Chapter 49 of 70
Bab 49 — Orang yang Memakai Cincin
1.9k words
Ruang perawatan mendadak gaduh.
“Periksa pintu belakang!”
“Panggil penjaga gerbang!”
“Jangan ada yang meninggalkan kediaman!”
Suara perintah bersahutan di koridor. Garrick menghunus pedangnya dan memeriksa jendela yang masih tertutup, sementara Caelan membantu tabib memeriksa ranjang yang baru saja ditinggalkan pria misterius itu.
Ignis berdiri di samping meja, satu tangan menekan lengan kirinya yang masih dibalut.
“Berapa lama dia tidak sadarkan diri?” tanyanya.
“Sekitar sepuluh menit sebelum kau pingsan,” jawab tabib. “Aku memeriksa lukanya. Ketika aku berbalik untuk mengambil perban, dia sudah tidak ada.”
“Dengan luka separah itu, dia tidak mungkin berjalan jauh.”
Garrick mengamati jendela.
“Kalau dia berjalan sendiri.”
Ignis mengikuti arah pandangannya.
Jendela tidak pecah. Kuncinya masih terpasang dari dalam. Tidak ada bekas darah menuju pintu, dan para penjaga di luar ruangan bersumpah tidak melihat siapa pun keluar.
Pria itu seolah-olah menghilang begitu saja.
Caelan mengangkat seprai dari ranjang.
“Lihat ini.”
Di bawah bantal terdapat sepotong kain berwarna kelabu. Pada permukaannya tergores lambang yang belum pernah mereka lihat sebelumnya: sebuah lingkaran terbuka dengan tiga garis melintang, seolah-olah seseorang telah mencoret simbol itu berkali-kali.
Di bagian belakang kain tertulis kalimat pendek.
JANGAN CARI CINCIN ITU. CARI ORANG YANG MEMAKAINYA.
Ignis membaca tulisan tersebut dua kali.
“Dia meninggalkan pesan ini sebelum menghilang?”
“Mustahil kita tahu,” jawab Caelan. “Tapi tulisannya dibuat menggunakan tinta biasa. Tidak ada reaksi mana ketika aku mendekatkannya pada kristal pendeteksi.”
“Bisa jadi memang sengaja dibuat agar terlihat biasa.”
Garrick memasukkan pedangnya kembali ke sarung.
“Jadi, apa kesimpulanmu?”
Ignis menatap lambang itu.
“Orang yang memakai cincin tersebut lebih penting daripada cincinnya sendiri. Artinya, cincin PACTUM PRIMUM mungkin bukan benda yang perlu kita cari. Kita harus mengetahui siapa yang terakhir memakainya.”
“Edric Halvern?” tanya Caelan.
“Belum tentu. Pria tadi bahkan tidak yakin apakah itu namanya sendiri.”
Ignis teringat penglihatan di balik pintu batu. Mata kelabu yang menatapnya dengan kelelahan, lalu senyum yang terasa terlalu tenang untuk sesuatu yang terkurung di balik sembilan rantai.
Ia tidak tahu apakah pria di ruang perawatan itu benar-benar Edric.
Tetapi satu hal jelas: seseorang telah membawanya ke kediaman Pendragon tepat setelah cincin kedua muncul.
Kebetulan seperti itu terlalu rapi.
“Garrick, siapkan perjalanan menuju rumah jaga lama.”
Garrick menatapnya datar.
“Kau baru saja pingsan.”
“Aku juga baru saja kehilangan satu-satunya saksi yang mengetahui cincin itu.”
“Dan kau pikir aku akan membiarkanmu pergi dalam keadaan begini?”
“Tidak. Aku pikir kau akan ikut mengawalku.”
Garrick menghela napas panjang.
“Kadang-kadang aku merindukan masa ketika tugas terberatku hanyalah mengajari anak bangsawan mengayunkan pedang.”
“Kalau begitu, anggap saja ini latihan lanjutan.”
“Latihan lanjutan biasanya tidak mencoba membunuhku.”
“Berarti latihanmu selama ini kurang menantang.”
Caelan memalingkan wajah, menyembunyikan senyum kecilnya.
Garrick menunjuk Ignis dengan dua jari.
“Suatu hari nanti, Tuan Muda, aku akan membuatmu berlari mengelilingi halaman sampai kau tidak punya tenaga untuk menjawab.”
Ignis mengangguk sopan.
“Aku menantikannya.”
---
Mereka berangkat setelah matahari mencapai puncak langit.
Alistair awalnya menolak keras, tetapi akhirnya menyetujui perjalanan itu dengan tiga syarat: Ignis tidak boleh bertarung tanpa alasan yang jelas, Garrick memiliki wewenang penuh untuk menariknya mundur, dan mereka tidak akan menyentuh cincin PACTUM PRIMUM sampai memahami sifatnya.
Cincin itu disegel dalam wadah berlapis perak, lalu disimpan di ruang bawah tanah yang dijaga dua ksatria. Mereka tidak membawanya.
Rombongan terdiri atas Ignis, Garrick, Caelan, dan empat pengawal berkuda.
Tujuan mereka adalah rumah jaga tua di jalur utara, bangunan yang dahulu digunakan untuk memeriksa karavan sebelum memasuki wilayah pegunungan. Jika catatan Oswin Marek benar, buku penerimaan berkulit hijau masih mungkin tersimpan di sana.
Perjalanan berlangsung tanpa insiden selama beberapa jam.
Hujan telah berhenti, tetapi tanah masih basah. Roda kereta sesekali tergelincir ketika melewati jalan berlumpur, membuat Ignis harus berpegangan pada sisi tempat duduk agar tidak terlempar.
Ia membenci satu hal tentang tubuh berusia delapan tahun.
Tubuh ini terlalu mudah lelah.
Pikirannya bisa menghitung jalur penyergapan, membaca gerakan lawan, dan merencanakan tiga kemungkinan pelarian. Namun, ketika kereta terguncang keras, tulang dan ototnya tetap bereaksi seperti tubuh seorang anak.
Tidak ada ingatan yang bisa menggantikan kekuatan fisik yang belum dimilikinya.
“Jangan menatap jalan seperti kau sedang merencanakan pembunuhan terhadapnya,” ujar Caelan dari seberang.
“Aku sedang menghitung berapa lama sampai kita tiba.”
“Menurut perkiraanku, satu jam.”
“Menurutku, satu setengah jam.”
Caelan mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Jalan di depan menyempit. Ada bekas roda berat menuju sisi barat, tetapi tidak ada bekas yang kembali. Pengemudi kita akan memperlambat kereta ketika melewati bagian itu.”
Caelan melongok keluar.
Benar saja, jalan di depan menyempit di antara dua lereng berbatu. Di sisi barat, bekas roda besar memotong tanah, lalu menghilang di balik semak.
Garrick yang berkuda di dekat jendela segera memberi isyarat agar rombongan memperlambat perjalanan.
“Pengawal depan, periksa jalur!”
Dua ksatria turun dan memeriksa tanah.
Salah satu dari mereka kembali beberapa menit kemudian.
“Bekas roda menuju sebuah jalan kecil, Sir Garrick. Ada jejak kaki juga. Sepertinya beberapa orang melewati tempat ini belum lama.”
“Berapa orang?”
“Sulit dipastikan. Tanahnya sudah rusak oleh hujan.”
Ignis memandangi lereng.
“Jangan kirim seluruh pengawal masuk. Dua orang tetap bersama kereta. Yang lain periksa dari luar, jangan berpencar terlalu jauh.”
Garrick menoleh kepadanya.
“Kau melihat sesuatu?”
“Belum. Justru itu masalahnya.”
Ia menunjuk semak di sisi jalan.
“Tidak ada burung. Tidak ada suara serangga. Kalau seseorang ingin menyergap rombongan, tempat ini sempurna.”
Garrick memberi perintah sesuai saran itu.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan formasi lebih rapat.
Dan tiga menit kemudian, anak panah pertama menghantam roda kereta.
---
Kayu pecah dengan suara keras.
Kuda-kuda meringkik dan menarik kereta ke samping. Sebuah anak panah kedua melesat dari lereng, menghantam pelindung bahu seorang pengawal.
“PENYERGAPAN!”
Garrick melompat turun sebelum kereta berhenti sepenuhnya. Pedangnya terhunus, menangkis anak panah ketiga yang diarahkan ke pengemudi.
Dari balik batu muncul lima orang bertopeng. Dua membawa busur, dua menggunakan pedang pendek, dan yang terakhir mengenakan mantel kelabu dengan lambang lingkaran terbuka di dadanya.
Ignis mengenali simbol itu dari kain yang ditemukan di ruang perawatan.
“Caelan, tetap di belakang kereta!”
Ia turun melalui sisi yang terlindung, tetapi kaki kecilnya mendarat di tanah berlumpur. Ia hampir terjatuh dan harus mencengkeram roda untuk menjaga keseimbangan.
Seorang penyerang melihatnya.
“Pewarisnya ada di sini!”
Dua orang langsung mengubah arah.
Ignis mundur, mengambil segenggam kerikil dari pinggir jalan, lalu melemparkannya ke wajah penyerang pertama.
Bukan serangan untuk melukai.
Hanya cukup untuk membuat lawan berkedip.
Ignis menyelinap ke balik roda kereta tepat ketika pedang pendek menyapu udara di atas kepalanya.
KLANG!
Garrick menghadang penyerang kedua.
“Jangan mendekati anak itu!”
Pedang mereka beradu. Garrick memutar pergelangan tangan, menangkis tebasan mendatar, lalu menghantam gagang pedangnya ke tulang rusuk lawan. Penyerang itu terhuyung, tetapi segera mundur sebelum serangan lanjutan mengenai lehernya.
Di sisi lain, dua pengawal menahan para pemanah dengan perisai. Salah seorang berhasil mencapai batu tempat pemanah pertama bersembunyi, memaksanya turun ke jalan.
Pertempuran berlangsung kacau.
Ignis mengamati medan dari balik roda.
Lima penyerang. Dua pemanah sudah kehilangan posisi tinggi. Garrick menahan satu lawan, sedangkan para pengawal menghadapi tiga orang lainnya.
Tetapi pria bermantel kelabu belum bergerak.
Ia berdiri di belakang mereka, memperhatikan Ignis.
Seolah-olah pertarungan ini bukanlah tujuan sebenarnya.
Ignis meraih tali pengikat barang yang menjuntai dari kereta. Ia menariknya keras, melepaskan sebuah peti kecil yang kemudian menggelinding ke jalan.
Peti itu menghantam kaki salah seorang penyerang.
Ketika pria tersebut kehilangan keseimbangan, Ignis melemparkan tongkat kayu pendek yang dibawanya tepat ke lutut lawan.
Penyerang itu jatuh sambil mengumpat.
Ignis tidak menunggu untuk melihat hasilnya. Ia segera berpindah tempat, menghindari garis serangan yang mungkin mengarah kepadanya.
Namun, pria bermantel kelabu akhirnya bergerak.
Ia mengangkat tangan.
Sembilan garis hitam muncul sesaat di udara.
Ignis merasakan tanda di telapak tangannya menyengat.
“Jangan biarkan dia menyentuh pewaris!” teriak salah satu penyerang.
Pria bermantel kelabu mengabaikan perintah itu. Ia justru menatap telapak tangan Ignis dengan ketertarikan yang mengerikan.
“Jadi, tanda itu sudah terbuka.”
Ignis menyipitkan mata.
“Siapa kau?”
Pria itu tersenyum di balik topengnya.
“Aku bukan orang yang kau cari.”
Sembilan garis hitam menyatu menjadi lingkaran.
Garrick melihat perubahan itu dan langsung meninggalkan lawannya, menerjang ke arah Ignis.
“MENJAUH!”
Lingkaran tersebut meledak.
Gelombang hitam menghantam jalan, melemparkan Garrick ke samping dan menghancurkan batu-batu kecil di sekitarnya. Ignis terpental ke tanah. Benturan keras membuat napasnya terputus.
Rasa sakit menyambar punggungnya.
Untuk sesaat, ia tidak bisa bergerak.
Pria bermantel kelabu melangkah mendekat.
“Jangan takut, pewaris kecil. Kami tidak datang untuk membunuhmu.”
Ignis memaksa dirinya berguling ketika sepatu pria itu menginjak tanah di samping kepalanya.
“Kalau begitu,” desis Ignis, “cara kalian menunjukkan keramahan sangat buruk.”
Pria itu tertawa pendek.
“Humor. Itu pertanda baik.”
Ia membungkuk, hendak meraih tangan Ignis.
Namun, Garrick muncul dari samping dan menghantamnya dengan gagang pedang.
Pria itu terlempar dua langkah.
Garrick berdiri di depan Ignis, napasnya berat. Ada darah mengalir dari pelipisnya.
“Bangun, Tuan Muda.”
Ignis menggertakkan gigi, lalu memaksa tubuhnya berdiri dengan bantuan roda kereta.
“Dengan senang hati.”
Pria bermantel kelabu menatap Garrick, kemudian mengangkat tangannya sekali lagi.
Tetapi sebelum lingkaran hitam terbentuk, salah satu pengawal berhasil melepaskan anak panah yang menancap di bahunya.
Pria itu tersentak.
“Cukup.”
Ia mengucapkan satu kata.
Seluruh penyerang mundur serempak, seolah-olah mereka telah menerima perintah yang tidak terdengar oleh orang lain.
Pria bermantel kelabu memandang Ignis untuk terakhir kalinya.
“Cari orang yang memakai cincin itu. Tapi jangan percaya jika dia mengatakan bahwa dia mengingatmu.”
Sebuah kilatan hitam menyelimuti tubuhnya.
Ketika cahaya menghilang, ia sudah lenyap.
Para penyerang yang tersisa melarikan diri menuju lereng. Dua pengawal hendak mengejar, tetapi Garrick segera melarang mereka.
“Jangan kejar! Kita tidak tahu berapa banyak yang masih bersembunyi!”
Ignis tetap menatap tempat pria itu menghilang.
Jangan percaya jika dia mengatakan bahwa dia mengingatmu.
Kalimat itu terasa seperti peringatan.
Atau mungkin ancaman.
---
Mereka membutuhkan hampir setengah jam untuk memastikan jalur aman dan memperbaiki roda kereta seadanya.
Seorang pengawal mengalami luka di bahu, sementara Garrick menerima memar berat di sisi tubuhnya. Ignis sendiri merasakan sakit setiap kali menarik napas terlalu dalam.
Tidak ada korban jiwa.
Namun, mereka semua memahami bahwa penyergapan itu bukan serangan acak.
Para penyerang mengetahui siapa yang berada dalam kereta. Mereka juga mengetahui tanda di telapak tangan Ignis.
Dan pemimpin mereka tampaknya tidak berniat mengambil cincin.
Ia menginginkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Setelah perjalanan dilanjutkan, rumah jaga lama akhirnya terlihat menjelang senja.
Bangunannya berdiri di atas bukit rendah, sebagian tertutup tanaman liar. Menara pengawasnya telah runtuh, dan pintu kayu depannya menggantung miring pada satu engsel. Lambang Pendragon yang dahulu terukir di atas pintu hampir seluruhnya terkikis.
Ignis turun dari kereta dengan hati-hati.
Di balik bangunan itu terbentang jalur sempit menuju pegunungan utara.
Jalur yang sama dengan lokasi lingkaran sembilan garis pada peta.
Garrick memeriksa pintu masuk, sementara dua pengawal mengamankan sisi belakang.
Caelan menemukan bekas rantai pada salah satu pilar.
“Tempat ini sudah lama tidak digunakan,” katanya. “Tetapi lihat ini.”
Ia menunjuk goresan baru di atas batu.
Seseorang telah menggambar lambang dua sayap di sana.
Di bawahnya terdapat tulisan yang masih jelas terbaca.
PENERIMA TIDAK PERNAH DATANG SENDIRIAN.
Ignis mengusap lumpur dari bagian bawah ukiran.
Di sana, tersembunyi di antara retakan batu, terdapat bekas telapak tangan kecil.
Ukurannya hampir sama dengan tangannya sendiri.
Tanda perak berbentuk dua sayap di telapak tangan Ignis mulai bersinar.
Dari dalam rumah jaga terdengar bunyi ketukan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Garrick langsung mengangkat pedangnya.
Caelan mundur dari pintu.
Ignis menatap kegelapan di balik celah kayu.
Lalu sebuah suara tua terdengar dari dalam.
“Sudah lama sekali, Pewaris Pendragon.”
Pintu yang lapuk itu terbuka perlahan.
Dan di baliknya, seseorang berdiri mengenakan cincin perak dengan lambang naga bersayap.
Bersambung.
Teaser Bab 50 — Penjaga Rumah Jaga
Orang yang menunggu di dalam rumah jaga mengaku sebagai penjaga terakhir jalur menuju tempat sumpah pertama. Ia mengenali tanda di tangan Ignis, tetapi menolak menyebut nama orang yang memakai cincin tersebut—sampai sebuah serangan dari pegunungan memaksanya memilih antara menjaga rahasia lama atau menyelamatkan pewaris yang baru kembali.