Hujan turun ketika Ignis dan rombongannya meninggalkan rumah pencatatan nama.
Langit di atas reruntuhan kota itu berwarna kelabu. Air merembes melalui celah-celah batu, membawa abu dari bangunan yang terbakar. Di belakang mereka, Maereth berjalan dengan tongkat kayunya, sementara Caelan membawa salinan catatan yang berhasil diselamatkan dari kebakaran.
Ignis tidak banyak bicara sejak mereka menemukan nama Auren.
Bukan karena ia tidak memiliki pertanyaan. Justru sebaliknya. Terlalu banyak pertanyaan memenuhi kepalanya hingga ia kesulitan menentukan mana yang harus dijawab lebih dahulu.
Kael. Auren. Pewaris. Saksi.
Dan namanya sendiri.
“Ignis.”
Suara Garrick membuyarkan lamunannya.
“Ada yang mengikutiku?” tanya Ignis.
“Belum tahu. Tapi sejak kita meninggalkan rumah pencatatan, aku mendengar langkah kaki yang berhenti setiap kali kita berhenti.”
Garrick menoleh kepada dua penjaga yang berjalan di belakang mereka. Ia mengangkat dua jari, memberi isyarat agar mereka memperlebar jarak.
Caelan membuka salah satu lembar catatan. “Maereth mengatakan nama Auren pernah muncul pada salinan tertua Sumpah Pertama. Jika seseorang menghapusnya, kemungkinan besar ia memiliki akses ke tempat penyimpanan catatan asli.”
“Dan tempat seperti itu tidak mungkin berada di kota yang sudah dihapus dari peta,” sahut Ignis.
“Benar. Karena itu kita harus menemukan jalur menuju arsip pusat.”
Maereth mendadak berhenti.
“Tidak,” katanya lirih.
Semua orang menoleh.
Perempuan tua itu memandang jalan di depan mereka. Di antara dua bangunan runtuh, seseorang telah menancapkan bilah pedang ke tanah. Sebuah kain putih diikatkan pada gagangnya.
Tidak ada lambang keluarga. Tidak ada pesan panjang.
Hanya satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.
KEMBALIKAN NAMA YANG BUKAN MILIKMU.
Garrick langsung menghunus pedangnya.
“Perangkap?”
“Mungkin,” jawab Ignis. “Tapi mereka ingin kita melihatnya.”
Ia mendekati pedang tersebut, kemudian memperhatikan tanah di sekitarnya. Tidak ada jejak kaki yang mendekat dari jalan utama. Namun, di sisi kiri terdapat bekas roda kecil yang masih baru.
Seseorang membawa sesuatu melewati jalan itu.
Atau seseorang dibawa pergi.
Ignis berjongkok, menyentuh tanah basah, lalu mengangkat tangannya.
“Kereta ringan. Dua kuda. Berangkat kurang dari satu jam lalu.”
“Bagaimana kau tahu?” tanya salah satu penjaga.
“Bekas rodanya belum dipenuhi air hujan. Dan tapak kudanya masih tajam.”
Ignis menoleh kepada Garrick.
“Kita ikuti jejaknya. Jangan lewat jalan utama.”
Mereka bergerak menyusuri lorong sempit di antara reruntuhan. Jejak roda membawa mereka menuju sebuah halaman yang dikelilingi tembok rendah. Di sana, Ignis menemukan sesuatu yang membuat langkahnya terhenti.
Sebuah sarung tangan kecil.
Ukuran anak-anak.
Pada bagian pergelangannya terdapat lambang dua sayap yang terbelah.
Caelan mengambil sarung tangan itu menggunakan kain.
“Ini bukan milik orang dewasa.”
“Tidak,” jawab Ignis. “Dan seseorang sengaja meninggalkannya.”
Tiba-tiba terdengar suara logam beradu dari atas tembok.
Garrick bergerak lebih cepat daripada siapa pun. Ia mendorong Ignis ke samping ketika sebuah anak panah menancap di tempat bocah itu berdiri.
“Lindungi Maereth!”
Dua sosok bertopeng melompat turun dari tembok. Sosok ketiga muncul dari lorong belakang, menghalangi jalan keluar.
Garrick menghadapi dua penyerang sekaligus, sementara para penjaga membentuk barisan. Caelan menarik Maereth ke balik pilar.
Ignis tidak mencoba melawan secara langsung. Ia mengamati kaki para penyerang, posisi senjata mereka, dan lorong sempit yang menghubungkan halaman dengan jalan belakang.
Salah satu penyerang membawa belati melengkung. Ketika pria itu berbalik untuk menghindari tebasan Garrick, Ignis melemparkan pecahan genting ke tanah di belakangnya.
Bunyi kecil itu membuat penyerang menoleh sesaat.
Cukup bagi Garrick untuk menendang lututnya dan menjatuhkannya.
Namun, penyerang ketiga tidak berusaha menyerang.
Ia justru melemparkan sebuah tabung logam ke arah Ignis.
“Jangan sentuh!” teriak Caelan.
Tabung itu pecah sebelum mencapai tanah. Asap putih menyebar cepat, membuat mata perih dan napas terasa berat.
Garrick menarik Ignis keluar dari halaman. Ketika asap mulai menipis, para penyerang yang tersisa telah melarikan diri.
Mereka meninggalkan satu benda.
Sebuah keping logam dengan ukiran angka tujuh.
Caelan memeriksanya dengan hati-hati.
“Ini bukan nomor rumah atau penanda jalan. Ukirannya terlalu presisi.”
Ignis memandangi angka itu.
“Bukan nomor tempat,” katanya. “Mungkin nomor seseorang.”
Maereth yang sejak tadi terdiam akhirnya berbicara.
“Di arsip lama, ada tujuh orang yang dipercaya hadir ketika Sumpah Pertama dicatat.”
“Siapa mereka?” tanya Ignis.
“Aku hanya mengetahui enam nama yang tercatat. Nama ketujuh dihapus.”
Ignis menatap keping logam di tangan Caelan.
Untuk pertama kalinya, mereka menemukan petunjuk yang tidak sekadar mengarah kepada masa lalu. Seseorang sedang bergerak sekarang, meninggalkan tanda-tanda yang hanya bisa dipahami oleh orang yang mengetahui sejarah yang telah dihapus.
Dan orang itu tahu bahwa Ignis sedang mencari jawabannya.
“Mulai sekarang,” ujar Ignis, “kita anggap setiap petunjuk sebagai pesan dari seseorang yang mengawasi kita.”
Ia memasukkan sarung tangan kecil itu ke dalam kantongnya.
“Tapi kita belum tahu apakah dia ingin membantu atau memastikan kita tidak pernah sampai ke tujuan.”
Di kejauhan, lonceng berbunyi satu kali.
Maereth langsung pucat.
“Tidak mungkin.”
“Apa?” tanya Garrick.
Perempuan tua itu menatap menara runtuh di ujung kota.
“Lonceng itu tidak pernah berbunyi sejak nama kota ini dihapus.”
Dan kali ini, bunyinya datang dari dalam menara yang seharusnya kosong.
Bersambung.