Chapter 58 of 70
Bab 58 — Nama Pertama
748 words
Mereka tidak langsung berangkat ke selatan.
Ignis memutuskan untuk mengistirahatkan para penjaga, memeriksa tawanan, dan menyalin seluruh tulisan dari surat yang ditemukan di reruntuhan. Ia tidak ingin mengejar petunjuk baru dengan mengabaikan ancaman yang masih berada di belakang mereka.
Namun sebelum fajar, salah satu tawanan mulai berteriak.
“Jangan biarkan mereka menutupnya! Jangan biarkan mereka menutupnya!”
Garrick dan dua penjaga segera mendatangi sel. Pria berjubah hitam itu menggeliat di lantai, mencengkeram kepalanya dengan kedua tangan.
“Apa yang kau lihat?” tanya Garrick.
“Anak itu! Anak yang namanya dihapus!”
“Kael?”
Pria itu menggeleng keras.
“Bukan! Jangan sebut nama itu!”
Ia menghantamkan kepalanya ke dinding.
Garrick menahannya sebelum ia melukai diri sendiri.
Ignis tiba beberapa saat kemudian. Ia mengamati mata tawanan itu yang bergerak liar, lalu memeriksa lambang di lengan jubahnya.
“Siapa yang memerintahkan kalian menyerang rumah jaga?”
Pria itu tertawa tersedu-sedu.
“Kami tidak menyerang rumah jaga.”
“Kau berada di antara dua belas orang yang menyerang tempat itu.”
“Kami diperintahkan menghentikan pembukaan pintu.”
“Siapa yang memberi perintah?”
Pria itu memandang Ignis.
“Orang yang menjaga nama pertama.”
Ia lalu menutup mata dan tidak menjawab lagi.
Ignis memutuskan untuk tidak memaksanya. Ia memerintahkan penjaga mengawasi tawanan tersebut dan menyiapkan perjalanan ke selatan.
Mereka berangkat ketika langit mulai cerah.
Perjalanan memakan waktu sehari penuh, melewati hutan, perbukitan, dan sebuah jembatan batu yang nyaris runtuh. Titik pada peta membawa mereka ke sebuah lembah sempit yang tidak ditandai pada peta kerajaan.
Di ujung lembah berdiri sebuah bangunan tua.
Bangunan itu tidak tampak seperti kuil atau benteng. Dindingnya terbuat dari batu putih, atapnya sederhana, dan taman kecil tumbuh di sekelilingnya. Asap tipis keluar dari cerobong.
Ada seseorang yang tinggal di sana.
Garrick mengetuk pintu.
Seorang perempuan tua membukanya. Rambutnya putih seluruhnya, tetapi matanya masih tajam. Ia mengenakan pakaian sederhana dan memegang tongkat pendek.
Tatapannya melewati Garrick dan Caelan.
Kemudian berhenti pada Ignis.
Tongkatnya jatuh.
“Tidak,” bisiknya.
Ignis mengangkat kepala.
“Apakah kita pernah bertemu?”
Perempuan itu tidak menjawab. Ia justru mundur satu langkah, lalu menutup mulut dengan tangan gemetar.
“Kael?”
Nama itu menggantung di udara.
Garrick segera mengangkat pedang.
“Jelaskan siapa yang kau maksud.”
Perempuan tua itu menatap Ignis sekali lagi. Air mata menggenang di matanya.
“Maafkan aku.”
Ia berlutut di depan Ignis.
“Maafkan aku karena tidak datang ketika kau memanggil.”
Ignis merasakan telapak tangannya memanas.
“Bangun,” katanya.
Perempuan itu tidak bergerak.
“Bangun dan jawab pertanyaanku.”
Perempuan itu akhirnya berdiri, lalu mempersilakan mereka masuk.
Bagian dalam bangunan dipenuhi rak buku, kotak-kotak kayu, dan gulungan kertas. Di atas meja terdapat beberapa keping logam dengan lambang dua sayap. Tidak ada lambang keluarga Pendragon.
Perempuan itu menuangkan air ke dalam cangkir, tetapi tangannya masih gemetar.
“Namaku Maereth,” katanya. “Aku menjaga tempat ini sejak orang-orang terakhir meninggalkannya.”
“Tempat apa ini?” tanya Caelan.
“Tempat pencatatan nama pertama. Dahulu, setiap orang yang terlibat dalam sumpah akan datang ke sini untuk mencatat nama yang mereka pilih dan tanggung jawab yang mereka terima.”
“Apakah Kael pernah datang?” tanya Ignis.
Maereth memejamkan mata.
“Ya.”
“Sebagai pewaris?”
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Ignis terdiam.
Maereth melanjutkan, “Kael datang sebagai saksi. Ia tidak memiliki hak untuk mengubah sumpah, tetapi ia memiliki hak untuk mengingat siapa yang mengucapkannya.”
“Lalu kenapa namanya dihapus?”
“Karena ia melihat sesuatu yang tidak boleh dilihat saksi.”
“Apa?”
Maereth memandang rak paling belakang.
“Bahwa sumpah pertama tidak pernah diucapkan oleh orang yang namanya tercatat.”
Caelan perlahan menurunkan penanya.
“Siapa yang mengucapkannya?”
“Aku tidak tahu. Catatan itu diubah sebelum aku menerima tugas ini.”
Ignis mencondongkan tubuh.
“Kalau kau tidak tahu, kenapa kau mengenaliku sebagai Kael?”
Maereth memandang wajahnya dengan kesedihan yang sulit disembunyikan.
“Karena kau memiliki mata yang sama. Dan karena ada satu orang yang pernah memintaku mengingat wajahmu.”
Ia berjalan ke rak paling belakang dan menarik sebuah kotak kayu.
Di dalamnya terdapat potret tua yang warnanya hampir hilang.
Potret itu menunjukkan dua anak berdiri di depan sebuah pintu batu. Anak pertama memiliki rambut hitam dan mata perak.
Anak kedua memiliki wajah yang tidak dapat dikenali karena bagian potret tersebut sengaja dicoret.
Di bawah gambar terdapat tulisan.
KAEL DAN PEWARIS — SEBELUM PEMISAHAN.
Ignis memegang tepi meja agar tubuhnya tetap stabil.
“Aku ingin tahu siapa anak kedua.”
Maereth menggeleng.
“Aku tidak bisa memberitahumu.”
“Tidak bisa atau tidak mau?”
Perempuan itu menatapnya.
“Karena anak kedua itu bukan nama yang bisa ditemukan di dalam catatan.”
Ia menunjuk potret.
“Anak itu adalah nama yang akan kau pilih ketika kau berhenti menjadi orang yang sekarang.”
Bersambung.
Teaser Bab 59 — Potret yang Terbelah: Sebuah serangan menghancurkan tempat pencatatan nama pertama. Ignis harus memilih antara menyelamatkan arsip atau mengejar sosok yang membawa potret asli.