Chapter 54 of 70

Bab 54 — Tamu Tanpa Bayangan

797 words

Mereka meninggalkan Ruang Kesembilan tanpa menyentuh bola kaca lainnya. Ignis tidak menyukai keputusan itu, tetapi ia menyadari bahwa mereka telah menghabiskan terlalu banyak waktu di bawah tanah. Ia juga tidak berniat membiarkan suara-suara dari ruangan tersebut mengendalikan langkah mereka. Lorong di depan ternyata berbeda dari jalur yang mereka lewati sebelumnya. Di ujungnya terdapat tangga yang menanjak, dengan dinding batu yang dipenuhi retakan. Udara dingin mengalir dari atas, membawa bau tanah basah dan dedaunan. “Setidaknya kita menemukan jalan keluar,” kata Garrick. “Jangan terlalu cepat bersyukur,” ujar Caelan. “Aku tidak yakin tangga ini tercatat dalam peta.” “Kalau kau terus mengatakan hal seperti itu, aku akan mulai merindukan lorong yang ingin membunuh kita.” Mereka menaiki tangga. Di anak tangga terakhir, Ignis berhenti. Seseorang berdiri di luar pintu. Pria itu mengenakan mantel kelabu dan membawa tongkat kayu sederhana. Rambutnya putih, wajahnya dipenuhi keriput, tetapi posturnya tegak. Ia tampak seperti seorang pengelana tua yang tersesat. Namun ada sesuatu yang salah. Cahaya dari luar jatuh ke batu, pepohonan, dan tubuh mereka. Tidak ada bayangan di bawah kaki pria itu. “Selamat datang kembali,” kata pria tersebut. Garrick langsung maju, menempatkan dirinya di depan Ignis. “Siapa kau?” Pria itu tersenyum. “Pertanyaan yang sama seperti tiga abad lalu.” Caelan mengangkat lentera meskipun mereka telah berada di luar. Ia mengarahkan cahayanya dari samping, kemudian dari belakang. Tidak ada bayangan. “Ini bukan permainan cahaya,” bisiknya. Ignis melangkah ke samping Garrick. “Namamu.” “Orang-orang pernah memanggilku Penyalin.” “Pekerjaanmu?” “Mencatat hal-hal yang tidak ingin diingat dunia.” Ignis memperhatikan ujung tongkatnya. Terdapat ukiran sembilan garis, tetapi salah satunya terputus tepat seperti lambang di pintu rumah jaga. “Kau mengenal Kael?” Senyum pria itu menghilang. Untuk pertama kalinya, ia tampak terkejut. “Dari mana kau mendengar nama itu?” “Jadi kau mengenalnya.” “Aku mengenal banyak nama.” “Namun hanya satu yang membuatmu kehilangan senyuman.” Pria itu menatap Ignis cukup lama, lalu tertawa pelan. “Anak kecil dengan mata seorang saksi. Dunia memang memiliki selera humor yang buruk.” Ia mengulurkan tangan. “Bolehkah aku melihat telapak tanganmu?” “Tidak.” “Jawaban yang tepat.” Pria itu menurunkan tangannya. “Kalau begitu, dengarkan. Kalian tidak boleh kembali ke rumah jaga melalui jalur yang sama.” Garrick mengerutkan kening. “Kenapa?” “Karena orang-orang yang menyerang kalian bukan satu-satunya yang mengikuti jejak kalian.” Sebuah anak panah melesat dari pepohonan. Pria tanpa bayangan itu memiringkan kepala. Anak panah melewati telinganya dan menghantam batu. “Berlindung!” teriak Garrick. Serangan kedua datang dari kanan. Caelan menjatuhkan lentera, berguling di balik batu besar, lalu menarik Ignis bersamanya. Tiga sosok berjubah hitam muncul di antara pepohonan. Mereka membawa busur pendek dan pedang melengkung. Pada lengan mereka terdapat lambang lingkaran terbuka dengan sembilan garis. “Target ditemukan,” kata salah satu dari mereka. “Ambil anaknya hidup-hidup.” Garrick menerjang sebelum mereka sempat menembakkan anak panah kedua. Pedangnya beradu dengan pedang lawan, memercikkan bunga api. Penyerang pertama mencoba menendang lututnya, tetapi Garrick menggeser kaki dan menghantam bahu lawannya menggunakan gagang pedang. Penyerang kedua membidik Caelan. Ignis melihatnya lebih dahulu. “Caelan, jatuh!” Caelan menjatuhkan tubuhnya tepat ketika anak panah melintas di atas kepala. Ignis mengambil batu dari tanah dan melemparkannya ke tangan pemanah. Lemparannya tidak cukup kuat untuk melukai, tetapi cukup untuk mengganggu bidikan. Garrick memanfaatkan celah itu untuk mendorong lawannya ke batang pohon. Penyerang ketiga bergerak menuju Ignis. Anak itu mundur, sengaja membawa lawannya ke dekat tangga sempit. Ketika pedang melengkung menyambar, Ignis menjatuhkan diri dan menyapu kaki lawannya menggunakan tongkat pendek yang dipungut dari tanah. Pria itu jatuh berlutut. Ignis menendang pergelangan tangannya. Pedang terlepas. Namun lawan tersebut lebih cepat bangkit daripada perkiraan Ignis. Ia meraih kerah bajunya dan mengangkatnya dari tanah. Rasa sakit menjalar di leher Ignis. Sebelum pria itu sempat mengayunkan pedang, tongkat kayu menghantam sisi kepalanya. Penyalin berdiri di belakangnya. “Anak-anak seharusnya tidak diperlakukan seperti barang kiriman.” Pria itu ambruk. Pertarungan berakhir beberapa detik kemudian. Dua penyerang lainnya berhasil dilumpuhkan oleh Garrick dan Caelan, tetapi seorang pemanah telah melarikan diri ke hutan. Garrick memeriksa para tawanan. “Lambang yang sama,” katanya. “Mereka berasal dari kelompok yang menyerang rumah jaga.” Ignis mengusap lehernya yang memerah, lalu menatap Penyalin. “Kau tahu mereka akan datang.” “Aku menduga mereka akan datang.” “Dan kau tidak memperingatkan kami?” “Aku memperingatkan kalian agar tidak kembali melalui jalur yang sama.” “Itu bukan hal yang sama.” “Benar.” Penyalin mengetukkan tongkatnya ke tanah. “Kalau kau ingin jawaban, carilah tempat yang tidak lagi memiliki nama.” Ia berbalik dan berjalan ke arah hutan. “Jangan ikuti aku.” “Kenapa?” tanya Caelan. Pria itu berhenti tanpa menoleh. “Karena kalau kalian melihat bayanganku, kalian akan melihat sesuatu yang seharusnya tidak kalian lihat.” Kemudian ia menghilang di antara pepohonan. Ignis memandang tempat terakhir pria itu berdiri. Di tanah, terdapat jejak kaki yang berakhir begitu saja. Tidak ada jejak yang mengarah lebih jauh. Bersambung. Teaser Bab 55 — Kota yang Dihapus: Petunjuk Penyalin membawa Ignis ke reruntuhan permukiman yang hilang dari semua peta resmi. Di sana, ia menemukan lambang keluarga yang seharusnya tidak pernah ada.

End of Chapter 54