Chapter 48 of 70

Bab 48 — Orang yang Membawa Cincin

1.4k words

“Edric Halvern.” Nama itu masih menggantung di udara ketika Ignis memaksa dirinya berdiri. Rasa sakit menjalar dari lengan kirinya sampai ke bahu. Darah menetes dari ujung jarinya, sementara kamar yang baru saja dihancurkan oleh ledakan cincin dipenuhi serpihan kayu dan pecahan kaca. Garrick segera menahan bahunya. “Tidak. Kau tidak akan berlari ke taman dalam keadaan seperti ini.” “Aku tidak bilang akan berlari.” “Kau sudah mulai melangkah.” Ignis melirik kakinya sendiri. Sial. “Aku hanya ingin melihatnya.” “Dan aku ingin kau tetap hidup sampai besok pagi. Kita semua punya keinginan.” Caelan menahan senyum tipis, tetapi segera kembali serius ketika penjaga yang membawa kabar itu berbicara lagi. “Pria tersebut ditemukan dekat gerbang taman timur. Pakaiannya basah oleh darah. Dia membawa sebuah kantong kecil, tetapi tidak ada senjata.” “Apakah dia sendirian?” tanya Garrick. “Sejauh pemeriksaan awal, ya.” “Sejauh pemeriksaan awal bukan jawaban yang cukup.” Garrick memanggil dua penjaga tambahan dan memerintahkan mereka memeriksa taman, tembok luar, serta jalur menuju hutan. Setelah memastikan kamar Ignis tidak lagi menunjukkan tanda-tanda sihir aktif, ia mengizinkan Caelan membawa Ignis ke ruang perawatan. Namun, sebelum mereka meninggalkan kamar, Ignis menunjuk cincin di lantai. “Jangan buang benda itu. Jangan simpan bersama cincin Aldric. Dan jangan biarkan siapa pun menyentuhnya dengan tangan kosong.” Caelan mengangguk. “Aku akan mengisolasinya.” “Bukan di ruang arsip.” “Kenapa?” “Karena kalau benda itu bisa menyerang hanya dengan berada di dalam kamar, aku tidak ingin tahu apa yang akan terjadi jika kau meletakkannya di dekat semua dokumen PACTUM.” Caelan tidak membantah. Untuk pertama kalinya sejak penyelidikan dimulai, ia sendiri tampak tidak ingin berdebat. --- Pria itu dibaringkan di ruang perawatan lama, dijaga oleh empat orang. Usianya mungkin sekitar enam puluh tahun. Rambutnya kelabu, wajahnya kurus, dan terdapat luka panjang di sisi tubuhnya. Pakaiannya berupa mantel cokelat kusam yang robek di beberapa bagian. Sepatu kirinya hilang, sementara telapak tangan kanannya menunjukkan bekas luka bakar berbentuk lingkaran. Seorang tabib sedang membalut lukanya ketika Ignis masuk bersama Garrick dan Caelan. “Jangan terlalu dekat,” peringatkan tabib. “Kondisinya belum stabil.” Ignis berhenti beberapa langkah dari ranjang. “Apakah dia akan hidup?” “Kalau tidak ada komplikasi, kemungkinan besar. Tetapi dia kehilangan banyak darah.” Pria itu tiba-tiba bergerak. Jari-jarinya mencengkeram seprai. Matanya terbuka setengah, menatap langit-langit seolah-olah sedang mencari sesuatu di sana. “Cincinnya...” gumamnya. Ignis langsung menegang. “Cincin yang mana?” Pria itu memalingkan kepala. Ketika pandangannya menemukan Ignis, tubuhnya mendadak gemetar. “Tidak...” Ia berusaha bangun, tetapi rasa sakit membuatnya terjatuh kembali ke bantal. “Tidak seharusnya kau menyentuhnya.” Ignis tidak bergerak. “Kau tahu cincin itu?” Pria tersebut memandang telapak tangan kiri Ignis. Tanda perak di sana masih samar, tetapi belum sepenuhnya menghilang. Wajahnya kehilangan warna. “Sudah terlambat.” “Untuk apa?” Pria itu mulai bernapas lebih cepat. “Pintunya... sudah mendengar.” Garrick melangkah maju. “Pintu apa? Siapa yang mengirimmu ke sini?” Pria itu tersentak saat mendengar suara Garrick. Matanya bergerak cepat dari satu wajah ke wajah lain, seolah-olah ia baru menyadari bahwa dirinya berada di tempat yang tidak dikenal. “Jangan bawa cincin itu ke utara,” bisiknya. Ignis mengingat peta dan lokasi tanpa nama yang mereka temukan. “Tempat sumpah pertama?” Pria itu memejamkan mata. “Jadi, kalian sudah menemukannya.” “Belum. Kami baru menemukan petunjuk.” “Bagus...” Ia tertawa kecil, tetapi suara itu berubah menjadi batuk menyakitkan. “Bagus. Setidaknya... kalian belum melakukan kesalahan yang sama.” Ignis mendekat setengah langkah. “Siapa namamu?” Pria itu tidak segera menjawab. Kemudian ia mengucapkan tiga kata. “Orven... bukan. Edric.” Caelan mengerutkan kening. “Namamu Edric Halvern?” Pria itu menatapnya dengan kebingungan yang menyakitkan. “Nama itu... diberikan kepadaku.” Hening menyelimuti ruangan. Ignis merasakan tengkuknya menegang. “Diberikan oleh siapa?” Pria itu menggeleng pelan. “Aku tidak ingat.” Jawaban tersebut terdengar seperti kebohongan, tetapi ketakutan di matanya terlalu nyata untuk diabaikan. Ignis sudah melihat dokumen yang menyatakan Edric meninggal empat belas tahun lalu. Ia juga sudah mengetahui bahwa namanya dihapus dari catatan keluarga dan dikaitkan dengan pemindahan benda-benda rahasia. Namun, pria di hadapannya tidak tampak seperti seorang pejabat yang sengaja bersembunyi. Ia tampak seperti seseorang yang telah kehilangan bagian dari dirinya sendiri. “Kalau kau tidak ingat namamu, apa yang kau ingat?” tanya Ignis. Pria itu menatap langit-langit lagi. “Sembilan orang... berdiri mengelilingi sebuah pintu. Ada dua orang di tengah. Salah satunya membawa cincin.” Ia menelan ludah. “Yang lain tidak memiliki bayangan.” Caelan dan Ignis bertukar pandang. “Salah satu dari sembilan orang itu adalah kau?” tanya Caelan. “Aku tidak tahu.” “Apakah kau pernah berada di tempat sumpah pertama?” Pria itu mengangkat tangannya yang terluka. Jari telunjuknya bergetar ketika menunjuk telapak tangan Ignis. “Bukan aku yang membawa cincin ke sana.” “Lalu siapa?” “Orang yang seharusnya... tidak pernah kembali.” Sebelum Ignis sempat bertanya lebih jauh, pria itu mencengkeram pergelangan tangannya. Garrick langsung bergerak, tetapi Ignis mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar ia menunggu. Cengkeraman pria itu lemah, tetapi tatapannya berubah tajam. “Dengarkan aku, pewaris kecil.” Ignis membeku. Itulah panggilan yang beberapa kali ia dengar dari makhluk-makhluk di biara Velmora dan alam kutukan. Pria itu mengetahui sesuatu tentang dirinya. “Cincin PACTUM PRIMUM bukan kunci,” bisiknya. “Itu tanda.” “Tanda untuk apa?” “Bahwa sesuatu di balik pintu... sudah mulai mencari jalan keluar.” Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Ignis menatap wajah pria itu, mencoba mencari tanda bahwa ia sedang mengarang cerita. Tidak ada. Hanya ketakutan. “Kalau begitu, bagaimana cara menghentikannya?” Pria itu membuka mulut, tetapi tak ada suara yang keluar. Matanya bergerak ke arah jendela. Wajahnya berubah ngeri. “Dia menemukanmu.” Garrick berbalik seketika, pedangnya terhunus. Tidak ada siapa pun di luar jendela. Hanya halaman yang diguyur hujan. Ketika Garrick kembali menghadap ranjang, pria itu sudah kehilangan kesadaran. Tabib segera memeriksa denyut nadinya. “Dia masih hidup. Mundur, beri aku ruang!” Ignis melangkah menjauh, tetapi matanya tetap terpaku pada tangan kanan pria itu. Bekas luka berbentuk lingkaran tadi mulai mengeluarkan cahaya keperakan. Bukan dari kulitnya. Cahayanya berasal dari sesuatu yang tertanam di bawah luka. “Caelan,” bisik Ignis. “Lihat tangannya.” Caelan mendekat, lalu segera memanggil tabib untuk berhenti menyentuh bagian tersebut. Cahaya itu membentuk sembilan garis pendek. Kemudian salah satu garis terputus. Ignis merasakan tanda di telapak tangannya terbakar. Ia tersentak dan jatuh berlutut. Dalam sekejap, ruangan perawatan lenyap. Ia kembali berada di alam kutukan. Di hadapannya berdiri pintu batu raksasa dengan dua sayap terukir di permukaannya. Sembilan rantai membentang dari pintu menuju kegelapan tanpa dasar. Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda. Satu rantai telah putus. Ujungnya menggantung, berayun perlahan di atas jurang. Dari balik pintu terdengar suara gesekan berat, seperti sesuatu yang besar sedang menyeret tubuhnya mendekati celah. Lalu suara itu berbicara. “Jangan biarkan dia membawa cincin itu kepadaku.” Ignis berusaha mendekat. “Siapa kau?” Tidak ada jawaban. Ia mengangkat tangan, mencoba menyentuh pintu. Sebelum jarinya mencapai permukaan batu, sebuah tangan berjubah hitam muncul dari samping dan mencengkeram lengannya. Sosok bermata perak itu berdiri di sampingnya. “Bangun,” katanya dingin. “Kau tidak seharusnya berada di sini selama ini.” “Rantai itu putus!” “Aku bisa melihatnya.” “Siapa yang memutuskannya?” Sosok tersebut memandang pintu. Untuk pertama kalinya, Ignis melihat sesuatu yang menyerupai keraguan di wajahnya. “Bukan orang yang kau cari.” Pintu bergetar. Sebuah suara lain bergema dari baliknya. “Saksi telah kembali.” Sosok bermata perak langsung menarik Ignis menjauh. “Jangan jawab suara itu!” “Tapi—” “Jangan!” Pintu terbuka sedikit. Di balik celah, Ignis melihat sesuatu yang menyerupai mata manusia. Bukan mata merah. Bukan mata putih. Melainkan mata kelabu yang tampak begitu lelah, seolah-olah telah menunggu selama berabad-abad. Mata itu menatapnya. Lalu tersenyum. --- Ignis tersentak bangun di ruang perawatan. Garrick sedang berlutut di sampingnya, sementara Caelan memegangi bahunya. “Tarik napas perlahan,” kata Caelan. “Kau pingsan begitu cahaya itu muncul.” Ignis menarik napas, masih merasakan dingin dari alam kutukan menempel pada kulitnya. “Pria itu?” “Masih hidup,” jawab tabib dari sisi ranjang. “Namun, tanda di tangannya telah menghilang.” Ignis segera melihat telapak tangannya sendiri. Garis peraknya masih ada. Tetapi kini, tepat di bawah lingkaran yang terbuka, muncul satu goresan hitam kecil. Seperti retakan. Caelan membantu Ignis berdiri. “Apa yang kau lihat?” Ignis terdiam sejenak. Ia bisa saja menceritakan semuanya. Tentang rantai yang putus, sosok bermata perak, dan mata kelabu di balik pintu. Namun, ia belum tahu apakah sosok tersebut benar-benar membantunya. Ia juga belum tahu apakah suara dari balik pintu berusaha memperingatkannya atau justru memancingnya. “Aku melihat bahwa kita tidak punya banyak waktu,” jawabnya akhirnya. Garrick menghela napas berat. “Dan kau masih berencana pergi ke utara?” Ignis menatap jendela yang diguyur hujan. “Ya.” Ia mengepalkan tangan kirinya. “Tapi kita tidak akan membawa cincin itu.” Jauh di bawah tanah, di tempat yang tak tercantum pada peta mana pun, rantai kedua mulai bergetar. Dan di balik pintu batu, seseorang tertawa pelan. Bersambung. Teaser Bab 49 — Rantai Kedua Ignis dan rombongannya bersiap menuju rumah jaga lama untuk mencari catatan tentang cincin kedua. Namun, pria yang mengaku bernama Edric Halvern menghilang dari ruang perawatan sebelum sempat diinterogasi lebih jauh—meninggalkan darah, sebuah lambang asing, dan pesan yang mengubah tujuan perjalanan mereka: “Jangan cari cincin itu. Cari orang yang memakainya.”

End of Chapter 48

Chapter 48: Bab 48 — Orang yang Membawa Cincin - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio