Chapter 51 of 70
Bab 51 — Jalur di Balik Segel
680 words
Pintu batu itu terbuka tanpa suara.
Tidak ada gemuruh yang mengguncang tanah. Tidak ada debu yang berhamburan dari langit-langit. Dua daun pintu berukir sayap itu justru bergerak perlahan, seolah-olah sesuatu di baliknya telah menunggu selama berabad-abad dan tidak ingin membangunkan dunia di atas.
Ignis berdiri di ambang pintu.
Di belakangnya, Garrick mengangkat pedang, sementara Caelan memegang lentera dengan satu tangan dan sebuah belati dengan tangan lainnya. Ser Caldus berdiri paling dekat dengan pintu, tongkatnya menyentuh lantai batu yang dipenuhi sembilan garis melengkung.
“Begitu kita masuk,” ujar Caldus, “jangan menjawab suara yang memanggil nama kalian.”
Garrick meliriknya. “Kau baru saja mengatakan sesuatu yang biasanya disampaikan orang sebelum membawa rombongan masuk ke tempat terkutuk.”
“Karena tempat ini memang terkutuk.”
“Setidaknya kau jujur.”
Ignis tidak menanggapi percakapan itu. Perhatiannya tertuju pada lorong di balik pintu.
Dindingnya hitam, tetapi bukan karena jelaga. Permukaannya memantulkan cahaya lentera seperti air yang membeku. Di sepanjang dinding terdapat ukiran manusia, naga, dan sosok-sosok bertudung. Wajah mereka sengaja dihapus, menyisakan rongga kosong.
Yang paling mengganggu adalah arah pandangan semua ukiran itu.
Mereka menghadap ke tengah lorong.
Menghadap tempat Ignis berdiri.
Ia melangkah masuk.
Begitu ujung sepatunya melewati ambang, telapak tangan kirinya terasa panas. Tanda perak yang selama ini muncul di sana berdenyut sekali, disusul rasa dingin dari retakan hitam di bawahnya.
“Berhenti,” kata Caldus.
Terlambat.
Sebuah bunyi terdengar dari balik dinding.
Tok.
Tok.
Tok.
Seperti seseorang mengetuk dari sisi lain batu.
Lentera Caelan meredup.
Kemudian suara itu muncul.
“Eryndor.”
Ignis membeku.
Suara tersebut tidak datang dari depan atau belakang. Suara itu terdengar langsung di dalam kepalanya, berat dan serak, tetapi menyebut nama dunia dengan keakraban yang mengerikan.
“Darah yang kembali.”
Garrick segera menarik Ignis ke belakang tubuhnya.
“Jangan dengarkan.”
“Aku tidak menjawab,” kata Ignis.
“Bagus. Pertahankan.”
Mereka bergerak lebih dalam. Lorong itu menurun secara bertahap, melewati beberapa lengkungan batu yang dihiasi lambang dua sayap. Setiap lengkungan memiliki sembilan garis kecil di bagian atas, tetapi pada lengkungan ketiga, satu garis tampak terputus.
Ignis menghitungnya.
Tiga puluh langkah kemudian, ia menemukan ukiran lain.
DUA SAYAP. SATU SUMPAH.
Di bawah tulisan itu terdapat kalimat yang berbeda.
PEWARIS TIDAK SELALU MENJADI ORANG YANG MENGUCAPKAN SUMPAH.
Ignis membaca kalimat itu dua kali.
“Ser Caldus,” panggilnya pelan. “Apa maksudnya?”
Penjaga tua itu tidak langsung menjawab.
“Itulah alasan aku tidak ingin membawamu kemari.”
“Bukan jawaban.”
“Tidak semua pertanyaan bisa kujawab dengan ingatan yang kumiliki.”
Ignis menoleh tajam. “Kau memakai cincin penjaga. Kau tahu tempat ini. Kau bahkan mengenali tanda di tanganku. Jangan bilang kau tidak tahu apa-apa.”
Caldus menerima tatapan itu tanpa menghindar.
“Aku tahu bahwa seseorang pernah datang ke sini bersama seorang anak. Aku tahu bahwa sumpah pertama diucapkan pada malam ketika sembilan lentera dipadamkan. Dan aku tahu bahwa setelah malam itu, namanya dihapus dari catatan.”
“Nama siapa?”
“Nama yang seharusnya tidak kuingat.”
Sebelum Ignis bisa bertanya lagi, lantai di bawah mereka bergetar.
Sembilan garis di dinding menyala satu per satu.
Dari ujung lorong terdengar suara langkah kaki.
Seseorang muncul dalam cahaya yang semakin redup.
Sosok itu mengenakan pakaian hitam dengan potongan kuno, rambut panjangnya terikat di belakang kepala. Wajahnya tidak jelas, seakan-akan cahaya menolak menyentuhnya.
Namun matanya terlihat.
Perak.
Sama seperti mata Ignis.
Garrick segera mengangkat pedangnya.
Sosok itu tidak memedulikannya. Ia hanya memandang Ignis, lalu tersenyum sedih.
“Akhirnya,” katanya.
Ignis menggenggam tangan kirinya.
“Siapa kau?”
Sosok itu memiringkan kepala.
“Pertanyaan yang salah.”
Ia melangkah mendekat.
“Pertanyaan yang seharusnya kau ajukan adalah—mengapa kau masih mengingat kehidupan yang bukan milikmu?”
Dunia di sekitar Ignis mendadak sunyi.
Garrick bergerak, tetapi tubuhnya berhenti di tengah langkah. Caelan membeku dengan lentera terangkat. Bahkan Caldus tampak seperti patung.
Hanya Ignis yang masih bisa bergerak.
Sosok itu mengulurkan tangan.
“Jangan takut. Aku tidak akan mengambil ingatanmu.”
Senyumnya melebar.
“Aku hanya akan menunjukkan siapa yang pertama kali mengambilnya.”
Lantai di bawah kaki Ignis menghilang.
Ia jatuh ke dalam kegelapan.
Dan sebelum kesadarannya lenyap, ia mendengar satu nama yang tidak pernah ia kenal dalam kehidupan keduanya.
“Kael.”
Bersambung.
Teaser Bab 52 — Nama yang Tidak Pernah Dimiliki: Ignis terbangun di tempat yang tidak dikenalnya dan melihat sosok anak lain yang wajahnya menyerupai dirinya. Anak itu memanggilnya dengan nama yang baru saja didengarnya.