Chapter 67 of 70

Bab 67 — Surat dari Keluarga Halvern

588 words

Pagi harinya, Caelan membawa kabar yang tidak mereka duga. “Aku berhasil menemukan catatan mengenai Edric Halvern,” katanya sambil meletakkan beberapa lembar kertas di atas meja. Ignis yang sedang sarapan langsung mengangkat kepala. “Dari mana?” “Salinan daftar keluarga bangsawan yang disimpan di rumah singgah ini. Dokumennya tidak lengkap, tetapi nama Halvern masih tercatat.” Garrick berdiri di dekat pintu, mendengarkan percakapan mereka. “Apakah dia masih hidup?” “Tidak ada catatan yang memastikan itu. Edric Halvern disebut sebagai pencatat perjanjian yang mengundurkan diri dari jabatan setelah terjadi kebakaran di sebuah bangunan arsip. Tahun kejadiannya cocok dengan perkiraan Maereth.” “Apakah ada keluarganya?” Caelan mengangguk. “Seorang putri bernama Elira Halvern. Catatan menyebutkan bahwa ia menikah dengan keluarga bangsawan lain. Namun, setelah itu jejak keluarganya menghilang.” Ignis membaca dokumen tersebut. Tidak ada bukti bahwa Edric adalah salah satu dari tujuh saksi. Tidak ada pula bukti bahwa ia menghapus nama Auren. Namun, kebakaran arsip, pengunduran diri, dan hilangnya jejak keluarganya terlalu berdekatan untuk diabaikan. “Kita tidak akan langsung menuduhnya,” kata Ignis. “Kita cari bukti terlebih dahulu.” Caelan tersenyum. “Aku sudah menduga kau akan mengatakan itu.” “Kalau begitu, kenapa kau terlihat kecewa?” “Karena tuduhan langsung biasanya menghasilkan reaksi yang menarik.” Garrick mendengus. “Kalian berdua terlalu menikmati urusan ini.” Ignis menyimpan dokumen. “Kita akan menuju tempat terakhir keluarga Halvern tercatat.” Mereka berangkat menjelang siang. Perjalanan membawa mereka melewati perbukitan dan hutan pinus. Tidak ada serangan selama beberapa jam, tetapi Ignis beberapa kali menemukan tanda bahwa seseorang bergerak sejajar dengan rombongan mereka. Jejak kuda di tanah basah. Ranting yang patah terlalu tinggi untuk diinjak binatang kecil. Dan bekas api unggun yang sudah ditimbun tanah. Mereka sedang diawasi. Garrick ingin mengubah rute, tetapi Ignis menolak. “Kalau kita terus menghindar, mereka akan tahu bahwa kita menyadari keberadaan mereka. Biarkan mereka mengikuti kita sampai kita mengetahui tujuan mereka.” Menjelang sore, mereka tiba di sebuah desa kecil yang terletak di kaki bukit. Sebagian besar rumahnya terbuat dari kayu, dengan ladang gandum mengelilingi jalan utama. Seorang pemilik penginapan mengenali nama Halvern. “Rumah mereka berada di sebelah utara desa,” katanya. “Sudah lama kosong. Orang-orang bilang keluarga itu pergi setelah kehilangan hak atas tanah mereka.” “Apakah ada yang masih mengunjunginya?” tanya Caelan. “Seorang perempuan tua terkadang datang. Tidak setiap bulan.” Ignis meminta petunjuk arah. Rumah Halvern berdiri di ujung jalan berbatu, tersembunyi di balik pohon ek tua. Bangunannya tidak besar, tetapi fondasinya terbuat dari batu yang lebih baik daripada rumah-rumah di sekitarnya. Pintunya terkunci. Garrick memeriksa jendela belakang dan menemukan salah satu penahannya baru diganti. “Seseorang masih merawat tempat ini.” Ignis mengetuk pintu. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi. Dari dalam terdengar suara benda jatuh, lalu langkah kaki yang perlahan mendekat. Pintu terbuka sedikit. Seorang perempuan tua mengintip melalui celah. Rambutnya putih, wajahnya dipenuhi keriput, tetapi matanya tajam. “Siapa kalian?” “Kami sedang mencari informasi tentang Edric Halvern,” jawab Ignis. Wajah perempuan itu langsung berubah. Ia hendak menutup pintu, tetapi Garrick menahan pintu dengan telapak tangannya tanpa mendorong paksa. “Kami tidak berniat menyakiti Anda,” kata Ignis. “Kami hanya ingin bertanya.” Perempuan itu menatapnya, kemudian pandangannya turun ke telapak tangan Ignis. Warna wajahnya memucat. “Tidak,” bisiknya. “Tidak mungkin.” “Apa yang Anda lihat?” Perempuan itu membuka pintu lebih lebar. “Masuklah. Tapi kalian harus berjanji satu hal.” “Apa?” “Jangan pernah menyebut nama Auren di dalam rumah ini.” Ignis dan Caelan saling berpandangan. Mereka akhirnya menemukan seseorang yang masih mengingat nama itu. Namun, perempuan tersebut tidak terlihat lega. Ia terlihat ketakutan. Dan dari cara ia menatap Ignis, bocah itu mulai menduga bahwa keluarga Halvern bukan sekadar korban dari sejarah yang dihapus. Mereka mungkin adalah orang-orang yang diperintahkan untuk menjaganya. Bersambung.

End of Chapter 67