Chapter 64 of 70
Bab 64 — Harga Sebuah Nama
744 words
Mereka meninggalkan menara melalui jalan bawah tanah yang ditunjukkan Maereth.
Jalur itu sempit dan lembap. Sebagian dindingnya dipenuhi akar, sedangkan lantainya tertutup air setinggi mata kaki. Garrick berjalan paling depan, diikuti dua penjaga. Caelan membawa catatan, sementara Ignis membantu menopang Orven.
Mereka baru berjalan beberapa puluh langkah ketika Orven tiba-tiba berhenti.
“Jangan lanjutkan.”
Garrick mengangkat tangan, memberi tanda agar semua orang berhenti.
“Apa lagi sekarang?”
Orven menunjuk dinding sebelah kanan.
Ada tujuh lingkaran kecil yang dipahat berjajar. Enam lingkaran telah ditutup dengan batu, sementara satu lainnya dibiarkan kosong.
Ignis memeriksanya.
“Ini bukan pintu.”
“Bukan,” jawab Orven. “Ini tempat pencatatan nama.”
Caelan mengamati ukiran di sekeliling lingkaran. “Aku pernah melihat pola seperti ini di dokumen tentang sumpah keluarga bangsawan.”
“Karena banyak keluarga meniru bentuknya,” kata Orven. “Mereka tidak tahu fungsi aslinya.”
Ignis memperhatikan lingkaran kosong.
“Bagaimana cara menggunakannya?”
“Dengan memberikan sesuatu yang tidak bisa diambil kembali.”
Garrick mendengus. “Kalau itu berarti darah, kita cari jalan lain.”
“Bukan darah,” kata Orven. “Ingatan.”
Keheningan menyelimuti lorong.
Ignis menatapnya.
“Jelaskan.”
“Ruang ini dibangun untuk mengunci nama ke dalam catatan. Nama bukan sekadar suara. Nama mengikat seseorang pada sejarahnya. Untuk menambahkan nama yang tidak dapat dihapus, orang yang memberikannya harus menyerahkan sebuah ingatan yang berkaitan dengan nama itu.”
“Jadi, orang-orang dahulu menggunakan ingatan sebagai harga?” tanya Caelan.
“Sebagian. Yang lain menggunakan sumpah.”
Ignis memandang garis hitam samar pada telapak tangannya.
Sembilan garis itu tidak bergerak, tetapi rasa panasnya bertambah.
“Apakah pintu ketujuh membutuhkan ingatanku?”
Orven menggeleng.
“Aku tidak tahu. Tapi kalau mekanisme di bawah kota masih berfungsi, pintu itu mungkin meminta sesuatu dari orang yang memiliki hubungan dengan sumpah pertama.”
“Dan kau menyuruhku menjauh.”
“Karena aku pernah melihat seseorang kehilangan ingatan yang paling berharga baginya demi membuka jalan itu.”
Ignis terdiam.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia telah kehilangan banyak hal. Keluarga, waktu, kesempatan untuk hidup normal. Namun, ingatan adalah satu-satunya hal yang membuatnya mampu membedakan masa lalu dan masa kini.
Jika pintu itu mengambil pengetahuan tentang kehidupan pertamanya, ia mungkin kehilangan alasan mengapa ia kembali.
Tetapi mundur juga berarti membiarkan orang lain menentukan masa depannya.
“Kalau begitu, kita tidak membuka pintunya sekarang,” putus Ignis.
Garrick tampak lega.
Mereka melanjutkan perjalanan sampai tiba di ruang kecil dengan tiga lorong. Pada dindingnya terdapat peta kota, tetapi sebagian besar nama tempat telah dikikis.
Caelan membersihkan permukaannya dengan kain.
“Lihat ini.”
Di bawah debu terdapat sebuah tulisan yang nyaris tak terbaca.
ARSIP PUSAT — JALUR BARAT.
Mereka mengikuti arah yang ditunjukkan peta dan menemukan pintu besi dengan lambang dua sayap. Tidak ada gagang, hanya sebuah celah sempit berbentuk keping logam.
Keping bernomor tujuh yang mereka temukan sebelumnya pas dengan celah itu.
Namun, Ignis tidak langsung memasukkannya.
Ia memeriksa pinggir pintu dan menemukan bekas goresan baru.
Seseorang telah mencoba membukanya belum lama ini.
“Orven,” katanya. “Siapa yang memiliki keping seperti ini?”
“Para pencatat sumpah.”
“Berapa orang yang masih hidup?”
Orven menatap pintu.
“Seharusnya tidak ada.”
Jawaban itu membuat Ignis semakin waspada.
Caelan menyodorkan keping logam kepadanya.
“Kita bisa membuka pintu dan memeriksa isi ruangannya.”
“Bisa,” jawab Ignis. “Tapi kita tidak tahu apakah keping ini benar-benar kunci atau umpan.”
Ia meminta salah satu penjaga mengikatkan tali pada keping tersebut. Setelah memasukkannya ke celah, mereka menariknya dari jarak aman.
Terdengar bunyi klik.
Pintu besi terbuka beberapa sentimeter.
Tidak ada ledakan. Tidak ada jebakan yang terlihat.
Di baliknya terdapat ruang arsip yang dipenuhi rak kosong.
Hampir seluruh dokumen telah dibawa pergi.
Hanya satu buku yang tersisa di atas meja.
Sampulnya tidak memiliki judul. Ketika Ignis membukanya, halaman pertama memperlihatkan tujuh nama yang ditulis dengan tinta pudar.
Enam nama dicoret.
Nama ketujuh masih utuh.
AUREN.
Di bawahnya tertulis kalimat:
Nama ini tidak boleh diberikan kepada siapa pun sebelum Pewaris memahami harga dari sebuah nama.
Ignis membalik halaman.
Halaman berikutnya kosong, kecuali sebuah bekas tekanan pena yang membentuk dua kata.
INGATAN PERTAMA.
Tiba-tiba garis hitam di telapak tangannya terasa seperti terbakar.
Ignis menjatuhkan buku itu.
Sebuah kilasan melintas di benaknya: ruangan putih, suara anak kecil menangis, dan seseorang yang berlutut di hadapan dua anak.
Lalu sebuah kalimat yang terdengar sangat dekat.
“Jika kau mengingat siapa dirimu, kau akan kehilangan siapa yang kau cintai.”
Kilasan itu lenyap secepat kemunculannya.
Ignis terengah-engah.
Garrick segera menopang tubuhnya.
“Apa yang terjadi?”
Ignis menatap buku di lantai.
“Aku tidak tahu.”
Itu bukan kebohongan.
Untuk pertama kalinya sejak regresi, ia merasakan sesuatu yang lebih menakutkan daripada kehilangan pengetahuan tentang masa depan.
Ia merasa ada ingatan yang tidak berasal dari kehidupannya sekarang, tetapi juga bukan bagian dari kehidupan pertamanya.
Dan seseorang telah menguncinya di dalam dirinya.
Bersambung.