggantikan latihan yang benar.” “Aku mengerti.” “Kalau begitu, istirahat sepuluh menit. Setelah itu, ulangi dari awal.” Ignis meletakkan pedang kayunya dan duduk di bangku dekat pagar. Lengan dan bahunya terasa berat. Ia menatap kedua tangannya, lalu mengepalkannya perlahan. Kalau aku ingin bertahan di tempat yang kutemui setiap malam, aku tidak bisa hanya mengandalkan ingatan. Di kehidupan sebelumnya, ia memiliki kekuatan untuk menghadapi makhluk-makhluk yang bahkan tidak dikenal oleh kebanyakan kesatria. Tetapi kekuatan itu tidak datang begitu saja. Ia membangunnya melalui kegagalan, luka, dan latihan yang panjang. Ia harus melakukannya lagi. Kali ini, ia akan memulai lebih awal. --- Setelah latihan selesai, Ignis membersihkan diri dan menuju ruang makan. Di sana, ia menemukan Mira Valen sedang mengatur hidangan di atas meja kecil dekat jendela. “Selamat pagi, Tuan Muda.” “Pagi, Mira.” Mira meletakkan semangkuk sup hangat di hadapannya. Matanya sempat berhenti pada tangan Ignis yang sedikit memerah. “Latihannya berat lagi?” “Sedikit.” “Kalau terus memaksakan diri, tangan Tuan Muda bisa terluka.” “Aku akan berhati-hati.” Mira menatapnya seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya tersenyum tipis. “Kalau begitu, habiskan sarapannya. Sir Garrick mungkin tidak akan memberi Tuan Muda waktu istirahat tambahan hanya karena belum makan.” Ignis hampir tertawa. Mira tetap seperti yang ia ingat: perhatian, tulus, dan tidak mudah terintimidasi oleh nama besar keluarga Pendragon. Setelah sarapan, Ignis tidak langsung menuju kamarnya. Ia meminta izin untuk kembali ke arsip keluarga. Kali ini, ia membawa selembar kertas dan pensil kecil. Ia tidak berniat menyentuh dokumen tersegel atau memaksa Caelan membukakan bagian yang dilarang. Ia hanya ingin memeriksa katalog yang berkaitan dengan dokumen yang dipindahkan. Jika lampiran ketujuh memang pernah ada, seharusnya ada catatan mengenai keberadaannya. Setidaknya, itulah yang ia harapkan. --- Caelan Voss sedang memeriksa beberapa gulungan perkamen ketika Ignis tiba. “Kembali lagi?” tanyanya. “Aku ingin melihat katalog dokumen yang dipindahkan saat perbaikan gedung.” Caelan mengangkat alis. “Kau cukup serius untuk seseorang yang baru mulai membaca kronik lama.” “Aku tidak ingin menebak-nebak tanpa bukti.” Kalimat itu membuat Caelan menatapnya sedikit lebih lama. Kemudian, ia mengangguk. “Baiklah. Aku sudah memeriksa sebagian katalog tadi pagi. Ada beberapa catatan pemindahan, tetapi belum ada yang menyebutkan lampiran ketujuh secara langsung.” Ia mengambil sebuah buku katalog yang lebih tipis dari rak di belakang meja. “Ini daftar dokumen yang dipindahkan ke ruang penyimpanan sekunder. Kau boleh membacanya di sini. Jangan membawa buku ini keluar.” Ignis menerima buku tersebut dengan kedua tangan. “Terima kasih.” Daftar itu tidak terlalu panjang, tetapi banyak entri ditulis dengan tulisan tangan yang berbeda-beda. Sebagian memuat judul dokumen, sementara yang lain hanya mencatat nomor kotak dan tanggal pemindahan. Ignis menelusuri setiap halaman dengan hati-hati. Catatan pertama berisi surat-surat mengenai perbatasan wilayah. Catatan berikutnya membahas persediaan senjata setelah perang. Ada pula daftar nama kesatria yang gugur dalam pertempuran lama. Ia terus membaca. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah entri yang membuat jemarinya berhenti. Kotak E-17 — Catatan Perjanjian Purba. Di sampingnya tertulis tanggal pemindahan yang hampir dua ratus tahun lalu. Tidak ada nama penulis. Tidak ada keterangan isi. Hanya satu catatan tambahan yang ditulis dengan tinta lebih pucat. Dipindahkan atas perintah kepala arsip. Akses memerlukan persetujuan keluarga. Ignis membaca kalimat itu dua kali. Jadi, dokumen tersebut memang pernah disimpan di tempat terpisah. Namun, catatan itu tidak membuktikan bahwa isinya adalah lampiran ketujuh. Bisa saja kotak tersebut berisi dokumen lain yang kebetulan membahas perjanjian kuno. Ia tidak boleh menarik kesimpulan terlalu cepat. “Pak Caelan.” Arsiparis itu mendekat. Ignis menunjukkan entri tersebut. “Apakah Kotak E-17 masih ada?” Caelan mengamati catatan itu. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan besar, tetapi ia tampak mulai tertarik. “Aku pernah melihat nomor ini dalam inventaris lama. Ruang penyimpanan sekunder sudah beberapa kali ditata ulang. Aku harus memastikan apakah kotaknya masih berada di sana.” “Bisakah aku melihatnya?” “Belum.” Jawaban itu tegas, tetapi tidak kasar. “Catatan ini secara khusus menyebutkan bahwa akses memerlukan persetujuan keluarga. Aku tidak akan melanggar aturan hanya karena kita menemukan sebuah nomor dalam katalog.” Ignis mengangguk. “Aku mengerti.” Caelan menutup buku katalog. “Namun, aku akan mencari tahu apakah kotak tersebut masih ada. Jika dokumennya memang dapat dibuka dengan izin, kita bisa mengajukan permintaan yang sesuai.” Itu bukan jawaban yang diharapkan Ignis, tetapi juga bukan penolakan sepenuhnya. Ia mendapatkan satu petunjuk nyata. Sekarang, ia harus bersabar. --- Sore harinya, Ignis berjalan melewati taman kediaman Pendragon. Di antara bunga-bunga yang bermekaran, Evelyne Astervale sedang duduk di bangku batu sambil membaca buku. Rambutnya yang tertata rapi bergerak pelan tertiup angin. Ia mengangkat kepala ketika Ignis mendekat. “Ignis?” “Evelyne.” “Kau terlihat lelah.” “Latihan.” Evelyne menutup bukunya. “Kau selalu menjawab sesingkat itu?” “Tidak selalu.” “Kapan terakhir kali kau menjawab dengan panjang?” Ignis terdiam. Pertanyaan itu begitu sederhana hingga ia tidak tahu harus menjawab apa. Evelyne tersenyum kecil, tampak puas karena berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. “Aku hanya bercanda.” Ignis duduk di bangku yang sama, menyisakan jarak sopan di antara mereka. Pada kehidupan pertamanya, ia mengingat Evelyne sebagai seseorang yang perlahan menjadi tempatnya beristirahat dari dunia yang kejam. Namun, ingatan itu tidak berarti mereka sudah memiliki kedekatan yang sama sekarang. Bagi Evelyne, ia masih anak laki-laki yang dijodohkan dengannya oleh keluarga mereka. Hubungan mereka harus tumbuh dengan sendirinya. “Apa yang kau baca?” tanya Ignis. “Sejarah kerajaan-kerajaan Eryndor. Ayahku bilang aku harus memahami hubungan antarkerajaan sebelum menghadiri pertemuan bangsawan.” “Apakah menarik?” “Kadang-kadang. Tapi banyak bagian yang hanya berisi nama orang, tanggal perang, dan perjanjian yang sulit dimengerti.” Ignis menatap buku itu. “Perjanjian bisa lebih penting daripada perang.” Evelyne memiringkan kepala. “Kenapa?” “Karena perang biasanya membuat semua orang memperhatikan siapa yang menang. Perjanjian menentukan apa yang terjadi setelahnya.” Evelyne terdiam sejenak, lalu membuka kembali bukunya. “Aku akan mengingat itu.” Percakapan mereka berlanjut ke hal-hal sederhana: pelajaran, latihan, dan taman yang sedang dipenuhi bunga musim semi. Tidak ada kejadian besar yang mengubah masa depan. Tidak ada rahasia yang langsung terbongkar. Namun, ketika mereka berpisah, Evelyne sudah sedikit lebih nyaman berbicara dengan Ignis dibandingkan sebelumnya. Bagi Ignis, perubahan kecil itu sudah cukup. Ia tidak perlu memaksa masa depan berjalan lebih cepat. --- Malam kembali menyelimuti kediaman Pendragon. Ignis menyelesaikan catatan hariannya sebelum berbaring. Di halaman baru, ia menuliskan: Kotak E-17 — Catatan Perjanjian Purba. Keberadaannya belum dikonfirmasi. Isi belum diketahui. Memerlukan izin keluarga. Ia menambahkan satu baris lagi. Jangan menyamakan petunjuk dengan kebenaran. Setelah meletakkan pensil, ia memadamkan lampu. Kegelapan datang seperti biasa. Namun, ketika kesadarannya mulai ditarik menuju tempat asing itu, Ignis merasakan sesuatu yang berbeda. Kali ini, suara misterius tersebut tidak langsung berbicara. Sebaliknya, ia mendengar bunyi seperti logam tua yang bergeser di kejauhan. Saat membuka mata, Ignis berdiri di hadapan sebuah gerbang batu raksasa. Sembilan garis menyerupai tanduk terukir di permukaannya. Di tengah gerbang, terdapat celah tipis yang memancarkan cahaya merah redup. Ignis melangkah mendekat. Sebelum ia sempat menyentuhnya, suara itu terdengar. “Jangan buka.” Ignis berhenti. “Kenapa?” “Karena kau belum tahu apa yang berada di baliknya.” “Apakah gerbang ini berhubungan dengan kutukanku?” Tidak ada jawaban. Ignis menatap simbol di permukaannya. Bentuknya mirip dengan tanda yang ditemukan pada reruntuhan sebelumnya, tetapi ukiran pada gerbang ini memiliki satu perbedaan: di bagian bawah lingkaran, terdapat lambang kecil menyerupai sayap yang terbelah. Ia mencoba mengingatnya dengan saksama. “Kalau kau tidak ingin aku membukanya, setidaknya katakan apa yang harus kucari.” Suara itu terdengar lebih dekat kali ini. “Belajarlah membedakan pintu yang harus kau buka dari pintu yang hanya ingin membuatmu penasaran.” Ignis mengepalkan tangan. “Aku tidak akan berhenti mencari kebenaran.” “Aku tahu.” Gerbang itu bergetar pelan. “Pertanyaannya adalah apakah kau masih akan menginginkannya setelah mengetahui harganya.” Cahaya merah di celah gerbang meredup. Dunia di sekeliling Ignis mulai runtuh menjadi kegelapan, dan kesadarannya terseret kembali menuju tubuh kecilnya di dunia nyata. Namun, sebelum semuanya lenyap, ia sempat melihat sesuatu di permukaan gerbang. Sebuah tulisan kuno. Ia tidak mampu membaca seluruhnya, tetapi satu kata tertinggal jelas dalam ingatannya. PACTUM. Perjanjian. Ignis terbangun menjelang fajar. Ia duduk diam di ranjang, mencoba menyusun kembali apa yang dilihatnya. Kotak E-17. Perjanjian purba. Gerbang dengan sembilan tanda. Dan satu kata yang menghubungkan semuanya. Ia belum tahu apakah ketiganya benar-benar berkaitan. Ia juga belum tahu apakah suara yang menunggunya setiap malam sedang membantunya atau justru mengarahkannya menuju sesuatu yang berbahaya. Namun, satu hal kini semakin jelas. Kutukan itu bukan sekadar penderitaan yang datang ketika ia tidur. Di baliknya, ada sejarah yang belum selesai. Dan Ignis Pendragon berniat menemukan jawabannya—satu petunjuk demi satu petunjuk. Bersambung — Bab 8: Perjanjian yang Terlupakan

End of Chapter 7

Chapter 7: Bab 7 — Jejak di Dalam Arsip - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio