Chapter 57 of 70

Bab 57 — Utang Penjaga Terakhir

718 words

Mereka kembali ke rumah jaga sebelum tengah malam. Cincin bersayap yang ditemukan di kota terhapus disimpan terpisah dari cincin milik Ser Caldus. Ignis tidak ingin keduanya bersentuhan sebelum ia memahami apakah benda-benda itu saling bereaksi. Namun ketika ia memasuki ruangan tempat Caldus menunggu, penjaga tua itu langsung berdiri. “Kau menemukannya.” Ignis berhenti di ambang pintu. “Kau tahu cincin ini?” Caldus menatap benda yang dibungkus kain itu. “Aku mengenali ukirannya.” “Bukan itu yang kutanyakan.” Garrick menutup pintu di belakang mereka. Caelan duduk di sisi meja, menyiapkan kertas untuk mencatat setiap jawaban. Ignis meletakkan cincin di atas meja. “Orang yang menyerahkannya mengatakan bahwa utang lama telah jatuh tempo.” Wajah Caldus berubah. Ia tidak lagi terlihat seperti seorang penjaga yang kelelahan. Untuk sesaat, ia tampak seperti seseorang yang baru saja mendengar vonis hukuman. “Berapa banyak yang kau ketahui tentang cincin-cincin ini?” tanya Ignis. “Tidak cukup.” “Kalau kau terus menggunakan jawaban itu, kita tidak akan sampai ke mana-mana.” Caldus duduk perlahan. “Cincin bersayap bukan sekadar tanda jabatan. Cincin itu diberikan kepada orang-orang yang dipercaya menjaga satu bagian dari sumpah pertama. Ada yang menjaga tempatnya, ada yang menjaga catatannya, dan ada yang menjaga orang-orang yang terlibat di dalamnya.” “Cincinmu termasuk yang mana?” “Penjaga tempat.” “Lalu cincin ini?” Caldus memandangi benda di meja. “Penjaga catatan.” Caelan segera menulis. “Berarti ada setidaknya tiga fungsi berbeda,” katanya. “Tempat, catatan, dan orang.” “Benar,” jawab Caldus. “Tetapi aku tidak tahu berapa banyak cincin yang dibuat. Catatan jumlahnya telah hilang.” Ignis mengetukkan jari ke meja. “Siapa yang menerima cincin untuk menjaga orang?” Caldus menutup mata sebentar. “Orang yang membuat keputusan terakhir.” “Keputusan tentang anak yang namanya dihapus?” Caldus membuka mata. Kali ini ia tidak menyangkal. “Aku tidak tahu apakah anak itu Kael. Namun aku tahu bahwa seorang penjaga sebelumku pernah mengaku melakukan kesalahan yang sama.” “Kesalahan apa?” “Membiarkan seseorang membawa seorang anak keluar dari tempat yang seharusnya tidak ditinggalkan.” “Siapa orang yang membawanya?” “Aku tidak tahu.” “Dan siapa penjaga itu?” Caldus memandang cincin di meja. “Namanya telah dihapus dari catatan.” Ignis menghela napas melalui hidung. “Semua orang di tempat ini kehilangan nama. Apakah itu kebetulan?” “Tidak.” Jawaban itu keluar terlalu cepat. Garrick mendekat. “Jelaskan.” Caldus mengangkat tangan, meminta mereka menahan diri. “Ada sesuatu yang harus kalian pahami. Dalam sumpah pertama, nama bukan hanya identitas. Nama digunakan sebagai tanda pengenal untuk mengikat tanggung jawab seseorang pada sebuah janji. Jika nama itu dihapus, sebagian catatan tidak lagi dapat menghubungkan janji tersebut dengan pemiliknya.” “Jadi menghapus nama membuat seseorang bebas dari sumpah?” tanya Caelan. “Tidak sepenuhnya. Sumpahnya tetap ada. Hanya saja, orang-orang tidak lagi tahu kepada siapa sumpah itu harus ditagih.” Ignis teringat ukiran di cincin. Bukan semua penjaga menjaga pintu. “Utang yang jatuh tempo,” gumamnya. “Seseorang sedang menagih janji yang tidak lagi diingat pemiliknya.” Caldus mengangguk. “Aku menduga demikian.” “Apakah kau pernah menerima perintah untuk melupakan Kael?” Caldus terdiam lama. “Ya.” “Dari siapa?” “Penjaga sebelumku. Ia berkata bahwa nama itu tidak boleh diucapkan karena pintu akan mendengarnya.” “Namun pintu sudah mendengarnya ketika aku masuk.” “Karena itulah aku takut.” Ignis menatapnya tanpa berkedip. “Kalau kau tahu bahwa mengucapkan nama itu berbahaya, mengapa kau membiarkanku masuk tanpa menjelaskan semua ini?” “Karena aku tidak tahu apakah peringatan itu masih berlaku. Dan karena aku tidak memiliki hak untuk menolak pewaris.” “Jangan bersembunyi di balik hak dan kewajiban.” Suara Ignis terdengar lebih tajam daripada yang ia maksudkan. “Aku tidak peduli siapa yang memberimu cincin. Kalau kau tahu sesuatu yang bisa membuat kami mati, katakan sebelum kami menginjak perangkapnya.” Caldus menundukkan kepala. “Kau benar.” Ia kemudian mengambil cincin miliknya, melepaskannya dari jari, dan meletakkannya di samping cincin yang baru ditemukan. Kedua cincin itu bergetar. Di permukaan meja muncul garis-garis tipis, membentuk peta sederhana. Satu titik berada di rumah jaga. Titik kedua berada di reruntuhan kota. Titik ketiga muncul jauh di sebelah selatan. Caelan membungkuk. “Ini bukan peta wilayah utara.” “Tidak,” kata Ignis. “Titik ketiga berada di luar jalur yang kita kenal.” Di samping titik itu muncul tulisan yang perlahan terbentuk. TEMPAT NAMA PERTAMA DIBUAT. Caldus segera menarik tangannya dari meja. “Jangan sentuh titik itu.” Ignis menatapnya. “Kenapa?” “Karena tempat itu bukan tempat penyimpanan.” Caldus menelan ludah. “Tempat itu adalah tempat seseorang memilih nama yang akan digunakan seumur hidupnya.” Bersambung. Teaser Bab 58 — Nama Pertama: Perjalanan menuju titik ketiga mengungkap sebuah bangunan yang masih dihuni. Di sana, seorang perempuan tua mengenali Ignis—dan menyebutnya dengan nama yang berbeda.

End of Chapter 57