Chapter 39 of 70
Bab 39 — Pintu yang Mengenali Darah
1.8k words
“...mengapa kau datang tanpa membawa ingatanmu?”
Suara dari balik pintu batu menggema di seluruh ruangan.
Tidak ada seorang pun yang menjawab.
Garrick berdiri di depan Ignis dengan pedang terangkat. Dua kesatria di belakang mereka mengambil posisi bertahan, sementara Caelan perlahan mundur dari pintu.
Ignis sendiri menatap sembilan garis yang berpendar pada permukaan batu.
Dia ingin bertanya banyak hal.
Siapa yang berada di balik pintu itu? Ingatan apa yang dimaksudnya? Dan mengapa suara tersebut terdengar sama dengan suara yang menyambutnya dalam alam kutukan?
Namun, satu pertanyaan lebih penting daripada semuanya.
“Siapa namamu?” tanya Ignis.
Hening.
Kemudian terdengar suara gesekan dari balik pintu, seperti seseorang menyeret benda berat melintasi lantai.
“Nama...”
Suara itu melemah.
“Sudah lama sekali sejak seseorang menanyakan namaku.”
Garrick melirik Ignis, memberi isyarat agar dia tidak melanjutkan percakapan sembarangan.
Ignis mengabaikannya, tetapi tetap menjaga jarak.
“Kalau kau ingin aku membawa ingatan yang kau maksud, aku perlu tahu siapa dirimu.”
“Ingatanmu bukan milikku untuk diberikan.”
Jawaban itu membuat Ignis mengernyit.
“Lalu kenapa kau menungguku?”
Sembilan garis pada pintu menyala serentak.
Telapak tangan kiri Ignis mendadak terasa seperti dicengkeram bara panas. Dia terhuyung, nyaris jatuh berlutut.
Garrick segera menangkap bahunya.
“Ignis!”
“Jangan sentuh pintunya!” seru Caelan.
Namun, Ignis tidak sedang mencoba menyentuh pintu. Dia bahkan belum menggerakkan tangannya.
Garis perak di telapak tangannya mulai memanjang, membentuk lengkungan yang menyerupai sayap. Rasa sakit menjalar hingga siku, diikuti sensasi asing yang merambat ke dalam kepalanya.
Seketika, ruangan di hadapannya menghilang.
---
Dia berdiri di tempat yang sama.
Namun, lorong batu itu masih utuh, lampunya menyala, dan pintu di hadapannya belum tertutup debu.
Seorang pria mengenakan mantel biru tua berdiri membelakanginya.
Di hadapan pria itu terdapat sembilan orang berjubah gelap. Mereka tidak mengenakan lambang keluarga atau kerajaan mana pun. Wajah mereka tersembunyi di balik topeng polos.
Salah seorang dari mereka berlutut.
“Penerimaan tidak dapat diselesaikan selama pewaris belum kembali.”
Pria bermantel biru menjawab dengan tenang.
“Kalau begitu, pertahankan tempat ini.”
“Berapa lama?”
Pria itu menoleh sedikit.
Ignis tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas. Setiap kali mencoba memusatkan pandangan, wajah tersebut tampak kabur, seolah-olah ingatannya menolak menyimpan detailnya.
“Sampai darah yang sama kembali membawa pilihan yang berbeda.”
Bayangan itu bergetar.
Seseorang berteriak dari balik pintu.
“Jangan biarkan dia membuka segel!”
Pria bermantel biru langsung berbalik.
Untuk sepersekian detik, Ignis melihat sesuatu di balik topeng bayangan tersebut.
Mata merah.
Pupil vertikal.
Persis seperti miliknya.
Lalu semuanya pecah menjadi kegelapan.
---
Ignis kembali tersadar ketika Garrick menepuk pipinya.
“Dengar aku, Nak! Tetap sadar!”
Ignis menarik napas tajam.
Kepalanya berdenyut. Kakinya terasa lemas, dan rasa panas di telapak tangannya belum menghilang.
“Aku tidak apa-apa.”
“Kalau kau mengatakan itu sekali lagi, aku akan mengikatmu ke punggung kuda dan membawamu pulang.”
“Kalau begitu, aku akan berusaha mencari jawaban lain.”
Garrick menatapnya dengan kesal, tetapi kelegaan di wajahnya tidak bisa disembunyikan.
Caelan berjongkok di dekat mereka.
“Apa yang kau lihat?”
Ignis terdiam beberapa saat sebelum menjawab.
“Seorang pria bermantel biru. Dia berbicara dengan sekelompok orang yang mengenakan topeng.”
“Apakah salah satunya Edric Halvern?”
“Aku tidak tahu.”
“Apakah kau mengenali wajah pria itu?”
Ignis menggeleng.
Dia tidak ingin mengatakan bahwa sesaat tadi dia melihat mata yang sama dengan miliknya.
Bukan karena ingin merahasiakan semuanya dari Caelan, melainkan karena dia belum yakin apakah penglihatan itu benar-benar menunjukkan sesuatu yang pernah terjadi.
Jika dia salah menafsirkannya, mereka bisa mengambil keputusan berbahaya berdasarkan gambaran yang bahkan tidak dapat dia buktikan.
“Yang jelas, mereka sedang menunggu seseorang kembali,” lanjut Ignis. “Dan mereka menganggap kembalinya orang itu sebagai syarat untuk menyelesaikan penerimaan.”
Caelan berdiri perlahan.
“Kalau begitu, kita harus mencari tahu apa yang dimaksud dengan penerimaan.”
Belum selesai dia berbicara, pintu batu kembali bergetar.
Kali ini, bukan suara ketukan yang terdengar.
Melainkan suara retakan.
Sebuah garis hitam muncul di bagian tengah pintu, memanjang dari atas ke bawah. Batu di sekelilingnya mulai mengelupas, jatuh ke lantai dalam serpihan kecil.
Garrick segera menarik Ignis menjauh.
“Semua mundur!”
Mereka bergerak menuju tangga.
Namun, sebelum mencapai ujung ruangan, terdengar suara benturan keras dari belakang.
Pintu itu terbuka beberapa sentimeter.
Dari celahnya menyembur udara dingin yang membawa bau tanah basah dan logam terbakar.
Caelan terbatuk.
Salah seorang kesatria kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.
Ignis merasakan sesuatu menariknya ke arah pintu.
Bukan tarikan fisik.
Sensasinya jauh lebih dalam, seolah-olah ada bagian dari dirinya yang mengenali tempat di balik pintu tersebut dan ingin mendekat.
Dia menggigit bibir sampai merasakan darah.
Rasa sakit itu cukup untuk memecah konsentrasinya.
“Garrick! Jangan biarkan pintunya terbuka lebih lebar!”
Garrick dan dua kesatria segera mendorong sebuah meja batu yang berada di dekat dinding, menjadikannya penghalang sementara. Mereka tidak mencoba menutup pintu secara langsung.
Keputusan itu tepat.
Dari celah yang semakin lebar, sebuah lengan hitam menyembul.
Jarinya panjang, kurus, dan berakhir pada kuku yang menyerupai pecahan kaca.
Lengan tersebut meraba udara, lalu mencengkeram sisi pintu.
Batu berderak.
Garrick mengangkat pedang.
“Bersiap!”
Sosok itu menarik tubuhnya keluar.
Ia berbentuk menyerupai manusia, tetapi tubuhnya diselubungi lapisan hitam yang tampak seperti kerak obsidian. Tidak ada wajah yang dapat dikenali. Hanya sebuah cekungan gelap di tempat kepala seharusnya berada, dengan dua titik cahaya pucat jauh di dalamnya.
Di dadanya terdapat lambang dua sayap yang terbelah.
Makhluk itu menoleh ke arah Ignis.
“Darah... kembali.”
Lalu ia menyerang.
---
Makhluk tersebut bergerak jauh lebih cepat daripada penampilannya.
Satu ayunan lengannya menghantam meja batu, menghancurkan sudutnya hingga serpihan beterbangan. Garrick menangkis serangan berikutnya, tetapi benturannya membuat pedangnya bergetar hebat.
“Jangan biarkan dia mendekati anak itu!” teriaknya.
Dua kesatria menyerang dari sisi berlawanan.
Tombak pertama menembus bahu makhluk itu, tetapi hanya menghasilkan retakan dangkal pada lapisan hitamnya. Kesatria kedua mengayunkan pedang ke lututnya.
Makhluk itu berputar.
Siku kirinya menghantam dada sang kesatria, melemparkannya ke dinding.
“Darius!” teriak Caelan.
Kesatria yang terluka itu masih sadar, tetapi kesulitan bernapas.
Garrick memanfaatkan perhatian makhluk tersebut untuk menebas bagian belakang lututnya.
Kali ini, bilahnya berhasil memecahkan sebagian lapisan hitam.
Makhluk itu mengeluarkan suara mengerikan dan berbalik menyerang.
Garrick menghindar, tetapi cakar makhluk itu tetap menggores bahunya. Darah segera merembes melalui pakaian.
Ignis menggertakkan gigi.
Mereka tidak bisa terus bertukar serangan.
Makhluk itu memiliki daya tahan dan kekuatan yang jauh melampaui manusia biasa. Bahkan Garrick tidak bisa menjamin akan bertahan lama jika pertarungan berlanjut.
Ignis mengamati lantai.
Di sekitar pintu terdapat sembilan cekungan kecil, masing-masing terhubung oleh garis tipis yang terukir pada batu. Beberapa garis masih menyala, sementara yang lain telah padam.
Sembilan jalur.
Sembilan titik.
Sebuah mekanisme.
Mungkin bukan mekanisme untuk membuka pintu, melainkan untuk mempertahankan segel.
“Caelan!” teriak Ignis. “Periksa garis di lantai! Cari titik yang masih menyala!”
Caelan segera bergerak, menjaga jarak dari pertarungan.
Makhluk itu mendengar suara Ignis.
Kepalanya berputar.
“Jangan... ganggu... penerimaan.”
Ia meninggalkan Garrick dan menerjang ke arah Ignis.
Tubuh Ignis langsung bereaksi.
Dia melompat ke samping, tetapi gerakannya terlalu lambat. Lengan makhluk itu menyambar bahunya dan melemparkannya ke lantai.
Rasa sakit meledak di rusuknya.
Ignis nyaris kehilangan kesadaran.
Makhluk itu mengangkat tangan untuk menyerang lagi.
Garrick menerjang dari belakang, menusukkan pedangnya ke retakan pada lutut makhluk tersebut. Bilah itu menembus lebih dalam, membuatnya terhuyung.
“Bangun, Ignis!”
Ignis berusaha berdiri.
Kakinya gemetar.
Tubuh ini tidak mampu menahan pertarungan semacam itu. Dia mengetahui banyak cara untuk mengalahkan lawan, tetapi pengetahuan tidak dapat menggantikan kekuatan yang tidak dimilikinya.
Maka dia harus mengubah medan pertarungan.
Ignis meraih pecahan batu di lantai dan melemparkannya ke salah satu garis bercahaya.
Batu itu menghantam ukiran.
Cahaya pada garis tersebut padam.
Makhluk itu mendadak tersentak.
Gerakannya melambat selama sepersekian detik, cukup bagi Garrick untuk mundur sebelum serangan balasan menghantamnya.
Ignis menatap garis yang padam itu.
Tebakannya benar.
Garis-garis tersebut berhubungan dengan sesuatu yang mempertahankan tubuh makhluk itu.
“Caelan! Padamkan jalurnya satu per satu! Jangan sentuh lingkaran di tengah!”
Caelan menemukan sebuah pecahan batu panjang dan menggunakannya untuk menghantam garis terdekat. Cahaya kedua padam.
Makhluk itu mengeluarkan raungan.
Lapisan hitam di lengannya retak, memperlihatkan sesuatu yang menyerupai tulang pucat di bawahnya.
Namun, sebelum Caelan mencapai garis ketiga, makhluk itu menyadari apa yang mereka lakukan.
Ia menghantam lantai.
Gelombang energi hitam menyapu ruangan, membuat semua orang terlempar atau kehilangan keseimbangan. Lampu-lampu padam. Debu dan serpihan batu memenuhi udara.
Ignis menabrak sisi tangga.
Pandangan matanya berkunang-kunang.
Ketika debu mulai mengendap, makhluk itu telah berdiri di antara mereka dan pintu.
Empat garis masih menyala.
Tiga telah padam.
Dan kini makhluk itu tidak lagi memperhatikan Garrick atau para kesatria.
Tatapannya tertuju sepenuhnya kepada Ignis.
“Pewaris Pendragon.”
Suara itu terdengar lebih jelas daripada sebelumnya.
“Kau telah kembali.”
Ignis memaksa dirinya berdiri.
“Kalau kau mengenalku, katakan siapa dirimu.”
Makhluk itu mengangkat kepalanya.
“Aku adalah penjaga yang ditinggalkan untuk memastikan pintu ini tidak dibuka oleh orang yang salah.”
“Lalu kenapa kau menyerang kami?”
“Karena kau datang tanpa ingatanmu.”
Ignis menahan rasa sakit di rusuknya.
“Kalau begitu, berhenti bicara dalam teka-teki dan jelaskan apa yang kau jaga!”
Untuk sesaat, makhluk itu tidak bergerak.
Kemudian cahaya pucat di dalam kepalanya berkedip.
“Bukan apa.”
Jeda.
“Siapa.”
Udara di ruangan terasa semakin dingin.
Dari balik pintu terdengar bunyi rantai yang bergerak.
Makhluk itu menoleh ke arah pintu, seolah-olah mendengar sesuatu yang tidak dapat didengar orang lain.
Lalu ia kembali menatap Ignis.
“Dan jika kau membuka pintu ini sebelum mengingat sumpahmu…”
Empat garis yang tersisa menyala terang.
“…orang yang kau cari mungkin bukan orang yang keluar.”
Pintu batu mulai menutup dengan sendirinya.
Makhluk itu mundur menuju celah, tetapi sebelum tubuhnya menghilang, ia mengulurkan tangan ke arah Ignis.
“Carilah nama yang telah dihapus.”
Ignis berusaha mendekat, tetapi Garrick menahannya.
“Jangan!”
Celah pintu menyempit.
Pada saat terakhir, makhluk itu mengucapkan satu nama.
“Asterion.”
Pintu tertutup.
Sembilan garis padam serentak.
Dan ruangan kembali sunyi.
---
Mereka berhasil keluar dari ruang bawah tanah dengan membawa dua kesatria yang terluka. Garrick membutuhkan perban untuk bahunya, sementara rusuk Ignis kembali terasa sakit setiap kali ia menarik napas.
Tidak seorang pun berani menyebut peristiwa itu sebagai kemenangan.
Mereka tidak menemukan penerima terakhir.
Mereka tidak mengetahui apa yang berada di balik pintu.
Dan mereka tidak tahu apakah makhluk yang menyerang mereka benar-benar ingin melindungi segel atau justru mencegah sesuatu yang lebih buruk keluar.
Namun, mereka membawa pulang satu hal.
Sebuah nama.
Asterion.
Caelan menuliskannya pada halaman kosong di buku catatan, lalu menggarisbawahinya.
“Aku belum pernah menemukan nama ini dalam dokumen yang kita periksa.”
“Jangan langsung mencari semua hal yang berhubungan dengannya,” kata Ignis. “Kita perlu memastikan konteksnya terlebih dahulu.”
Caelan mengangguk.
“Lalu kita mulai dari mana?”
Ignis menatap pintu masuk bangunan yang kini tertutup rantai dan dijaga ketat.
“Dari orang yang pertama kali menghapus nama itu.”
Dia berhenti sejenak.
“Karena kalau nama tersebut memang sengaja dihapus, berarti seseorang takut kita menemukannya.”
Jauh di bawah bangunan, di balik pintu batu yang kembali sunyi, sembilan garis perlahan menyala sekali lagi.
Dan dari sisi lain pintu terdengar sebuah suara yang berbeda dari suara penjaga tadi.
Suara yang sangat pelan.
“Dia telah mendengar namanya.”
Sesuatu bergerak dalam kegelapan.
“Sekarang, kita tidak punya banyak waktu.”
Bersambung.
Teaser Bab 40 — Nama yang Dihapus
Nama Asterion menjadi petunjuk baru bagi Ignis. Namun, pencarian mereka terhambat ketika seorang utusan kekaisaran tiba membawa perintah agar Rumah Peristirahatan Veyr segera ditutup dan seluruh saksi dipindahkan ke Aurelis. Di antara dokumen perintah itu, Ignis menemukan sebuah tanda tangan yang seharusnya mustahil muncul: nama seorang pejabat yang telah dinyatakan meninggal empat belas tahun lalu.