Chapter 59 of 70

Bab 59 — Potret yang Terbelah

722 words

Ignis masih memandangi potret itu ketika suara benturan terdengar dari luar. Garrick segera berbalik. “Semua menjauh dari jendela!” Anak panah menghantam dinding. Kaca kecil di sisi timur pecah, dan sebuah botol tanah liat meluncur masuk melalui jendela. Caelan melihat cairan hitam di dalamnya. “Racun?” “Bukan,” jawab Maereth. “Itu pembakar.” Botol tersebut pecah di lantai. Api hitam menyebar dengan cepat, menjalar ke kaki meja dan rak buku. Asap pekat memenuhi ruangan. “Bawa Maereth keluar!” teriak Garrick. Dua penjaga mengawal perempuan tua itu menuju pintu belakang. Caelan berusaha menyelamatkan beberapa gulungan yang berada paling dekat dengan api. Ignis melihat sesuatu bergerak di balik jendela yang pecah. Seorang pria berjubah hitam melompat masuk, mengambil potret dari meja, lalu berlari menuju pintu samping. “Potret itu!” seru Ignis. Ia mengejar. Garrick menoleh. “Ignis, jangan!” Namun anak itu sudah menyelinap melewati rak yang terbakar. Pria tersebut berlari cepat, tetapi langkahnya tidak teratur. Ia membawa potret dengan satu tangan dan belati di tangan lainnya. Ignis mengikuti dari belakang, menjaga jarak sambil mengamati arah gerakannya. Mereka keluar ke halaman. Dua penyerang lain menghadang Ignis. Yang pertama mengayunkan tongkat besi, sementara yang kedua mencoba meraih lengannya. Ignis menghindari ayunan pertama dengan menjatuhkan tubuh ke samping. Tongkat besi menghantam pagar kayu hingga patah. Ia menggunakan pecahan pagar itu untuk menghalangi tangan penyerang kedua, kemudian menendang lututnya. Pria itu jatuh. Penyerang pertama kembali mengayunkan tongkat. Ignis mundur, tetapi ujung besi menyambar bahunya. Rasa sakit menjalar sampai ke leher. Ia kehilangan keseimbangan dan jatuh di atas kerikil. Pria itu mengangkat tongkat untuk pukulan berikutnya. Ignis meraih segenggam tanah dan melemparkannya ke wajah lawan. Ketika pria itu mengumpat sambil mengusap mata, Ignis berguling ke samping dan menyapu kakinya menggunakan pecahan pagar. Kali ini pria itu jatuh telentang. Ignis bangkit dengan susah payah. Bahunya terasa panas, dan lengan kirinya mulai bergetar. Ia tidak bisa terus bertarung dengan cara seperti itu. Pria pembawa potret telah mencapai gerbang. Ignis melihat sebuah kereta kecil terparkir di luar pagar. Dua ekor kuda diikat pada tiang. Jika pria itu berhasil mencapai kereta, ia akan menghilang sebelum Garrick tiba. Ignis mengambil batu sebesar kepalan tangan dan melemparkannya ke arah tali pengikat kuda. Batu itu tidak memutus tali, tetapi menghantam tiang kayu hingga bergeser. Salah satu kuda terkejut, menarik tali, dan membuat tiang miring. Pria itu terpaksa berhenti untuk menghindari kuda yang mengamuk. Ignis memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mendekat. “Letakkan potret itu!” Pria tersebut berbalik dan mengayunkan belati. Ignis mundur, tetapi ujung bilah menggores lengan bajunya. Ia tidak membalas dengan serangan langsung. Sebaliknya, ia memancing lawan mendekati pagar yang rusak. Ketika pria itu kembali menerjang, Ignis bergerak ke samping. Kaki lawannya menginjak papan yang retak. Papan itu patah. Pria tersebut terperosok hingga lutut, kehilangan keseimbangan. Ignis segera menghantam pergelangan tangannya menggunakan pecahan kayu. Potret terlepas dan jatuh ke tanah. Namun pria itu masih sempat menyambar kerah Ignis. “Seharusnya kau tetap mati!” desisnya. Ia mendorong Ignis ke pagar. Punggung Ignis menghantam kayu keras. Udara keluar dari paru-parunya, dan pandangannya berkunang-kunang. Sebelum pria itu sempat mengangkat belati, Garrick tiba dan menghantamnya dengan gagang pedang. Penyerang itu roboh. Garrick segera memeriksa Ignis. “Kau terluka?” “Bahuku.” “Bukan jawaban yang membuatku tenang.” “Kalau begitu, jangan bertanya saat kita sedang dikejar.” Garrick menahan keinginan untuk memarahinya dan memeriksa luka di bahu Ignis. Luka itu tidak dalam, tetapi lebamnya akan terasa selama beberapa hari. Caelan tiba membawa potret yang berhasil diselamatkan. “Bangunannya terbakar,” katanya. “Kami berhasil membawa beberapa gulungan, tetapi sebagian besar arsip sudah rusak.” Ignis mengambil potret tersebut. Di tengah gambar terdapat garis sobekan yang sebelumnya tidak terlihat. Seseorang telah memisahkan dua bagian potret, lalu menyatukannya kembali secara kasar. Ignis mengamati sisi belakang. Terdapat tulisan yang tidak mereka lihat sebelumnya. JANGAN SELAMATKAN WAJAHNYA. SELAMATKAN NAMA YANG ADA DI BALIKNYA. Ia membalik potret itu. Di antara dua lapisan kertas terdapat selembar kertas tipis yang tersembunyi. Di sana tercatat satu nama. Bukan Kael. Bukan Ignis. AUREN. Di bawahnya terdapat satu kalimat pendek. ORANG YANG MENGUCAPKAN SUMPAH PERTAMA TIDAK PERNAH MENGGUNAKAN NAMA ASLINYA. Ignis menatap nama itu. Ia belum tahu siapa Auren, tetapi ia mulai memahami bahwa mereka tidak sedang mencari seorang anak yang hilang. Mereka sedang mencari identitas seseorang yang sengaja dipecah menjadi beberapa nama. Bersambung. Teaser Bab 60 — Nama di Balik Sumpah: Petunjuk Auren membawa Ignis kembali ke pintu batu. Namun sebelum ia tiba, sembilan garis hitam menyebar di telapak tangannya dan suara di balik segel menawarkan sebuah kesepakatan.

End of Chapter 59