Perjalanan pulang berlangsung tanpa banyak percakapan.
Garrick duduk berhadapan dengan Ignis di dalam kereta, sementara dua ksatria mengawal dari luar. Salinan dokumen milik Oren disimpan di dalam tabung logam kecil, dibungkus kain dan ditempatkan di saku bagian dalam mantel Garrick.
Setelah serangan di rumah Oren, mereka tidak berani lagi menganggap dokumen tua sebagai benda mati.
“Lenganmu,” kata Garrick.
Ignis menunduk. Goresan belati tadi masih mengeluarkan sedikit darah.
“Cuma luka kecil.”
“Kalimat favorit orang yang akan mengeluh saat lukanya dibersihkan.”
“Aku tidak pernah mengeluh.”
“Kau mengeluh ketika Mira menyuruhmu minum ramuan pahit.”
“Itu bukan ramuan. Itu penghinaan terhadap lidah manusia.”
Garrick terkekeh, lalu mengeluarkan perban dari tas perlengkapan.
Namun, saat ia mulai membalut lengan Ignis, anak itu tiba-tiba terdiam.
Ada sesuatu yang terasa aneh pada telapak tangannya.
Garis perak berbentuk sayap muncul di bawah kulit, jauh lebih terang daripada sebelumnya. Bukan hanya itu. Rasa dingin yang biasanya muncul ketika ia mendekati benda-benda bertanda dua sayap kini menjalar sampai ke pergelangan tangan.
Ignis mengeluarkan salinan dokumen Oren.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Garrick.
“Memeriksa sesuatu.”
Ia membuka lipatan kertas dan menempatkannya di atas lutut. Bekas cap Asterion tampak samar di bawah cahaya yang masuk dari jendela kereta.
Ignis mendekatkan telapak tangannya.
Begitu garis perak menyentuh lambang dua sayap, kertas itu bergetar.
Sebuah bunyi berdenging terdengar, begitu tipis hingga hampir tertelan derak roda kereta. Tinta yang telah memudar muncul kembali sedikit demi sedikit, membentuk garis melingkar di sekitar nama ASTERION.
Garrick segera meraih pedangnya.
“Jauhkan tanganmu.”
“Sebentar.”
“Ignis.”
“Aku bilang sebentar.”
Garis-garis itu terus bertambah, membentuk dua lingkaran yang saling bertumpang tindih. Di tengahnya muncul sembilan tanda kecil, masing-masing menyerupai tanduk yang melengkung ke arah dalam.
Ignis mengenali polanya.
Sembilan garis.
Simbol yang muncul dalam alam kutukannya, pada benda-benda di Velmora, dan pada sejumlah dokumen pengiriman lama.
Namun, kali ini ada perbedaan.
Di antara sembilan tanda itu terdapat sebuah celah kecil, tepat di bawah lambang dua sayap.
Seolah-olah lingkaran tersebut sengaja dibiarkan terbuka.
Lalu seluruh tinta menghilang.
Kertas itu kembali seperti semula.
Ignis menatap telapak tangannya. Garis perak telah memudar, tetapi sensasi dingin masih tertinggal.
“Apa yang kau lihat?” tanya Garrick.
“Sebuah pola.”
“Pola apa?”
“Sesuatu yang sama dengan tanda-tanda sebelumnya, tetapi tidak sepenuhnya sama.”
Garrick menghela napas.
“Kadang-kadang aku berharap kau menjadi anak delapan tahun yang normal.”
Ignis melipat dokumen itu kembali.
“Aku juga.”
Ia mengucapkannya dengan suara pelan.
Untuk sesaat, ia benar-benar merindukan kehidupan yang sederhana—meskipun kehidupan pertamanya juga tidak pernah benar-benar sederhana.
Namun, ia tidak punya waktu untuk meratapi sesuatu yang tidak pernah dimilikinya.
Jika pola itu bereaksi terhadap darahnya, berarti ia bukan sekadar petunjuk yang diwariskan melalui dokumen. Ada hubungan langsung antara dirinya dan perjanjian tersebut.
Hubungan yang mungkin telah ada jauh sebelum ia dilahirkan.
---
Malam itu, Ignis kembali ke kamarnya dalam keadaan kelelahan.
Mira membersihkan luka di lengannya sambil mengomel karena ia kembali terlibat dalam masalah berbahaya.
“Kalau Tuan Muda terus pulang dengan luka baru, saya akan mulai menyimpan perban di setiap sudut rumah.”
“Bukankah itu efisien?”
“Tidak, Tuan Muda. Itu menyedihkan.”
Ignis tertawa kecil.
Mira menyelesaikan balutan, lalu meletakkan semangkuk sup hangat di atas meja.
“Habiskan sebelum tidur.”
“Baik.”
“Dan jangan membaca dokumen sampai larut malam.”
“Tentu.”
Mira menatapnya curiga.
Ignis membalas dengan senyum polos yang tidak meyakinkan siapa pun.
Setelah pintu tertutup, ia menunggu beberapa menit sebelum mengeluarkan salinan dokumen itu lagi.
Ia tidak berniat membukanya lama-lama. Hanya ingin memastikan bahwa perubahan tadi benar-benar terjadi.
Namun, sebelum sempat menyentuh kertas, kelopak matanya mendadak terasa berat.
Kutukan itu datang lebih cepat daripada biasanya.
Rasa dingin menjalar dari tulang belakang ke seluruh tubuhnya. Suara-suara dari rumah memudar, digantikan bunyi retakan yang seolah datang dari ruang sangat jauh.
Ignis mencoba berdiri.
Kakinya tidak bergerak.
“Tidak sekarang…”
Dunia runtuh menjadi kegelapan.
---
Ia terbangun di alam kutukan.
Langit merah gelap membentang tanpa matahari. Tanah hitam di bawah kakinya dipenuhi retakan yang mengeluarkan cahaya redup, sementara kabut bergerak seperti makhluk hidup di antara pilar-pilar batu.
Namun, kali ini tidak ada anjing tanpa mata.
Tidak ada makhluk yang langsung menerjangnya.
Di hadapannya berdiri sebuah pintu.
Pintu yang sama seperti yang pernah ia lihat di Veyr, tetapi jauh lebih besar. Dua sayap terukir pada permukaannya, membentang dari lingkaran hitam yang dikelilingi sembilan tanda.
Di bawahnya, sembilan rantai menggantung ke dalam jurang.
Ignis menatap sekeliling.
“Ini bukan tempat yang biasa.”
“Tidak.”
Suara itu muncul dari belakangnya.
Ignis berbalik.
Seseorang berdiri di antara dua pilar yang retak. Sosoknya tinggi, mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu pucat. Wajahnya tertutup bayangan, sehingga tidak ada satu pun ciri yang dapat dikenali.
Namun, posturnya bukan seperti monster yang pernah dihadapi Ignis.
Sosok itu berdiri dengan tenang, kedua tangan terlipat di depan tubuh, seolah sedang menunggu seorang tamu yang terlambat datang.
“Siapa kau?” tanya Ignis.
Sosok itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia memandang pintu besar di belakang Ignis.
“Kau membawa tanda itu.”
Ignis mengangkat telapak tangannya. Garis perak muncul lagi, bercahaya lembut dalam kegelapan.
“Apa artinya?”
“Bukti bahwa pintu telah mengenalimu.”
“Aku sudah mendengar kalimat serupa. Aku ingin jawaban yang berbeda.”
Sosok itu menundukkan kepala sedikit.
“Kalau begitu, ajukan pertanyaan yang tepat.”
Ignis menahan keinginan untuk mengumpat.
Ia membenci percakapan semacam ini. Setiap orang seolah mengetahui sesuatu, tetapi semuanya memilih berbicara dalam teka-teki.
“Apa itu Asterion?”
Untuk pertama kalinya, sosok tersebut bergerak.
Ia mengangkat tangan, menunjuk pintu.
“Nama yang kau temukan bukanlah jawaban. Itu adalah simpul.”
“Simpul dari apa?”
“Dari janji yang tidak selesai.”
Sembilan rantai di pintu bergetar bersamaan.
Satu di antaranya mengeluarkan bunyi retakan.
Ignis segera menoleh.
Di permukaan pintu muncul bayangan-bayangan samar: sembilan orang berjubah, berdiri mengelilingi sebuah lingkaran. Di tengah mereka terdapat dua sosok yang saling berhadapan.
Satu mengenakan zirah gelap.
Satu lagi memegang tongkat panjang dengan lambang dua sayap.
Suara-suara mulai terdengar.
“Kami tidak akan menyerahkan nama itu.”
“Maka sumpah ini akan tetap mengikat kedua pihak.”
“Dan jika salah satu pihak mengingkari janji?”
Bayangan di tengah lingkaran mengangkat kepala.
“Beban akan dialihkan kepada pewaris berikutnya.”
Ignis merasakan nyeri tajam di dadanya.
Bayangan-bayangan itu lenyap, tetapi suara terakhir masih menggema.
“Sampai saksi terakhir kembali.”
Ia terhuyung.
Sosok berjubah abu-abu segera mengangkat satu tangan. Sebuah lapisan cahaya pucat muncul di bawah kaki Ignis, menahan tubuhnya sebelum jatuh.
“Jangan mencoba memaksakan ingatan yang bukan milikmu,” katanya.
Ignis menatapnya tajam.
“Semua orang terus mengatakan hal itu. Apa maksudnya?”
“Karena ingatan dapat diwariskan, tetapi tidak semua ingatan berasal darimu.”
Kalimat itu membuat Ignis membeku.
Ia telah memikirkan kemungkinan tersebut sebelumnya, tetapi mendengarnya dari seseorang yang berdiri di dalam alam kutukan membuat dugaan itu terasa jauh lebih nyata.
“Apakah aku pernah membuat perjanjian ini?”
Sosok itu terdiam.
Lalu ia menjawab, “Kau belum mengingatnya.”
“Itu bukan jawaban.”
“Dan aku tidak akan memberimu jawaban yang belum sanggup kau tanggung.”
Ignis mengepalkan tangan.
“Aku sudah mati sekali. Aku menghadapi Bahemod. Aku mencapai First Dawn Temple. Aku kembali ke masa lalu dengan seluruh ingatan kehidupanku. Jangan katakan kepadaku bahwa aku tidak sanggup menanggung kebenaran.”
Keheningan turun.
Untuk pertama kalinya, sosok itu tampak terkejut.
Bukan karena Ignis menyebut kematiannya.
Melainkan karena ia menyebut sesuatu yang seharusnya tidak diketahui oleh penghuni alam ini.
“Jadi,” bisik sosok itu, “kau memang mengingat kehidupan yang berakhir.”
Ignis membeku.
Sosok itu mengangkat kepala. Bayangan yang menutupi wajahnya bergerak, memperlihatkan sepasang mata berwarna perak pucat.
“Namun, itu tidak menjawab pertanyaanmu.”
Ia menunjuk dada Ignis.
“Kau membawa ingatan tentang kehidupanmu sendiri. Tetapi tanda yang kau bawa berasal dari sumpah yang lebih tua daripada kelahiranmu.”
Pintu di belakang mereka bergetar.
Dari balik permukaannya terdengar tiga ketukan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Sosok berjubah abu-abu langsung menoleh. Sikap tenangnya lenyap.
“Tidak seharusnya ia mendengar percakapan ini.”
“Siapa?”
Terdengar suara dari balik pintu.
Bukan suara yang selama ini mengikutinya di alam kutukan.
Suara baru.
Dalam, jernih, dan dipenuhi kesedihan yang sangat tua.
“Apakah saksi terakhir telah kembali?”
Ignis tidak mampu bergerak.
Sosok berjubah abu-abu berdiri di antara dirinya dan pintu.
“Belum,” jawabnya.
Senyap.
Kemudian suara di balik pintu berkata:
“Jangan berbohong kepadaku.”
Sembilan rantai bergetar hebat.
Salah satunya putus.
Pintu terbuka selebar jari, memancarkan cahaya putih yang begitu terang hingga retakan di tanah menghilang sesaat.
Di celah itu, Ignis melihat sebuah tangan.
Tangan manusia.
Tidak berzirah. Tidak bercakar. Hanya tangan pucat dengan sebuah cincin yang memiliki lambang naga bersayap.
Lambang lama House Pendragon.
Sosok berjubah abu-abu mendorong Ignis menjauh.
“Bangun!”
“Apa yang ada di balik pintu itu?”
“Bangun sekarang!”
Tangan di balik pintu bergerak, seolah hendak meraih Ignis.
Lalu suara tersebut berbisik tepat ke dalam pikirannya.
“Saksi terakhir dari sumpah pertama.”
Dunia pecah menjadi cahaya.
---
Ignis terbangun dengan napas tersengal.
Ia berada di tempat tidurnya. Seluruh tubuhnya basah oleh keringat, sementara luka di lengannya berdenyut hebat.
Matahari belum terbit.
Di atas meja, salinan dokumen milik Oren masih terlipat rapi.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Garis perak berbentuk sayap di telapak tangan Ignis tidak lagi memudar.
Di tengahnya muncul satu tanda baru: sebuah lingkaran kecil yang terbuka pada bagian bawah.
Ia mengangkat tangannya ke arah cahaya bulan.
Di luar jendela, seekor burung gagak bertengger di dahan pohon.
Burung itu menatapnya cukup lama, lalu mengepakkan sayap dan menghilang ke dalam kegelapan.
Ignis menurunkan tangannya.
Ia belum tahu siapa sosok berjubah abu-abu itu. Ia belum mengetahui siapa yang berada di balik pintu, atau mengapa suara tersebut mengenalnya sebagai saksi terakhir.
Namun, sekarang ia memahami satu hal.
Perjanjian itu bukan sekadar warisan keluarga.
Ada sesuatu di balik pintu yang masih mengingat sumpah pertama—dan sesuatu itu baru saja menyadari bahwa Ignis telah kembali.
Bersambung.
Teaser Bab 46 — Cincin dari Balik Pintu
Ignis menemukan bahwa tanda baru di telapak tangannya bereaksi terhadap cincin warisan House Pendragon. Ketika Alistair memperlihatkan cincin milik Aldric, sebuah suara asing terdengar dari logamnya: “Saksi telah kembali. Bawa pewaris ke tempat sumpah pertama diucapkan.”