Chapter 60 of 70

Bab 60 — Nama di Balik Sumpah

1.3k words

Api di tempat pencatatan nama pertama baru berhasil dipadamkan menjelang malam. Sebagian bangunan masih berdiri, tetapi atap bagian timur telah runtuh. Maereth duduk di luar bersama para penjaga, dibungkus mantel tebal. Ia tidak terluka, meskipun matanya terus tertuju pada reruntuhan tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Ignis duduk di atas batu dengan bahu yang telah dibalut kain. Ia menatap potret terbelah di tangannya. Auren. Nama itu tidak pernah muncul dalam catatan Pendragon yang ia ingat. Tidak dalam kronik kerajaan, tidak dalam kisah tentang naga, dan tidak pula dalam sejarah sumpah kuno yang pernah ia pelajari sebelum mencapai First Dawn Temple pada kehidupan pertamanya. Namun ketidakhadiran sebuah nama tidak membuktikan bahwa orangnya tidak pernah ada. Justru sebaliknya. Seseorang telah berusaha keras menghapusnya. “Maereth,” panggil Ignis. Perempuan tua itu menoleh. “Apakah kau pernah mendengar nama Auren?” Wajahnya langsung berubah. Ia menatap potret di tangan Ignis, kemudian memalingkan muka. “Dari mana kau mendapatkannya?” “Dari balik potret.” Maereth menarik napas panjang. “Aku berharap nama itu tidak pernah ditemukan.” “Jawaban itu mulai terdengar sangat akrab.” Perempuan itu tidak tersenyum. “Auren adalah nama yang tercatat pada salinan tertua sumpah pertama. Namun nama itu dihapus dari semua salinan resmi setelah sebuah peristiwa yang tidak pernah dijelaskan.” “Siapa yang menghapusnya?” “Dewan penjaga.” “Siapa yang memimpin dewan?” “Aku tidak tahu. Nama pemimpinnya juga dihapus.” Ignis memejamkan mata sebentar. Mereka terus menemukan lubang yang sama: seseorang telah menghapus nama, seseorang lain menjaga penghapusan itu, dan setiap orang yang mengetahui kebenaran hanya mengingat sebagian. Namun kini ada satu petunjuk baru. Auren tidak hanya terhubung dengan sumpah pertama. Nama itu juga mungkin digunakan oleh orang yang mengucapkannya. “Apakah Auren seorang Pendragon?” tanya Caelan. Maereth menggeleng. “Tidak ada bukti.” “Apakah ia seorang naga?” “Aku tidak tahu.” “Apakah ia manusia?” Maereth menatap Ignis. “Itulah pertanyaan yang membuat semua catatan tentang dirinya dibakar.” Keheningan turun di antara mereka. Garrick mendekat sambil membawa laporan singkat dari para penjaga. Para penyerang yang tertangkap tidak memiliki lambang kerajaan atau keluarga bangsawan yang bisa dikenali. Mereka juga tidak membawa surat perintah. “Orang-orang itu tidak akan banyak membantu kita,” katanya. “Salah satunya pingsan setelah menyebut kata ‘kesepakatan’. Yang lain menolak berbicara.” “Bawa mereka kembali ke rumah jaga,” kata Ignis. “Jangan biarkan mereka dipisahkan dari pengawasan. Dan jangan biarkan siapa pun menyentuh cincin bersayap.” Garrick mengangguk. Ignis berdiri perlahan. Bahunya masih sakit, tetapi ia bisa berjalan. “Kita kembali ke utara.” Caelan menatapnya. “Ke rumah jaga?” “Ke pintu batu.” “Bukankah kita sudah membuka jalurnya?” “Kita baru menemukan sebagian dari apa yang disembunyikan di baliknya. Nama Auren mungkin berhubungan dengan sumpah pertama, tetapi kita belum tahu mengapa seseorang memisahkan nama itu dari identitas pemiliknya.” Maereth berdiri dengan bantuan tongkatnya. “Kalau kau kembali ke sana, jangan menjawab suara apa pun.” “Aku sudah mendengar peringatan itu berkali-kali.” “Karena kau belum memahami alasan di baliknya.” Ia meraih tangan Ignis dengan hati-hati. “Suara di balik pintu tidak selalu berbohong. Itulah yang membuatnya berbahaya. Ia akan mengatakan satu kebenaran, lalu menggunakan kebenaran itu untuk membuatmu menerima kebohongan berikutnya.” Ignis menatapnya. “Kalau begitu, aku akan memastikan setiap kata memiliki bukti.” Maereth melepaskan tangannya. “Semoga kau masih mengingat ucapanmu sendiri ketika pintu itu mulai menawarkan sesuatu yang kau inginkan.” --- Mereka tiba kembali di rumah jaga pada malam berikutnya. Ser Caldus telah menunggu di depan bangunan. Begitu melihat potret terbelah dan nama Auren, ia langsung membawa mereka ke ruang bawah tanah. “Kita tidak punya banyak waktu,” katanya. Ignis memperhatikannya. “Kenapa?” “Sejak kalian pergi, sembilan garis di lantai mulai berubah. Garis kesembilan sekarang memanjang melewati ambang pintu.” Mereka turun ke lorong. Benar saja. Garis hitam yang sebelumnya hanya muncul di dekat pintu batu kini merambat sepanjang lantai, melewati lengkungan pertama dan kedua. Permukaannya tampak basah, tetapi tidak meninggalkan cairan ketika disentuh. Ignis berjongkok. Tanda perak di telapak tangannya terasa panas. Retakan hitam di bawahnya melebar sedikit. “Jangan sentuh garis itu!” seru Caldus. Ignis menarik tangannya sebelum ujung jarinya menyentuh permukaan hitam. “Apa yang terjadi jika garis ini mencapai kita?” “Pintu akan menganggap jalurnya sudah lengkap.” “Dan itu berarti?” Caldus menatap pintu batu. “Bahwa sesuatu di baliknya tidak lagi membutuhkan izin untuk keluar.” Tidak ada yang berbicara setelah itu. Ignis berdiri dan mendekati pintu. Ia tidak berniat membukanya, tetapi ia harus memahami apa yang sedang terjadi. Sembilan garis di atas ukiran dua sayap kini menyala samar. Sebuah suara terdengar dari balik batu. “Pewaris.” Ignis tidak menjawab. “Kael.” Ia tetap diam. “Tidak. Itu bukan nama yang kau cari.” Suara tersebut berubah, menjadi lebih lembut. “Auren.” Telapak tangan Ignis mendadak terbakar. Sembilan garis hitam muncul di kulitnya, menyebar dari retakan lama hingga membentuk lingkaran kecil di sekitar tanda perak. Rasa sakit menjalar ke pergelangan tangannya. Garrick segera meraih bahunya. “Ignis!” “Aku masih sadar.” Suara di balik pintu kembali terdengar. “Aku bisa memberimu kebenaran tentang sumpah pertama.” Ignis menggertakkan gigi. “Sebagai gantinya?” “Buka pintunya.” “Tidak.” “Kau bahkan belum mendengar apa yang akan kuberikan.” “Aku sudah mendengar cukup banyak dari orang-orang yang ingin aku membuka pintu.” Sebuah tawa rendah terdengar dari balik batu. “Kalau begitu, dengarkan ini. Nama Auren tidak dihapus untuk melindungi dunia darinya.” Garis hitam di telapak tangan Ignis berdenyut. “Nama itu dihapus untuk melindungi dunia dari apa yang telah ia ikat.” Ignis menatap pintu tanpa berkedip. “Buktikan.” Keheningan. Kemudian sesuatu muncul di permukaan batu. Bukan tulisan kuno. Bukan lambang dua sayap. Melainkan sebuah gambaran: seekor naga raksasa terbaring di bawah langit yang terbakar, dikelilingi sembilan sosok berjubah. Di tengah lingkaran berdiri seorang pria tanpa bayangan. Wajah pria itu tidak terlihat. Namun di tangannya terdapat lambang yang Ignis kenal dengan sangat baik. Lambang keluarga Pendragon. Gambaran itu lenyap seketika. Suara dari balik pintu terdengar sekali lagi. “Sekarang kau tahu bahwa darahmu terlibat.” Ignis mengatur napasnya. “Aku tahu keluargaku terlibat dalam banyak hal. Itu tidak membuktikan bahwa kau mengatakan kebenaran.” “Bagus.” Suara itu terdengar puas. “Jangan percaya kepadaku. Jangan percaya kepada penjaga. Jangan percaya kepada orang yang mengaku mengingatmu.” Sebuah bunyi retakan terdengar dari balik pintu. “Namun ketika kau akhirnya menemukan nama aslimu, jangan percaya kepada dirimu sendiri.” Garis hitam di telapak Ignis berhenti menyebar. Ia merasakan tubuhnya melemas, lalu jatuh berlutut. Garrick menangkapnya sebelum kepalanya menghantam lantai. Caelan bergegas memeriksa tangannya. Sembilan garis itu masih terlihat, tetapi tidak lagi bergerak. Caldus berdiri kaku di depan pintu. “Apa yang dikatakannya?” Ignis mengangkat kepala. “Bahwa keluarga Pendragon terlibat dalam sumpah pertama.” Caldus memejamkan mata. “Dan bagian lainnya?” Ignis menatap pintu batu. “Bahwa nama Auren bukan sekadar nama yang dihapus. Nama itu berkaitan dengan sesuatu yang pernah disegel.” Ia berdiri dengan bantuan Garrick. “Mulai sekarang, kita berhenti mencari jawaban hanya dari catatan yang tersisa. Kita cari siapa yang memiliki kepentingan untuk menghapus semuanya.” Di balik pintu, suara itu berbisik sangat pelan. Hanya Ignis yang mendengarnya. “Bagus, pewaris.” Lalu suara itu mengucapkan kalimat terakhir. “Karena orang yang menghapus nama Auren masih hidup.” Ignis menoleh tajam ke arah pintu. Namun tidak ada suara lagi. --- Malam itu, di sebuah ruangan jauh dari rumah jaga, seseorang meletakkan selembar laporan di atas meja. Laporan itu memuat tiga nama. Kael. Auren. Ignis Pendragon. Sosok yang duduk dalam kegelapan membaca ketiganya, lalu membakar kertas tersebut menggunakan nyala api biru. “Jadi pintunya mulai berbicara.” Seseorang berdiri di balik tirai. “Apakah kita harus menghentikan pewaris?” Sosok di meja menggeleng. “Belum.” “Kalau dia menemukan nama yang dihapus?” Untuk pertama kalinya, sosok itu mengangkat kepala. Di bawah tudungnya, sepasang mata perak berkilat. “Kalau dia menemukan nama itu, kita akan tahu apakah ingatannya benar-benar miliknya.” Ia meletakkan sebuah cincin di atas meja. Cincin dengan lambang dua sayap. Namun pada permukaannya, satu sayap telah dipatahkan. “Dan kalau ingatannya bukan miliknya,” bisiknya, “maka kita harus memastikan dia tidak pernah mengingat siapa yang memberikannya.” Bersambung. Teaser Bab 61 — Orang yang Menghapus Nama: Ignis mulai menyelidiki hubungan antara keluarga Pendragon dan sumpah pertama. Namun sebuah pesan rahasia tiba di kediaman keluarganya—ditujukan kepada seseorang yang seharusnya telah meninggal tiga abad lalu.

End of Chapter 60