Ignis tidak menceritakan kilasan yang baru dialaminya kepada semua orang.
Ia hanya mengatakan bahwa buku itu memicu reaksi aneh pada kutukannya. Penjelasan tersebut cukup untuk membuat Garrick melarangnya menyentuh benda lain di dalam ruang arsip.
Namun, Ignis tahu ada sesuatu yang berbeda.
Kutukan biasanya membawa rasa sakit, sensasi terbakar, atau bayangan dunia mengerikan yang muncul setiap kali ia tertidur. Kilasan tadi tidak menyerupai semua itu.
Ia melihat ruangan putih.
Mendengar tangisan anak kecil.
Dan merasakan kesedihan seseorang yang tidak dikenalnya.
Perasaan itu terlalu nyata untuk dianggap sebagai halusinasi biasa.
“Buku ini harus dibawa,” kata Caelan. “Jika kita meninggalkannya, orang lain akan mengambilnya.”
“Bungkus dengan kain,” jawab Ignis. “Jangan biarkan siapa pun membacanya sendirian.”
“Termasuk aku?”
“Terutama kau. Kau terlalu mudah tertarik pada tulisan kuno.”
Caelan tersenyum tipis. “Aku menganggap itu pujian.”
“Anggap saja peringatan.”
Mereka keluar dari ruang arsip dan menemukan lorong bercabang dua. Menurut peta, jalur barat akan membawa mereka ke luar kota, sedangkan jalur timur menuju bagian bawah balai perjanjian.
Maereth menyarankan agar mereka segera pergi.
Namun, sebelum memutuskan, Ignis memeriksa kembali keping logam bernomor tujuh.
Pada bagian belakangnya terdapat garis-garis kecil yang sebelumnya tidak ia perhatikan. Ketika dibersihkan, garis itu membentuk lambang keluarga yang hampir hilang.
Bukan lambang Pendragon.
Melainkan lambang keluarga bangsawan yang pernah ia lihat di dokumen kekaisaran.
“Caelan, kau mengenali ini?”
Caelan menatapnya lama.
“Lambang keluarga Halvern.”
“Edric Halvern?”
“Bisa jadi. Tapi aku tidak bisa memastikan hanya dari lambang yang rusak.”
Ignis mengingat tag logam E-17 yang mereka temukan sebelumnya. Nama Edric Halvern muncul pada benda itu, disertai petunjuk untuk mencari tempat di mana ia dihapus.
Mereka kini memiliki dua jejak yang mengarah kepada nama yang sama.
Edric Halvern.
Seseorang yang terhubung dengan arsip, sumpah, dan kota yang dihapus dari catatan.
“Apakah keluarga Halvern masih ada?” tanya Ignis.
Caelan mengangguk.
“Setidaknya, nama keluarganya masih tercatat. Mereka bukan salah satu keluarga terbesar di kekaisaran. Catatan publik menyebut mereka sebagai keluarga bangsawan kecil yang kehilangan sebagian besar wilayahnya beberapa generasi lalu.”
“Kenapa?”
“Alasannya berbeda-beda di setiap dokumen. Ada yang menyebut utang, ada yang menyebut pengkhianatan, dan ada yang menyebut keluarga itu dibubarkan setelah perselisihan internal.”
“Tidak ada yang menyebut penghapusan nama?”
“Tidak.”
Ignis mengangguk perlahan.
Keluarga itu mungkin tidak bersalah. Mereka juga mungkin menyimpan rahasia. Ia tidak akan menarik kesimpulan sebelum memperoleh bukti.
Tiba-tiba terdengar bunyi batu bergeser dari lorong timur.
Garrick langsung mengangkat pedang.
Dari kegelapan muncul tiga orang bersenjata. Dua membawa pedang pendek, sedangkan yang ketiga memegang tongkat dengan kristal hitam di ujungnya.
“Serahkan buku itu,” kata pria bertongkat.
“Siapa kalian?” tanya Garrick.
“Orang-orang yang ingin memastikan kalian tidak membawa sesuatu yang bukan hak kalian.”
Ignis memperhatikan posisi mereka. Lorong itu terlalu sempit untuk pertarungan terbuka. Jika mereka mundur, para penyerang dapat memaksa mereka masuk ke jalur buntu.
“Caelan, bawa Maereth dan Orven ke belakang,” bisik Ignis. “Garrick, jangan biarkan orang bertongkat mendekati buku.”
Pertarungan pecah.
Garrick menahan dua pendekar di depan, sementara salah satu penjaga membantu menutup lorong. Pria bertongkat mengangkat senjatanya, membuat kristal hitam memancarkan cahaya.
Bayangan di lantai bergerak melawan arah cahaya.
Ignis segera menyadari bahwa sihir itu tidak menyerang tubuh secara langsung. Bayangan mereka memanjang dan menjerat kaki, berusaha membuat siapa pun yang terperangkap kehilangan keseimbangan.
“Jangan injak bayangan yang memanjang!” teriak Ignis.
Ia melemparkan lentera ke dinding. Cahaya lentera bergoyang, mengubah arah bayangan sesaat.
Gangguan kecil itu cukup bagi Garrick untuk mendekati penyihir tersebut.
Pria itu mengayunkan tongkatnya, tetapi Garrick menepisnya dengan pedang. Kristal hitam terlepas dan pecah di lantai.
Bayangan kembali normal.
Dua pendekar segera kehilangan keberanian. Salah satunya menjatuhkan senjata, sementara yang lain mencoba melarikan diri. Para penjaga berhasil menangkap keduanya.
Namun, pria bertongkat menggigit sesuatu yang tersembunyi di balik sarung tangannya.
Tubuhnya kejang.
Garrick mencoba menahannya, tetapi pria itu roboh sebelum sempat memberikan informasi.
Di tangannya tersisa selembar kertas kecil.
Ignis mengambilnya setelah memastikan tidak ada racun yang terlihat.
Tulisan di kertas itu singkat.
JANGAN BIARKAN PEWARIS MENGINGAT MALAM KEDUA.
Ignis membaca kalimat tersebut dua kali.
Malam kedua.
Bukan malam ketika ia mati. Bukan pula malam ketika ia pertama kali kembali ke usia delapan tahun.
Sesuatu yang lain.
Ia menutup mata, mencoba mencari ingatan yang mungkin berhubungan dengan kalimat itu.
Tidak ada.
Hanya kehampaan.
Dan kehampaan itu membuatnya lebih takut daripada jawaban apa pun.
Bersambung.