Chapter 46 of 70

Bab 46 — Cincin dari Balik Pintu

1.5k words

Pagi datang tanpa membawa ketenangan. Ignis sudah duduk di ruang makan ketika Mira meletakkan semangkuk bubur hangat di hadapannya. Ia mengaduk makanan itu tanpa benar-benar memperhatikan isinya, sementara matanya terus tertuju pada telapak tangan kiri. Tanda perak berbentuk dua sayap masih ada. Di tengahnya, sebuah lingkaran kecil terbuka pada bagian bawah, menyerupai pintu yang belum selesai digambar. Ia sudah mencoba mencucinya, menggosoknya dengan kain, bahkan mengalirkan sedikit mana ke telapak tangannya. Tidak ada perubahan. Tanda itu bukan tinta. Bukan luka. Dan yang paling mengganggu, ia tidak merasakan sakit ketika menyentuhnya. Justru ada sensasi aneh seperti mengenali sesuatu yang seharusnya asing. “Tuan Muda.” Ignis mendongak. Mira berdiri di samping meja dengan tangan terlipat. “Buburnya tidak akan berubah menjadi lebih enak kalau ditatap terus.” “Aku sedang memikirkan sesuatu.” “Kalau begitu, pikirkan sambil makan.” Ignis mengambil sendok. “Baik.” Mira mengangguk puas, lalu berjalan pergi. Ignis baru saja memasukkan suapan pertama ketika terdengar langkah Garrick dari koridor. “Tuan Muda, Lord Alistair memanggil Anda ke ruang kerja.” Ignis meletakkan sendok. “Sekarang?” “Sekarang.” Ia berdiri, merapikan bajunya, lalu mengikuti Garrick. Sebelum meninggalkan ruangan, ia sempat melirik bubur yang baru dimakan dua sendok. Mungkin suatu hari nanti, setelah seluruh persoalan ini selesai, ia bisa menikmati sarapan tanpa harus memikirkan pintu terkutuk, perjanjian kuno, atau orang-orang yang seharusnya sudah mati. Namun, hari itu tampaknya masih jauh. --- Alistair menunggu di ruang kerja bersama Caelan. Di atas meja terletak sebuah kotak beludru berwarna gelap. Tutupnya terbuka, memperlihatkan cincin perak tua dengan lambang naga bersayap. Ignis langsung mengenalinya dari penglihatan di alam kutukan. Cincin yang dikenakan tangan di balik pintu. “Cincin siapa itu?” tanyanya, meskipun ia sudah memiliki dugaan. “Milik Aldric Pendragon,” jawab Alistair. “Cincin warisan yang digunakan ayahku sebelum meninggal.” “Bukankah cincin itu seharusnya berada di makam Kakek?” “Seharusnya.” Alistair mengangkat cincin itu dengan hati-hati. “Setelah menemukan kotak kayu semalam, aku memeriksa kembali barang-barang pribadinya. Cincin ini disimpan dalam kompartemen rahasia di balik panel meja lamanya.” Caelan membungkuk untuk memeriksanya. “Tidak ada batu permata, tidak ada ukiran mantra yang jelas. Kalau ini benda sihir, mekanismenya tidak seperti artefak biasa.” “Karena mungkin bukan sihir yang biasa kita kenal,” jawab Ignis. Ia mengulurkan tangan. Begitu ujung jarinya menyentuh logam cincin, tanda di telapak tangannya menyala. Cincin itu bergetar. Cahaya perak menyebar di sepanjang ukiran naga, kemudian membentuk dua sayap kecil di udara. Cahaya itu berputar sekali sebelum menghilang ke dalam cincin. Caelan langsung mundur. “Barusan itu—” “Ya,” jawab Ignis. “Aku juga melihatnya.” Alistair memegang cincin tersebut lebih erat. “Ignis, apakah kau merasakan sesuatu?” “Seperti... ada sesuatu yang mengenali tanda di tanganku.” “Apakah kau bisa mengendalikannya?” “Belum.” Ignis mengambil napas dan menyentuhkan telapak tangannya sekali lagi. Kali ini, tidak ada cahaya. Namun, sebuah suara terdengar dari dalam logam itu. Bukan suara manusia yang berdiri di ruangan. Bukan pula suara dari alam kutukan. Suara itu terdengar seperti gema yang disimpan selama puluhan tahun. “Saksi telah kembali.” Alistair membeku. Caelan memandang cincin itu dengan wajah pucat. Kemudian suara tersebut melanjutkan. “Bawa pewaris ke tempat sumpah pertama diucapkan.” Hening. Cincin itu kembali menjadi benda logam biasa. Ignis perlahan menarik tangannya. “Tempat sumpah pertama diucapkan,” gumamnya. Alistair meletakkan cincin ke dalam kotak. “Kita tidak akan pergi ke mana pun sebelum memahami pesan itu.” “Ayah, cincin itu bereaksi terhadap tanganku.” “Aku melihatnya.” “Dan pesan itu menyebut pewaris. Itu bisa merujuk kepadaku.” “Justru karena itulah kita tidak akan bertindak gegabah.” Ignis menahan napas, lalu mengangguk. Ia tahu Alistair benar. Mereka sudah beberapa kali memasuki tempat berbahaya hanya karena mengikuti petunjuk yang sengaja ditinggalkan seseorang. Namun, ada perbedaan kali ini. Pesan tersebut berasal dari cincin yang dimiliki kakeknya sendiri. Jika Aldric menyimpan benda itu secara rahasia, mungkin ia mengetahui bahwa suatu hari cincin tersebut akan bereaksi terhadap keturunannya. Atau mungkin cincin itu tidak pernah dimaksudkan untuk diwariskan kepada keturunan mana pun. “Caelan,” kata Ignis. “Apakah kau pernah menemukan catatan mengenai tempat sumpah pertama?” Caelan menggeleng. “Tidak dengan nama itu. Namun, ada sejumlah lokasi kuno yang tidak tercatat dalam peta kekaisaran. Sebagian merupakan reruntuhan sebelum berdirinya Solvaris.” “Apakah salah satunya berada dekat Ravenport?” “Aku perlu memeriksa peta lama.” Alistair mengangguk. “Lakukan pemeriksaan itu. Jangan mengirim surat keluar dan jangan menyebutkan cincin ini kepada siapa pun.” Caelan mengumpulkan dokumen yang diperlukan. “Aku akan mulai dari catatan ekspedisi utara.” Ignis mengangkat alis. “Kenapa ekspedisi utara?” “Karena dalam catatan yang kita temukan sebelumnya, ada beberapa daftar yang berubah tanpa penjelasan. Jika seseorang sengaja menghapus nama dari sejarah, mungkin mereka juga menghapus lokasi yang berkaitan dengan perjanjian.” Caelan berhenti sejenak. “Dan jika lokasi itu pernah dikunjungi oleh ekspedisi kekaisaran, seharusnya ada catatan perjalanan.” “Seharusnya,” ulang Ignis. Mereka bertukar pandang. Kata itu telah terlalu sering muncul dalam penyelidikan mereka. Seharusnya ada catatan. Seharusnya ada penerima. Seharusnya seseorang sudah meninggal. Namun, kenyataan terus menunjukkan bahwa sesuatu telah mengubah aturan tersebut. --- Menjelang siang, Caelan kembali membawa peta tua yang disalin dari arsip keluarga. Peta itu menggambarkan bagian utara Aethrion, termasuk wilayah pegunungan yang jarang dikunjungi. Sebagian jalur diberi tanda merah, sementara beberapa lokasi hanya ditunjukkan dengan simbol tanpa nama. Caelan meletakkan peta di atas meja. “Ada tiga lokasi yang mungkin sesuai.” Ia menunjuk sebuah reruntuhan di sebelah timur pegunungan. “Yang pertama adalah Benteng Vaelorn. Bekas pos militer dari zaman sebelum kekaisaran.” Ia menunjuk lokasi kedua, dekat danau besar. “Yang kedua adalah Kuil Serath, bangunan tua yang konon digunakan untuk pertemuan para bangsawan awal.” Lalu jarinya berhenti di wilayah pegunungan yang lebih jauh. “Yang ketiga tidak memiliki nama.” Ignis mendekat. Di peta itu hanya terdapat lingkaran hitam kecil, dikelilingi sembilan garis pendek. Lambang yang sama. “Dari mana peta ini berasal?” tanyanya. “Salinan peta perjalanan seorang kartografer kekaisaran. Catatan aslinya menyebut lokasi tersebut sebagai wilayah yang tidak boleh dimasuki tanpa izin khusus.” “Siapa yang memberikan larangan itu?” Caelan membalik lembar catatan yang menyertai peta. “Tidak disebutkan. Hanya ada kode pengesahan: E-17.” Ignis mengembuskan napas perlahan. “Jadi, lokasi itu berhubungan dengan berkas yang sama.” “Ya. Tapi kita belum tahu apakah lingkaran tersebut menandai bangunan, gua, atau sekadar titik pengukuran.” Alistair memperhatikan peta itu dari sisi meja. “Lokasinya berada di luar jalur perdagangan. Perjalanan ke sana bisa memakan waktu beberapa hari, bahkan dengan kuda yang bagus.” “Dan jika seseorang melarang orang masuk,” tambah Garrick, “kemungkinan ada alasan yang tidak menyenangkan.” Ignis menatap tanda di peta. Tempat sumpah pertama diucapkan. Jika lokasi tanpa nama itu memang berkaitan dengan perjanjian, mereka akhirnya memiliki arah yang jelas. Tetapi ia juga mengingat peringatan Oren. Darah hanya membuktikan hubungan. Bukan persetujuan. Ia tidak akan pergi ke sana hanya karena sebuah cincin memerintahkannya. “Aku ingin kita menyelidiki lokasi itu dari jauh terlebih dahulu,” katanya. “Periksa jalur masuk, catatan perjalanan, dan siapa yang terakhir mengunjungi wilayah tersebut.” Alistair mengangguk setuju. “Bagus. Kita tidak akan berangkat sebelum memiliki gambaran yang cukup.” Untuk pertama kalinya, Ignis merasa mereka mulai mengambil keputusan berdasarkan penilaian sendiri, bukan sekadar mengikuti umpan yang dilemparkan pihak lain. Namun, perasaan itu tidak bertahan lama. Ketika Caelan mengangkat peta untuk menyimpannya, selembar kertas kecil terjatuh dari lipatan bagian belakang. Kertas itu tidak tampak tua. Tinta hitamnya masih pekat. Caelan membukanya dengan hati-hati. Hanya ada satu kalimat. JANGAN DATANG KE TEMPAT SUMPAH PERTAMA DENGAN CINCIN ALDRIC. Ignis merasakan telapak tangannya membeku. Di bawah kalimat itu terdapat sebuah simbol: dua sayap yang saling membelakangi, dengan lingkaran terbuka di tengahnya. Alistair mengambil kertas tersebut. “Siapa yang menyelipkan ini?” Tidak ada yang menjawab. Caelan segera memeriksa lipatan peta, mencari tanda bahwa kertas itu pernah disisipkan sebelumnya. Garrick memeriksa pintu dan jendela. Ignis menatap tulisan itu. Jika pesan tersebut benar, cincin Aldric bukan hanya kunci atau penunjuk arah. Membawanya ke tempat sumpah pertama mungkin akan memicu sesuatu yang tidak dapat mereka kendalikan. Namun, jika pesan itu palsu, seseorang mungkin sengaja ingin menjauhkan mereka dari satu-satunya benda yang dapat membuka jalan. Dua kemungkinan. Dua risiko. Dan belum ada bukti yang cukup untuk memilih salah satunya. Ignis mengangkat wajah. “Untuk sementara, cincin itu jangan dibawa ke mana-mana.” Alistair mengangguk dan mengunci kotak beludru ke dalam laci. “Tapi kita tetap menyelidiki lokasi itu,” lanjut Ignis. “Kalau ada orang yang berusaha mencegah kita datang, aku ingin tahu alasannya.” Di luar jendela, awan gelap mulai berkumpul di atas pegunungan utara. Jauh dari kediaman Pendragon, di sebuah ruangan yang tidak tercantum pada peta mana pun, seseorang berdiri di depan pintu batu. Sembilan rantai membentang di hadapannya. Di tangan sosok itu terdapat cincin dengan lambang naga bersayap—cincin yang seharusnya tersimpan di kediaman Pendragon. Sosok tersebut memutar cincin itu perlahan. “Dia telah menemukan petunjuknya,” bisiknya. Dari balik pintu terdengar suara ketukan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Sosok itu menundukkan kepala. “Belum, Tuan. Dia belum membawa cincin yang sebenarnya.” Pintu bergetar. Suara dari baliknya menjawab dengan dingin. “Kalau begitu, pastikan dia tidak pernah menemukannya.” Bersambung. Teaser Bab 47 — Cincin yang Hilang Ignis menemukan bahwa cincin yang disimpan Aldric bukan satu-satunya cincin dengan lambang naga bersayap. Sebuah catatan warisan menyebutkan adanya cincin kedua yang hilang pada malam sebelum Aldric meninggal—dan orang terakhir yang tercatat memegangnya adalah Edric Halvern.

End of Chapter 46

Chapter 46: Bab 46 — Cincin dari Balik Pintu - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio