Chapter 63 of 70
Bab 63 — Penjaga yang Mengingat
735 words
Pria yang ditemukan di depan menara dibawa ke bangunan terdekat yang masih memiliki atap. Garrick membersihkan lukanya, sementara Caelan mencari air dan kain bersih.
Ignis duduk di dekat jendela, mengawasi jalan.
Ia tidak menyukai situasi ini.
Orang asing muncul tepat ketika mereka menemukan mekanisme menara. Pria itu mengetahui tentang ruang ketujuh, tetapi tidak sempat menjelaskan maksudnya. Yang paling mencurigakan, ia bereaksi terhadap wajah Ignis seolah sedang melihat seseorang dari masa lalu.
“Dia akan sadar,” kata Garrick setelah selesai membalut luka.
“Lukanya parah?”
“Tidak mengenai organ penting. Tapi dia kehilangan cukup banyak darah. Kalau dipaksa bicara sekarang, kita mungkin tidak akan mendapatkan jawaban.”
Ignis mengangguk.
Ia tidak berniat menyiksa orang demi informasi. Selain tidak berguna, tindakan seperti itu sering menghasilkan kebohongan yang dianggap sebagai kebenaran.
Beberapa jam kemudian, pria itu membuka mata.
Tangannya langsung meraih sesuatu di pinggang, tetapi tidak menemukan senjata.
“Tenang,” kata Garrick. “Kau berada di tempat aman.”
“Tidak ada tempat aman.”
Pria itu mencoba duduk dan meringis kesakitan.
Ignis mendekat.
“Namamu?”
Pria itu memandangnya lama.
“Orven.”
“Orven apa?”
“Orven cukup.”
“Kalau begitu, Orven, siapa yang melukaimu?”
“Orang-orang yang tidak ingin pintu itu dibuka.”
“Pintu menara?”
Orven menggeleng lemah.
“Bukan. Pintu di bawah kota.”
Caelan berhenti menuangkan air.
“Kau mengetahui ruang ketujuh?”
Orven menatapnya tajam.
“Siapa yang memberitahumu tentang ruang itu?”
“Seorang penjaga yang sudah lama meninggal.”
Jawaban Caelan membuat Orven terdiam.
Ignis melanjutkan, “Kami menemukan catatan tentang tujuh saksi Sumpah Pertama. Enam nama masih tercatat. Satu nama dihapus.”
“Dan kalian mengira orang ketujuh bersembunyi di ruang ketujuh?”
“Kami belum tahu.”
“Bagus.” Orven mengembuskan napas. “Jangan terlalu cepat memercayai pola yang terlihat sempurna.”
Ignis menyukai jawaban itu.
“Sekarang giliranku bertanya. Mengapa kau ketakutan ketika melihatku?”
Orven menunduk. Jarinya meremas kain selimut.
“Karena kau memiliki mata yang sama.”
“Mata siapa?”
“Anak yang berdiri di depan pintu ketika semuanya dimulai.”
Suasana ruangan berubah hening.
Caelan mendekat. “Kael?”
Orven menatapnya, terkejut mendengar nama itu.
“Jangan sebut nama itu sembarangan.”
“Jadi, kau mengenalnya.”
“Aku mengenal seorang anak yang dipanggil Kael. Tapi aku tidak tahu apakah itu nama aslinya.”
Ignis merasakan telapak tangannya kembali berdenyut. Sembilan garis hitam yang muncul setelah pertemuannya dengan pintu masih samar, tetapi sensasinya semakin kuat.
“Apakah Kael adalah saksi?”
Orven menggeleng.
“Dia adalah anak yang dibawa untuk menyaksikan sebuah keputusan. Orang-orang di sana menyebutnya saksi karena mereka tidak ingin mengakui bahwa dia juga korban.”
Ignis menahan keinginan untuk bertanya lebih jauh.
“Keputusan apa?”
Orven memejamkan mata.
“Memisahkan dua anak agar satu nama dapat bertahan.”
Kalimat itu membuat Ignis teringat pada potret yang mereka temukan. Dua anak berdiri berdampingan, dengan tulisan: Kael dan Pewaris — Sebelum Pemisahan.
“Siapa anak kedua?” tanyanya.
Orven membuka mata, tetapi sebelum menjawab, terdengar ketukan dari luar.
Tiga kali.
Garrick langsung menghunus pedang.
Seorang penjaga yang ditempatkan di luar masuk dengan wajah tegang.
“Sir Garrick, ada surat di depan pintu.”
Ia menyerahkan amplop tanpa lambang.
Ignis membukanya menggunakan ujung pisau.
Di dalamnya terdapat secarik kertas dengan tulisan singkat.
PENJAGA ITU BOHONG. DIA TIDAK PERNAH MENJAGA MENARA.
Garrick memeriksa amplop.
“Tidak ada orang yang terlihat di luar.”
Ignis kembali menatap Orven.
Pria itu tidak tampak terkejut.
Justru ia terlihat sedih.
“Siapa yang menulis surat ini?” tanya Ignis.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau begitu, mengapa kau tampak seperti sudah menduganya?”
Orven memalingkan wajah.
“Karena orang yang mengirim surat itu selalu datang sebelum seseorang menghilang.”
Garrick bergerak mendekati pintu.
“Siapa yang akan menghilang?”
Orven menatap Ignis.
“Kali ini, mereka mengincarmu.”
Belum sempat siapa pun bereaksi, jendela di belakang Ignis pecah.
Sebuah anak panah menancap pada meja, hanya sejengkal dari tangannya.
Di ujung anak panah terikat seutas benang hitam.
Ignis tidak menyentuhnya.
Ia memandang keluar jendela. Di atap bangunan seberang, sesosok berjubah berdiri sesaat sebelum menghilang di balik hujan.
Mereka bukan satu-satunya pihak yang memburu kebenaran.
Dan Orven mungkin bukan penjaga yang datang untuk menolong mereka.
Namun, jika pria itu berbohong, ia melakukannya dengan alasan yang belum diketahui.
Ignis berdiri.
“Garrick, kita pindah tempat. Caelan, bawa semua catatan. Orven ikut bersama kita.”
“Kenapa tetap membawanya?” tanya Garrick.
“Karena kalau dia musuh, kita perlu tahu siapa yang mengirimnya. Kalau dia bukan musuh, meninggalkannya di sini sama saja menyerahkannya kepada orang yang memburunya.”
Ignis menoleh kepada Orven.
“Dan kau akan menjelaskan semuanya ketika kau sudah cukup kuat untuk berbicara.”
Orven tidak menjawab.
Tetapi ketika mereka membantunya berdiri, pria itu berbisik sangat pelan.
“Jangan buka pintu ketujuh, Ignis Pendragon.”
Untuk pertama kalinya, ia menyebut nama keluarga Ignis.
Dan bocah itu yakin Orven mengetahui lebih banyak daripada yang diakuinya.
Bersambung.