Chapter 66 of 70

Bab 66 — Malam Kedua

625 words

Mereka akhirnya meninggalkan kota tanpa nama melalui jalur barat. Hujan telah berhenti, tetapi kabut masih menutupi dataran di luar tembok. Maereth memilih untuk tinggal bersama seorang kenalan lama di desa terdekat, sementara Orven bersikeras ikut sampai mereka menemukan tempat yang aman. Ignis tidak sepenuhnya mempercayainya. Namun, setelah kejadian di ruang arsip, ia juga tidak memiliki alasan untuk langsung menuduh pria itu sebagai musuh. Mereka berkemah di sebuah rumah singgah tua menjelang malam. Garrick menempatkan penjaga di dua pintu dan jendela. Caelan menyusun dokumen yang berhasil mereka selamatkan, sedangkan Ignis duduk sendirian di dekat perapian. Kertas bertuliskan malam kedua terletak di hadapannya. Ia sudah mencoba mengingat berbagai kejadian dalam kehidupan pertamanya. Pertarungan melawan monster, perjalanan menuju Worldscar Abyss, tahun-tahun yang dihabiskannya mencari obat kutukan, dan kematiannya setelah mencapai First Dawn Temple. Tidak ada malam kedua. Setidaknya, tidak ada yang dapat ia ingat. Namun, ada satu hal yang mengganggunya. Ketika ia kembali ke usia delapan tahun, ingatan tentang kehidupannya yang pertama tetap utuh. Ia mengingat rasa sakit, kemenangan, kekalahan, dan wajah orang-orang yang pernah ditemuinya. Jika seseorang menghapus sebagian ingatannya, seharusnya ada lubang yang jelas di antara peristiwa-peristiwa itu. Tetapi ia tidak menemukan lubang. Yang ia temukan hanyalah sesuatu yang terasa terlalu biasa untuk dicurigai. Sebuah malam yang tidak pernah ia pikirkan lagi. “Ignis.” Caelan berdiri di sampingnya sambil membawa dua cangkir minuman hangat. “Kau belum tidur.” “Aku sedang berpikir.” “Biasanya itu berarti kau akan melakukan sesuatu yang berbahaya.” Ignis menerima cangkirnya. “Kalau aku menemukan sesuatu yang mengancam keluargaku, apa menurutmu aku harus berhenti mencari hanya karena jawabannya mungkin menyakitkan?” Caelan tidak langsung menjawab. “Tidak. Tapi kau juga tidak harus menyelesaikan semuanya seorang diri.” Ignis memandangi api. Ia tahu Caelan benar. Namun, ia juga tahu bahwa semakin dekat ia pada kebenaran, semakin besar kemungkinan orang-orang di sekitarnya ikut terseret. “Terima kasih,” katanya singkat. Caelan tampak sedikit terkejut mendengar ucapan itu, tetapi ia tidak menggoda Ignis. Malam semakin larut. Ignis akhirnya berbaring di kamar kecil yang disediakan untuknya. Ia tidak berniat tidur lama. Setelah semua yang terjadi, ia ingin berjaga-jaga. Namun, ketika matanya terpejam, dunia di sekelilingnya lenyap. Ia berdiri di sebuah halaman yang diselimuti salju. Langitnya gelap, tanpa bulan dan bintang. Di tengah halaman terdapat dua anak yang berdiri membelakanginya. Salah satu mengenakan pakaian putih. Yang lain memakai pakaian hitam. Ignis mencoba mendekat, tetapi kakinya tidak bergerak. “Kael,” panggil seseorang dari kejauhan. Anak berpakaian putih menoleh. Wajahnya samar, tetapi matanya sama dengan mata Ignis. “Jangan biarkan dia mengingat malam kedua,” kata suara itu. Anak berpakaian hitam mengangkat kepala. “Aku tidak bisa menjanjikan itu.” “Kalau begitu, kau harus memilih.” “Aku sudah memilih.” Suara retakan terdengar. Halaman itu terbelah seperti kaca, memperlihatkan kegelapan di bawahnya. Ignis merasakan sesuatu mencengkeram dadanya. Kemudian anak berpakaian hitam menatapnya. “Kau datang terlalu cepat.” Ignis berusaha berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar. “Jika kau mengingat malam kedua,” lanjut anak itu, “kau akan tahu siapa yang pertama kali mengkhianatimu.” Sebuah tangan terulur dari kegelapan. Sebelum Ignis dapat meraihnya, semuanya runtuh. Ia terbangun dengan napas memburu. Kamar itu gelap. Keringat membasahi dahinya, dan telapak tangannya terasa panas. Garis-garis hitam yang sebelumnya samar kini membentuk pola lebih jelas. Sembilan garis itu melingkari sebuah titik kecil di tengah telapak tangan. Dari luar kamar terdengar suara langkah cepat. Garrick masuk sambil membawa pedang. “Ada apa?” Ignis menatapnya. “Aku mengalami mimpi.” Garrick mengamati wajahnya. “Mimpi buruk?” “Lebih dari itu.” Ignis mengangkat telapak tangannya. “Kurasa seseorang sedang mencoba membuatku mengingat sesuatu.” Garrick menatap pola hitam tersebut, lalu mengunci pintu kamar. “Kita berangkat saat fajar.” Ignis mengangguk. Namun, sebelum ia kembali berbaring, sebuah pikiran muncul di benaknya. Jika mimpi itu merupakan ingatan yang tersegel, maka seseorang telah menyembunyikannya jauh sebelum regresinya. Dan jika seseorang sengaja menghapus malam kedua, mungkin malam itulah alasan mengapa ia masih hidup untuk mengingat kehidupan pertamanya. Bersambung.

End of Chapter 66