Chapter 52 of 70

Bab 52 — Nama yang Tidak Pernah Dimiliki

789 words

Ignis terbangun dengan napas tersengal. Punggungnya membentur permukaan keras. Ia segera berguling ke samping, mengangkat kedua tangan, dan memeriksa sekelilingnya. Tidak ada lorong. Tidak ada Garrick. Tidak ada Caelan atau Ser Caldus. Ia berada di sebuah ruangan bundar dengan lantai putih kusam. Sembilan lentera menggantung di udara tanpa rantai, masing-masing memancarkan cahaya pucat. Di tengah ruangan terdapat meja batu kecil dan dua kursi. Seseorang duduk di kursi seberangnya. Seorang anak laki-laki. Usianya kira-kira sama dengan Ignis. Rambutnya hitam, tetapi beberapa helai berwarna perak jatuh di dahinya. Matanya memiliki bentuk yang sangat mirip dengan mata Ignis, meskipun tatapannya jauh lebih tenang. Anak itu mengenakan pakaian sederhana tanpa lambang keluarga. “Kau terlambat,” katanya. Ignis tidak duduk. “Siapa kau?” “Kael.” “Nama itu baru saja disebutkan kepadaku.” “Karena kau akhirnya sampai di tempat yang bisa mendengarnya.” Ignis memperhatikan pintu di belakangnya. Tidak ada gagang, engsel, atau celah. Dindingnya utuh. Ia kemudian memeriksa telapak tangan kirinya. Tanda perak masih ada. Retakan hitam di bawahnya juga tidak menghilang. “Apakah ini ilusi?” “Mungkin.” “Jawaban yang tidak berguna.” “Kalau begitu, anggap saja ini ujian.” Ignis menatap anak itu dengan dingin. “Aku tidak punya waktu untuk permainan.” “Semua orang yang datang ke sini mengatakan hal yang sama.” Kael menunjuk kursi kosong. “Duduklah. Kita punya sedikit waktu sebelum tempat ini mengingat bahwa kau bukan bagian darinya.” Ignis tetap berdiri. Ia mengamati sembilan lentera. Delapan menyala stabil, sedangkan satu di sisi barat berkedip pelan. Cahaya lentera itu tidak jatuh ke lantai, meskipun delapan lainnya membentuk bayangan yang jelas. Sesuatu tidak beres. “Kalau aku tidak duduk?” “Kau akan tetap berdiri sampai ruangan ini memutuskan untuk mengusirmu.” “Dan kalau aku duduk?” “Kau akan mengingat sesuatu.” Ignis tidak menyukai jawaban itu. Namun ia lebih tidak menyukai kemungkinan bahwa ia sedang membuang kesempatan mendapatkan informasi. Ia mendekati meja, tetapi tidak duduk. Jaraknya cukup dekat untuk menyerang jika diperlukan. “Kael. Apakah itu nama aslimu?” Anak itu tersenyum tipis. “Dulu.” “Dulu kapan?” “Sebelum mereka memutuskan bahwa nama bisa menjadi pintu.” Kalimat itu membuat telapak tangan Ignis berdenyut. Di permukaan meja, garis-garis tipis mulai muncul. Sembilan garis melengkung, membentuk lambang yang pernah dilihatnya di rumah jaga. Namun kali ini ada dua lingkaran kecil di tengahnya. Satu lingkaran berisi lambang sayap. Lingkaran lainnya kosong. Ignis menyentuh tepi meja. Pemandangan berubah. Ia melihat ruangan yang sama, tetapi jauh lebih terang. Beberapa orang dewasa berdiri mengelilingi meja. Salah satunya mengenakan zirah dengan lambang naga pada bahu. Yang lain memakai jubah putih, sedangkan sosok ketiga berdiri di belakang mereka tanpa bayangan. Di antara mereka terdapat seorang anak kecil yang menangis. Ignis tidak dapat melihat wajah anak itu. Seorang pria berlutut di hadapannya. “Dengarkan aku,” kata pria tersebut. “Apa pun yang terjadi setelah ini, jangan biarkan mereka memberimu nama kedua.” Anak itu mengangguk dengan ketakutan. Kemudian pria itu menoleh kepada seseorang di luar pandangan. “Bawa pewaris keluar.” Sebuah ledakan cahaya menyelimuti ruangan. Ingatan itu lenyap. Ignis menarik tangannya dari meja. Napasnya menjadi berat, dan rasa sakit menusuk pelipisnya. Kael berdiri. “Itulah yang masih tersisa.” “Ingatan siapa?” “Bukan milikmu.” “Lalu kenapa aku melihatnya?” “Karena ada bagian dari dirimu yang pernah menyimpannya.” Ignis mengepalkan tangan. “Aku sudah mati sekali. Aku kembali ke masa lalu dengan ingatan kehidupanku sendiri. Aku tahu mana ingatanku dan mana yang bukan.” “Benarkah?” Kael mendekat. “Kalau kau benar-benar mengenal seluruh ingatanmu, mengapa kau tidak bisa mengingat wajah orang yang pertama kali mengajarimu menyebut namamu?” Ignis terdiam. Ia tahu nama Ignis Pendragon. Ia tahu masa kecilnya, keluarganya, bahkan banyak peristiwa yang seharusnya belum terjadi dalam kehidupan keduanya. Tetapi untuk sesaat, ia tidak bisa membayangkan wajah orang yang pertama kali memanggilnya Ignis. Hanya sesaat. Namun sesaat itu cukup membuatnya marah. “Jangan mencoba mengacaukan pikiranku.” “Aku tidak perlu melakukannya. Ada sesuatu yang sudah lebih dahulu mengacaukannya.” Sembilan lentera meredup. Kael menatap pintu yang tidak memiliki gagang. “Waktumu habis.” “Jawab satu pertanyaan lagi.” “Cepat.” “Apakah Kael nama yang pernah kumiliki?” Anak itu menatapnya lama. “Aku tidak tahu apakah kau pernah menjadi Kael.” Ia mundur satu langkah. “Tapi aku tahu bahwa seseorang pernah memanggilmu dengan nama itu sambil menangis.” Lentera terakhir padam. Ruangan menjadi gelap. Ketika Ignis membuka mata kembali, ia sudah terbaring di lantai lorong. Garrick mengguncang bahunya, sementara Caelan memegang pergelangan tangannya untuk memeriksa denyut nadi. “Ignis! Bangun!” Ignis langsung bangkit dan meraih belati di pinggangnya. Garrick mundur setengah langkah. “Pelan-pelan, bocah. Kau baru saja pingsan.” “Berapa lama?” “Kurang dari satu menit.” Ignis menoleh ke ujung lorong. Sosok bermata perak itu sudah tidak ada. Namun pada dinding di sebelahnya, muncul tulisan baru yang tidak ada sebelumnya. KAEL BUKAN PEWARIS. KAEL ADALAH SAKSI. Di bawah tulisan itu terdapat sebuah panah yang mengarah ke ruang samping. Ignis berdiri. “Bergerak. Kita belum selesai.” Bersambung. Teaser Bab 53 — Ruang Kesembilan: Di balik ruang samping, rombongan menemukan sembilan tempat penyimpanan ingatan. Salah satunya telah dibuka dari dalam.

End of Chapter 52