Chapter 43 of 70
Bab 43 — Dosa Sang Kakek
1.4k words
Ruang kerja Alistair hanya diterangi dua lampu kristal.
Di luar, hujan kembali turun, mengetuk kaca jendela seperti jari-jari yang tidak sabar. Di dalam ruangan, sebuah kotak kayu tua tergeletak di atas meja. Ukirannya telah memudar, sementara dua pengait peraknya tampak menghitam karena usia.
Ignis mengenali lambang di tutupnya.
Seekor naga dengan sayap terlipat, dikelilingi lingkaran berduri.
Lambang lama House Pendragon.
“Kotak ini tidak pernah tercatat dalam inventaris keluarga,” ujar Alistair. “Ayahku menyimpannya secara pribadi. Setelah beliau meninggal, aku menemukannya di balik dinding ruang kerjanya.”
“Kenapa Ayah tidak pernah membukanya?”
“Karena ada surat yang menyertainya.”
Alistair mengeluarkan secarik perkamen dari laci. Tulisannya sudah memudar, tetapi kalimat di bagian tengah masih terbaca.
Jangan buka selama nama itu masih terkubur.
Ignis mengangkat alis.
“Nama Edric Halvern?”
“Aku tidak tahu. Saat menemukan kotak ini, aku bahkan belum mengetahui siapa Edric.”
Alistair mengeluarkan kunci kecil, lalu membuka kedua pengaitnya.
Tidak ada ledakan sihir. Tidak ada segel yang menyala. Tidak ada kutukan yang tiba-tiba menyerang mereka.
Hanya suara kayu tua yang berderit.
Di dalam kotak terdapat tiga benda: sebuah buku tipis bersampul kulit hitam, lambang logam berbentuk dua sayap, dan surat yang dilipat menjadi empat bagian.
Ignis mengambil surat itu.
Tulisan tangannya berbeda dari tulisan pada catatan pengiriman. Lebih tegas, dengan garis-garis pendek dan lurus.
Ia mengenali nama penulisnya dari tanda tangan di bagian bawah.
Aldric Pendragon.
Kakeknya.
Ignis mulai membaca.
Jika surat ini ditemukan setelah kematianku, berarti keputusan yang kubuat dahulu tidak lagi mampu menjaga keluarga ini tetap berada di luar perkara tersebut.
Edric Halvern bukan pengkhianat.
Ignis berhenti.
Kalimat itu langsung bertentangan dengan segala dugaan yang selama ini mereka kumpulkan.
Ia melanjutkan.
Ia adalah petugas yang menerima sesuatu yang seharusnya tidak pernah dikirimkan melalui jalur kekaisaran. Aku diperintahkan untuk menghapus namanya dari catatan keluarga dan memindahkan seluruh tanggung jawab kepada pihak yang tidak boleh disebutkan.
Aku mematuhi perintah tersebut.
Bukan karena aku mempercayai orang yang memberikannya, melainkan karena pada saat itu aku percaya bahwa membuka pintu akan membawa akibat yang lebih buruk daripada membiarkan seseorang menghilang.
Di bagian akhir, tinta tampak menebal, seolah pena ditekan terlalu keras.
Jika penerima itu kembali, jangan biarkan darah Pendragon membuka pintunya.
Ignis meletakkan surat tersebut perlahan.
“Pintu yang mana?” tanyanya.
Alistair menggeleng.
“Surat itu tidak menjelaskan.”
“Apakah Kakek pernah membicarakan perkara ini?”
“Tidak pernah. Beliau melarang siapa pun memasuki ruang kerja pribadinya tanpa izin. Setelah beliau meninggal, sebagian besar catatannya sudah tidak ada.”
“Dimusnahkan?”
“Mungkin. Aku tidak pernah menemukan bukti yang cukup untuk memastikan siapa yang mengambilnya.”
Ignis memandang buku bersampul hitam.
“Kalau begitu, mari kita lihat apa yang masih tersisa.”
---
Buku itu bukan buku harian.
Isinya berupa catatan singkat tentang pertemuan, pemindahan dokumen, dan sejumlah nomor yang tidak mengikuti sistem penanggalan kekaisaran.
Halaman pertama hanya memuat satu judul:
PERKARA HALVERN — CATATAN KELUARGA
Di bawahnya terdapat tiga nama.
Edric Halvern.
Aldric Pendragon.
Dan sebuah nama yang dicoret menggunakan tinta merah begitu tebal hingga kertasnya hampir robek.
AST—RION.
Ignis merasakan telapak tangannya berdenyut.
“Asterion,” bisiknya.
Alistair menoleh tajam. “Kau pernah melihat nama itu?”
“Di Veyr. Penjaga di balik pintu menyebutnya sebelum kami pergi.”
Alistair berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
“Apa tepatnya yang dikatakannya?”
Ignis menceritakan kejadian di ruang bawah tanah Veyr, termasuk penjaga berzirah hitam, garis-garis yang menyala di lantai, dan pintu yang mengenali darahnya.
Ia tidak menceritakan seluruh pengalamannya dari kehidupan pertama. Belum.
Alistair mendengarkan tanpa menyela. Setelah Ignis selesai, ia kembali memandang nama yang dicoret.
“Jadi, perkara ini belum berakhir.”
“Sepertinya tidak pernah benar-benar berakhir.”
Mereka membalik halaman.
Catatan berikutnya memuat daftar pengiriman dengan tanggal yang telah dihapus. Pada kolom penerima, seseorang menulis:
PENERIMA TIDAK HADIR. SERAH TERIMA DITUNDA.
Di sampingnya terdapat tanda tangan Aldric dan satu lambang kecil berupa dua sayap.
Namun, pada halaman setelahnya, catatan tersebut berubah.
PENERIMA TELAH DITETAPKAN. IDENTITAS TIDAK DICANTUMKAN.
Tidak ada nama.
Tidak ada lokasi.
Hanya sebuah angka: E-17.
Ignis mengembuskan napas perlahan.
E-17 bukan sekadar nomor kotak arsip. Setidaknya, tidak lagi.
Nomor itu muncul dalam catatan keluarga, daftar pengiriman, dan benda-benda yang selama ini berusaha mereka temukan. Seseorang telah memastikan bahwa seluruh jalur informasi menuju satu perkara yang sama.
Namun, apa sebenarnya yang diterima Edric?
Dan mengapa penerima itu harus menunggu?
“Lihat bagian bawah,” ujar Alistair.
Di tepi halaman terdapat catatan yang nyaris tertutup lipatan.
Apabila pewaris kembali sebelum serah terima selesai, seluruh perjanjian harus diperiksa ulang.
Ignis membeku.
Pewaris kembali.
Bukan pewaris lahir.
Bukan pewaris dipilih.
Pewaris kembali.
Kata itu terlalu dekat dengan sesuatu yang tidak mungkin diketahui siapa pun.
Ia pernah mati.
Ia telah kembali ke masa lalu.
Dan kini, dokumen yang ditulis jauh sebelum kelahirannya seolah menunggu kejadian tersebut.
Tidak. Ia harus berhati-hati.
Mungkin kata kembali memiliki arti lain. Mungkin yang dimaksud adalah ahli waris yang pulang dari perjalanan, atau seseorang yang kembali ke rumah keluarga.
Namun, mengabaikan kemungkinan lain juga sama bodohnya.
Ignis menutup buku itu.
“Tidak ada seorang pun yang boleh mengetahui bahwa kita menemukan catatan ini.”
Alistair mengangguk. “Aku setuju.”
“Bahkan Kapten Severin dan Commander Lysandra.”
“Terutama mereka. Kita belum tahu siapa yang dapat dipercaya.”
Terdengar ketukan di pintu.
Keduanya segera menyimpan buku dan surat ke dalam kotak.
“Siapa?” tanya Alistair.
“Garrick, Tuanku.”
Alistair membuka pintu.
Garrick masuk dengan wajah serius. Ia membawa selembar kertas yang ditemukan oleh seorang penjaga di halaman belakang.
“Ini ditemukan di bawah batu dekat pagar timur.”
Ignis mengambilnya.
Kertas itu basah, tetapi tulisannya masih terbaca.
JANGAN PERCAYA KEPADA ORANG YANG MENYIMPAN PINTU.
Di bawah kalimat itu terdapat gambar sederhana: dua lengkungan yang saling membelakangi, dikelilingi lingkaran yang tidak tertutup.
Lambang yang sama seperti di Veyr.
Garrick melirik kotak kayu di atas meja.
“Aku datang pada waktu yang buruk?”
“Justru sebaliknya,” jawab Ignis. “Kau datang pada waktu yang tepat.”
Ia menunjukkan pesan tersebut kepada Alistair.
“Kalau seseorang tahu kita membuka kotak ini, berarti mereka mengawasi kediaman sejak tadi,” ujar Ignis.
“Atau mereka sudah mengawasi kita jauh sebelum ini,” balas Alistair.
Garrick mengerutkan kening. “Jadi, apa rencana kita?”
Ignis memandang jendela yang diguyur hujan.
“Kita berhenti mengikuti petunjuk yang diberikan kepada kita.”
“Lalu?”
“Kita mencari orang yang membuat petunjuk itu.”
Ia menunjuk surat kakeknya.
“Edric Halvern bukan pengkhianat. Kakekku mengetahui sesuatu yang cukup berbahaya hingga memilih menghapus namanya daripada membiarkan perkara itu terbuka. Sekarang, seseorang ingin memastikan kita mengulangi keputusan yang sama.”
“Bagaimana kau tahu mereka ingin kita mengulangi keputusan itu?” tanya Garrick.
“Karena setiap kali kita mendekati satu nama, mereka mengirim perintah untuk menghentikan penyelidikan. Setiap kali kita menemukan bukti, seseorang mencoba mengambilnya. Dan setiap kali kita bergerak ke suatu tempat, mereka seolah sudah menunggu.”
Ignis menatap ayahnya.
“Mungkin mereka tidak takut kita menemukan pintunya.”
Alistair memahami maksudnya.
“Mereka takut kita mengetahui apa yang pernah dilakukan keluarga ini terhadap orang di balik pintu tersebut.”
Untuk pertama kalinya, Ignis melihat keraguan di wajah ayahnya yang bukan berasal dari ketidakpastian, melainkan rasa bersalah yang diwariskan tanpa penjelasan.
Namun, sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, seluruh lampu kristal di ruangan padam serentak.
Udara mendadak dingin.
Dari dalam kotak kayu terdengar bunyi ketukan.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Garrick langsung mencabut pedang. Alistair berdiri di depan Ignis, sementara buku bersampul hitam bergerak sedikit di dalam kotak.
Sampulnya terbuka sendiri.
Pada halaman yang sebelumnya kosong, muncul garis-garis hitam membentuk dua sayap.
Di tengahnya, tinta merah merembes dari serat kertas, membentuk satu kalimat baru.
SERAH TERIMA AKAN DILANJUTKAN. PEWARIS TELAH KEMBALI.
Ignis tidak bergerak.
Dari balik kesadarannya, suara yang selama ini mengikutinya berbisik dengan nada yang jauh lebih serius daripada sebelumnya.
“Sekarang kau mengerti, bukan?”
Ignis menatap tulisan itu.
“Mengerti apa?”
“Bahwa tidak semua orang yang menunggumu ingin kau membuka pintu.”
Suara itu berhenti sejenak.
“Sebagian dari mereka hanya ingin memastikan kau tetap berada di sisi yang salah.”
Lampu kristal menyala kembali.
Tulisan merah di buku menghilang, menyisakan halaman kosong.
Namun, di telapak tangan Ignis, garis perak berbentuk sayap kini terlihat jelas.
Dan untuk pertama kalinya sejak kembali ke masa lalu, ia merasa bahwa sesuatu di dunia ini bukan sekadar mengingatnya.
Sesuatu sedang menagih janji yang bahkan tidak pernah ia ingat telah dibuatnya.
Bersambung.
Teaser Bab 44 — Janji Sebelum Kelahiran
Ignis memutuskan menyelidiki masa lalu kakeknya melalui seseorang yang masih hidup. Namun, ketika nama Aldric Pendragon disebut di hadapan seorang mantan pejabat kekaisaran, pria tua itu justru ketakutan dan mengungkapkan satu hal yang mengguncang segalanya: “Aldric bukan orang yang membuat perjanjian itu. Dia hanya orang terakhir yang berusaha membatalkannya.”