Chapter 55 of 70

Bab 55 — Kota yang Dihapus

753 words

Mereka tidak mengejar Penyalin. Ignis memilih membawa para tawanan kembali ke rumah jaga, tetapi perjalanan itu memakan waktu lebih lama daripada perkiraan. Mereka harus menghindari jalan utama dan memutar melewati lereng berbatu agar tidak kembali bertemu dengan pemanah yang melarikan diri. Menjelang sore, mereka tiba di bangunan tua tersebut. Dua penjaga yang ditinggalkan di luar segera menyambut mereka. Salah satunya terluka di lengan, tetapi tidak ada korban jiwa. Ser Caldus memeriksa para tawanan dan mengunci mereka di ruangan terpisah. Ignis langsung menuju meja yang berisi peta utara. “Tempat yang tidak lagi memiliki nama,” gumamnya. Caelan membentangkan peta. “Sebagian besar wilayah ini sudah dipetakan oleh pengawal kerajaan. Ada beberapa daerah pegunungan yang belum dijelajahi, tetapi tidak ada kota yang tercatat hilang.” “Karena mungkin kota itu memang sengaja dihapus.” Ignis mengambil arang dan menandai lokasi rumah jaga, jalur bawah tanah, serta tempat mereka bertemu Penyalin. Ia memperhatikan garis-garis pada peta. Jalur yang mereka tempuh seharusnya membawa mereka ke sebuah bukit rendah. Namun Penyalin muncul di sisi timur, tempat yang menurut peta hanya berupa hutan lebat. Ignis memutar peta. “Peta ini dibuat berdasarkan jalan yang masih ada,” katanya. “Bukan jalan yang pernah ada.” Caelan mengangguk perlahan. “Kalau sebuah permukiman dihapus, pembuat peta berikutnya mungkin tidak tahu bahwa mereka harus mencatatnya.” “Bukan hanya itu. Lihat jarak antara tiga sungai ini.” Ignis menunjuk tiga garis biru. “Ketiganya seharusnya membentuk segitiga, tetapi di peta ini satu sungai berbelok terlalu tajam. Ada bagian wilayah yang sengaja dipersempit.” Caelan mengamati dengan lebih saksama. “Kau benar. Jika garis sungai ini dilanjutkan secara alami, ada sebuah lembah di tengahnya.” “Dan di situlah kota itu mungkin berada.” Garrick menyilangkan tangan. “Bagus. Kita menemukan kota yang tidak ada. Bagaimana cara masuk ke sana?” Ignis menunjuk jalan setapak yang tidak memiliki nama. “Kita ikuti sungai yang paling kecil.” Mereka berangkat sebelum matahari tenggelam, ditemani empat penjaga yang dipilih Caldus. Mereka membawa bekal, tali, serta dua lentera cadangan. Caldus sendiri tetap di rumah jaga untuk menjaga para tawanan dan memastikan jalur bawah tanah tidak dibuka oleh pihak lain. Perjalanan berlangsung hampir dua jam. Hutan semakin rapat. Jalan setapak menyempit, sementara suara sungai terdengar semakin dekat. Akhirnya mereka tiba di tebing rendah yang tertutup akar dan lumut. Di baliknya terdapat sebuah lembah. Ignis terdiam. Reruntuhan bangunan memenuhi lembah tersebut. Atap-atap runtuh, jalan batu tertutup rumput liar, dan menara yang patah menjulang di antara pepohonan. Tidak ada asap, cahaya, atau tanda kehidupan. Namun jalan utama masih terlihat jelas. Kota itu bukan sekadar permukiman kecil. Dari sisa-sisa bangunan dan bentengnya, kota tersebut mungkin pernah menjadi pusat perdagangan penting. “Kenapa tidak ada yang mencatat tempat ini?” bisik salah satu penjaga. “Karena seseorang tidak ingin tempat ini ditemukan,” jawab Ignis. Mereka menuruni lereng. Di gerbang kota terdapat lambang keluarga yang terukir pada batu. Sebuah perisai dengan dua sayap mengapit seekor naga yang kepalanya menunduk. Ignis pernah melihat lambang naga pada catatan Pendragon. Namun lambang ini berbeda. Naga tersebut tidak membawa senjata. Sayapnya tidak terbentang seperti simbol kemenangan. Ia tampak sedang melindungi sesuatu di bawah tubuhnya. Di bawah perisai terdapat tulisan yang sebagian terkikis. THAL... Sisanya telah dihancurkan. Caelan membersihkan lumut menggunakan kain. “Nama keluarga?” “Jangan tebak,” kata Ignis. “Kita belum punya cukup bukti.” Ia mendekati gerbang dan memperhatikan goresan di batu. Seseorang telah berusaha menghapus tulisan itu menggunakan alat berat, tetapi tidak menghilangkan seluruh ukirannya. Di bagian bawah perisai terdapat sembilan garis kecil. Salah satunya terputus. Garrick mengamati menara di sisi barat. “Ada seseorang di sana.” Semua orang segera mengangkat senjata. Sebuah bayangan kecil bergerak di balik jendela, lalu menghilang. Garrick dan dua penjaga bergerak memutari bangunan. Ignis mengikuti mereka bersama Caelan, tetap berada di belakang untuk menghindari serangan mendadak. Mereka memasuki bangunan melalui pintu samping. Di dalamnya terdapat meja berdebu, kursi patah, dan tumpukan kain tua. Tidak ada tanda bahwa seseorang baru saja bersembunyi. Namun di dinding belakang, Ignis menemukan tulisan yang masih baru. Debu di sekitarnya telah dibersihkan. PEWARIS TELAH MENEMUKAN KOTA INI. Di bawahnya terdapat kalimat lain. SEKARANG BIARKAN DIA MENEMUKAN KESALAHANNYA SENDIRI. Ignis menyentuh dinding. Batu di balik tulisan itu terasa hangat. Ia menarik tangannya ketika terdengar bunyi klik dari lantai. Sebuah celah terbuka di bawah meja. Dari dalamnya keluar kotak logam kecil, disegel dengan lilin hitam. Pada segel itu tertera lambang dua sayap. Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki reruntuhan, Ignis melihat sesuatu yang membuatnya benar-benar kehilangan kata-kata. Di sudut segel tertulis nama lengkapnya. IGNIS PENDRAGON. Bersambung. Teaser Bab 56 — Surat untuk Pewaris: Di dalam kotak logam, Ignis menemukan surat yang ditulis sebelum kelahirannya. Isinya menyebutkan satu kesalahan yang kelak akan mengubah nasib seluruh garis keturunannya.

End of Chapter 55