Chapter 47 of 70

Bab 47 — Cincin yang Hilang

1.5k words

Hujan turun sejak fajar. Titik-titik air mengetuk kaca ruang kerja Alistair, sementara Ignis berdiri di depan meja dengan kedua tangan bertumpu pada tepinya. Di hadapannya terbentang peta wilayah utara, catatan warisan keluarga, dan pesan yang mereka temukan sehari sebelumnya. JANGAN DATANG KE TEMPAT SUMPAH PERTAMA DENGAN CINCIN ALDRIC. Kalimat itu belum berubah, bahkan setelah mereka memeriksa kertasnya berulang kali. “Kalau cincin Aldric bukan benda yang seharusnya dibawa,” kata Ignis, “berarti ada cincin lain yang berkaitan dengan perjanjian tersebut.” Caelan mengangguk. “Atau seseorang ingin kita percaya bahwa ada cincin lain.” “Benar. Karena itu, kita harus menemukan bukti sebelum mengambil kesimpulan.” Alistair duduk di belakang meja. Wajahnya terlihat lebih tua daripada biasanya. “Catatan warisan keluarga tidak pernah menyebutkan cincin kedua.” “Catatan resmi,” koreksi Ignis. Alistair menatapnya. Ignis menunjuk dokumen di atas meja. “Kita sudah menemukan nama yang dihapus, lampiran yang hilang, dan keputusan yang disahkan oleh orang yang secara resmi telah meninggal. Kalau seseorang ingin menyembunyikan cincin, catatan warisan adalah tempat pertama yang akan mereka ubah.” Caelan membalik halaman buku tua yang dibawanya. “Aku menemukan sesuatu yang mungkin membantu.” Ia meletakkan sebuah salinan daftar inventaris keluarga di antara mereka. “Daftar ini dibuat setelah kematian Aldric. Ada catatan tentang benda-benda yang dipindahkan dari ruang pribadinya. Sebagian besar sudah cocok dengan inventaris sekarang.” “Sebagian besar?” tanya Ignis. “Dua benda tidak memiliki catatan penerimaan.” Caelan menunjuk dua baris di bagian bawah. Yang pertama menyebutkan sebuah kotak dokumen. Yang kedua hanya memiliki keterangan singkat: CINCIN PERAK — LAMBANG NAGA BERSAYAP — PENYERAHAN TERTUNDA. Tidak ada nama penerima. Tidak ada tanggal penyelesaian. Hanya satu kode kecil di sisi kanan: EH-17. Ignis terdiam. “Edric Halvern.” “Bisa jadi,” jawab Caelan. “Inisialnya cocok, tetapi kita tidak bisa memastikan bahwa itu merujuk kepadanya.” “Dan angka tujuh belas?” “Belum diketahui. Bisa berupa nomor berkas, nomor pengiriman, atau penanda lain.” Alistair membaca baris tersebut dua kali. “Kenapa benda seperti ini tidak pernah dilaporkan kepadaku?” “Karena laporan inventaris yang kita miliki dibuat berdasarkan daftar akhir,” jawab Caelan. “Kalau penyerahan memang tertunda, cincin itu mungkin tidak pernah masuk ke daftar barang yang diwariskan.” Ignis merasakan telapak tangannya berdenyut. Bukan rasa sakit. Lebih seperti ketukan kecil dari sesuatu yang berada jauh di bawah kulit. Ia segera mengepalkan tangan. Jangan bereaksi sebelum memahami penyebabnya. “Di mana catatan aslinya?” tanyanya. Caelan membalik halaman berikutnya. “Disimpan dalam berkas perpindahan barang milik keluarga. Tetapi halaman yang mencatat lokasi penyimpanan cincin sudah dipotong.” Garrick, yang sejak tadi berdiri dekat pintu, mendengus. “Luar biasa. Setiap kali kita menemukan sesuatu, seseorang sudah lebih dahulu merobek bagian yang kita butuhkan.” “Setidaknya kali ini kita punya nama,” kata Ignis. “Nama seseorang yang sudah dinyatakan mati empat belas tahun lalu,” balas Garrick. Ignis tersenyum tipis. “Kalau begitu, kita harus berhenti memperlakukannya seperti orang mati.” --- Mereka tidak langsung berangkat ke Ravenport. Alistair melarang Ignis pergi sebelum kondisi tubuhnya pulih sepenuhnya dari luka-luka yang didapat dalam peristiwa di Veyr. Ignis memprotes, tetapi akhirnya menerima keputusan tersebut setelah Garrick mengingatkannya bahwa berjalan dengan tulang rusuk yang masih nyeri bukanlah strategi penyelidikan yang cerdas. Sebagai gantinya, Caelan mengirim permintaan pemeriksaan kepada seorang mantan pengelola inventaris keluarga yang tinggal di wilayah perkebunan timur. Namanya Oswin Marek. Ia pernah bertugas mencatat perpindahan barang milik keluarga Pendragon sebelum pensiun. Menurut arsip, ia masih hidup dan tidak pernah meninggalkan wilayah kekaisaran. Jawabannya datang menjelang sore. Hanya satu lembar surat. Saya mengingat catatan tersebut. Namun, saya tidak pernah menerima cincin itu secara langsung. Penyerahannya ditangani melalui jalur khusus. Jika Anda ingin mengetahui ke mana benda itu dibawa, carilah buku penerimaan berkulit hijau yang dahulu disimpan di rumah jaga lama. Tidak ada tanda tangan lengkap. Hanya inisial O.M. Caelan mengerutkan kening. “Rumah jaga lama yang mana?” Alistair memejamkan mata sebentar, berusaha mengingat. “Pendragon memiliki beberapa rumah jaga di sepanjang jalur utara. Sebagian sudah runtuh sebelum aku lahir.” “Apakah ada yang dekat Ravenport?” tanya Ignis. “Ada satu. Di jalur lama menuju perbatasan pegunungan.” Ignis menatap peta. Jalur itu mengarah ke wilayah tempat lingkaran sembilan garis ditemukan. Kebetulan? Ia sudah terlalu sering mendengar kata itu untuk mempercayainya begitu saja. “Kita periksa rumah jaga itu,” katanya. Alistair menggeleng. “Besok. Dengan pengawalan yang cukup.” “Kalau seseorang mengetahui kita sedang mencari cincin—” “Justru karena itu, kita tidak akan berangkat terburu-buru.” Ignis mengatupkan mulut. Ia tahu bahwa kakeknya tidak sedang menghalangi penyelidikan. Alistair hanya berusaha memastikan bahwa cucunya tidak berakhir di peti mati sebelum menemukan jawaban. Tetap saja, waktu terasa semakin sempit. Seseorang di balik pintu batu telah mengetahui bahwa ia kembali. Dan seseorang yang lain tampaknya berusaha memastikan ia tidak pernah mencapai tempat sumpah pertama. --- Malam itu, Ignis terbangun sebelum tengah malam. Bukan karena mimpi. Melainkan karena suara logam jatuh di lantai. Ia langsung duduk. Kamar gelap. Tirai bergerak pelan ditiup angin dari celah jendela yang tertutup. Di dekat meja kecil, sesuatu berkilat samar di atas karpet. Ignis meraih bel kecil untuk memanggil penjaga, tetapi berhenti sebelum membunyikannya. Benda itu berbentuk cincin. Perak tua. Lambang naga bersayap terukir di permukaannya. Ignis tidak menyentuhnya. Ia turun dari ranjang perlahan, mengambil tongkat kayu pendek yang biasa digunakan saat latihan, lalu mendorong cincin tersebut dari kejauhan. Logam itu berguling sekali. Kemudian berhenti menghadap ke atas. Pada bagian dalamnya terukir dua kata yang hampir tak terlihat. PACTUM PRIMUM. Jantung Ignis berdetak lebih cepat. Ia belum pernah melihat cincin itu sebelumnya. Namun, tanda di telapak tangannya telah menyala merah keperakan. Bukan cahaya lembut seperti ketika bersentuhan dengan cincin Aldric. Kali ini, garis-garis pada kulitnya terasa panas. Ignis segera mundur. “Garrick!” Pintu terbuka hampir seketika. Garrick masuk dengan pedang terhunus, diikuti dua penjaga. “Apa yang terjadi?” “Jangan sentuh benda di lantai.” Garrick langsung menghentikan langkahnya. Ia melihat cincin tersebut. “Apa itu?” “Aku berharap kau bisa menjawabnya.” Salah satu penjaga hendak mengambil kain untuk membungkus benda itu, tetapi Ignis membentak, “Jangan!” Terlambat. Begitu ujung kain mendekati cincin, sembilan garis hitam muncul di lantai, menyebar membentuk lingkaran di sekitar mereka. Pintu kamar membanting tertutup. Udara mendadak berat. Garrick menerjang ke arah Ignis, menarik anak itu menjauh ketika salah satu garis hitam meledak dari lantai seperti cambuk. BRAAAK! Ujung cambuk menghantam tiang ranjang dan membelah kayunya. Penjaga pertama mengayunkan pedang ke arah garis tersebut. Bilahnya menembus bayangan tanpa hambatan, tetapi ledakan berikutnya melemparkannya ke dinding. “Jangan serang garisnya!” teriak Ignis. “Itu bukan benda padat!” Ia mengamati lantai dengan cepat. Sembilan garis. Sembilan titik yang terhubung dengan cincin. Pola yang sama seperti ruang bawah tanah biara Velmora. Namun, ada satu perbedaan: delapan garis memancarkan cahaya hitam, sementara garis kesembilan berkedip-kedip seperti nyala api yang hampir padam. “Garrick! Bawa mereka ke belakang meja!” “Dan kau?” “Aku akan memutus alirannya!” “Kau bahkan belum bisa berdiri dengan benar setelah luka kemarin!” “Aku tahu!” Cambuk hitam menyambar lagi. Ignis menjatuhkan diri ke samping. Ujungnya menggores lengan kirinya, merobek kain dan membuka luka dangkal. Rasa panas menjalar sampai ke bahunya. Ia menggigit bibir menahan sakit. Tubuhnya terlalu lambat. Ia tidak bisa menghindari serangan seperti orang dewasa, apalagi melawan kekuatan yang tidak sepenuhnya berbentuk fisik. Maka ia berhenti mencoba mengalahkannya dengan kecepatan. Matanya terpaku pada garis kesembilan. Cahayanya semakin redup setiap kali cincin bergetar. Bukan cincin yang mengendalikan garis-garis ini. Garis-garis ini sedang berusaha menarik sesuatu dari cincin. Ignis meraih kursi kayu dengan kedua tangan dan melemparkannya ke arah cincin. Kursi itu hancur sebelum menyentuh logam. Namun, benturannya mengalihkan perhatian cambuk hitam selama sepersekian detik. Itu cukup. Ignis mengambil bel perunggu dari meja dan melemparkannya tepat ke titik tempat garis kesembilan bertemu lingkaran. Dentang keras menggema. Cahaya pada garis tersebut padam. Delapan garis lainnya bergetar serempak. “Sekarang!” teriak Ignis. Garrick menerjang, menyambar tubuh Ignis, dan melompat melewati lingkaran tepat ketika bayangan-bayangan itu runtuh ke lantai. Sebuah ledakan mengguncang kamar. Jendela pecah. Meja terbalik. Lalu semuanya mendadak sunyi. Cincin itu tergeletak di tengah lantai, tak lagi bercahaya. Ignis terbatuk, dadanya terasa sesak. Lengan kirinya berlumuran darah, dan telapak tangannya berdenyut hebat. Garrick berlutut di sampingnya. “Kau benar-benar harus berhenti menjadikan dirimu umpan.” Ignis menarik napas pendek. “Aku tidak merencanakan bagian ledakannya.” “Itu tidak membuatku lebih tenang.” Caelan tiba bersama para penjaga lain. Ia memandang kamar yang hancur, lalu cincin di tengah lantai. “Apakah benda itu datang dari luar?” Ignis menatap jendela yang pecah. “Entahlah.” Ia menunjuk cincin tersebut. “Tapi aku yakin satu hal.” Caelan berjongkok tanpa menyentuhnya. “Apa?” Ignis menatap ukiran di bagian dalam cincin. PACTUM PRIMUM. “Ini bukan sekadar cincin kedua yang hilang.” Tanda di telapak tangannya perlahan meredup. Di balik pintu kamar yang rusak, terdengar langkah seorang penjaga berlari dari koridor. “Tuan Muda! Kami menemukan seseorang di taman!” Ignis menoleh tajam. “Siapa?” Penjaga itu menelan ludah. “Seorang pria tua. Dia terluka parah. Sebelum kehilangan kesadaran, dia hanya menyebut satu nama.” Ignis sudah mengetahui jawabannya bahkan sebelum penjaga itu melanjutkan. “Edric Halvern.” Bersambung. Teaser Bab 48 — Orang yang Membawa Cincin Pria yang ditemukan di taman membawa jejak yang mengarah kepada Edric Halvern. Namun, sebelum sempat ditanyai, ia memperingatkan Ignis bahwa cincin PACTUM PRIMUM bukanlah kunci untuk membuka pintu—melainkan tanda bahwa sesuatu di balik pintu telah mulai mencari jalan keluar.

End of Chapter 47