Chapter 42 of 70

Bab 42 — Pengkhianat di Antara Segel

1.6k words

Kain berlambang dua sayap itu tergeletak di atas meja. Tidak ada yang berani menyentuhnya. Commander Lysandra Voss berdiri di hadapan lima pengawal yang tersisa. Empat di antara mereka telah bertugas bersamanya selama bertahun-tahun. Yang kelima merupakan anggota baru yang ditugaskan khusus untuk perjalanan ke Ravenport. Pengawal itulah yang menghilang. “Namanya Daren,” ujar Lysandra dingin. “Daren Kells. Dia tercatat sebagai prajurit pengawal kelas dua dari garnisun barat.” “Apakah Anda mengenalnya secara pribadi?” tanya Ignis. “Tidak. Namanya ditambahkan ke dalam daftar pengawal tiga hari sebelum keberangkatan.” “Siapa yang menambahkannya?” Lysandra menatap lembar penugasan yang kini terbuka di tangannya. “Pejabat Kantor Segel Dalam.” Ignis hampir tertawa. Tentu saja. Nama kantor itu muncul di setiap sudut persoalan mereka, tetapi tidak pernah ada seseorang yang benar-benar bisa ditunjuk sebagai pusatnya. “Apakah Anda memeriksa surat pengangkatan Daren?” “Aku memeriksa segelnya. Suratnya sah.” “Seperti surat penangkapan saya?” Lysandra mengangkat mata. “Kau mulai menyebalkan, Tuan Muda.” “Sudah sering kudengar.” Garrick menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menyembunyikan senyum kecil. Lysandra tidak ikut tersenyum. Ia meletakkan surat penangkapan yang berhasil ditemukan di bawah kaki meja—surat itu ternyata tidak dibawa pergi oleh penyerang, melainkan terinjak saat kekacauan berlangsung. “Mulai sekarang, tidak ada yang keluar dari kediaman ini tanpa izin. Aku akan mengirim laporan langsung ke atasanku.” “Dan jika atasan Anda terlibat?” tanya Ignis. “Kalau begitu, aku akan mengetahui seberapa tinggi masalah ini menjalar.” Jawaban itu membuat Ignis sedikit mengubah penilaiannya terhadap wanita tersebut. Lysandra bukan sekutu. Belum. Namun, setidaknya ia masih bersedia mempertanyakan perintah yang diterimanya. --- Satu jam kemudian, seorang kurir tiba dengan kuda berwarna kelabu. Ia membawa tabung pesan bersegel merah tua. Segel itu bukan milik House Aureth, melainkan lambang Kantor Segel Dalam—lingkaran perak dengan dua garis menyilang. Lysandra membukanya sendiri. Semakin jauh matanya membaca, semakin kaku wajahnya. “Apa isinya?” tanya Alistair. Lysandra menyerahkan surat itu kepadanya. Alistair membaca setiap baris sebelum meletakkannya di meja. “Ini bukan lagi penyelidikan biasa.” Ignis berdiri di samping kursi ayahnya, lalu membaca surat tersebut. PERINTAH KHUSUS — KLASIFIKASI TERTUTUP Penyelidikan atas nama Edric Halvern harus dihentikan dengan segera. Seluruh dokumen, saksi, dan benda yang berkaitan dengan perkara tersebut wajib diserahkan kepada Kantor Segel Dalam. Kegagalan mematuhi perintah ini akan dianggap sebagai tindakan menghalangi kewenangan kekaisaran. Setiap pihak yang secara sadar menyembunyikan informasi akan diperiksa atas kemungkinan keterlibatan dalam pengkhianatan terhadap takhta. Di bagian bawah terdapat satu kalimat tambahan, ditulis dengan tinta berbeda. HOUSE PENDRAGON TIDAK DIKECUALIKAN. Ignis membaca kalimat terakhir itu dua kali. Mereka bahkan tidak lagi berusaha menyembunyikan ancamannya. “Apakah perintah ini sah?” tanya Alistair. Lysandra memeriksa segel, nomor registrasi, dan tanda tangan di bawahnya. “Formatnya sah. Segelnya juga asli.” “Namun, pengirimnya?” “Aku belum bisa memastikannya.” “Kalau begitu, kita tidak akan menyerahkan apa pun sebelum identitas pengirim diverifikasi,” putus Alistair. Lysandra mengangguk perlahan. “Aku akan mencatat keputusan itu. Tetapi, Lord Pendragon, Anda harus memahami risikonya. Jika orang di balik perintah ini memiliki kewenangan sungguhan, penolakan Anda bisa digunakan untuk menjerat seluruh keluarga.” “Aku memahami risikonya.” Alistair melipat surat itu. “Namun, aku tidak akan menyerahkan seorang saksi kepada pihak yang bahkan tidak berani menunjukkan wajahnya.” Ignis memandang ayahnya. Dalam kehidupan pertamanya, ia terlalu sibuk mengejar kekuatan hingga tidak pernah benar-benar memahami bagaimana sebuah keluarga bisa terjebak dalam permainan kekuasaan. Baginya dahulu, musuh adalah sesuatu yang dapat dibunuh dengan senjata. Sekarang ia mulai menyadari bahwa satu tanda tangan bisa lebih berbahaya daripada satu pasukan. --- Menjelang siang, Ignis meminta Caelan mengumpulkan semua salinan dokumen yang berkaitan dengan Edric Halvern. Bukan untuk menyelidiki seluruh arsip. Ia mencari satu hal tertentu: perbedaan antara tanda tangan pada surat kematian Edric dan tanda tangan pada otorisasi pemindahan saksi. “Kenapa kau yakin ada perbedaan?” tanya Caelan sambil membentangkan dua dokumen. “Aku tidak yakin. Aku hanya ingin tahu apakah seseorang menyalin tanda tangannya.” Mereka membandingkan bentuk huruf, panjang garis, dan tekanan tinta. Pada surat kematian, tanda tangan Edric tampak tegas, tetapi huruf terakhir pada nama keluarganya memiliki goresan pendek ke atas. Pada otorisasi pemindahan, goresan itu mengarah ke bawah. Perbedaan kecil. Mungkin sekadar perubahan kebiasaan menulis. Namun, Ignis menemukan sesuatu yang lebih menarik di bawah tanda tangan kedua: bekas tekanan pena yang membentuk lekukan samar, seolah dokumen itu pernah ditandatangani di atas lembar lain. Caelan memiringkannya ke arah cahaya. “Ada tulisan di bawahnya.” Mereka mengambil lembar kosong dan menggosokkan arang dengan hati-hati di permukaan belakang dokumen. Sedikit demi sedikit, bekas tekanan muncul. Bukan nama. Bukan tanggal. Hanya sebagian kalimat: ...ATAS PERMINTAAN PENERIMA TERAKHIR. Caelan terdiam. Ignis merasakan telapak tangannya mendingin. “Jadi, Edric tidak mengeluarkan perintah itu sendiri,” kata Caelan. “Seseorang meminta, lalu menggunakan kewenangannya untuk mengesahkan permintaan tersebut.” “Atau seseorang ingin kita menyimpulkan begitu.” Caelan menatapnya. “Kau benar-benar tidak memercayai apa pun.” “Aku memercayai hal yang bisa diuji.” “Bahkan teman sendiri?” Ignis berhenti. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi ia tidak memiliki jawaban yang mudah. “Aku bisa memercayai seseorang,” katanya akhirnya. “Tapi aku tidak akan menyerahkan penilaianku sepenuhnya kepada siapa pun.” Caelan menghela napas. “Jawaban yang menyedihkan untuk anak delapan tahun.” “Pengalaman membuat seseorang cepat dewasa.” “Kalimat itu terdengar seperti ucapan orang tua yang kelelahan.” Ignis kembali memperhatikan dokumen. Kalau saja kau tahu. --- Sore harinya, masalah baru muncul. Seorang pelayan menemukan bahwa kotak tempat kancing perak disimpan telah terbuka. Benda itu masih ada, tetapi bagian bawah kotak memperlihatkan bekas goresan halus. Seseorang telah mencoba membukanya dengan alat tipis. Ignis segera memanggil Garrick dan meminta semua pintu ruang penyimpanan diperiksa. Tidak ada barang lain yang hilang. Anehnya, tidak ada tanda bahwa pelaku masuk melalui jendela. “Orang itu tahu letak kotaknya,” kata Garrick. “Dan tahu kapan kamar ini kosong,” sambung Ignis. “Pelayan?” “Bisa jadi. Penjaga? Bisa juga.” Garrick mengerutkan kening. “Kau tidak mungkin mencurigai seluruh orang di kediaman ini.” “Aku tidak mencurigai mereka semua. Aku hanya tidak akan menganggap siapa pun kebal dari pemeriksaan.” Mereka menemukan serpihan logam kecil di bawah meja. Bentuknya menyerupai ujung alat pembuka kunci, tetapi permukaannya dilapisi bahan hitam yang tidak mudah memantulkan cahaya. Garrick hendak mengambilnya. “Jangan!” seru Ignis. Tangan Garrick berhenti tepat di atas benda tersebut. Ignis berjongkok dengan susah payah. Ia mengambil penjepit kecil dari meja kerja, lalu mengangkat serpihan logam itu ke dalam wadah kaca. Pada saat ujung penjepit menyentuh permukaannya, terdengar bunyi desis. Garis hitam tipis muncul di kaca, merambat beberapa sentimeter, kemudian berhenti. “Racun?” tanya Garrick. “Entahlah. Tapi seseorang tidak ingin meninggalkan sidik jari, dan mungkin juga tidak ingin benda ini diperiksa.” Ignis menutup wadah itu. Mereka baru saja menyimpan bukti yang salah, menerima surat perintah yang meragukan, dan menyaksikan penculikan saksi. Kini seseorang mencoba mengambil kancing perak—benda yang tampaknya menghubungkan pengawal gadungan dengan lambang dua sayap. Bukan kebetulan. Setidaknya, tidak semuanya. --- Malam tiba. Lysandra memutuskan mengirim dua kurir terpisah menuju Aurelis. Kurir pertama membawa laporan resmi mengenai penyusupan dan penculikan. Kurir kedua membawa salinan surat ancaman serta bekas tekanan pena dari otorisasi Edric. Jika salah satu kurir dicegat, yang lain masih dapat mencapai ibu kota. Namun, sebelum keduanya berangkat, seorang pelayan menyerahkan secarik kertas kepada Ignis. “Ini ditemukan di bawah pintu kamar Anda, Tuan Muda.” Kertas itu tidak memiliki segel. Hanya ada tiga baris tulisan. Kau mencari orang yang sudah mati. Kau bertanya kepada orang yang tidak berani menjawab. Sekarang tanyakan kepada ayahmu tentang tahun ketika nama Halvern pertama kali dihapus. Ignis membacanya tanpa bergerak. Lalu ia melipat kertas itu. Tahun ketika nama Halvern pertama kali dihapus. Bukan tahun kematian Edric. Bukan tahun dokumen pemindahan diterbitkan. Tahun ketika namanya dihapus dari catatan. Seseorang mengetahui bahwa Ignis sedang menyelidiki perkara ini. Seseorang juga mengetahui bahwa ada bagian sejarah keluarga Pendragon yang mungkin berhubungan dengannya. Ia menemukan Alistair di ruang kerja. “Ayah, aku ingin menanyakan sesuatu tentang Edric Halvern.” Alistair mengangkat wajah dari dokumen yang sedang dibacanya. “Apa yang ingin kau ketahui?” Ignis meletakkan kertas tanpa segel di atas meja. Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Alistair berubah bukan karena marah atau curiga. Melainkan karena mengenali sesuatu yang seharusnya tidak mungkin diketahui putranya. Ia membaca pesan itu perlahan, kemudian menutup mata sesaat. “Dari mana kau mendapatkan ini?” “Di bawah pintu kamarku.” Alistair berdiri dan mengunci pintu ruang kerja. “Ada hal-hal yang tidak pernah kuceritakan kepadamu, Ignis. Bukan karena aku ingin berbohong, tetapi karena aku sendiri tidak memahami seluruh kebenarannya.” Ignis menatap ayahnya. “Apakah Ayah mengenal Edric Halvern?” Alistair tidak segera menjawab. Di luar, angin malam menggoyangkan ranting pohon di halaman. “Aku pernah melihat namanya,” katanya akhirnya. “Jauh sebelum kau lahir. Namanya muncul dalam satu catatan keluarga yang kemudian diperintahkan untuk dimusnahkan.” “Siapa yang memerintahkan pemusnahannya?” Alistair menatapnya dengan ekspresi yang belum pernah Ignis lihat sebelumnya. “Seorang Pendragon.” Keheningan memenuhi ruangan. “Siapa?” Alistair menarik napas panjang. “Kakekmu.” Ignis membeku. Kakeknya telah meninggal bertahun-tahun sebelum kehidupan pertamanya berakhir. Dalam ingatannya, pria itu adalah bangsawan keras yang menjunjung kehormatan keluarga dan tidak pernah membiarkan urusan luar menggoyahkan keputusan House Pendragon. Namun, jika kakeknya sendiri memerintahkan penghapusan nama Edric Halvern, berarti persoalan ini bukan sekadar permainan pejabat kekaisaran. Keluarganya mungkin telah terlibat sejak awal. Alistair menatap putranya, suaranya merendah. “Dan ada satu hal lagi yang harus kau ketahui. Perintah itu tidak ditulis sebagai pemusnahan arsip.” “Lalu?” “Sebagai pemindahan tanggung jawab.” Ignis merasakan telapak tangannya kembali dingin. Kata-kata yang sama. Frasa yang terus muncul di setiap dokumen, seolah seseorang berusaha mengganti makna sebuah tindakan dengan istilah administratif yang terdengar tidak berbahaya. Di balik kesadarannya, suara dari neraka berbisik: “Sekarang, pewaris kecil... kau akhirnya menemukan darah yang ikut menandatangani kebohongan itu.” Ignis mengepalkan tangannya. Ia belum mengetahui siapa penerima terakhir. Ia belum memahami nama Asterion. Dan ia belum tahu mengapa sebuah pintu tersegel mengenali darahnya. Tetapi satu hal telah berubah. Kebohongan itu tidak hanya diwariskan oleh sejarah. Kebohongan itu pernah dilindungi oleh keluarganya sendiri. Bersambung. Teaser Bab 43 — Dosa Sang Kakek Alistair membuka satu-satunya catatan keluarga yang berhasil diselamatkan dari pemusnahan. Di dalamnya, Ignis menemukan nama Edric Halvern dicoret dengan tinta merah—dan sebuah kalimat yang ditulis oleh kakeknya sendiri: “Jika penerima itu kembali, jangan biarkan darah Pendragon membuka pintunya.”

End of Chapter 42