Chapter 50 of 70
Bab 50 — Penjaga Rumah Jaga
1.7k words
Pintu kayu itu terbuka dengan suara derit panjang.
Di baliknya berdiri seorang pria tua berjubah cokelat gelap. Rambut putihnya diikat ke belakang, wajahnya dipenuhi kerutan, dan tongkat besi bertumpu di tangan kanannya. Ia terlihat rapuh, tetapi matanya tajam, mengamati setiap orang yang memasuki halaman.
Terutama Ignis.
Tatapan pria itu berhenti pada telapak tangan kiri sang pewaris.
Kemudian ia berlutut.
“Pewaris Pendragon akhirnya kembali.”
Garrick langsung mengangkat pedangnya.
“Jangan bergerak.”
Pria tua itu tidak melawan. Ia hanya menoleh kepada Garrick dengan ekspresi lelah.
“Jika aku berniat menyerang kalian, kalian tidak akan mendengar ketukan tadi.”
“Orang-orang yang mengaku tidak berbahaya biasanya mengatakan hal serupa,” balas Garrick.
“Dan para ksatria yang mengarahkan pedang kepada orang tua biasanya terlalu percaya diri.”
Caelan menghela napas.
“Sepertinya kita akan cocok dengan tempat ini.”
Ignis mengangkat tangan, memberi isyarat agar Garrick menurunkan pedangnya sedikit.
“Siapa namamu?”
Pria tua itu berdiri perlahan.
“Dahulu, orang-orang memanggilku Ser Caldus. Sekarang, aku hanya penjaga bangunan yang sudah dilupakan.”
“Penjaga rumah jaga ini?”
“Dan jalur di belakangnya.”
Ignis melirik cincin perak yang melingkar di jari pria tersebut.
Lambang naga bersayap.
Bentuknya mirip dengan cincin Aldric, tetapi garis sayapnya berbeda. Pada cincin itu, kedua sayap menghadap ke arah yang sama, mengelilingi lingkaran kecil yang tertutup rapat.
Bukan lingkaran terbuka seperti pada tanda di telapak tangannya.
“Cincin itu milikmu?” tanya Ignis.
Caldus menatap cincin tersebut.
“Tidak. Aku hanya menjaganya.”
“Untuk siapa?”
“Untuk orang yang belum datang.”
Ignis terdiam sejenak.
“Sudah berapa lama kau menunggu?”
“Lebih lama daripada yang seharusnya.”
Jawaban itu tidak memberikan apa-apa.
Ignis sudah muak dengan orang-orang yang menjawab pertanyaan menggunakan teka-teki, tetapi ia tahu memaksa Caldus sekarang hanya akan membuat lelaki itu menutup mulut.
Ia menunjuk ke dalam bangunan.
“Kalau begitu, mari bicara di dalam.”
Caldus mengangguk.
“Tentu. Namun, sebelum itu, ada satu aturan.”
“Apa?”
“Jangan melewati ambang pintu bagian dalam sebelum aku mengizinkanmu.”
Garrick mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Caldus menatap Ignis.
“Karena bangunan ini tidak lagi mengenali semua orang yang masuk.”
---
Bagian dalam rumah jaga jauh lebih luas daripada perkiraan mereka.
Ruangan depannya dipenuhi meja rusak, rak kosong, dan peralatan pengawas yang berkarat. Di dinding terdapat peta jalur utara yang hampir hancur, sementara tangga sempit menuju lantai atas telah runtuh separuh.
Namun, di ujung ruangan berdiri sebuah pintu batu yang masih utuh.
Permukaannya bersih.
Tidak ada debu.
Tidak ada lumut.
Di tengahnya terukir lambang dua sayap.
Ignis langsung merasakan tanda di telapak tangannya menghangat.
Caldus menyadari reaksinya.
“Jadi, tanda itu benar-benar telah bangkit.”
“Jelaskan,” kata Ignis.
Caldus meletakkan tongkat besinya di samping meja.
“Rumah jaga ini dibangun di atas jalur yang jauh lebih tua daripada kekaisaran. Bangunan kayu di luarnya hanyalah kedok. Tugas kami bukan menjaga jalan perdagangan, melainkan memastikan tidak ada orang yang melewati pintu itu tanpa izin.”
“Pintu menuju tempat sumpah pertama?” tanya Caelan.
Caldus menoleh kepadanya.
“Kalian sudah mengetahui nama tempat itu?”
“Kami menemukan peta dengan lambang sembilan garis.”
Wajah Caldus berubah.
“Siapa yang menunjukkan peta itu kepada kalian?”
“Tidak ada yang menunjukkannya. Kami menemukannya dalam catatan lama.”
Caldus terdiam cukup lama hingga Garrick kembali menggenggam gagang pedangnya.
Akhirnya, pria tua itu menarik napas.
“Kalau begitu, catatan yang disembunyikan selama ini mulai terbuka.”
Ignis melangkah mendekat, tetapi tetap menjaga jarak dari pintu batu.
“Siapa yang memakai cincin itu?”
Caldus memandang cincin di jarinya.
“Ada tiga cincin yang dibuat untuk perjanjian lama. Satu menjadi lambang pewaris. Satu dititipkan kepada penjaga. Dan satu lagi dibawa oleh orang yang mengucapkan sumpah pertama.”
Ignis mengingat cincin Aldric, cincin PACTUM PRIMUM yang muncul di kamarnya, serta cincin yang sekarang dipakai Caldus.
“Tiga cincin,” gumamnya. “Berarti cincin yang muncul di kamarku bukan milikmu?”
“Bukan.”
“Lalu siapa yang memakainya?”
Caldus menggeleng.
“Aku tidak boleh menyebutkan namanya.”
“Tidak boleh, atau tidak mau?”
“Dahulu, aku bersumpah untuk tidak menyebutkannya kepada siapa pun yang belum mengingat sumpah pertama.”
Ignis mengepalkan tangan.
“Aku tidak memiliki ingatan tentang sumpah itu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, bagaimana kau bisa mengenaliku?”
Caldus menatap telapak tangan Ignis.
“Karena sumpah itu mengenalimu.”
Ruangan menjadi sunyi.
Ignis menatap pintu batu di belakang pria tua itu. Ia mulai memahami bahwa tanda di tangannya bukan sekadar lambang keluarga. Benda itu berfungsi sebagai pengenal, mungkin bahkan sebagai izin.
Namun, ia tidak tahu siapa yang berhak menentukan apakah ia boleh masuk.
“Kalau aku tidak ingat sumpah tersebut, apa yang terjadi jika aku membuka pintu?”
Caldus menjawab tanpa ragu.
“Pintu itu akan mengambil sesuatu darimu.”
“Apa?”
“Hal yang paling kau bawa ketika datang ke sini.”
Ignis menahan napas.
Ingatan.
Itulah yang paling berharga sekaligus paling berbahaya yang ia miliki.
Ia telah kehilangan hidupnya sekali. Ingatan dari kehidupan pertama adalah satu-satunya keunggulan yang membantunya mengubah takdir.
Jika pintu itu dapat mengambil ingatan tersebut, ia mungkin kehilangan seluruh alasan mengapa ia masih hidup.
“Kalau begitu, aku tidak akan membukanya.”
Caldus tampak terkejut.
“Kau tidak akan mencoba?”
“Aku belum tahu apa yang ada di baliknya. Aku juga belum tahu apakah sumpah itu benar-benar milikku. Aku tidak akan mempertaruhkan ingatanku hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu.”
Untuk pertama kalinya, pria tua itu tersenyum.
“Jawaban yang lebih bijaksana daripada yang kuduga.”
Garrick mendengus pelan.
“Bagus. Berarti kita bisa kembali pulang.”
“Belum,” kata Ignis.
Ia menunjuk cincin Caldus.
“Aku masih ingin tahu kenapa cincin itu berbeda dari cincin yang muncul di kamarku.”
Senyum Caldus menghilang.
“Karena cincin yang muncul di kamarmu bukanlah cincin ketiga.”
Sebelum Ignis sempat bertanya lebih jauh, suara benturan keras terdengar dari luar.
DUAARRR!
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Seorang pengawal berlari masuk dengan wajah pucat.
“Ser Caldus! Ada orang-orang di lereng! Mereka membawa senjata dan bergerak menuju bangunan ini!”
Garrick langsung menghunus pedangnya.
“Berapa banyak?”
“Setidaknya dua belas. Ada pemanah, dan satu orang membawa sesuatu seperti tongkat besi besar.”
Caldus meraih tongkatnya.
“Jadi, mereka akhirnya datang.”
Ignis menatapnya tajam.
“Kau mengenal mereka?”
“Bukan orang-orangnya. Tujuan mereka.”
Caldus berjalan menuju pintu batu.
Ia menempelkan cincin di jarinya pada lambang dua sayap. Cahaya perak menyala di antara ukiran, lalu terdengar suara mekanisme berat bergerak jauh di dalam dinding.
Pintu itu tidak terbuka.
Sebaliknya, garis-garis di lantai menyala, membentuk jalur dari ambang pintu menuju dinding luar.
Sembilan garis.
Caldus menatap Ignis.
“Dengarkan aku baik-baik. Jika mereka berhasil memasuki ruangan ini, jangan biarkan siapa pun menyentuh garis kesembilan.”
“Kenapa?”
“Karena garis itu bukan bagian dari segel.”
Caldus mengangkat tongkatnya.
“Garis itu adalah batas antara tempat ini dan sesuatu yang seharusnya tidak pernah berada di sisi kita.”
---
Serangan pertama menghantam rumah jaga beberapa saat kemudian.
Anak panah menembus jendela yang tersisa. Garrick mendorong Ignis ke balik meja ketika sebuah proyektil menghantam dinding tepat di belakang mereka.
“Pengawal, tahan pintu depan!”
Dua ksatria membentuk barisan dengan perisai, sementara yang lain mengambil posisi di sisi ruangan. Caelan menarik Ignis menjauh dari jendela dan berjongkok di balik pilar.
“Berapa lama kita bisa bertahan?” tanyanya.
“Kalau mereka hanya membawa senjata biasa, cukup lama,” jawab Ignis. “Kalau mereka memiliki sihir seperti pria bermantel kelabu, kita harus menemukan cara untuk memutus formasi mereka.”
“Dan kalau mereka memiliki keduanya?”
“Kita berimprovisasi.”
Suara kayu patah terdengar dari pintu depan.
Tiga penyerang menerobos masuk.
Yang pertama membawa kapak pendek, yang kedua menggunakan pedang panjang, sementara yang ketiga mengangkat perisai bundar dengan lambang lingkaran terbuka.
Garrick menyambut mereka.
Ia menghindari ayunan kapak, memutar tubuh, lalu menebas bagian belakang lutut lawan. Ketika pria kedua mencoba menusuk dari samping, Garrick menangkis bilahnya dengan gagang pedang dan mendorongnya ke arah rekannya sendiri.
Kedua penyerang bertabrakan.
Namun, pria ketiga tidak menyerang Garrick.
Ia berlari lurus menuju pintu batu.
“JANGAN BIARKAN DIA MENDEKAT!” teriak Caldus.
Ignis bergerak sebelum siapa pun sempat menghentikannya.
Ia meraih sebuah bangku pendek dan mendorongnya ke jalur penyerang. Bangku itu terguling, tetapi lawan melompati rintangan dengan mudah.
Ignis tahu ia tidak akan menang dalam adu kekuatan.
Maka ia menyerang pijakan lawannya, bukan tubuhnya.
Dengan kedua tangan, ia menarik seutas rantai tua yang tergantung pada tiang dekat dinding. Rantai itu mengikat beberapa pemberat besi yang dahulu digunakan untuk menahan daun jendela.
Ignis menarik sekuat tenaga.
Rantai menegang.
Pemberat besi jatuh dari ketinggian dan menghantam lantai di depan penyerang.
KRAAANG!
Pria itu kehilangan keseimbangan, terpaksa mengubah arah, lalu menabrak meja yang telah Ignis dorong ke jalurnya.
Ia terjatuh.
Ignis mundur cepat, tetapi rasa sakit menyambar lengannya yang terluka.
Ia hampir kehilangan keseimbangan.
“Cukup!” bentak Garrick.
Ksatria itu meninggalkan lawan yang sudah terdesak dan berlari membantu Ignis.
Namun, penyerang yang jatuh itu mendadak menghantam lantai dengan telapak tangannya.
Lingkaran hitam menyebar di bawah tubuhnya.
Caldus mengangkat tongkat besi.
“Jangan biarkan lingkarannya lengkap!”
Ia menghantam salah satu garis dengan ujung tongkat.
Cahaya menyembur.
Lingkaran itu pecah sebelum selesai terbentuk, melemparkan penyerang ke belakang.
Tetapi benturan tersebut juga membuat cincin Caldus menyala terang.
Pintu batu bergetar.
Satu garis di lantai berubah hitam.
Garis kesembilan.
Caldus terhuyung.
“Tidak...”
Dari balik pintu terdengar tiga ketukan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Seluruh penyerang yang masih berdiri langsung mundur, seolah-olah mereka mendengar perintah yang sama.
Kemudian sebuah suara terdengar dari balik batu.
“Penjaga terakhir.”
Caldus membeku.
Suara itu tenang, hampir ramah.
“Sudah cukup lama kau menunggu.”
Ignis menatap pintu.
Suara tersebut melanjutkan.
“Bukalah. Pewaris telah datang.”
Caldus menggenggam tongkatnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
“Tidak.”
Senyap.
Lalu terdengar suara retakan dari balik pintu.
Satu garis hitam menyebar ke permukaan batu.
Caldus berbalik menatap Ignis.
“Sekarang kau harus memilih, Pewaris Pendragon. Kita bisa menutup rumah jaga ini dan membiarkan mereka menghancurkan pintunya dari luar... atau kita membuka jalur menuju tempat sumpah pertama sebelum mereka merusak segelnya.”
Ignis memandangi pintu, lalu para penyerang yang mulai bangkit kembali.
Ia tidak tahu siapa yang berada di balik batu.
Ia tidak tahu apa yang akan diambil pintu itu darinya.
Tetapi ia tahu bahwa jika mereka membiarkan musuh menguasai tempat ini, mereka mungkin tidak akan pernah mendapat kesempatan untuk memilih lagi.
Ignis menarik napas dalam-dalam.
“Caldus, tunjukkan jalurnya.”
Pria tua itu mengangguk muram.
“Semoga pilihanmu berbeda dari pilihan orang-orang sebelum dirimu.”
Cincin di jarinya menyala.
Dan pintu batu mulai terbuka.
Bersambung.
Teaser Bab 51 — Jalur di Balik Segel
Di balik pintu rumah jaga, Ignis menemukan jalur kuno menuju tempat sumpah pertama. Namun, saat mereka memasuki lorong itu, pintu menutup di belakang mereka dan memisahkan rombongan dari dunia luar. Di kegelapan, sebuah suara memanggil Ignis dengan nama yang tidak pernah ia miliki dalam kehidupan ini.