Chapter 4 of 70

Bab 4 — Anak yang Mulai Menentang Takdir

2.2k words

PENDRAGON: THE HEIR BOUND TO HELL Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika Ignis Pendragon tiba di lapangan latihan. Udara pagi di Pendragon Domain terasa sejuk. Embun membasahi rerumputan, sementara cahaya keemasan perlahan menyentuh dinding batu putih kediaman utama. Dari kejauhan terdengar suara burung dan gemericik sungai yang mengalir di kaki bukit. Tempat itu begitu damai hingga sulit dipercaya bahwa dunia yang sama menyimpan jurang tempat monster-monster mengerikan berkeliaran. Ignis berdiri di tengah lapangan sambil memegang pedang kayu. Ia sudah datang dua puluh menit lebih awal. Bukan karena ingin membuat kesan baik, melainkan karena ia tidak ingin membuang waktu. Dalam kehidupan pertamanya, ia terlalu sibuk mengejar kekuatan setelah kutukannya mulai menguasai hidupnya. Banyak hal yang seharusnya bisa dipelajari dengan tenang justru ia abaikan karena selalu merasa tertinggal. Kali ini, ia akan membangun fondasinya sebelum keadaan memaksanya berlari. “Datang lebih awal tidak berarti latihanmu akan lebih mudah.” Suara berat terdengar dari belakang. Garrick Thorne berjalan memasuki lapangan dengan dua pedang kayu di tangannya. Seperti biasa, wajahnya tampak serius, seolah ia baru saja menemukan kesalahan pada seseorang bahkan sebelum orang itu membuka mulut. Ignis menoleh. “Selamat pagi, Guru Garrick.” “Sudah kubilang jangan memanggilku guru sebelum kau bisa berdiri dengan benar.” “Kalau begitu, saya akan berusaha membuat Anda terbiasa mendengarnya.” Garrick mengangkat sebelah alis. Untuk sesaat, ia tampak ingin membalas. Namun, pada akhirnya ia hanya melemparkan salah satu pedang kayu ke arah Ignis. Ignis menangkapnya. Atau mencoba menangkapnya. Pedang itu menghantam telapak tangannya, berputar, lalu jatuh ke tanah. Hening. Garrick menatap pedang tersebut. Ignis menatap pedang tersebut. “...Kita anggap itu tidak pernah terjadi,” ujar Ignis. “Sayangnya, aku melihatnya.” Garrick menyilangkan tangan. “Ambil pedangmu. Kita mulai dari dasar.” Ignis memungut senjatanya. Ia sudah mengetahui berbagai teknik pedang sejak kecil. Bahkan, pada usia delapan tahun dalam kehidupan pertamanya, ia memiliki bakat yang membuat beberapa instruktur menganggapnya sebagai calon pendekar luar biasa. Namun, pengetahuan dari kehidupan pertamanya tidak mengubah kenyataan bahwa koordinasi tubuhnya masih berkembang. Garrick berdiri di hadapannya. “Kaki kiri sedikit ke depan. Jangan mengunci lututmu. Peganganmu terlalu kaku.” Ignis mengikuti instruksi itu. “Sekarang, angkat pedang.” Ia mengangkat pedang kayu. “Tidak terlalu tinggi.” Ignis menurunkannya. “Jangan terlalu rendah juga.” Ignis berhenti. Garrick menghela napas panjang. “Demi seluruh leluhur Pendragon, apa yang sebenarnya kau lakukan?” “Berusaha mengikuti instruksi Anda.” “Kalau begitu, berhentilah mencoba menebak setiap gerakanku. Dengarkan apa yang kukatakan.” Ignis terdiam. Perkataan itu sederhana, tetapi tepat mengenai masalahnya. Selama puluhan tahun, ia terbiasa membaca gerakan lawan sebelum serangan dilancarkan. Ia mengandalkan pengalaman, insting, dan kemampuan menganalisis pertarungan dalam hitungan detik. Namun, ketika menghadapi latihan dasar, ia terus mencoba menyempurnakan gerakan sebelum tubuhnya memahami gerakan itu sendiri. Ia sedang memaksa tubuh anak-anak mengikuti ingatan seorang petarung dewasa. Dan tubuhnya menolak. Ignis mengembuskan napas. “Baik. Saya akan mengikuti instruksi Anda.” Garrick mengangguk. “Bagus. Sekarang, serang aku.” Ignis bergerak. Dalam pikirannya, ia sudah menentukan tiga kemungkinan serangan dan dua cara untuk mengalihkan pertahanan lawan. Namun, sebelum ia menyelesaikan langkah pertama, Garrick menggeser kaki dan menyentuh bahunya dengan ujung pedang kayu. “Matilah.” Ignis berhenti. “...Apa?” “Kalau pedangku sungguhan, kau sudah terkena serangan.” “Tapi saya belum selesai bergerak.” “Musuhmu tidak akan menunggu sampai kau selesai berpikir.” Garrick kembali ke posisi awal. “Sekali lagi.” Ignis menyerang. Kali ini, Garrick menghindar dan menyentuh sisi tubuhnya. “Matilah.” Percobaan ketiga berakhir dengan pedang kayu menempel di dahinya. “Matilah.” Ignis menatap instruktur itu dengan ekspresi datar. “Apakah ada kemungkinan saya bisa bertahan hidup dalam latihan ini?” “Kalau kau terus mengajukan pertanyaan seperti itu, tidak.” Untuk pertama kalinya pagi itu, Ignis benar-benar merasa seperti anak delapan tahun. Bukan karena tubuhnya. Melainkan karena ia sedang dimarahi oleh orang dewasa yang tahu persis apa yang sedang dilakukannya. Anehnya, perasaan itu tidak terlalu buruk. --- Latihan berlangsung selama satu jam. Ketika akhirnya Garrick memberi izin untuk beristirahat, lengan Ignis terasa berat dan kedua kakinya mulai gemetar. Ia duduk di bangku kayu di tepi lapangan. “Ini menyebalkan,” gumamnya. “Bagus.” Ignis mengangkat kepala. Garrick berdiri beberapa langkah darinya sambil meminum air. “Kalau kau merasa kesulitan, berarti kau mulai memahami seberapa banyak yang belum kau kuasai.” “Saya sudah mengetahui banyak hal yang belum saya kuasai.” “Kalau begitu, kau seharusnya tidak kesulitan menerima kenyataan bahwa kau belum menguasainya.” Ignis tidak langsung menjawab. Ia menatap pedang kayu di tangannya. Garrick mungkin tidak mengetahui bahwa perkataannya jauh lebih relevan daripada yang ia bayangkan. Dalam kehidupan pertama, Ignis pernah mengira bahwa kekuatan adalah sesuatu yang harus terus dikejar. Ia mempelajari teknik baru, mencari senjata yang lebih baik, dan mengembangkan kemampuan untuk bertahan dari kutukannya. Namun, semakin kuat dirinya, semakin banyak pula hal yang tidak mampu ia kendalikan. Ia bisa membunuh monster. Ia bisa menaklukkan lawan. Tetapi ia tidak bisa memerintahkan kutukannya untuk berhenti. Ia tidak bisa mengubah sejarah dengan sekadar mengayunkan senjata. Dan ia tidak bisa menyelamatkan semua orang yang ditemuinya. Mungkin, kali ini, ia harus mempelajari sesuatu yang berbeda. Bukan hanya cara menjadi lebih kuat. Melainkan cara memahami batas kekuatannya sendiri. “Guru Garrick.” Garrick menoleh. “Apa?” “Menurut Anda, apa yang membedakan petarung hebat dari petarung biasa?” Garrick berpikir sejenak. “Banyak hal. Pengalaman, teknik, keberanian, dan kemampuan mengambil keputusan.” “Kalau seseorang memiliki semua itu, apakah dia pasti menang?” “Tidak.” Jawaban itu datang begitu cepat hingga Ignis sedikit terkejut. Garrick melanjutkan, “Petarung hebat tahu bahwa mereka bisa kalah. Karena itu, mereka tidak menggantungkan hidup pada satu teknik, satu senjata, atau satu rencana.” Ia menunjuk pedang kayu Ignis. “Kalau kau ingin menjadi kuat, jangan hanya berlatih supaya bisa menang. Berlatihlah supaya kau tahu apa yang harus dilakukan ketika rencanamu gagal.” Ignis menunduk memandangi pedang itu. Kata-kata tersebut menetap di benaknya. Dalam kehidupan pertama, ia sering bertahan hidup karena mampu beradaptasi. Namun, ia baru benar-benar memahami nilai kemampuan itu setelah menghadapi lawan yang tidak dapat dikalahkan hanya dengan kekuatan. Ia mengangguk perlahan. “Saya mengerti.” Garrick mengamati wajahnya. “Kau memang aneh, Ignis.” Ignis menoleh. “Karena saya buruk dalam latihan?” “Bukan. Anak seusiamu biasanya bertanya kapan mereka boleh pulang. Kau justru bertanya bagaimana seseorang menghadapi kekalahan.” Garrick mengangkat bahu. “Mungkin kau hanya terlalu banyak membaca.” Ignis tersenyum tipis. “Anggap saja begitu.” Ia tidak berniat menjelaskan bahwa dirinya telah mengalami cukup banyak kekalahan untuk mengisi beberapa kehidupan. --- Setelah latihan, Ignis tidak langsung kembali ke kamar. Ia menuju taman timur, tempat sebuah paviliun kecil berdiri di dekat kolam teratai. Di sana terdapat meja batu dan beberapa rak yang digunakan untuk menyimpan buku-buku tentang sejarah keluarga. Ia membutuhkan tempat yang tenang untuk memikirkan simbol sembilan tanduk yang ditemuinya saat tidur. Namun, sebelum mencapai paviliun, ia mendengar suara percakapan dari balik pagar tanaman. “...Aku sudah bilang, itu bukan salahnya.” Suara seorang anak perempuan. Ignis berhenti. Ia mengenali suara tersebut. Bukan dari kehidupan pertamanya ketika ia berusia tiga puluh lima tahun, melainkan dari masa kecilnya. Evelyne Astervale. Tunangan yang telah dijodohkan dengannya sejak usia lima tahun. Dalam kehidupan pertama, hubungan mereka pada awalnya tidak lebih dari kesepakatan politik antara dua keluarga bangsawan. Ignis kecil menganggapnya sebagai kewajiban yang tidak memiliki arti pribadi. Baru setelah bertahun-tahun, perhatian dan ketulusan Evelyne perlahan mengubah pandangannya. Namun, pada usia delapan tahun, mereka masih belum dekat. Setidaknya, seharusnya begitu. Ignis mengintip melalui celah pagar tanaman. Seorang gadis berambut pirang keemasan berdiri di hadapan dua anak laki-laki yang lebih tinggi darinya. Gaun biru mudanya tampak sedikit kotor di bagian bawah, dan kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. Wajahnya menunjukkan kemarahan yang berusaha ia tahan. Di tanah dekat kakinya tergeletak sebuah keranjang kecil berisi buku-buku yang berserakan. Salah satu anak laki-laki menunjuk seorang pelayan muda yang berdiri tidak jauh dari mereka. “Dia yang menjatuhkan keranjang itu! Kenapa kau membelanya?” “Karena kalian sengaja menghalangi jalannya,” balas Evelyne. “Kami hanya bercanda.” “Kalau seseorang tidak bisa tertawa bersama kalian, mungkin lelucon kalian memang tidak lucu.” Ignis hampir tertawa. Dia memang sudah seperti ini sejak kecil. Salah satu anak laki-laki memerah karena malu. “Kau tidak berhak memerintah kami hanya karena keluargamu punya hubungan dengan keluarga Pendragon!” Evelyne terdiam sesaat. Lalu ia menjawab dengan tenang. “Aku tidak sedang memerintah kalian. Aku hanya meminta kalian bertanggung jawab atas perbuatan sendiri.” Ignis mengamati gadis itu. Ia mengingat Evelyne sebagai seseorang yang lembut, penuh perhatian, dan mampu membuatnya merasa bahwa hidup tidak selalu harus menjadi medan perang. Namun, ia hampir melupakan bahwa kelembutan Evelyne tidak berarti dirinya lemah. Gadis itu memiliki keberanian untuk menentang orang lain bahkan ketika ia tidak memiliki keuntungan apa pun. Salah satu anak laki-laki melangkah maju. “Kalau begitu, kau yang akan meminta maaf kepada kami!” Ia mengulurkan tangan untuk mendorong Evelyne. Ignis bergerak sebelum sempat berpikir. Ia keluar dari balik pagar tanaman. “Berhenti.” Suaranya tidak keras. Namun, kedua anak laki-laki itu langsung menoleh. Mereka mengenali lambang naga perak pada pakaian hitamnya. Ignis Pendragon. Salah satu pewaris keluarga yang paling berpengaruh di wilayah itu. “Apa yang sedang kalian lakukan?” tanya Ignis. “Ini bukan urusanmu,” jawab salah satu anak laki-laki, meskipun suaranya tidak lagi setegas sebelumnya. Ignis menatap keranjang yang berserakan. Kemudian ia menatap pelayan muda di dekat mereka. “Kalau memang bukan urusanku, kalian tidak akan keberatan menjelaskan mengapa buku-buku itu berada di tanah.” Keduanya saling berpandangan. Evelyne tampak terkejut melihat Ignis. Dalam ingatannya, tunangannya adalah anak yang jarang berbicara kepada orang lain kecuali jika diperlukan. Ia tidak pernah membayangkan Ignis akan tiba-tiba muncul untuk membela seorang pelayan. “Kami tidak melakukan apa-apa,” ujar anak yang lebih tinggi. Ignis mengangguk. “Kalau begitu, kalian tidak keberatan meminta maaf kepadanya.” “Apa?” “Kalau kalian tidak melakukan apa-apa, meminta maaf tentu bukan masalah.” Anak itu membuka mulut, tetapi tidak menemukan jawaban. Ignis mempertahankan ekspresi tenangnya. Ia tidak perlu mengancam mereka. Ia hanya perlu membuat mereka menyadari bahwa mempertahankan kebohongan di hadapan seseorang yang tidak berniat berdebat akan menjadi jauh lebih merepotkan daripada mengakui kesalahan. Beberapa saat kemudian, kedua anak itu menggumamkan permintaan maaf yang nyaris tidak terdengar. Mereka lalu pergi dengan wajah kesal. Ignis berjongkok untuk membantu mengumpulkan buku-buku yang berserakan. Pelayan muda itu segera ikut membantunya. “Terima kasih, Tuan Muda.” “Tidak perlu berterima kasih. Lain kali, kalau seseorang mengganggumu, laporkan kepada pengawas kediaman.” Pelayan itu mengangguk sebelum membawa keranjangnya pergi. Kini hanya Ignis dan Evelyne yang tersisa. Gadis itu memandangnya dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Terima kasih,” katanya. Ignis menyerahkan buku terakhir kepadanya. “Sama-sama.” Hening sejenak. Evelyne memiringkan kepala. “Kenapa kau membantuku?” Pertanyaan itu membuat Ignis berhenti. Dalam kehidupan pertamanya, ia mungkin akan menjawab bahwa hal itu tidak penting. Ia mungkin akan menganggap kejadian tersebut terlalu sepele untuk dibicarakan. Namun, kali ini ia memikirkan jawabannya. “Karena mereka salah.” Evelyne berkedip. “Hanya itu?” “Hanya itu.” Gadis itu menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu, aku senang kau ada di sini.” Kalimat sederhana itu membuat Ignis merasakan sesuatu yang tidak ia duga. Bukan rasa sakit. Bukan kecemasan. Melainkan kehangatan kecil yang nyaris terlupakan. Ia mengalihkan pandangan sebelum Evelyne menyadarinya. “Keranjangmu hampir jatuh lagi.” “Oh!” Evelyne buru-buru memperbaiki posisi buku-bukunya. Ignis menahan senyum. Mungkin ia tidak perlu berusaha mengubah segala sesuatu sekaligus. Mungkin beberapa hal bisa berubah hanya karena ia memilih melakukan sesuatu yang berbeda pada saat yang tepat. Namun, ia tidak mengetahui satu hal. Dari balkon lantai dua, seorang pria berjubah abu-abu telah menyaksikan kejadian tersebut. Pria itu memegang sebuah buku catatan tipis. Ia menulis beberapa baris, lalu menutupnya. “Menarik,” gumamnya. “Dalam catatan lama, Tuan Muda Ignis tidak pernah terlibat dalam perselisihan itu.” Ia memandang anak berambut putih yang berjalan meninggalkan taman bersama Evelyne. “Apakah perubahan ini kebetulan... atau ada sesuatu yang telah berubah?” Pria itu menyelipkan buku catatannya ke dalam jubah. Namanya Caelan Voss. Ia adalah pengelola arsip pribadi House Pendragon, seorang sarjana yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya mempelajari sejarah keluarga dan berbagai catatan yang dianggap tidak penting oleh para bangsawan. Dan ia baru saja menemukan sebuah ketidaksesuaian kecil. Ketidaksesuaian yang, tanpa ia sadari, mungkin menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. --- Malam itu, Ignis kembali ke kamarnya. Latihan pagi membuat tubuhnya lelah, tetapi pikirannya masih sibuk memikirkan kejadian di taman. Ia tidak menganggap pertemuannya dengan Evelyne sebagai sesuatu yang besar. Namun, ia menyadari bahwa masa depan tidak akan menunggu sampai ia siap mengubahnya. Perubahan bisa dimulai dari hal kecil. Dari satu keputusan sederhana. Dari satu orang yang memilih bertindak berbeda. Ignis membuka buku catatannya dan menambahkan sebuah kalimat baru. Peristiwa kecil pun bisa mengubah masa depan. Jangan menganggap ingatan lama sebagai kebenaran mutlak. Ia menutup buku itu. Kemudian, ia memandang jendela yang memperlihatkan bulan di atas taman Pendragon. Ia masih belum mengetahui apa yang sebenarnya menghubungkan kutukannya dengan simbol sembilan tanduk. Ia juga belum mengetahui siapa yang berbicara kepadanya dari balik kegelapan. Namun, sekarang ia memiliki alasan lain untuk berhati-hati. Masa depan telah mulai bergerak. Dan ia tidak bisa memastikan apakah perubahan yang ia buat akan menyelamatkan orang-orang yang disayanginya... atau justru membawa mereka menuju nasib yang lebih buruk. Ignis berbaring dan menarik selimut. “Besok,” bisiknya, “aku akan mencari arsip lama keluarga.” Ia memejamkan mata. Di balik kesadarannya, jauh di tempat yang tidak dapat dijangkau cahaya matahari, sebuah suara kembali terdengar. Langkah pertama telah diambil. Lalu suara itu menghilang. Sementara di ruang arsip Pendragon, Caelan Voss membuka kembali buku catatannya dan menuliskan satu kalimat terakhir. Ignis Pendragon mulai menyimpang dari catatan masa lalunya. Ia menatap tulisan tersebut cukup lama. Kemudian, dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menambahkan: Aku harus mencari tahu alasannya sebelum orang lain menyadarinya. Bersambung — Bab 5: Arsip yang Seharusnya Tidak Dibuka

End of Chapter 4