Fajar belum tiba ketika Ignis dan Garrick berangkat menuju jembatan tua.
Mereka tidak datang sendirian seperti yang diminta surat itu. Caelan dan dua penjaga mengikuti dari kejauhan, sedangkan satu penjaga lainnya tetap bersama Mereth di gudang.
Garrick tidak menyukai rencana tersebut, tetapi ia memahami alasan Ignis.
“Kalau orang itu menginginkan pertemuan rahasia, dia akan memperhatikan jumlah orang yang datang,” katanya. “Kita harus menjaga jarak agar tidak terlihat.”
Ignis mengangguk.
“Aku tidak akan melewati jembatan sebelum kau memastikan jalur seberangnya aman.”
Mereka bergerak melalui pepohonan dan semak basah. Jembatan tua itu melintasi sungai dangkal yang mengalir di antara dua bukit. Sebagian pagar kayunya telah runtuh, sementara batu penyangganya ditumbuhi lumut.
Tidak ada seorang pun di sana.
Garrick memeriksa bagian bawah jembatan. Ia menemukan bekas api unggun yang sudah padam dan jejak sepatu yang mengarah ke tepi sungai.
“Dia pernah berada di sini,” bisiknya. “Tapi jejaknya tidak menunjukkan kapan.”
Ignis berdiri di ujung jembatan.
“Aku datang,” katanya.
Angin bertiup melewati pepohonan.
Tidak ada jawaban.
Ia menunggu beberapa saat sebelum kembali berbicara.
“Aku tidak akan membuka pintu ketujuh tanpa mengetahui apa yang ada di baliknya. Jika kau memiliki informasi tentang Auren atau Kael, katakan sekarang.”
Sebuah suara terdengar dari seberang sungai.
“Kalau begitu, kau sudah belajar sesuatu.”
Seorang pria berdiri di antara pepohonan. Jubahnya sederhana, tanpa lambang keluarga atau tanda jabatan. Rambutnya berwarna pucat, dan matanya memantulkan cahaya perak meskipun matahari belum muncul.
Garrick segera mengangkat pedang.
Pria itu tidak bergerak.
“Aku tidak datang untuk melawanmu, Pendragon.”
“Lalu kenapa kau membakar laporan tentang namaku?”
“Karena laporan itu tidak boleh ditemukan oleh orang yang membacanya tanpa memahami isinya.”
“Jawaban yang nyaman.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Jawaban yang benar sering kali terdengar nyaman bagi orang yang belum mengetahui seluruh pertanyaannya.”
Ignis tidak menyukai cara pria itu berbicara.
“Apa hubunganmu dengan Auren?”
“Hubungan yang sudah berakhir.”
“Apakah kau mengenalnya?”
“Ya.”
“Apakah kau menghapus namanya?”
Pria itu terdiam cukup lama.
“Aku pernah membantu menghapus sebuah nama dari catatan.”
Garrick mengencangkan genggaman pada pedangnya.
“Jadi, kau mengakuinya.”
“Tidak,” jawab pria itu. “Aku mengakui perbuatanku. Aku tidak mengatakan bahwa nama yang kuhapus adalah nama Auren.”
Ignis mengamati wajahnya.
Pria itu tidak terlihat gugup. Ia juga tidak berusaha menghindari tatapan Ignis.
Namun, ketenangan tidak membuktikan kejujuran.
“Kau mengatakan jawaban pertama yang kudengar pasti bohong,” ujar Ignis. “Apakah itu berarti jawabanmu sekarang juga bohong?”
“Tidak semua kebohongan berbentuk kalimat palsu. Kadang-kadang, kebohongan adalah kebenaran yang sengaja ditempatkan pada urutan yang salah.”
Ignis terdiam.
Pria itu melanjutkan.
“Kau mencari nama yang dihapus karena kau percaya nama itu akan menjelaskan masa lalumu. Tapi kau belum mempertimbangkan kemungkinan bahwa nama itu dihapus untuk melindungi seseorang yang masih hidup.”
“Auren?”
“Mungkin.”
“Kael?”
“Mungkin.”
“Diriku?”
Untuk pertama kalinya, ekspresi pria bermata perak itu berubah.
Ia memandang Ignis dengan kesedihan yang begitu singkat hingga hampir tidak terlihat.
“Terutama dirimu.”
Garrick bergerak maju.
“Cukup. Katakan siapa dirimu.”
Pria itu memandangnya.
“Aku pernah memiliki nama. Aku pernah memiliki keluarga. Aku pernah memiliki tempat dalam sejarah.”
“Lalu?”
“Semua itu diambil ketika aku membantu menutup Sumpah Pertama.”
Ignis merasakan telapak tangannya berdenyut.
“Apakah kau saksi ketujuh?”
Pria itu menggeleng.
“Aku bukan salah satu dari tujuh saksi.”
“Kalau begitu, siapa kau?”
Pria itu membuka sarung tangan di tangan kirinya. Pada telapak tangannya terdapat pola sembilan garis yang sama dengan milik Ignis, tetapi garis-garis itu tampak lebih tua, seolah telah menghitam selama puluhan tahun.
Garrick mengumpat pelan.
Ignis menatap pola tersebut tanpa berkedip.
“Bagaimana kau mendapatkannya?”
“Dengan membayar harga yang sama.”
“Ingatan?”
“Lebih dari itu.”
Pria tersebut kembali mengenakan sarung tangannya.
“Aku tidak bisa memberimu seluruh jawaban. Belum. Tapi aku bisa memperingatkanmu tentang satu hal.”
“Apa?”
“Jangan biarkan pintu ketujuh mengenali namamu sebelum kau mengetahui nama yang kau gunakan ketika pertama kali dilahirkan.”
Ignis merasa darahnya seolah membeku.
Ia sudah mendengar bahwa Kael bukan pewaris, melainkan saksi. Ia telah menemukan nama Auren dan mengetahui bahwa seseorang sengaja menghapusnya. Namun, ia belum pernah mempertimbangkan bahwa nama Ignis sendiri mungkin bukan nama pertamanya.
Pria itu melangkah mundur menuju pepohonan.
“Tunggu!” seru Ignis. “Kalau kau mengetahui semua ini, kenapa tidak memberitahuku sekarang?”
“Karena kau belum siap membedakan ingatanmu sendiri dari ingatan yang ditanamkan kepadamu.”
“Apa maksudmu?”
Pria itu berhenti sesaat.
“Ketika kau melihat malam kedua lagi, jangan percaya kepada anak yang mengenakan pakaian putih.”
Sebelum Garrick dapat mengejarnya, pria itu menghilang di balik pepohonan.
Tidak ada suara langkah. Tidak ada kilatan sihir.
Ia hanya lenyap dari pandangan.
Garrick segera memeriksa kedua sisi sungai, tetapi tidak menemukan jejak baru.
Ignis berdiri diam di atas jembatan.
Ia tidak mendapatkan nama pria itu. Ia tidak mendapatkan jawaban pasti tentang Auren. Bahkan, ia belum mengetahui apakah peringatan tersebut merupakan bantuan atau jebakan.
Namun, satu hal kini jelas.
Misteri ini tidak hanya berkaitan dengan sejarah keluarga Pendragon.
Seseorang telah mengubah, menyembunyikan, atau menanamkan bagian dari masa lalu Ignis sendiri.
Ketika ia menatap telapak tangannya, sembilan garis hitam itu kembali terasa panas.
Untuk sesaat, sebuah kata muncul di dalam pikirannya.
Bukan Auren.
Bukan Kael.
Melainkan nama yang tidak pernah ia kenal sebelumnya.
Elyndar.
Lalu kata itu menghilang.
Ignis mengepalkan tangannya.
Ia tidak tahu apakah Elyndar merupakan nama asli, nama yang dihapus, atau sekadar suara dari ingatan yang rusak.
Tetapi sekarang ia memiliki tujuan baru.
Sebelum membuka pintu ketujuh, ia harus menemukan siapa atau apa Elyndar.
Sebab jika pria bermata perak itu benar, pintu tersebut bukan sekadar jalan menuju sejarah.
Pintu itu mungkin merupakan tempat yang menyimpan jawaban tentang siapa Ignis Pendragon sebenarnya.
Dan harga untuk membukanya mungkin adalah kehilangan dirinya sendiri.
Bersambung.
Bab berikutnya: Bab 71 — Nama yang Muncul Sekali