Chapter 56 of 70

Bab 56 — Surat untuk Pewaris

739 words

Ignis tidak langsung membuka kotak itu. Ia memeriksa segel lilin hitam, bagian engsel, serta celah sempit di antara tutup dan badan kotak. Tidak ada kawat, jarum, atau mekanisme yang terlihat. Namun pengalaman kehidupan pertamanya mengajarkan bahwa perangkap terbaik sering kali dibuat agar tampak tidak berbahaya. “Caelan, letakkan di atas meja.” Caelan mengikuti instruksinya. Ignis meminta semua orang mundur, lalu menggunakan ujung belati untuk mengangkat segel sedikit demi sedikit. Lilin itu pecah dengan suara kecil. Tidak ada ledakan. Tidak ada asap. Hanya selembar surat yang terlipat rapi dan sebuah keping logam tipis. Ignis membuka surat tersebut. Tulisan di dalamnya menggunakan bahasa kuno, tetapi sebagian besar masih bisa dibaca. Beberapa kata telah pudar, sementara bagian bawah surat tampak sengaja dikikis. Ia membaca perlahan. Kepada pewaris yang menemukan tempat ini, Jika surat ini sampai kepadamu, berarti kami gagal menjaga kota ini tetap tersembunyi. Jangan percaya bahwa kehancurannya disebabkan oleh perang biasa. Kota ini tidak jatuh karena musuh yang lebih kuat. Kota ini dihancurkan karena seseorang menganggap satu kesalahan kecil harus diperbaiki dengan menghapus seluruh bukti bahwa kesalahan itu pernah terjadi. Ignis berhenti sejenak. Ia melanjutkan. Kesalahan pertama adalah mempercayai bahwa sebuah sumpah dapat diwariskan tanpa diwariskannya kebenaran. Kesalahan kedua adalah mengira bahwa seorang anak dapat diselamatkan dengan menghapus namanya. Kesalahan ketiga adalah membiarkan orang yang membuat keputusan itu tetap menjadi penjaga rahasia. Tidak ada nama penulis di bagian akhir. Hanya sebuah lambang dua sayap dan sembilan garis, dengan satu garis terputus. Garrick mengusap dagunya. “Surat ini tidak menjelaskan apa pun dengan jelas.” “Surat ini menjelaskan bahwa seseorang mengambil keputusan untuk menghapus nama seorang anak,” jawab Ignis. “Kael?” “Mungkin. Kita belum tahu.” Ignis memeriksa keping logam di dalam kotak. Pada permukaannya terukir dua nama. Nama pertama telah dikikis hingga tidak terbaca. Nama kedua masih utuh. EDRIC HALVERN. Caelan mengangkat kepala. “Edric. Nama yang muncul dalam catatan cincin.” “Dan orang yang mungkin membawa cincin bersayap,” kata Ignis. “Atau setidaknya seseorang yang terhubung dengannya.” Ia membalik keping logam tersebut. Di sisi belakang terdapat angka dan simbol yang menyerupai kode inventaris: E-17. Namun kali ini, di bawahnya terdapat satu kalimat tambahan. JANGAN MENCARI EDric DI TEMPAT IA PERNAH TINGGAL. CARI TEMPAT IA DIHAPUS. Garrick mengerutkan kening. “Kalau dia dihapus, bagaimana kita menemukan tempatnya?” Ignis memandang reruntuhan di luar jendela. “Dengan mencari hal-hal yang sengaja ditinggalkan.” Ia memeriksa surat itu sekali lagi. Pada bagian yang telah dikikis, terdapat bekas tekanan pena. Tulisan itu tidak bisa dibaca dari sisi depan, tetapi mungkin masih meninggalkan jejak pada bagian belakang. Ignis meletakkan surat di atas meja dan menggosok permukaannya perlahan dengan sisi arang. Beberapa huruf mulai muncul. ...bukan anak yang pertama kali datang. Ignis berhenti. Ia mengubah sudut cahaya lentera. Huruf berikutnya terlihat. ...yang pertama kali datang adalah orang yang membawanya. Kalimat itu berakhir di bagian yang rusak. “Jadi anak itu dibawa ke kota ini oleh seseorang,” ujar Caelan. “Atau dibawa keluar dari kota ini,” balas Ignis. Sebelum mereka sempat membahasnya, salah satu penjaga berteriak dari luar. “Gerakan di gerbang!” Garrick segera berlari keluar. Ignis menyimpan surat dan keping logam ke dalam kotak, lalu mengikuti mereka. Di jalan utama, tiga sosok berjubah berdiri di antara reruntuhan. Salah satunya membawa sebuah bendera hitam dengan lingkaran terbuka. Mereka tidak menyerang. Sosok yang berada di tengah mengangkat kedua tangannya. “Kami datang untuk mengambil surat itu.” Garrick mengangkat pedang. “Kalau begitu, kalian datang ke tempat yang salah.” Sosok itu tertawa pelan. “Tidak. Kami datang tepat ke tempat yang seharusnya.” Ia menoleh kepada Ignis. “Pewaris, surat itu bukan milikmu.” Ignis melangkah ke depan. “Siapa yang mengirimmu?” “Orang yang masih mengingat nama pertama.” “Kael?” Sosok itu membeku. Kemudian ia menurunkan tangannya. “Kalau kau sudah mendengar nama itu, berarti pintu telah terbuka.” Ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari balik jubah. Sebuah cincin perak. Pada permukaannya terukir lambang dua sayap. Ignis merasakan telapak tangannya berdenyut. Sosok itu melemparkan cincin tersebut ke tanah di antara mereka. “Bawa ini kepada penjaga terakhir. Katakan kepadanya bahwa utang yang lama telah jatuh tempo.” Lalu ia mengangkat tangan. Ketiga sosok itu mundur bersamaan, dan udara di sekitar mereka bergetar seperti permukaan air. Dalam sekejap, mereka menghilang. Garrick memeriksa tempat mereka berdiri. Tidak ada jejak kaki. Tidak ada sisa sihir yang jelas. Hanya cincin perak di atas batu. Ignis memungutnya menggunakan kain. Pada bagian dalam cincin terdapat ukiran kecil yang tidak terlihat dari luar. BUKAN SEMUA PENJAGA MENJAGA PINTU. Bersambung. Teaser Bab 57 — Utang Penjaga Terakhir: Cincin baru memaksa Ser Caldus mengungkapkan sebagian masa lalunya. Namun pengakuannya justru menimbulkan pertanyaan yang lebih berbahaya.

End of Chapter 56