Chapter 53 of 70

Bab 53 — Ruang Kesembilan

795 words

Ruang samping itu tersembunyi di balik dinding yang tampak utuh. Caelan menemukan mekanismenya setelah menyadari bahwa debu di lantai membentuk garis lurus menuju salah satu ukiran sayap. Ketika ia menekan bagian tengah lambang, batu bergeser beberapa jari dan memperlihatkan celah sempit. “Kalau ini jebakan,” gumam Garrick, “aku akan mengajukan protes resmi kepada semua orang mati yang membangun tempat ini.” “Catat namamu dalam daftar pengaduan,” balas Caelan. “Kita mungkin bisa menyerahkannya setelah menemukan orang yang bertanggung jawab.” Mereka masuk satu per satu. Ruangan di balik dinding jauh lebih luas daripada yang seharusnya muat di antara lorong-lorong tersebut. Sembilan pilar berdiri melingkar, masing-masing memiliki ceruk berbentuk kepala manusia. Di dalam setiap ceruk terdapat bola kaca berwarna kelabu. Delapan bola masih utuh. Bola kesembilan pecah. Ser Caldus berhenti begitu melihatnya. “Tidak mungkin.” Ignis menoleh. “Apa?” “Tempat ini tidak seharusnya bisa dibuka.” “Namun seseorang telah membukanya.” Caldus mendekati pilar kesembilan. Pecahan kaca tersebar di lantai, tetapi tidak ada cairan atau debu di dalamnya. Sebaliknya, permukaan batu pada ceruk itu tampak seperti kulit yang kehilangan warna. Ignis berjongkok, memperhatikan bekas di lantai. “Pecahannya mengarah ke luar.” Caelan berjongkok di sebelahnya. “Maksudmu?” “Jika bola itu dihancurkan dari luar, pecahan terbesarnya seharusnya berada lebih dekat ke pilar. Tapi ini terlempar ke ruangan.” Ignis menunjuk goresan tipis pada bagian dalam ceruk. “Bola ini pecah dari dalam.” Garrick mengangkat pedang. “Jadi sesuatu yang disimpan di dalamnya keluar?” “Bukan sesuatu,” jawab Caldus lirih. “Seseorang.” Keheningan menyelimuti ruangan. Ignis menatap pilar-pilar lain. Setiap ceruk memiliki lambang kecil di bagian bawah: sayap, pedang, mahkota, mata, dan simbol-simbol yang tidak dikenalnya. Pada pilar kesembilan, lambangnya telah terkikis. Namun bentuknya menyerupai telapak tangan. Ignis mengangkat tangan kirinya. Tanda peraknya terasa dingin. “Caldus, siapa yang disimpan di sini?” Penjaga tua itu menggeleng. “Kami menyebut tempat ini Ruang Kesembilan. Catatan tentang fungsinya telah dihapus sebelum aku lahir. Yang tersisa hanya larangan: jangan membuka penyimpanan terakhir sebelum pewaris datang.” “Pewaris sudah datang,” kata Ignis. “Dan penyimpanan itu sudah terbuka.” “Karena itu kita harus pergi.” “Tidak.” Garrick menghela napas. “Tentu saja dia mengatakan tidak.” Ignis berjalan mengitari pilar. Ia memeriksa delapan bola yang tersisa. Setiap bola memiliki garis tipis yang berputar di dalamnya, seolah-olah menyimpan asap. Ketika ia melewati pilar ketiga, sebuah bisikan terdengar. “Jangan percaya penjaga.” Ignis berhenti. Ia tidak menjawab. Ia hanya mundur satu langkah, kemudian memperhatikan bola kaca itu. Bisikan yang sama terdengar lagi. “Dia menyerahkan anak itu.” Ignis menatap Caldus. Penjaga tua tersebut sedang memeriksa dinding yang berlawanan, tetapi bahunya menegang seolah-olah ia juga mendengar suara tersebut. “Ser Caldus.” Caldus menoleh. “Apa yang disimpan di dalam bola-bola ini?” “Ingatan.” “Ingatan siapa?” “Orang-orang yang bersumpah menjaga rahasia tempat ini.” “Kalau begitu, kenapa salah satunya berkata bahwa kau menyerahkan seorang anak?” Wajah Caldus memucat. Garrick segera mengarahkan pedangnya kepada sang penjaga. “Jawab.” Caldus tidak mengangkat tongkatnya. Ia hanya menatap bola ketiga. “Aku tidak pernah menyerahkan anak kepada siapa pun.” “Bola itu menyimpan ingatanmu?” “Tidak. Itu ingatan salah satu penjaga sebelumku.” “Siapa namanya?” “Aku tidak tahu.” Ignis mengamati wajahnya. Ketakutan Caldus tampak nyata, tetapi ketakutan bukan bukti ketidakbersalahan. Ia mendekati bola ketiga dan mengeluarkan selembar kain dari sakunya. Dengan hati-hati, ia menyentuh permukaan kaca menggunakan kain tersebut. Bola itu bergetar. Cahaya kelabu menyembur keluar. Sesosok pria muncul di tengah ruangan. Ia mengenakan jubah penjaga yang mirip dengan milik Caldus, tetapi wajahnya telah disamarkan oleh bayangan. Pria itu berdiri di depan pintu yang sama. Di tangannya terdapat seorang anak kecil. “Penerimaan telah selesai,” kata pria itu. “Pewaris sudah dibawa keluar.” Suara lain menjawab dari balik pintu. “Dan saksi?” Pria berjubah itu terdiam. “Kael tidak akan mengingatnya.” Cahaya menghilang. Garrick menatap Caldus. “Kau ingin menjelaskan sekarang?” “Aku tidak mengenali pria itu.” “Tapi kau mengenali nama Kael,” ujar Ignis. Caldus menunduk. “Nama itu muncul dalam catatan terlarang yang kubaca ketika masih muda. Aku diberi perintah untuk melupakannya.” “Siapa yang memberi perintah?” “Penjaga sebelumku.” “Dan siapa yang memberi perintah kepadanya?” Caldus tidak menjawab. Dari pilar kesembilan terdengar bunyi retakan. Mereka semua menoleh. Di antara pecahan kaca, sesuatu bergerak. Sebuah bayangan tipis merayap di lantai, melewati sepatu Ignis dan menuju pintu. Ignis menghunus belatinya, tetapi bayangan itu bergerak terlalu cepat. Ia menyelinap ke celah dinding dan menghilang. Pada saat yang sama, delapan bola kaca menyala serempak. Satu kalimat terdengar dari semuanya. “SAKSI TELAH KELUAR. JANGAN BIARKAN IA MENEMUKAN NAMA KEDUANYA.” Lalu seluruh bola kembali gelap. Ignis menyimpan belatinya. “Sekarang kita tahu satu hal.” Caelan mengangkat lentera. “Apa?” Ignis menatap pintu keluar. “Orang yang keluar dari tempat ini bukan sekadar membawa ingatan. Ia sedang mencari sesuatu.” “Nama kedua?” tanya Garrick. Ignis memandang tanda di telapak tangannya. “Dan aku punya firasat bahwa ia tidak akan berhenti sebelum menemukannya.” Bersambung. Teaser Bab 54 — Tamu Tanpa Bayangan: Dalam perjalanan keluar, mereka bertemu seorang pria yang mengaku telah menunggu Ignis selama tiga abad. Namun cahaya lentera tidak menghasilkan bayangan dari tubuhnya.

End of Chapter 53