Chapter 40 of 70
Bab 40 — Nama yang Dihapus
1.3k words
Hujan turun ketika mereka kembali ke kediaman Pendragon.
Garrick berjalan dengan satu tangan menekan luka di rusuknya. Dua ksatria yang ikut ke Veyr mengalami cedera lebih ringan, sedangkan Caelan terus memegangi bahunya yang membiru akibat hantaman penjaga berzirah hitam.
Ignis sendiri nyaris tidak sanggup menyembunyikan gemetar pada kedua kakinya.
Tubuh delapan tahunnya telah mencapai batas.
Namun, di balik rasa sakit itu, satu nama terus berputar dalam pikirannya.
Asterion.
Siapa pun pemilik nama tersebut, penjaga di balik pintu Veyr mengenalnya. Lebih mengkhawatirkan lagi, penjaga itu berbicara seolah-olah Ignis pernah membuat sebuah pilihan yang masih ditunggu hingga sekarang.
Pilihan yang tidak dapat diingatnya.
“Berhenti memikirkan sesuatu yang bahkan belum kita pahami,” ujar Garrick tanpa menoleh.
Ignis mengangkat wajah. “Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Kau punya ekspresi yang sama seperti ketika hendak menyelinap ke ruang latihan terlarang.”
“Itu tuduhan yang tidak berdasar.”
“Kau melakukannya tiga kali.”
“Dua kali.”
“Yang ketiga kau tertangkap sebelum masuk.”
“Itu berarti tidak dihitung.”
Caelan mengembuskan napas panjang. “Kalian berdua benar-benar memilih waktu yang aneh untuk berdebat.”
Untuk sesaat, suasana terasa lebih ringan.
Lalu mereka melihat kereta kekaisaran di depan gerbang.
Lambang matahari keemasan milik House Aureth terpampang pada pintunya. Empat pengawal berzirah putih berdiri di sisi kereta, sementara seorang pria berseragam biru tua menunggu di bawah payung hitam.
Bukan Marcus Aurelian.
Pria itu memiliki rambut kelabu yang disisir rapi, wajah kurus, dan bekas luka panjang di dagu. Di dadanya terpasang lambang kantor administrasi kekaisaran.
“Sir Garrick Thorne?” tanyanya.
Garrick langsung mengubah sikapnya. “Siapa yang bertanya?”
“Kapten Severin Holt, utusan khusus dari ibu kota Aurelis.”
Ia mengeluarkan tabung dokumen bersegel emas.
“Atas perintah Dewan Keamanan Kekaisaran, kediaman cabang House Pendragon di Ravenport dinyatakan berada di bawah pemeriksaan sementara. Seluruh dokumen yang berkaitan dengan pengiriman arsip lama, Biara Velmora, dan rumah Veyr harus diserahkan kepada pihak kekaisaran.”
Tatapan Severin beralih kepada Ignis.
“Seluruh saksi yang masih hidup juga harus dipindahkan ke Aurelis untuk pemeriksaan.”
Ignis merasakan hawa dingin menjalar di telapak tangannya.
Seluruh saksi.
Termasuk Edmon.
“Dan jika kami menolak?” tanya Garrick.
“Penolakan akan dianggap sebagai penghalangan penyelidikan kekaisaran.”
Jawaban itu disampaikan tanpa ancaman berlebihan. Justru itulah yang membuatnya terdengar serius.
Alistair Pendragon segera dipanggil ke aula utama. Setelah membaca dokumen tersebut, kepala keluarga itu tidak langsung memberikan jawaban.
“Perintah ini memiliki segel resmi,” katanya. “Namun, kewenangan untuk memindahkan saksi dari wilayah keluarga bangsawan biasanya membutuhkan persetujuan tambahan.”
“Persetujuan tambahan telah diberikan,” jawab Severin. “Ada keadaan khusus yang tidak dapat saya jelaskan di sini.”
“Kalau begitu, tunjukkan lampirannya.”
Severin menyerahkan satu lembar tambahan.
Alistair membacanya. Ekspresinya tidak berubah, tetapi jari-jarinya berhenti pada bagian bawah halaman.
Ignis menyadarinya.
“Ayah,” katanya pelan, “ada apa?”
Alistair tidak langsung menjawab. Ia memutar dokumen agar Ignis dapat melihat bagian yang ditunjuknya.
Di bawah kalimat Otorisasi Pemindahan Saksi dan Penyegelan Wilayah, tercetak sebuah nama.
EDRIC HALVERN.
Di sampingnya terdapat tanda tangan dengan tinta hitam serta cap melingkar yang sebagian rusak.
Aula mendadak terasa sunyi.
Caelan mendekat, lalu memucat.
“Edric Halvern dinyatakan meninggal empat belas tahun lalu.”
“Benar,” jawab Severin. “Namun, dokumen ini diterbitkan melalui kewenangan khusus yang terdaftar dalam sistem kekaisaran.”
“Orang mati tidak bisa menerbitkan perintah,” ujar Garrick.
“Karena itulah saya diperintahkan membawa dokumen aslinya, bukan salinannya.”
Ignis menatap tanda tangan tersebut.
Bentuk hurufnya tidak sepenuhnya asing.
Ia pernah melihat pola serupa dalam catatan pengiriman lama. Bukan hanya nama itu yang muncul berulang kali, melainkan juga kalimat tentang penerima yang tidak boleh dinyatakan meninggal sebelum serah terima selesai.
Dan sekarang, orang yang seharusnya sudah mati memiliki kewenangan untuk memindahkan saksi.
“Kapten Holt,” kata Ignis, suaranya tenang, “siapa yang menyerahkan perintah ini kepada Anda?”
Severin memandangnya beberapa saat, seolah menimbang apakah pertanyaan itu pantas dijawab oleh seorang anak.
“Seorang pejabat dari Kantor Segel Dalam.”
“Namanya?”
“Saya tidak pernah bertemu langsung dengannya. Perintah diberikan melalui perantara berseragam resmi.”
“Apakah Anda memeriksa identitas pejabat yang menandatanganinya?”
Rahang Severin mengeras. “Saya memeriksa keaslian segel dan nomor kewenangannya.”
“Bukan identitasnya.”
“Cukup, Tuan Muda,” sela Garrick.
Namun Ignis sudah melihat sesuatu.
Severin bukan orang yang datang untuk berbohong dengan santai. Ada kemarahan di matanya, tetapi kemarahan itu bukan ditujukan kepada keluarga Pendragon.
Ia sendiri tidak menyukai keadaan ini.
“Kapten,” ujar Ignis, “apakah Anda membawa daftar nama saksi yang harus dipindahkan?”
“Ya.”
“Boleh kulihat?”
“Tidak.”
Jawaban itu cepat dan tegas.
Lalu terdengar suara langkah tergesa dari koridor.
Seorang pelayan muncul, wajahnya pucat.
“Tuan Alistair! Ada masalah di ruang perawatan!”
Semua orang bergerak.
Edmon Halvern—bukan, Edmon yang mereka selamatkan dari Veyr—terbaring di ranjang sejak dibawa kembali. Dua penjaga seharusnya mengawasi kamarnya. Ketika mereka tiba, salah satu penjaga tergeletak pingsan di lantai, sementara yang lain berdiri dengan pedang terhunus di depan jendela terbuka.
Ranjang Edmon kosong.
Darah menetes dari ambang jendela menuju atap rendah di bawahnya.
“Kejar!” seru Garrick.
Dua ksatria melompat keluar. Garrick menyusul, meski luka di rusuknya membuat langkahnya tidak stabil.
Ignis berlari menuju jendela, tetapi Alistair menahan bahunya.
“Kau tetap di sini.”
“Ada yang membawa Edmon keluar.”
“Dan kau tidak akan membantu dengan memaksakan tubuhmu.”
Ignis menahan kekesalannya. Ia tahu ayahnya benar. Kakinya masih gemetar, dan satu gerakan ceroboh dapat membuatnya jatuh sebelum mencapai halaman.
Ia memeriksa kamar.
Jendela terbuka. Tirai robek. Di lantai, dekat kaki ranjang, tergeletak sebuah benda kecil berwarna perak.
Sebuah kancing seragam.
Ignis mengambilnya dengan saputangan.
Bentuknya sama dengan kancing yang mereka temukan setelah serangan di gudang peralatan. Namun, yang satu ini memiliki goresan tipis di tepinya—tiga garis yang membentuk sudut menyerupai sayap.
“Caelan,” panggilnya.
Caelan mendekat.
Ignis menunjukkan kancing itu.
“Lihat garisnya.”
Caelan menyipitkan mata. “Lambang dua sayap?”
“Bukan. Lihat arah goresannya.”
Ketiga garis itu mengarah ke satu sisi kancing. Seperti tanda yang sengaja dibuat agar pemakainya dapat dikenali oleh seseorang yang mengetahui letaknya.
Seseorang dari dalam kekaisaran.
Tiba-tiba, teriakan terdengar dari halaman.
Garrick kembali melalui pintu samping bersama salah satu ksatria. Wajahnya gelap.
“Mereka lolos.”
“Berapa orang?” tanya Alistair.
“Dua. Satu membawa Edmon. Yang lain menutupi pelarian mereka dengan bom asap hitam.”
Ignis mengepalkan tangan.
Mereka tidak sekadar menculik saksi. Mereka mengambil seseorang yang mengetahui identitas penerima terakhir, tepat ketika kekaisaran mengeluarkan perintah untuk memindahkan seluruh saksi.
Seolah-olah seseorang telah mengetahui isi perintah itu sebelum dokumennya tiba.
Kapten Severin berdiri di ambang pintu. Ketika melihat kancing perak di tangan Ignis, ekspresinya berubah.
“Kau menemukan itu di mana?”
“Di kamar saksi yang baru saja diculik.”
Severin mengambil satu langkah mendekat, lalu berhenti.
“Jangan sentuh benda itu lagi.”
“Kapten mengenalinya?”
Severin tidak menjawab.
Namun tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Aku pernah melihat lambang tersebut,” katanya akhirnya. “Pada seragam seorang pejabat yang seharusnya tidak lagi bertugas.”
“Siapa namanya?”
Severin menatap Ignis dengan wajah tegang.
“Aku tidak tahu nama aslinya. Dalam daftar penugasan, dia tercatat sebagai petugas tanpa identitas tetap. Tapi ada satu hal yang kuingat.”
“Apa?”
“Setiap kali dia datang, dokumen yang disentuhnya selalu memperoleh kewenangan khusus.”
Ignis terdiam.
Tanda tangan Edric Halvern.
Perintah pemindahan saksi.
Kancing perak.
Seseorang telah membangun jalur kekuasaan yang bahkan pejabat kekaisaran tidak sepenuhnya pahami.
Dan orang itu bergerak lebih cepat daripada mereka.
Malam itu, setelah Kapten Severin menunda pelaksanaan perintah hingga keaslian otorisasi dapat diperiksa, Ignis kembali ke kamarnya. Ia menyembunyikan kancing perak di dalam kotak kecil, lalu menatap telapak tangannya.
Garis perak berbentuk sayap muncul samar di bawah kulit.
Suara dari balik neraka terdengar begitu lirih hingga hampir menyerupai napas.
“Nama yang dihapus tidak selalu ingin ditemukan.”
Ignis menahan napas.
“Lalu bagaimana aku tahu apakah aku sedang mendekati kebenaran?”
Keheningan menyelimutinya cukup lama.
Kemudian suara itu menjawab.
“Ketika orang-orang mulai membunuh demi menghentikanmu, kau mungkin sudah berada di jalan yang benar.”
Garis perak itu menghilang.
Di atas meja, dokumen salinan perintah kekaisaran masih terbuka. Ignis kembali memikirkan tanda tangan Edric Halvern—seseorang yang telah dinyatakan mati empat belas tahun lalu, tetapi masih mampu menggerakkan kekuasaan kekaisaran.
Ia belum menemukan Asterion.
Ia juga belum menemukan penerima terakhir.
Namun kini ia mengetahui satu hal.
Mereka tidak hanya menghapus sebuah nama dari sejarah.
Mereka masih melindungi nama itu.
Dan seseorang baru saja menculik satu-satunya saksi yang mungkin dapat menjelaskan alasannya.
Bersambung.
Teaser Bab 41 — Pemburu dari Kantor Segel
Ignis menemukan bahwa dokumen kekaisaran yang dibawa Severin memiliki nomor otorisasi yang sama dengan berkas kematian Edric Halvern. Sebelum mereka sempat menyelidikinya, seorang pemburu berseragam kekaisaran tiba di Ravenport—membawa surat penangkapan untuk Ignis Pendragon.