Chapter 68 of 70

Bab 68 — Rumah yang Menolak Nama

755 words

Perempuan tua itu memperkenalkan dirinya sebagai Mereth Halvern. Ia tinggal sendirian di rumah keluarga yang telah kehilangan sebagian besar tanah dan kehormatannya. Tidak ada pelayan, tidak ada lambang kebesaran di dinding, dan tidak ada tanda bahwa keluarga tersebut pernah memiliki hubungan dengan urusan sebesar Sumpah Pertama. Namun, Ignis memperhatikan sesuatu yang berbeda. Di setiap ruangan, terdapat sebuah cermin kecil yang ditutupi kain hitam. Bukan hanya satu atau dua. Hampir semua cermin di rumah itu disembunyikan. “Kenapa cerminnya ditutup?” tanya Ignis. Mereth berhenti menuangkan teh. “Karena terkadang, pantulan mengingat sesuatu yang ingin dilupakan manusia.” Garrick mengangkat alis. “Jawaban yang sangat menenangkan.” Perempuan tua itu tidak tersenyum. Ia mempersilakan mereka duduk di ruang tengah, lalu mengeluarkan sebuah kotak kayu dari lemari. Kotak tersebut dikunci dengan tiga pengait kecil. “Edric Halvern adalah leluhurku,” katanya. “Ia bukan orang yang menghapus nama Auren. Setidaknya, bukan menurut catatan yang diwariskan kepada keluargaku.” “Lalu apa yang ia lakukan?” tanya Caelan. “Ia menjaga salinan.” Mereth membuka pengait pertama. “Setelah Sumpah Pertama dicatat, beberapa orang menyadari bahwa nama salah satu saksi mulai menghilang dari dokumen. Mereka berusaha mempertahankannya dengan membuat salinan. Edric adalah salah satu penjaga salinan itu.” Pengait kedua terbuka. “Namun, ketika penghapusan semakin meluas, keluarga Halvern menerima perintah untuk menghentikan penyimpanan catatan tersebut. Mereka menolak.” Pengait ketiga terbuka. Di dalam kotak terdapat sebuah lembar perkamen yang dibungkus kain. Ignis tidak langsung menyentuhnya. “Apakah ini salinan Sumpah Pertama?” “Bukan. Ini surat terakhir Edric sebelum ia menghilang.” Mereth menyerahkan perkamen kepada Caelan. Tulisan di dalamnya sebagian pudar, tetapi beberapa kalimat masih terbaca. Jika nama itu benar-benar dihapus, jangan mencoba mengembalikannya dengan paksa. Orang yang mengikatnya pada sumpah akan menanggung akibatnya. Di bawahnya terdapat satu kalimat tambahan. Pewaris tidak boleh menjadi saksi untuk kedua kalinya. Caelan mengangkat kepala. “Pewaris dan saksi adalah dua peran berbeda. Mengapa mereka tidak boleh menjadi orang yang sama?” Mereth menatap Ignis. “Karena saksi mengingat apa yang terjadi, sedangkan pewaris menanggung akibatnya.” Ignis merasakan denyutan pada telapak tangannya. “Apakah Kael adalah saksi?” Mereth mengangguk pelan. “Nama Kael pernah digunakan untuk anak yang dipilih sebagai saksi. Tapi nama itu tidak pernah tercatat sebagai nama lahirnya.” “Lalu Auren?” “Aku tidak tahu apakah Auren merupakan nama lahir anak kedua atau nama yang diberikan setelah pemisahan. Edric tidak pernah menjelaskan hal itu.” Ignis mengerutkan kening. “Jadi, bahkan orang yang menjaga salinan tidak mengetahui seluruh kebenaran.” “Benar. Mereka hanya mengetahui bagian yang dipercayakan kepada mereka.” Jawaban itu masuk akal. Sejarah yang dihapus tidak mungkin dijaga oleh satu orang saja. Namun, hal itu juga berarti tidak ada satu sumber pun yang bisa dipercaya sepenuhnya. Tiba-tiba terdengar bunyi pecahan kaca dari lantai atas. Garrick langsung berdiri. “Caelan, tetap bersama Ignis.” Ia menaiki tangga dengan pedang terhunus. Dua penjaga menyusulnya. Mereth justru tampak pasrah. “Mereka sudah datang.” “Siapa?” tanya Ignis. “Orang-orang yang menganggap tugas Edric belum selesai.” Suara benturan terdengar dari lantai atas, diikuti teriakan salah satu penjaga. Ignis bangkit dan bergerak menuju tangga, tetapi Mereth mencengkeram lengan bajunya. “Jangan naik.” “Garrick ada di atas.” “Justru karena itu. Jika kau naik, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan.” Ignis menatapnya tajam. “Apa yang mereka inginkan?” Mereth mengeluarkan sebuah keping logam kecil dari saku gaunnya. Keping itu memiliki lambang dua sayap dan sebuah lubang di tengahnya. “Benda ini adalah penanda keluarga Halvern. Jika dibawa ke ruang ketujuh, pintunya dapat mengenali garis keturunan penjaga.” Ignis memahami maksudnya. “Mereka ingin menggunakan keluargamu untuk membuka pintu.” “Bukan hanya keluargaku.” Mereth memandang telapak tangannya. “Mereka ingin menggunakanmu.” Benturan lain mengguncang rumah. Ignis melepaskan tangannya perlahan. “Aku tidak akan membiarkan mereka membawa Garrick.” Ia mengambil sebuah kursi kayu dan menempatkannya di dekat pintu samping, menghalangi jalur yang menghubungkan ruang tengah dengan halaman belakang. Kemudian ia memadamkan dua lampu minyak. Ketika seorang penyusup turun melalui tangga, ia tidak melihat Ignis yang bersembunyi di balik lemari. Bocah itu melemparkan kain tebal ke wajah penyusup, membuatnya kehilangan pandangan sesaat. Garrick muncul dari atas tangga dan menjatuhkannya dengan satu pukulan gagang pedang. Dua penyusup lain melarikan diri melalui jendela. Pertarungan berakhir dengan satu penjaga terluka ringan dan beberapa perabot rusak. Garrick turun sambil mengusap darah di pelipisnya. “Aku mulai membenci rumah ini.” Ignis hampir tersenyum. Namun, senyumnya menghilang ketika ia melihat meja tempat kotak kayu tadi diletakkan. Kotak itu masih ada. Surat Edric masih ada. Tetapi keping logam yang diberikan Mereth telah menghilang. Dan pada kain hitam yang menutupi cermin, seseorang menuliskan sebuah pesan menggunakan tinta merah. KELUARGA HALVERN SUDAH MEMILIH PIHAKNYA. SEKARANG GILIRANMU, PEWARIS. Ignis menatap tulisan itu. Mereka tidak lagi sekadar mencari sejarah. Seseorang sedang memaksanya memilih pihak dalam konflik yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami. Bersambung.

End of Chapter 68