Chapter 44 of 70
Bab 44 — Janji Sebelum Kelahiran
1.7k words
Pagi itu, Ignis meminta satu hal kepada ayahnya.
“Siapa orang terakhir yang pernah bekerja bersama Kakek dalam urusan kekaisaran?”
Alistair, yang sedang memeriksa laporan keamanan kediaman, mengangkat pandangan.
“Kenapa kau menanyakan itu?”
“Karena surat Kakek menunjukkan bahwa dia bukan orang yang memulai perjanjian tersebut. Kalau kita ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, kita membutuhkan seseorang yang mengenal keputusannya sebelum nama Edric Halvern dihapus.”
Alistair terdiam cukup lama.
“Ada seorang mantan pejabat bernama Oren Valcrest. Dahulu dia bekerja di Kantor Pencatatan Kekaisaran. Dia pernah menangani sejumlah dokumen yang berhubungan dengan ayahku.”
“Apakah dia masih hidup?”
“Sejauh yang kutahu. Dia pensiun dan tinggal di desa kecil di sebelah timur Ravenport.”
“Kalau begitu, aku ingin menemuinya.”
“Tidak.”
Jawaban Alistair begitu cepat hingga Ignis mengangkat alis.
“Kau baru saja mengizinkanku menyelidiki perkara ini.”
“Aku mengizinkanmu membantu menemukan kebenaran. Bukan berarti aku akan membiarkanmu mendatangi setiap orang berbahaya tanpa perlindungan.”
“Aku akan membawa Garrick dan beberapa ksatria.”
“Dan kau tetap berusia delapan tahun.”
Ignis menghela napas.
Argumen itu sulit dibantah. Terutama karena tubuhnya masih menyimpan bekas luka dari pertempuran di Biara Velmora dan Veyr.
Akhirnya, Alistair memberikan satu syarat.
Garrick akan memimpin rombongan kecil, sementara dua ksatria tambahan mengikuti dari jarak tertentu. Caelan tidak ikut karena harus memeriksa dokumen yang telah mereka temukan. Commander Lysandra juga diberi tahu mengenai perjalanan tersebut, tetapi tidak diberi akses ke catatan keluarga Aldric.
Mereka berangkat sebelum tengah hari.
---
Desa tempat Oren Valcrest tinggal tidak memiliki gerbang batu atau menara penjaga. Rumah-rumah kayunya berdiri di sepanjang jalan berbatu, dikelilingi ladang gandum yang mulai menguning.
Anak-anak berlarian mengejar roda kayu. Seorang pedagang menjajakan buah dari gerobaknya. Asap tipis keluar dari cerobong rumah, membawa aroma roti hangat.
Pemandangan sederhana itu terasa hampir tidak masuk akal bagi Ignis.
Di balik berbagai konspirasi, segel, dan nama yang dihapus, kehidupan biasa tetap berjalan.
Orang-orang tetap tertawa.
Tetap bekerja.
Tetap mengkhawatirkan harga gandum dan hujan yang terlambat turun.
Dunia tidak mengetahui bahwa beberapa rahasia lama mungkin sedang bergerak kembali.
Rumah Oren berada di ujung desa, dekat sebuah sungai kecil. Bangunannya sederhana, dengan pagar rendah dan taman berisi tanaman obat.
Seorang pria tua membuka pintu setelah Garrick mengetuk.
Rambutnya putih, punggungnya sedikit membungkuk, tetapi matanya masih tajam.
“Apa yang kalian inginkan?”
Garrick memperkenalkan diri dan menyebut nama House Pendragon.
Begitu nama Aldric disebut, tangan pria tua itu mencengkeram tepi pintu.
“Pergilah.”
Ia hendak menutup pintu.
Ignis melangkah maju.
“Kami ingin menanyakan tentang Edric Halvern.”
Pintu berhenti bergerak.
Perubahan pada wajah Oren begitu cepat hingga sulit disembunyikan. Ketakutan melintas di matanya, disusul kemarahan yang tampaknya telah lama dipendam.
“Siapa yang memberitahumu nama itu?”
“Catatan keluarga.”
Oren memandang Ignis, lalu Garrick, sebelum akhirnya membuka pintu sedikit lebih lebar.
“Masuk. Dan jangan sebut nama itu di luar rumahku.”
---
Ruang tamunya dipenuhi buku-buku tua dan kotak dokumen. Oren menyuruh mereka duduk, lalu mengunci pintu dan menutup tirai jendela.
Ia tidak langsung berbicara.
Sebaliknya, ia menuangkan air hangat ke dalam tiga cangkir. Tangannya bergetar begitu hebat hingga sebagian air tumpah ke meja.
Ignis memperhatikan semuanya.
Pria ini bukan sekadar mengenali nama Edric.
Ia takut pada akibat dari nama tersebut.
“Apa hubungan Anda dengan Aldric Pendragon?” tanya Ignis.
Oren menatapnya tajam.
“Siapa kau sebenarnya?”
“Ignis Pendragon.”
“Aku tahu nama keluargamu. Aku bertanya siapa dirimu.”
Pertanyaan itu membuat Garrick bergerak sedikit, tetapi Ignis mengangkat tangan untuk menahannya.
“Aku putra Alistair Pendragon. Aku menemukan catatan yang ditinggalkan Kakek, termasuk surat yang menyebut Edric Halvern dan penerima terakhir.”
Wajah Oren memucat.
“Tidak mungkin.”
“Apa yang tidak mungkin?”
Oren berdiri dan berjalan menuju rak buku. Ia menggeser beberapa jilid tebal, kemudian mengeluarkan sebuah kotak besi kecil.
“Aldric pernah datang kepadaku menjelang akhir hidupnya,” katanya. “Dia tidak meminta bantuan untuk menyembunyikan dokumen. Dia meminta bantuan untuk menemukan cara menghentikan sesuatu yang sudah terlanjur berjalan.”
Ignis menegakkan tubuh.
“Menghentikan apa?”
“Perjanjian itu.”
Ruangan menjadi sunyi.
“Perjanjian apa?” tanya Garrick.
Oren memandang mereka bergantian.
“Aku tidak pernah melihat keseluruhan dokumennya. Hanya beberapa lembar yang dibawa Aldric. Ada dua pihak yang disebutkan di dalamnya, tetapi salah satu nama telah dihapus dari setiap salinan yang kutemukan.”
“Dan Edric Halvern?”
“Dia bertugas menerima sesuatu dari pihak yang tidak tercantum dalam catatan resmi.”
“Benda?”
“Awalnya aku mengira begitu. Namun, Aldric mengatakan bahwa yang diterima bukan sekadar benda.”
Oren membuka kotak besi.
Di dalamnya terdapat selembar kertas tipis, dilipat dengan sangat hati-hati. Ia meletakkannya di atas meja, tetapi tidak mendorongnya ke arah Ignis.
“Ini satu-satunya salinan yang berhasil kuselamatkan.”
Ignis membuka lipatannya.
Sebagian besar tulisan telah memudar. Namun, di tengah halaman terdapat dua baris yang masih terbaca.
PIHAK PERTAMA: [DIHAPUS]
PIHAK KEDUA: HOUSE PENDRAGON
Di bawahnya tercantum kalimat:
Perjanjian tetap berlaku selama kedua pihak mempertahankan sumpahnya. Pelanggaran oleh satu pihak akan mengalihkan beban kepada pihak lainnya.
Ignis merasa udara di ruangan itu menjadi lebih dingin.
Ia pernah melihat kalimat serupa dalam catatan lama—tentang bagaimana kehancuran salah satu pihak akan mengubah keseimbangan pihak lainnya.
Namun, di bawah kalimat tersebut terdapat tulisan tambahan, jauh lebih kecil.
Pewaris berikutnya tidak boleh membuka pintu sebelum mengingat sumpah asal.
Ignis menatap Oren.
“Kenapa Kakek berusaha menghentikannya?”
“Karena dia percaya perjanjian itu telah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah dimaksudkan oleh pembuatnya.”
“Siapa pembuatnya?”
“Aku tidak tahu.”
“Apakah Kakek tahu?”
Oren menggeleng.
“Dia hanya mengatakan bahwa Aldric bukan orang yang membuat perjanjian itu. Dia hanya orang terakhir yang berusaha membatalkannya.”
Kalimat itu terasa seperti palu yang menghantam dugaan Ignis.
Kakeknya bukan pelindung rahasia itu.
Setidaknya, bukan sejak awal.
Mungkin penghapusan nama Edric merupakan upaya untuk memutus jalur menuju perjanjian. Mungkin Aldric percaya bahwa jika penerima terakhir tidak dapat ditemukan, pintu itu tidak akan pernah terbuka.
Namun, mengapa ia tetap menyembunyikan kebenaran dari keturunannya sendiri?
Dan apa yang membuatnya akhirnya gagal?
Ignis kembali melihat tulisan tentang pewaris berikutnya.
“Pintu yang dimaksud berada di Veyr?”
Oren menegang.
“Kau sudah menemukannya?”
“Kami melihatnya. Penjaganya mengenali darah Pendragon.”
Pria tua itu menjatuhkan cangkirnya.
Porselen pecah di lantai.
“Kalau begitu, sudah terlambat.”
Garrick langsung berdiri. “Terlambat untuk apa?”
Oren tidak menjawab.
Ia justru mencengkeram lengan Ignis dengan kekuatan yang mengejutkan untuk seorang pria seusianya.
“Dengarkan aku baik-baik, anak muda. Jika pintu itu mengenalimu, jangan pernah menganggapnya sebagai bukti bahwa kau berhak membukanya.”
Ignis tidak menarik lengannya.
“Kenapa?”
“Karena darah hanya membuktikan hubungan. Bukan persetujuan.”
Untuk sesaat, Ignis teringat suara di balik pintu Veyr.
Kalau kau membuka pintu ini sebelum mengingat sumpahmu, orang yang kau cari mungkin bukan orang yang keluar.
Ia menelan ludah.
“Apakah Aldric pernah mengatakan apa yang ada di balik pintu?”
Oren melepaskan tangannya perlahan.
“Tidak. Namun, sebelum pergi, dia mengatakan sesuatu yang tidak pernah bisa kulupakan.”
Pria tua itu memandang ke arah jendela yang tertutup tirai.
“Dia berkata bahwa selama puluhan tahun, keluarga kita telah berusaha menentukan siapa yang berhak membuka pintu. Padahal, pertanyaan yang sebenarnya adalah siapa yang akan membayar harga setelah pintu itu terbuka.”
---
Mereka belum sempat mengajukan pertanyaan berikutnya ketika terdengar suara benturan keras dari luar.
Garrick mencabut pedang.
Sebuah anak panah menembus jendela, menghantam rak buku di belakang Oren.
“Turun!” teriak Garrick.
Ignis menjatuhkan diri ke samping meja. Kaca pecah berhamburan. Dari luar terdengar derap sepatu dan teriakan seseorang yang memerintahkan mereka menyerahkan dokumen.
Dua pria bertopeng menerobos pintu belakang.
Garrick menghadang yang pertama. Pedangnya beradu dengan kapak pendek, menghasilkan percikan api. Ia memutar pergelangan tangan, menangkis tebasan kedua, lalu menghantam lawan dengan bahunya hingga pria itu terjengkang ke meja.
Penyerang kedua tidak menyerang Garrick.
Ia langsung menuju kotak besi.
Ignis melihatnya.
“Jangan biarkan dia mengambil kertas itu!”
Ia meraih kursi kayu dan mendorongnya sekuat tenaga ke jalur penyerang. Kursi itu tidak menjatuhkan pria tersebut, tetapi membuat langkahnya tersandung. Kertas di tangannya terlepas dan melayang ke lantai.
Ignis merangkak untuk meraihnya.
Penyerang itu berbalik dan mengayunkan belatinya.
Ignis menarik tubuhnya ke belakang. Ujung belati menyayat lengan bajunya, meninggalkan goresan dangkal di kulit.
Rasa sakit menyengat.
Tubuhnya ingin mundur.
Namun, pikirannya telah menghitung jarak ke perapian, posisi meja, dan kaki penyerang yang masih tersangkut pada kursi.
Ignis menyambar poker besi di dekat perapian dan menghantam kaki kursi yang tersangkut.
Kayunya patah.
Penyerang kehilangan keseimbangan. Ignis segera berguling menjauh sambil meraih kertas yang jatuh.
Pada saat bersamaan, Garrick menendang penyerang pertamanya hingga menabrak dinding.
“Keluar!” bentak salah satu penyusup.
Keduanya mundur. Sebuah botol kecil dilempar ke lantai, memuntahkan asap kelabu yang membuat mata perih. Ketika Garrick berhasil menerobos asap, kedua penyerang sudah melarikan diri melalui taman belakang.
Salah satu ksatria yang berjaga di luar mengejar mereka, tetapi kembali beberapa menit kemudian dengan tangan kosong.
Mereka telah melarikan diri melewati kebun dan menyusup ke jalan sempit menuju sungai.
Oren berdiri gemetar di tengah ruang tamu yang berantakan.
Ignis memeriksa kertas yang diselamatkannya.
Kertas itu masih utuh.
Namun, ketika ia mengangkatnya ke arah cahaya, ia melihat sesuatu di balik tulisan yang memudar: bekas cap berbentuk dua sayap, dan di bawahnya sebuah kata yang hampir tidak terlihat.
ASTERION.
Ignis mengangkat wajah.
Oren memandang tulisan itu dengan ngeri.
“Kau tidak boleh membawanya ke Veyr.”
“Kenapa?”
“Karena orang yang mengawasimu bukan satu-satunya yang menunggu di sana.”
Ia menelan ludah.
“Ada seseorang yang menjaga pintu dari sisi lain.”
Ignis merasakan garis perak di telapak tangannya berdenyut.
“Siapa?”
Oren menggeleng dengan cepat.
“Aku tidak pernah melihat wajahnya. Aku hanya tahu satu hal.”
“Apa?”
“Ketika Aldric mencoba membatalkan perjanjian itu, suara dari balik pintu mengatakan bahwa pembatalan hanya dapat dilakukan oleh orang yang sama yang mengucapkan sumpah pertama.”
Ignis menatap tulisan ASTERION.
Sumpah pertama.
Dua pihak.
Satu pintu.
Dan sebuah perjanjian yang masih menagih sesuatu kepada keturunannya.
Ia belum tahu apakah Asterion adalah nama seseorang, gelar, atau sesuatu yang tidak pernah seharusnya disebut sebagai manusia.
Namun, sekarang ia memiliki petunjuk baru—dan musuh mereka baru saja membuktikan bahwa mereka bersedia membunuh demi menghentikan petunjuk itu mencapai tangan yang tepat.
Saat rombongan meninggalkan rumah Oren, pria tua itu berdiri di ambang pintu.
“Ignis Pendragon!”
Ignis menoleh.
“Jika suatu hari kau benar-benar mengingat sumpah itu, jangan terburu-buru menepatinya!”
Angin sore membawa suaranya melewati jalan desa.
“Kadang-kadang, janji yang paling berbahaya adalah janji yang dibuat sebelum seseorang memahami apa yang sedang dijanjikannya!”
Ignis tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam salinan itu lebih erat.
Karena untuk pertama kalinya, ia mulai curiga bahwa rahasia terbesar dalam perkara ini bukanlah siapa yang berada di balik pintu.
Melainkan apakah dirinya sendiri pernah menjadi bagian dari janji yang mengunci pintu tersebut.
Bersambung.
Teaser Bab 45 — Sumpah yang Tidak Diingat
Dalam perjalanan pulang, Ignis menemukan bahwa bekas cap pada dokumen Oren bereaksi terhadap garis perak di telapak tangannya. Malam itu, di alam kutukan, ia melihat sebuah pintu yang sama—dan mendengar suara seseorang memanggilnya dengan gelar yang tidak pernah ia kenal: “Saksi terakhir dari sumpah pertama.”