Chapter 6 of 70

Bab 6 — Sembilan Tanda di Balik Kegelapan

1.6k words

Kegelapan menelan kesadaran Ignis. Sensasi itu masih sama seperti malam-malam sebelumnya: seolah ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jiwanya, lalu menariknya melewati batas antara tidur dan kenyataan. Namun, kali ini Ignis tidak langsung membuka mata. Ia menghitung. Satu tarikan napas. Dua. Tiga. Bukan untuk menenangkan diri, melainkan untuk mengingat urutan kejadian sebelum dirinya kehilangan kesadaran sepenuhnya. Pada kehidupan pertamanya, ia menghabiskan bertahun-tahun menganggap kutukan itu sebagai siksaan yang tak bisa dipahami. Ia melawan, bertahan, dan terus memaksa dirinya bangkit setiap kali malam berakhir. Sekarang, ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Kalau tempat ini memiliki aturan, aku akan menemukannya. Ketika akhirnya membuka mata, Ignis mendapati dirinya berdiri di atas tanah hitam yang retak. Langit merah gelap membentang tanpa matahari. Di kejauhan, pilar-pilar batu menjulang dari reruntuhan bangunan yang bentuknya tidak menyerupai arsitektur mana pun yang pernah ia lihat di Eryndor. Tidak ada hutan, sungai, atau suara serangga. Hanya angin dingin yang bergerak melewati reruntuhan. Ignis menunduk, memperhatikan kedua tangannya. Bentuk tubuhnya tetap kecil, sama seperti tubuh delapan tahunnya di dunia nyata. Ia tidak kembali menjadi pria berusia tiga puluh lima tahun yang pernah menjelajahi The Worldscar. Di tempat ini, ia tetap harus bertahan dengan apa yang dimilikinya sekarang. “Baiklah,” gumamnya. “Kali ini, kita tidak akan berlari tanpa tujuan.” Ia mengambil sepotong batu tajam dari tanah dan menggoreskan garis pada permukaan pilar terdekat. Satu garis untuk menandai tempat ia terbangun. Kemudian ia berjalan ke arah reruntuhan, menjaga agar tanda itu tetap berada dalam pandangannya selama mungkin. Ia ingin mengetahui apakah tempat ini memiliki batas, apakah waktu bergerak dengan cara yang sama seperti di dunia nyata, dan apakah setiap malam membawanya ke lokasi yang sama. Belum jauh ia berjalan, Ignis menemukan sesuatu di permukaan batu. Sebuah lingkaran hitam dengan sembilan garis melengkung di sekelilingnya. Simbol yang sama. Simbol yang muncul dalam mimpinya, yang ia lihat pada pecahan merah di malam sebelumnya, dan yang kini terukir pada reruntuhan. Ignis berjongkok di depannya. “Jadi, ini bukan sekadar gambaran acak.” Ia tidak menyentuhnya. Pengalaman hidup sebelumnya mengajarkannya bahwa benda asing di tempat berbahaya jarang layak disentuh hanya karena rasa penasaran. Sebagai gantinya, ia mengamati ukirannya dari dekat. Sembilan garis itu tidak sepenuhnya sama. Tiga di antaranya memiliki ujung yang melengkung ke dalam, sementara sisanya mengarah keluar. Lingkaran di tengah juga tidak tertutup sempurna. Ada celah kecil di bagian bawahnya. Ignis mengingat bentuk tersebut dengan saksama. Ia belum tahu artinya, tetapi kelak ia bisa membandingkannya dengan simbol di arsip Pendragon. Sebuah suara terdengar dari belakangnya. “Anak kecil yang belajar membaca tanda.” Ignis berdiri dan berbalik. Sosok tinggi berdiri di antara dua pilar yang runtuh. Wujudnya tertutup bayangan, membuat wajah dan tubuhnya sulit dikenali. Namun, tekanan yang terpancar darinya jauh lebih besar daripada monster-monster yang pernah menyerang Ignis di tempat ini. Ignis tidak mengangkat batu tajam di tangannya. Senjata itu tidak akan banyak berguna jika sosok tersebut berniat membunuhnya. “Siapa kau?” “Pertanyaan yang sama setiap kali kau datang.” “Kalau kau sudah tahu aku akan bertanya, seharusnya kau bisa langsung menjawab.” Hening sesaat. Lalu terdengar tawa pelan. “Mulutmu semakin berani.” “Aku tidak datang kemari atas kemauanku sendiri.” “Benar. Kau ditarik kemari.” “Karena kutukan?” Sosok itu tidak segera menjawab. Ignis memperhatikan bayangannya. Tidak ada gerakan jelas, tetapi udara di sekitarnya seolah melengkung, seperti panas yang muncul di atas batu pada siang hari. “Kalau kau tahu tentang kutukan ini, jawab satu hal,” kata Ignis. “Mengapa sembilan tanda itu terus muncul?” Sosok tersebut mengalihkan pandangannya ke ukiran pada pilar. “Karena kau terus mencari sesuatu yang terhubung dengannya.” “Itu bukan jawaban.” “Bukan pula kebohongan.” Ignis mengatupkan rahangnya. Ia mengenal jenis permainan semacam ini: jawaban yang terdengar berarti, tetapi sengaja tidak menjelaskan apa pun. Namun, ia tidak boleh membiarkan frustrasi mengambil alih. “Apakah simbol ini berhubungan dengan leluhurku?” Untuk pertama kalinya, sosok itu tidak langsung menjawab. Keheningan tersebut hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat Ignis memperhatikannya. “Ada pertanyaan yang lebih berbahaya daripada yang lain,” ujar suara itu akhirnya. “Pertanyaan tentang asal-usul sering kali menuntun seseorang menuju pihak yang ingin tetap tersembunyi.” “Kalau begitu, aku berada di jalur yang benar.” “Atau kau sedang berjalan menuju perangkap.” “Kalau aku tidak mencari tahu, aku akan terus menjadi tawanan tanpa pernah mengerti alasannya.” Sosok itu diam. Kemudian ia mengangkat satu tangan. Tanah di bawah kaki Ignis bergetar. Dari celah-celah reruntuhan, terdengar suara gesekan kuku pada batu. Beberapa makhluk mulai muncul dari balik dinding yang runtuh. Bentuk mereka menyerupai anjing kurus dengan kulit kelabu, tetapi punggung mereka ditutupi duri hitam yang tumbuh tidak beraturan. Mata mereka kosong. Jumlahnya enam. Ignis mundur setapak. Ia tidak membawa pedang, tidak memiliki mantel rune, dan belum menguasai teknik bertarung yang pernah ia gunakan pada kehidupan pertamanya. Tubuh kecilnya bahkan belum pulih sepenuhnya dari latihan kemarin. “Ini ujian?” tanyanya. “Anggap saja kesempatan untuk membuktikan apakah kau benar-benar belajar.” Sosok itu lenyap ke dalam bayangan. Keenam makhluk tersebut mulai bergerak mendekat. Ignis mengamati posisi mereka. Dua berada di depan, satu di sisi kiri, dua di kanan, dan satu bergerak memutar dari belakang. Mereka tidak langsung menyerang. Mereka sedang mengepungnya. Jangan lawan semuanya sekaligus. Ignis berlari menuju celah sempit di antara dua pilar. Ia sengaja memilih jalur yang cukup lebar untuk tubuhnya, tetapi terlalu sempit bagi dua monster untuk menyerang bersamaan. Makhluk pertama menerjang. Ignis merunduk. Cakar makhluk itu menghantam pilar, meninggalkan goresan dalam. Ia menggunakan kesempatan tersebut untuk menyambar batu tajam dan menusukkannya ke bagian bawah rahang lawan. Makhluk itu menjerit, tetapi tidak langsung tumbang. Ignis terpaksa melepaskan batu tersebut dan melompat ke samping sebelum rahang monster itu menutup di tempat kepalanya berada. Serangan berikutnya datang dari kanan. Ia tidak cukup cepat untuk menghindar sepenuhnya. Cakar menyambar lengannya, merobek kulit dan membuatnya terhuyung. Rasa sakit menyengat. Tubuh ini terlalu lambat. Ignis menggertakkan gigi, lalu memaksa dirinya berdiri. Ia tidak mencoba meniru teknik tingkat tinggi yang memerlukan kekuatan dan kecepatan yang belum dimilikinya. Sebaliknya, ia memancing monster yang terluka untuk menyerang lagi, kemudian berguling ke balik pecahan batu. Monster itu melompat terlalu jauh dan menghantam tumpukan reruntuhan. Batu-batu besar berjatuhan, menjepit salah satu kakinya. Ignis mengambil pecahan batu yang lebih panjang dan menghantam bagian belakang leher makhluk tersebut berulang kali sampai gerakannya berhenti. Napasnya memburu. Lima masih tersisa. Ia tidak mungkin memenangkan pertarungan ini dengan mengandalkan kekuatan. Maka ia mengandalkan medan. Ignis berlari melewati pilar-pilar yang rapuh, memancing dua monster untuk mengejarnya. Ketika keduanya melewati lengkungan batu yang retak, ia menarik sebuah potongan kayu tua yang menyangga bagian atasnya. Lengkungan itu runtuh. Debu dan batu memenuhi udara. Dua monster tertimbun reruntuhan. Tiga lainnya masih mengejarnya. Ignis terus bergerak, memanfaatkan celah sempit dan sudut-sudut tajam untuk memisahkan mereka. Ia tidak menyerang ketika peluangnya buruk. Ia menunggu sampai salah satu monster tertinggal, kemudian memanfaatkan kesalahannya. Pertarungan itu terasa jauh lebih lama daripada yang sebenarnya. Ketika makhluk terakhir akhirnya berhenti bergerak, Ignis jatuh berlutut di tanah. Lengannya terluka. Napasnya tersengal, dan jari-jarinya gemetar akibat kelelahan. Ia berhasil bertahan. Namun, ia tidak merasa menang. Enam monster biasa saja hampir membunuhnya. “Kalau ini tempat yang akan kudatangi setiap kali tidur,” gumamnya, “aku harus menjadi lebih kuat sebelum mencoba memahami hal-hal yang lebih dalam.” Suara itu kembali terdengar dari kejauhan. “Setidaknya, kau mulai memahami satu hal.” Ignis mengangkat kepala. “Bahwa aku lemah?” “Bahwa ingatan bukanlah kekuatan.” Sosok tersebut muncul di atas salah satu pilar yang masih berdiri. “Kau membawa pengalaman dari kehidupan yang telah berakhir. Namun, pengalaman itu tidak akan menggerakkan tubuhmu menggantikanmu. Tidak akan menahan luka atas namamu. Dan tidak akan menyelamatkanmu ketika kau mengambil keputusan yang salah.” Ignis tidak membantah. Karena untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia benar-benar merasakan perbedaan antara mengetahui cara memenangkan pertarungan dan memiliki kemampuan untuk melakukannya. “Kalau begitu, aku akan membangun kekuatan yang kubutuhkan.” “Janji yang mudah diucapkan.” “Aku tidak sedang berjanji kepadamu.” Sosok itu terdiam. Lalu, perlahan, ia mengangkat tangannya dan menunjuk simbol sembilan garis pada pilar. “Kalau kau ingin mengetahui artinya, carilah catatan yang kehilangan satu bagian.” Jantung Ignis berdegup lebih cepat. Lampiran ketujuh. “Jadi, kau tahu tentang arsip itu?” Namun, sosok tersebut tidak menjawab. Langit merah mulai bergetar. Reruntuhan di sekeliling Ignis memudar seperti bayangan yang tersapu kabut. Sebelum tempat itu lenyap sepenuhnya, suara itu terdengar sekali lagi. “Jangan percaya bahwa sesuatu yang tertulis selalu merupakan kebenaran. Tetapi jangan pula menganggap setiap bagian yang hilang sebagai bukti pengkhianatan.” Lalu semuanya gelap. --- Ignis terbangun dengan napas tersengal. Cahaya pagi menyelinap melalui tirai kamarnya. Tubuh kecilnya terbaring di atas kasur, tetapi rasa sakit di lengannya terasa begitu nyata hingga ia segera menarik selimut dan memeriksanya. Tidak ada luka terbuka. Hanya kulit yang utuh. Namun, ketika ia membalik telapak tangannya, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam. Di ujung jari telunjuknya terdapat debu hitam tipis. Ignis mengusapnya dengan ibu jari. Debu itu tidak langsung menghilang. Ia mengambil buku catatan dan menuliskan semua yang masih diingatnya sebelum detail-detail mimpi tersebut memudar. Enam monster. Reruntuhan. Simbol sembilan garis. Sosok misterius. Dan satu petunjuk baru: catatan yang kehilangan satu bagian. Ia berhenti pada kalimat terakhir. Apakah suara itu sengaja mengarahkanku ke arsip? Ataukah ia hanya mengetahui bahwa aku telah menemukan petunjuk tersebut? Ia belum bisa membedakan keduanya. Untuk saat ini, ia hanya memiliki satu langkah yang masuk akal: menunggu kesempatan untuk memeriksa katalog lama bersama Caelan. Ignis menutup bukunya. Di luar jendela, matahari telah terbit sepenuhnya. Suara latihan para kesatria terdengar dari halaman, bercampur dengan nyanyian burung dan derap langkah para pelayan yang memulai pekerjaan mereka. Dunia di luar tetap indah dan damai. Sementara itu, di dalam diri seorang anak berusia delapan tahun, perang panjang melawan takdir baru saja dimulai. Bersambung — Bab 7: Jejak di Dalam Arsip

End of Chapter 6