Chapter 41 of 70

Bab 41 — Pemburu dari Kantor Segel

1.5k words

Pagi belum sepenuhnya tiba ketika tiga ketukan terdengar di pintu aula utama. Kapten Severin Holt berdiri di dekat jendela, masih mengenakan seragam biru tua yang sama seperti malam sebelumnya. Ia tidak tidur. Sejak penculikan Edmon, beberapa kali ia memeriksa kembali dokumen perintah dari Aurelis, seolah berharap tinta pada tanda tangan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih masuk akal. Ketukan keempat terdengar. Seorang pelayan masuk dengan wajah pucat. “Tuan Alistair, ada rombongan dari ibu kota. Mereka membawa surat penangkapan.” Alistair mengangkat kepalanya. “Untuk siapa?” Pelayan itu menelan ludah. “Tuan Muda Ignis.” Garrick yang sedang membalut kembali lukanya langsung berdiri. “Lucu sekali,” gerutunya. “Kemarin mereka ingin memindahkan saksi. Hari ini mereka ingin menangkap anak yang berusaha menyelamatkan saksi itu.” Ignis duduk tenang di kursinya, kedua tangannya terlipat di atas meja. Ia sudah menduga sesuatu seperti ini akan terjadi. Namun, kecepatan mereka tetap mengganggunya. Seseorang telah menyiapkan langkah berikutnya bahkan sebelum penculikan Edmon berhasil atau gagal. “Siapa pemimpin rombongannya?” tanya Ignis. “Seorang wanita bernama Commander Lysandra Voss,” jawab pelayan itu. “Ia mengaku berasal dari Kantor Segel Dalam.” Severin mendadak menoleh. “Kantor Segel Dalam?” Wajahnya mengeras. “Kapten?” tanya Alistair. Severin tidak langsung menjawab. Ia mengambil dokumen dari meja, memeriksa lambang di sudutnya, lalu mengembalikannya. “Jika dia benar-benar dari kantor itu, saya tidak memiliki kewenangan untuk memerintahkannya pergi.” “Dan jika dia hanya menggunakan nama kantor tersebut?” tanya Ignis. “Kalau begitu, kita akan mengetahui seberapa jauh dia bersedia melangkah untuk mempertahankan kebohongannya.” Ignis tersenyum tipis. “Kalau begitu, mari kita sambut.” --- Commander Lysandra Voss memasuki aula dengan enam pengawal. Ia mengenakan zirah hitam-perak yang ringan, mantel panjang berwarna biru gelap, dan sarung pedang tipis di pinggang. Rambutnya diikat tinggi. Tidak ada lambang keluarga bangsawan pada pakaiannya, hanya segel perak berbentuk lingkaran yang dilintasi dua garis. Matanya berhenti pada Ignis. “Anak itu?” “Namaku Ignis Pendragon,” jawab Ignis sebelum orang lain sempat berbicara. Lysandra mengamati mata merahnya selama beberapa detik. “Surat perintah menyatakan bahwa kau mengganggu penyelidikan kekaisaran, menyembunyikan bukti yang berkaitan dengan arsip terlarang, serta menyebabkan kerusakan pada fasilitas yang berada di bawah perlindungan kekaisaran.” Garrick tertawa pendek tanpa humor. “Dia berusia delapan tahun.” “Usia tidak menghapus tanggung jawab.” “Benar,” sahut Ignis. “Namun, tuduhan tetap membutuhkan bukti.” Salah satu pengawal bergerak hendak maju, tetapi Lysandra mengangkat satu tangan, menghentikannya. “Kau akan ikut denganku ke Aurelis. Semua barang yang berkaitan dengan kasus ini juga akan disita.” “Termasuk surat perintah yang ditandatangani orang mati?” tanya Ignis. Keheningan jatuh di aula. Severin menoleh tajam kepada Ignis. Alistair tidak bergerak, tetapi tatapannya menjadi dingin. Lysandra sendiri tidak menunjukkan keterkejutan yang jelas. Hanya ibu jari kanannya yang bergeser sedikit di atas sarung pedang. “Jelaskan maksudmu.” “Edric Halvern dinyatakan meninggal empat belas tahun lalu. Namun, tanda tangannya muncul pada otorisasi pemindahan saksi. Jika kantor Anda sungguh-sungguh menyelidiki kasus ini, seharusnya Anda juga ingin mengetahui siapa yang menggunakan namanya.” “Dokumen tersebut berada di bawah kewenangan khusus.” “Kalimat yang menarik. Apakah kewenangan khusus juga memberikan hak kepada seseorang untuk menculik saksi sebelum pemeriksaan dilakukan?” Tatapan Lysandra menajam. “Kau menuduh kekaisaran melakukan penculikan?” “Aku menuduh seseorang memanfaatkan kekaisaran. Saya belum cukup bodoh untuk menuduh seluruh kekaisaran tanpa bukti.” Untuk pertama kalinya, sudut bibir Lysandra bergerak tipis. Bukan senyum ramah. Lebih menyerupai pengakuan bahwa anak di hadapannya jauh lebih merepotkan daripada yang tertulis dalam laporan. “Bawa dia.” Dua pengawal maju. Garrick segera menghalangi jalan mereka. “Tidak ada yang menyentuh Tuan Muda sebelum Lord Alistair menyetujui prosedurnya.” “Apakah kau berniat melawan perintah kekaisaran?” tanya Lysandra. “Aku berniat memastikan perintah itu sah.” Salah satu pengawal menghunus pedang setengah jengkal. Garrick langsung memindahkan berat tubuhnya ke kaki belakang. Luka di rusuknya belum pulih, tetapi tangan kanannya sudah berada di gagang senjata. Ignis menghela napas. Jadi, begini cara mereka menguji batas. Ia tidak ingin pertarungan pecah di aula. Bukan hanya karena dirinya lemah, melainkan karena jika darah tertumpah, pihak yang mengeluarkan surat penangkapan akan memiliki alasan untuk memperkuat tuduhannya. Maka Ignis melakukan sesuatu yang jauh lebih sederhana. Ia mengeluarkan kancing perak yang ditemukan di kamar Edmon, lalu meletakkannya di atas meja. “Commander Voss, apakah Anda mengenali lambang ini?” Lysandra menatap benda tersebut. Kali ini, perubahan ekspresinya tidak bisa disembunyikan. “Dari mana kau mendapatkannya?” “Kamar saksi yang diculik.” Ia tidak menyentuh kancing itu. Sebaliknya, ia memanggil salah satu pengawalnya dan membisikkan sesuatu. Pengawal itu mengangguk, lalu melangkah mendekati meja. Ignis memperhatikan tangan pria tersebut. Jari telunjuknya bergerak ke arah kancing, tetapi matanya terus mengawasi jendela di sebelah kiri. Bukan kancing yang menjadi perhatiannya. Ada sesuatu di luar. “Garrick!” seru Ignis. Terlambat. Jendela pecah. Sebuah anak panah hitam melesat melewati aula, menghantam meja dan meledakkan kepulan asap kelabu. Para pengawal segera membentuk pertahanan. Lysandra menarik pedangnya dalam satu gerakan, sementara Garrick menendang meja ke samping untuk melindungi Ignis. Di balik asap, tiga sosok bertopeng menerobos masuk. Satu menuju meja tempat kancing perak berada. Satu lagi menerjang ke arah Severin. Yang terakhir langsung berlari menuju Ignis. Target mereka bukan surat penangkapan. Ignis menjatuhkan diri ke lantai ketika pisau pendek menyambar di atas kepalanya. Ujung senjata itu menggores rambut putihnya sebelum menghantam sandaran kursi. Ia terlalu lambat untuk menghindari serangan kedua dengan gerakan biasa. Maka ia menendang kaki kursi. Kursi itu terguling, menghantam tulang kering penyerang. Hanya sesaat—tetapi cukup bagi Ignis untuk berguling ke samping dan meraih mangkuk logam dari meja rendah. Ia melemparkannya ke wajah bertopeng tersebut. Dentang keras terdengar. Penyerang itu mundur setengah langkah, lebih terkejut daripada terluka. Ignis memanfaatkan jeda tersebut untuk menyelinap di balik pilar. Tubuhnya berdenyut kesakitan. Napasnya mulai pendek. Ia tidak memiliki kekuatan untuk bertarung lama, apalagi menghadapi orang dewasa bersenjata. Di sisi lain aula, Garrick menahan dua serangan berturut-turut. Ia memutar pedangnya untuk membelokkan bilah lawan, lalu menghantam bahu penyerang dengan gagang senjata. Namun, luka di rusuknya terbuka kembali, membuat gerakannya melambat. Lysandra bergerak jauh lebih cepat. Pedangnya menyapu rendah, memaksa penyerang mundur, lalu berbalik untuk memotong jalur pelarian sosok yang menuju meja. “Jangan biarkan mereka mengambil benda itu!” teriak Severin. Namun, penyerang kedua mengeluarkan tabung kecil dan membantingnya ke lantai. Asap hitam meledak. Ketika pandangan kembali jelas, satu sosok telah melompat keluar melalui jendela. Sosok lainnya tergeletak setelah dihantam Lysandra, sementara penyerang yang mengejar Ignis sudah menghilang dari balik pilar. Kancing perak itu masih berada di atas meja. Akan tetapi, surat penangkapan Ignis telah lenyap. Lysandra mengumpat pelan. Ia berlari ke jendela, tetapi tidak menemukan siapa pun di halaman. Hanya jejak sepatu basah yang menuju pagar luar. Ignis keluar dari balik pilar sambil memegangi lengannya yang tergores. “Sepertinya ada orang yang sangat ingin memastikan saya ikut ke Aurelis,” katanya. Lysandra menatapnya tajam. “Dan ada orang yang tidak ingin surat itu sampai kembali ke ibu kota.” “Apakah Anda akan tetap menangkap saya?” Commander itu menyarungkan pedangnya. “Tidak hari ini.” Ia menoleh kepada para pengawalnya. “Amankan pintu, periksa semua jalur keluar, dan jangan biarkan siapa pun meninggalkan kediaman tanpa pemeriksaan.” Kemudian ia kembali menatap Ignis. “Aku datang untuk menangkapmu karena laporan menyebutkan bahwa kau berbahaya, tidak kooperatif, dan memiliki akses ke bukti terlarang.” “Laporan yang buruk.” “Sekarang aku mulai memercayainya.” Garrick mendengus. “Bagus. Setidaknya ada satu orang di sini yang jujur.” Lysandra mengabaikannya. “Aku tidak tahu siapa yang menulis laporan itu. Namun, seseorang menginginkanmu dibawa ke Aurelis dalam keadaan hidup, sementara orang lain berusaha menghentikan surat penangkapan itu sampai ke tangan siapa pun yang bisa memeriksanya.” Ignis memandangi kancing perak di meja. “Berarti kita memiliki setidaknya dua pihak.” “Jangan terburu-buru menyimpulkan,” ujar Lysandra. “Satu pihak bisa saja memainkan dua peran.” Kalimat itu membuat Ignis terdiam. Benar. Seseorang bisa mengirim surat penangkapan untuk memaksanya bergerak, lalu mengirim penyerang untuk menciptakan kesan bahwa ada pihak lain yang ingin membungkamnya. Seluruh kejadian ini bisa saja dirancang untuk membuat mereka saling mencurigai. Namun, ada satu hal yang sulit dipalsukan. Ketika Lysandra melihat kancing perak itu, ia benar-benar terkejut. Ignis mengangkat wajah. “Commander Voss, saya punya satu pertanyaan.” “Apa?” “Jika Anda tidak mengenali kancing itu, mengapa pengawal Anda tadi mencoba mengambilnya sebelum serangan dimulai?” Lysandra tidak langsung menjawab. Ia menoleh perlahan kepada pengawal yang sebelumnya bergerak menuju meja. Pria itu masih berdiri di dekat pintu. Lalu ia berlari. Lysandra melesat mengejarnya, tetapi pria tersebut melemparkan sesuatu ke lantai. Kilatan putih menyilaukan memenuhi aula. Ketika cahaya menghilang, pintu samping terbuka dan pengawal itu sudah lenyap. Di lantai, tertinggal sepotong kain kecil dengan lambang dua sayap yang dijahit menggunakan benang hitam. Ignis merasakan telapak tangannya membeku. Jauh di balik kesadarannya, suara yang selama ini menghuni neraka berbisik: “Sekarang, kau mulai melihat perbedaannya.” Ignis menatap lambang itu. “Perbedaan antara apa?” Tidak ada jawaban. Hanya rasa sakit yang menusuk telapak tangannya ketika garis perak berbentuk sayap muncul kembali di bawah kulit. Untuk pertama kalinya, Ignis tidak merasa bahwa mereka sedang mengejar sebuah rahasia lama. Rahasia itu sedang mengatur siapa yang boleh mendekatinya. Dan seseorang di dalam kekaisaran baru saja menunjukkan bahwa mereka bisa menyamar sebagai siapa pun. Bersambung. Teaser Bab 42 — Pengkhianat di Antara Segel Lysandra memulai pemeriksaan terhadap rombongannya sendiri. Namun, sebelum identitas pengawal yang melarikan diri terungkap, sebuah pesan rahasia tiba dari Aurelis: “Hentikan penyelidikan terhadap Edric Halvern. Jika perintah ini dilanggar, seluruh House Pendragon akan dinyatakan terlibat dalam pengkhianatan.”

End of Chapter 41

Chapter 41: Bab 41 — Pemburu dari Kantor Segel - PENDRAGON: The Heir Bound to Hell | Novel AI Studio