Chapter 5 of 70

Bab 5 — Arsip yang Seharusnya Tidak Dibuka

1.5k words

Pagi itu, Ignis Pendragon bangun sebelum matahari terbit. Tubuh kecilnya terasa pegal setelah latihan dasar bersama Garrick Thorne sehari sebelumnya. Telapak tangannya bahkan masih sedikit memerah akibat terlalu lama menggenggam pedang kayu. Dalam kehidupan pertamanya, rasa sakit semacam itu bukanlah sesuatu yang perlu dipikirkannya. Ia telah menghadapi monster yang mampu merobek baja dan bertahan dari kutukan yang menghancurkan kewarasan manusia. Namun, tubuhnya sekarang berusia delapan tahun. Ia boleh mengingat ribuan pertarungan, tetapi ingatan tidak serta-merta membuat ototnya lebih kuat. Ignis duduk di tepi ranjang, lalu membuka dan menutup jemarinya perlahan. “Kalau aku memaksakan latihan seperti dulu, aku hanya akan merusak tubuh ini.” Ia mengembuskan napas. Kekuatan yang ia miliki pada kehidupan sebelumnya dibangun selama puluhan tahun. Jika ingin melampauinya, ia harus memulai dari dasar—bukan mencoba melompati setiap tahap. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Ignis mengambil buku catatan kecil yang disembunyikannya di bawah kasur. Di halaman pertama, terdapat tiga pertanyaan. Apa sebenarnya kutukan ini? Mengapa leluhurku berubah dari Dragon Tamer menjadi Dragon Slayer? Siapa yang mengubah sejarah? Ia menambahkan satu kalimat di bawahnya. Mulailah dari hal yang bisa dibuktikan. Ignis menutup buku itu. Hari ini, ia akan mengunjungi arsip keluarga. Bangunan arsip Pendragon terletak di sayap timur kediaman utama, sedikit terpisah dari ruang-ruang keluarga. Bangunannya tidak sebesar perpustakaan kerajaan, tetapi menyimpan catatan yang dikumpulkan selama berabad-abad: silsilah keluarga, laporan perang, kontrak wilayah, penelitian monster, hingga surat-surat dari para leluhur. Bagi sebagian besar anak seusianya, tempat itu mungkin membosankan. Bagi Ignis, bangunan tersebut bisa menjadi pintu pertama menuju kebenaran. Sayangnya, pintunya dijaga. “Pangeran kecil? Ada keperluan apa kemari?” Penjaga di depan pintu membungkuk sopan. Ignis mengenal pria itu sebagai salah satu pelayan senior keluarga, meskipun ia tidak mengingat namanya dari kehidupan pertama. “Aku ingin membaca catatan sejarah keluarga.” Penjaga itu tampak sedikit terkejut. “Sejarah keluarga? Bukankah pelajaranmu baru sampai pada silsilah dasar?” “Aku ingin membaca lebih banyak.” Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi penjaga tersebut tetap ragu. Arsip memiliki beberapa bagian yang hanya boleh diakses anggota keluarga dewasa atau mereka yang memperoleh izin khusus. “Aku bisa mengambilkan buku sejarah umum untukmu. Namun, aku tidak bisa mengizinkanmu masuk ke bagian dalam tanpa persetujuan.” Ignis sudah menduga hal itu. Ia tidak berusaha mengancam atau menggunakan nama Pendragon untuk memaksakan kehendaknya. Tindakan seperti itu hanya akan membuat para penjaga lebih berhati-hati terhadapnya. “Kalau begitu, tolong beri tahu siapa yang bisa memberiku izin.” “Arsiparis Caelan Voss sedang bekerja di dalam. Aku akan menyampaikan permintaanmu.” Beberapa menit kemudian, pintu terbuka. Caelan berdiri di baliknya, mengenakan mantel abu-abu gelap dengan lambang keluarga tersemat di kerah. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis, sementara kacamatanya bertengger rendah di hidung. Tatapannya jatuh kepada Ignis. “Kau anak yang kemarin berada di taman bersama Nona Evelyne, bukan?” “Benar.” “Aku mendengar kau mulai berlatih dengan Sir Garrick. Sekarang kau juga tertarik pada sejarah?” “Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang keluarga sendiri.” Caelan memperhatikan wajah anak itu selama beberapa saat. Ada sesuatu dalam cara Ignis berbicara yang terasa lebih tenang daripada anak-anak seusianya. Namun, Caelan tidak buru-buru menyimpulkan apa pun. Anak yang tumbuh di lingkungan bangsawan terkadang memang menunjukkan rasa ingin tahu yang tidak biasa. “Ketertarikan pada sejarah bukan hal buruk,” katanya akhirnya. “Tetapi arsip bukan tempat untuk mencari cerita kepahlawanan semata. Di sini, kau juga akan menemukan keputusan yang memalukan, kesalahan, dan nama orang-orang yang lebih baik dilupakan.” “Justru itu yang ingin kupelajari.” Caelan terdiam sebentar, lalu membuka pintu lebih lebar. “Aku akan mengizinkanmu membaca bagian sejarah umum dan kronik lama yang tidak dibatasi. Aku tetap akan berada di sana. Bagian tersegel tidak boleh kau sentuh.” Ignis menundukkan kepala. “Itu sudah cukup. Terima kasih.” Ia tidak kecewa. Mendapatkan akses terbatas lebih baik daripada memancing kecurigaan dengan meminta sesuatu yang seharusnya belum boleh disentuh anak berusia delapan tahun. Setidaknya, untuk saat ini. Aroma kertas tua dan kayu memenuhi ruangan. Rak-rak tinggi menjulang hingga hampir menyentuh langit-langit. Sebagian buku tersusun rapi, sedangkan gulungan perkamen disimpan di dalam kotak-kotak kayu dengan label tahun dan nama keluarga. Caelan mengarahkan Ignis ke meja dekat jendela. “Mulailah dengan Kronik Pendragon: Tiga Abad Pertama. Isinya cukup untuk membuatmu sibuk beberapa hari.” Ignis membuka buku tebal itu. Ia tidak langsung mencari nama leluhur yang telah dilihatnya di dalam kuil pada kehidupan pertama. Ia terlebih dahulu membaca daftar isi, mencatat periode yang relevan, lalu membandingkan judul bab dengan catatan silsilah yang tersedia di rak sebelah. Metode itu lambat, tetapi aman. Selama hampir satu jam, ia tidak menemukan sesuatu yang mengejutkan. Sebagian besar isinya sesuai dengan sejarah yang ia ingat: peperangan melawan naga, pembentukan wilayah Pendragon, dan pengakuan keluarga sebagai salah satu pembasmi naga paling berpengaruh di Eryndor. Namun, pada bagian yang membahas leluhur tertua mereka, Ignis menemukan sesuatu yang terasa ganjil. Sebuah bab berjudul Perjanjian di Bawah Langit Purba hanya memiliki tiga halaman. Hal itu sendiri tidak aneh. Banyak catatan awal memang tidak lengkap. Yang membuatnya berhenti adalah catatan kecil di bagian bawah halaman terakhir. Lihat lampiran ketujuh untuk daftar saksi dan lambang perjanjian. Ignis membalik halaman. Tidak ada lampiran ketujuh. Ia memeriksa daftar lampiran di bagian belakang buku. Lampiran pertama sampai keenam tercantum dengan jelas. Setelah itu, nomor yang muncul adalah delapan. Lampiran ketujuh seolah tidak pernah ada. Ignis menahan ekspresinya agar tetap tenang. “Pak Caelan,” panggilnya. Arsiparis itu mengangkat wajah dari dokumen yang sedang diperiksanya. “Ya?” “Di buku ini disebutkan lampiran ketujuh. Tetapi daftar lampirannya langsung melompat dari enam ke delapan. Apakah ada kesalahan penyalinan?” Caelan mendekat dan mengambil buku tersebut. Ia membaca catatan itu, lalu memeriksa halaman belakang. “Menarik.” “Apakah lampirannya hilang?” “Aku belum bisa memastikannya.” Caelan meletakkan buku di atas meja, kemudian mengambil buku katalog dari rak kecil di dekatnya. Ia menelusuri beberapa halaman sebelum menemukan entri yang dicari. “Catatan ini pernah disalin ulang sekitar dua ratus tahun lalu. Ada beberapa dokumen yang dipindahkan ke penyimpanan terpisah saat perbaikan gedung arsip.” “Jadi, mungkin lampirannya ada di tempat lain?” “Mungkin. Atau mungkin penulis aslinya melakukan kesalahan penomoran. Kita tidak boleh memilih jawaban hanya karena satu di antaranya terdengar lebih menarik.” Ignis hampir tersenyum. Kalimat itu tepat. Ia sendiri telah menghabiskan sepuluh tahun dalam kehidupan pertamanya mengejar jawaban yang sering kali tidak sesuai dengan dugaan awalnya. “Bisakah aku melihat dokumen yang dipindahkan itu?” “Tidak tanpa izin tambahan. Dan aku perlu memeriksa katalog terlebih dahulu.” Ignis mengangguk. Ia tidak mendesak lebih jauh. Baginya, catatan tersebut belum membuktikan bahwa sejarah telah dipalsukan. Itu hanya sebuah ketidaksesuaian kecil—mungkin akibat kelalaian, mungkin akibat kerusakan, atau mungkin sesuatu yang lebih disengaja. Namun, kata-kata perjanjian dan saksi membuatnya teringat pada penglihatan di First Dawn Temple. Leluhurnya bukan hanya seorang pembasmi naga. Sebelum semuanya berubah, ia pernah menjadi Dragon Tamer. Dan jika sebuah perjanjian pernah dibuat, siapa yang menjadi pihak lainnya? Menjelang siang, Ignis mengembalikan buku itu ke meja. Ia belum memperoleh jawaban, tetapi sekarang memiliki petunjuk yang bisa ditelusuri: lampiran ketujuh dan dokumen yang dipindahkan dari arsip utama. Sebelum pergi, ia melirik sebuah rak yang berdiri di sudut ruangan. Rak itu lebih pendek daripada yang lain, dengan beberapa kotak kayu berlabel Catatan Sebelum Pendirian Wilayah Pendragon. Ia tidak menyentuhnya. Belum. Caelan memperhatikan arah pandangannya, tetapi tidak menegur. “Kalau kau sungguh ingin mempelajari sejarah,” katanya, “biasakan dirimu dengan kesabaran. Dokumen tua jarang memberikan jawaban lengkap. Kadang-kadang, yang bisa kita temukan hanya pertanyaan baru.” Ignis menatapnya. “Kalau pertanyaannya cukup penting, bukankah itu sudah menjadi awal yang baik?” Caelan tersenyum tipis. “Benar. Itu awal yang baik.” Saat Ignis meninggalkan arsip, Caelan kembali memeriksa katalog lama. Bukan karena ia yakin anak itu telah menemukan sesuatu yang berbahaya, melainkan karena ia sendiri tidak menyukai nomor lampiran yang tidak cocok. Ia menuliskan catatan kecil untuk diperiksa ketika memiliki waktu luang. Tidak ada alarm yang berbunyi. Tidak ada rahasia besar yang langsung terbongkar. Kehidupan di kediaman Pendragon tetap berjalan seperti biasa. Namun, satu dokumen yang terlupakan kini memiliki kemungkinan untuk ditemukan kembali. Dan bagi Ignis, kemungkinan itu sudah cukup untuk dicatat. Malam tiba. Ignis menyelesaikan latihan ringan, makan malam, lalu kembali ke kamarnya. Ia menuliskan temuan hari itu di buku rahasianya. Temuan pertama: * Ada rujukan kepada lampiran ketujuh dalam kronik kuno. * Lampiran itu tidak tercantum dalam salinan yang tersedia. * Beberapa dokumen pernah dipindahkan ke penyimpanan terpisah. * Belum ada bukti bahwa penghilangan itu disengaja. Ia berhenti menulis. Di kehidupan pertama, ia terlalu sering menganggap pengetahuan masa depannya sebagai peta yang pasti. Sekarang, ia harus belajar memperlakukan setiap petunjuk sebagai sesuatu yang perlu diuji. Ignis menutup buku itu dan memadamkan lampu. “Besok, aku akan melanjutkan latihan.” Ia menarik selimut hingga ke dada. “Tapi sebelum aku bisa mengubah apa pun, aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi.” Kelopak matanya perlahan menutup. Beberapa detik kemudian, udara di kamar terasa lebih dingin. Bayangan di bawah ranjang memanjang ke arah dinding, berlawanan dengan cahaya bulan yang masuk melalui jendela. Lalu terdengar suara yang hanya bisa didengar oleh Ignis. “Kau mulai membaca catatan lama, pewaris kecil?” Ignis membuka mata. Ia sudah mengenal suara itu. Suara yang menunggunya di balik tidur. Suara yang mengetahui namanya, darahnya, dan sesuatu tentang kehidupan yang seharusnya telah berakhir. “Berhati-hatilah dengan masa lalu yang kau cari.” Bayangan itu bergetar. “Tidak semua yang hilang ingin ditemukan kembali.” Sebelum Ignis sempat menjawab, kegelapan menarik kesadarannya pergi. Dan di tempat yang tidak tersentuh matahari, sebuah lingkaran hitam dengan sembilan garis menyerupai tanduk perlahan terbuka. Bersambung — Bab 6: Sembilan Tanda di Balik Kegelapan

End of Chapter 5

Chapter 5: Bab 5 — Arsip yang Seharusnya Tidak Dibuka - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio