Chapter 62 of 70

Bab 62 — Lonceng Kota Tanpa Nama

624 words

Lonceng itu berbunyi untuk kedua kalinya. Suaranya berat, serak, dan terlalu panjang untuk sebuah menara yang telah kehilangan sebagian besar atapnya. Getarannya merambat melalui jalan berbatu, membuat air hujan di genangan beriak. Maereth menggenggam tongkatnya erat-erat. “Dulu, lonceng itu digunakan untuk memanggil tujuh saksi menuju balai perjanjian.” “Dan sekarang seseorang membunyikannya untuk kita,” kata Caelan. “Tidak,” jawab Maereth. “Seseorang membunyikannya karena kita sudah ditemukan.” Garrick memerintahkan dua penjaga memeriksa jalur belakang. Ia sendiri tetap berada di dekat Ignis. Bocah itu memandangi menara dari kejauhan. Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah menghadapi monster yang bisa meniru suara manusia, membengkokkan ruang, bahkan mengubah ingatan korbannya. Namun, pengalaman itu tidak membuatnya menganggap setiap fenomena aneh sebagai sihir. Justru sebaliknya. Ia belajar bahwa keajaiban paling menakutkan sering kali menyembunyikan mekanisme yang dapat dipahami. “Caelan, berapa lama lonceng itu tidak digunakan?” “Menurut Maereth, sejak kota ini dihapus.” “Apakah talinya masih terpasang?” Caelan menoleh kepada perempuan tua itu. Maereth menggeleng. “Tali utamanya dipotong sebelum aku meninggalkan kota.” Ignis menunjuk bagian atas menara. “Kalau begitu, kita periksa dari luar. Tidak ada yang masuk sampai kita tahu apa yang membuatnya berbunyi.” Mereka bergerak dengan hati-hati. Bangunan-bangunan di sekitar menara tampak lebih utuh daripada bagian kota lainnya. Beberapa pintu masih memiliki engsel besi, dan ukiran pada dinding belum terkikis sepenuhnya. Di depan pintu menara terdapat tujuh lekukan berbentuk telapak tangan. Enam di antaranya tertutup debu. Lekukan ketujuh masih bersih. Ignis mengamati permukaannya. Tidak ada darah, minyak, atau bekas sarung tangan. Hanya permukaan batu yang tampak baru disentuh. “Jangan menempelkan tangan,” kata Garrick. “Aku tidak berniat melakukannya.” Ignis meminta salah satu penjaga mengulurkan tombaknya dan menyentuh lekukan tersebut. Tidak terjadi apa-apa. Kemudian ia meminta penjaga itu menarik tombaknya. Saat ujung besi terangkat, terdengar bunyi klik dari dalam dinding. Sebuah celah terbuka di bawah pintu. Caelan berlutut dan mengintip. “Ada mekanisme.” “Bukan mekanisme biasa,” kata Ignis. “Perhatikan debunya.” Batu di bawah pintu bergeser sedikit demi sedikit, memperlihatkan roda gigi yang terhubung dengan rangkaian kawat. Kawat itu bergerak setiap kali angin menerobos celah di bagian atas menara. Loncengnya tidak membutuhkan tali. Anginlah yang menggerakkan mekanisme tersembunyi. “Jadi, seseorang mengatur agar lonceng berbunyi ketika pintu ini disentuh,” simpul Caelan. “Tidak persis.” Ignis menunjuk kawat yang berkarat. “Mekanisme ini sudah tua. Sentuhan tombak tadi hanya menggeser pengunci yang menahannya.” Ia memandangi pintu. “Artinya, seseorang tidak harus berada di sini sekarang untuk membuat kita mendengarnya.” Sebelum mereka sempat memeriksa lebih jauh, suara langkah terdengar dari jalan sebelah timur. Seorang pria berlari ke arah mereka. Pakaiannya compang-camping, wajahnya dipenuhi lumpur, dan satu lengannya dibalut kain yang mulai merah oleh darah. Garrick mengangkat pedang. “Berhenti!” Pria itu tersandung dan jatuh berlutut. “Jangan biarkan mereka membawa anak itu,” katanya terengah-engah. Ignis segera mendekat, tetapi tetap menjaga jarak. “Anak siapa?” Pria itu menatapnya. Untuk sesaat, matanya melebar seolah mengenali sesuatu pada wajah Ignis. “Dua sayap,” bisiknya. “Satu sumpah.” Ia meraih lengan Ignis. “Jangan percaya kepada orang yang mengatakan nama bisa mengubah takdir. Nama hanya mengubah apa yang diingat orang.” Pegangannya melemah. Garrick memeriksa lukanya. “Dia kehilangan banyak darah.” Caelan berusaha menolong, tetapi pria itu kembali berbicara. “Ruang ketujuh... bukan untuk saksi.” Ignis membungkuk. “Lalu untuk siapa?” Pria itu membuka mulut, tetapi suara yang keluar hanya napas pendek. Kepalanya terkulai. Ia masih hidup, tetapi tidak sadarkan diri. Maereth menutup mata sejenak. “Aku mengenali wajahnya.” “Siapa dia?” tanya Ignis. “Orang yang dahulu bertugas menjaga menara.” Ignis memandangi pintu yang belum terbuka sepenuhnya. Di baliknya, suara mekanisme berhenti. Lonceng tidak lagi berbunyi. Mereka menemukan seorang penjaga yang terluka, sebuah menara yang kembali aktif, dan petunjuk tentang ruang ketujuh. Namun, ada satu hal yang lebih mengganggunya. Pria itu tidak bertanya siapa Ignis. Ia justru terlihat takut setelah melihat wajahnya. Seolah-olah ia pernah melihat wajah yang sama di tempat lain. Atau pada seseorang yang seharusnya sudah lama mati. Bersambung.

End of Chapter 62