Chapter 69 of 70
Bab 69 — Dua Pihak, Satu Kebohongan
775 words
Mereth tidak menangis ketika mengetahui keping logam itu hilang.
Ia hanya duduk diam, memandangi kain hitam yang menutupi cermin.
“Mereka akan membawanya ke ruang ketujuh,” katanya.
“Apakah itu berarti mereka bisa membuka pintunya?” tanya Caelan.
“Tidak sendirian. Keping itu hanya membuktikan garis keturunan penjaga. Pintu tetap membutuhkan sesuatu yang lain.”
“Ingatan?” tanya Ignis.
Mereth mengangguk.
“Bisa jadi.”
Garrick membalut luka kecil di lengannya sendiri. Ia tidak terluka parah, tetapi serangan di rumah itu membuatnya semakin tidak menyukai gagasan membiarkan Ignis mendekati pintu mana pun yang berhubungan dengan sumpah.
“Kita sudah mendapatkan informasi yang cukup. Kita bawa Mereth ke tempat aman, lalu kembali ke wilayah Pendragon.”
Ignis menatapnya.
“Belum.”
“Bocah, kita baru saja diserang di rumah seorang perempuan tua yang menyimpan rahasia berbahaya. Aku tidak akan membiarkanmu terus berjalan menuju jebakan.”
“Aku tidak akan membuka pintunya tanpa persiapan. Tapi sekarang kita tahu bahwa seseorang ingin menggunakan keping Halvern untuk mencapainya. Kalau kita pergi, mereka akan mendapat waktu untuk melakukannya.”
Garrick menghela napas panjang.
“Dan kalau kita tetap di sini, mereka mungkin menyerang lagi.”
“Kita bisa memilih tempat pertemuan.”
Ignis membentangkan peta kota yang dibawa Caelan.
“Rumah ini terlalu mudah diawasi. Jalur bawah tanah terlalu sempit. Menara terlalu jelas. Kita butuh tempat yang memberi kita ruang untuk bergerak.”
Mereth mengangkat kepala.
“Ada sebuah gudang tua di sisi selatan desa. Edric menggunakannya untuk menyimpan barang sebelum perjalanan. Tidak ada yang mengunjunginya lagi.”
“Apakah ada jalan keluar lain?”
“Pintu belakang dan lorong penyimpanan yang menuju kebun.”
Ignis mengangguk.
Mereka meninggalkan rumah Halvern menjelang malam dan berpindah ke gudang tersebut. Garrick mengatur penjagaan, sementara Caelan menyalin isi surat Edric agar mereka memiliki salinan jika dokumen asli hilang.
Mereth memberikan satu informasi lagi.
“Edric pernah mengatakan bahwa ada dua pihak yang berusaha mempertahankan Sumpah Pertama. Pihak pertama ingin mengembalikan nama yang dihapus. Pihak kedua ingin memastikan nama itu tetap hilang.”
“Dan siapa yang benar?” tanya Ignis.
Mereth menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ignis memandangi api kecil yang mereka nyalakan di dalam gudang.
Dua pihak.
Keduanya mengaku menjaga sesuatu.
Satu ingin mengembalikan nama, sedangkan yang lain ingin menghapusnya selamanya.
Namun, tidak ada yang menjelaskan apa yang terjadi jika nama Auren benar-benar dipulihkan.
Mungkin nama itu akan mengungkap kejahatan lama.
Mungkin nama itu akan membebaskan seseorang yang telah lama dikurung.
Atau mungkin, justru ada alasan mengapa nama tersebut dihapus.
Ignis tidak akan mengambil keputusan hanya karena salah satu pihak mengaku benar.
Tiba-tiba terdengar tiga ketukan dari pintu depan.
Semua orang langsung bersiap.
Garrick berdiri di sisi pintu, sedangkan Ignis mengambil posisi di belakang tumpukan peti.
“Siapa?” tanya Garrick.
“Aku membawa pesan untuk Pewaris.”
Suara seorang perempuan.
Garrick membuka pintu sedikit.
Seorang wanita muda berdiri di luar, mengenakan jubah perjalanan berwarna kelabu. Kedua tangannya terlihat jelas, dan ia tidak membawa senjata yang tampak.
“Aku tidak berniat bertarung,” katanya. “Aku hanya ingin menyampaikan pesan.”
“Dari siapa?”
“Dari seseorang yang mengenal Kael.”
Ignis keluar dari persembunyiannya.
“Biarkan dia masuk.”
Garrick menatapnya tajam, tetapi akhirnya membuka pintu.
Wanita itu masuk dan menyerahkan sebuah surat yang disegel dengan lilin hitam. Tidak ada lambang pada permukaannya.
Ignis membuka surat tersebut.
Pewaris,
Jika kau ingin mengetahui mengapa Auren dihapus, jangan percaya kepada pihak yang menjanjikan kebenaran tanpa harga.
Jika kau ingin mengetahui mengapa Kael menjadi saksi, jangan percaya kepada pihak yang menganggap semua ingatan sebagai kutukan.
Datanglah ke jembatan tua di sebelah utara saat fajar. Datang tanpa pasukan.
Jika kau membawa terlalu banyak orang, aku akan pergi.
Jika kau datang sendirian, kau mungkin tidak akan kembali.
Tidak ada tanda tangan.
Ignis mengangkat pandangan.
“Siapa yang mengirim ini?”
Wanita itu menggeleng.
“Aku hanya dibayar untuk mengantarkannya.”
“Siapa yang membayarmu?”
“Seorang pria dengan mata perak.”
Caelan dan Ignis saling berpandangan.
Sosok bermata perak telah muncul sebelumnya dalam rangkaian petunjuk mereka. Sosok itu membakar laporan yang mencantumkan nama Kael, Auren, dan Ignis.
“Apakah dia mengatakan namanya?” tanya Ignis.
“Tidak. Tapi dia mengatakan satu hal sebelum pergi.”
“Apa?”
Wanita itu menelan ludah.
“Katanya, jika kau bertanya siapa yang menghapus nama Auren, jawaban pertama yang kau dengar pasti bohong.”
Ia pergi setelah menerima pembayaran yang dijanjikan.
Garrick langsung menggeleng.
“Kita tidak akan datang.”
“Kita akan datang,” jawab Ignis.
“Dia secara terang-terangan mengatakan kau mungkin tidak akan kembali.”
“Karena itu kita tidak akan datang tanpa rencana.”
Ignis melipat surat tersebut.
Mereka akan menyiapkan jalur mundur, mengamati jembatan sebelum fajar, dan memastikan tidak ada penyergapan. Ia tidak berniat menyerahkan dirinya kepada orang asing.
Namun, ada satu kalimat yang terus terngiang di kepalanya.
Jawaban pertama yang kau dengar pasti bohong.
Jika benar, maka semua yang telah mereka pelajari mungkin hanya lapisan kebohongan yang saling melindungi.
Dan untuk pertama kalinya, Ignis bertanya-tanya apakah menemukan kebenaran akan membuatnya lebih aman.
Atau justru menjadikannya musuh bagi semua orang yang masih hidup.
Bersambung.