Chapter 3 of 70

Bab 3 — Suara dari Balik Neraka

1.9k words

Rasa sakit adalah hal pertama yang menyambut Ignis Pendragon. Bukan rasa sakit akibat luka fisik, melainkan sensasi mengerikan seolah setiap bagian jiwanya sedang ditarik ke arah yang berlawanan. Ia tidak dapat membuka mata. Tidak dapat menggerakkan tubuh. Bahkan ia tidak yakin masih memiliki tubuh. Namun, kesadarannya tetap utuh. Dan itu cukup untuk membuatnya mengerti satu hal. Ia kembali ke tempat ini. Tempat yang selama tiga puluh lima tahun telah menjadi mimpi buruknya. Tempat yang tidak pernah berhasil ia pahami, bahkan setelah menghabiskan satu dekade menjelajahi The Worldscar. Ignis memaksa dirinya berkonsentrasi. Jangan melawan rasa sakitnya. Amati. Dalam kehidupan pertama, ia menghabiskan bertahun-tahun mencoba menghancurkan belenggu yang menarik jiwanya ke tempat ini. Ia menggunakan sihir, rune, ramuan, bahkan teknik pengendalian jiwa yang diperoleh dengan harga mahal. Tidak satu pun berhasil. Kali ini, ia memilih pendekatan berbeda. Ia mengamati energi yang menyelimutinya. Energi itu tidak mengalir seperti mana biasa. Tidak pula bergerak seperti aura naga yang pernah ia kendalikan. Polanya berputar dalam lingkaran-lingkaran bertumpuk, seolah mengikuti hukum yang tidak dikenal dunia manusia. Satu lapisan energi mengikat kesadarannya. Lapisan kedua menariknya menjauh dari tubuh fisiknya. Lapisan ketiga— Ignis mendadak kehilangan konsentrasi. Sebuah gelombang rasa sakit menghantamnya. Kesadarannya seakan dihancurkan, kemudian disusun kembali dengan cara yang salah. Ia menggertakkan gigi, meskipun tidak tahu apakah ia masih memiliki gigi di tempat itu. Jadi, kau tidak suka aku mengamatimu. Ia tidak tahu apakah kutukan itu memiliki kehendak sendiri. Namun, reaksi tadi terlalu tepat untuk diabaikan. Lalu suara yang sama terdengar. Jadi, kau kembali. Ignis berusaha mencari sumbernya. Tidak ada arah. Suara itu terdengar dari segala sisi sekaligus, tetapi terasa seolah berbicara tepat di belakang pikirannya. Kali ini, berapa lama kau akan bertahan, pewaris kecil? Ignis menahan amarahnya. “Siapa kau?” Tidak ada jawaban. “Apakah kau yang mengutukku?” Hening. “Apakah kau berhubungan dengan leluhurku?” Kegelapan bergetar. Untuk sesaat, Ignis merasakan perubahan pada energi yang mengikatnya. Perubahan itu sangat kecil, nyaris tak terdeteksi, tetapi cukup untuk menarik perhatiannya. Ia mengulangi pertanyaannya. “Apa yang terjadi pada Sang Pembantai Naga?” Seketika, seluruh kegelapan di sekelilingnya membeku. Rasa sakit yang selama ini menekannya menghilang selama satu detik. Satu detik yang sangat singkat. Namun, bagi Ignis, satu detik itu lebih berharga daripada seribu jawaban yang tidak memiliki bukti. Suara tersebut kembali terdengar. Jangan mencari sesuatu yang belum sanggup kau tanggung. Ignis merasakan hawa dingin menjalar di dalam kesadarannya. Bukan karena ancaman itu. Melainkan karena suara tersebut tidak terdengar marah. Suara itu terdengar... memperingatkannya. Sebelum Ignis sempat bertanya lagi, kegelapan di bawahnya terbelah. Ia jatuh. --- Ignis menghantam tanah. Atau setidaknya, sesuatu yang menyerupai tanah. Ia terlempar beberapa meter sebelum akhirnya berhenti di atas hamparan batu hitam. Napasnya tersengal, dan rasa sakit menjalar dari punggung hingga leher. Ia segera bangkit. Untuk pertama kalinya, ia dapat melihat tempat yang selama ini hanya menjadi bagian dari mimpi buruknya. Langit berwarna merah gelap membentang tanpa matahari. Awan hitam bergerak perlahan di antara pegunungan bergerigi. Di kejauhan, menara-menara patah berdiri di tengah dataran tandus, sementara sungai berwarna merah kehitaman mengalir melewati reruntuhan bangunan yang tidak menyerupai arsitektur manusia. Tidak ada pepohonan. Tidak ada rumput. Tidak ada tanda kehidupan yang biasa ia kenali. Hanya hamparan tanah kelabu, batu-batu tajam, dan abu yang berputar di udara. Ignis berdiri diam. Pemandangan itu berbeda dari yang ia ingat. Dalam kehidupan pertamanya, ia tidak pernah benar-benar melihat lingkungan tempat ini dengan jelas. Ia biasanya terjebak dalam kegelapan, rasa sakit, atau pertarungan melawan sesuatu yang tidak mampu ia identifikasi. Sekarang, ia dapat melihat semuanya. Ia menunduk dan memeriksa tubuhnya. Tubuhnya tampak seperti bayangan anak kecil, tetapi jauh lebih nyata daripada yang seharusnya ada dalam mimpi. Ia mengenakan pakaian hitam sederhana. Kedua tangannya utuh, tanpa luka, tetapi ketika ia mencoba mengalirkan mana, tidak ada respons. Bukan karena tubuhnya kehabisan energi. Melainkan karena hukum tempat ini berbeda. Ignis berjongkok dan menyentuh tanah. Permukaan batu terasa dingin. Terlalu dingin untuk sekadar menjadi bagian dari mimpi. “Kalau ini hanya ilusi, maka ilusi ini jauh lebih rumit daripada yang kubayangkan.” Ia mengusap jemarinya. Serbuk hitam menempel di kulitnya. Ignis mendekatkannya ke mata, lalu memperhatikan butiran kecil tersebut. Abu. Namun, ketika ia mencoba merasakan energinya, ia mendapati sesuatu yang aneh. Abu itu mengandung sisa mana yang telah rusak, seolah pernah menjadi bagian dari makhluk hidup sebelum kehilangan seluruh sifat aslinya. Ia mengingat beberapa fenomena serupa yang pernah ditemuinya di kedalaman The Worldscar. Tetapi tidak pernah dalam jumlah sebanyak ini. Apakah tempat ini terhubung dengan jurang itu? Ia belum dapat memastikan. Tiba-tiba, suara gesekan terdengar dari balik sebuah batu besar. Ignis langsung berdiri. Sesuatu bergerak di antara reruntuhan. Makhluk itu menyerupai anjing kurus dengan empat kaki yang terlalu panjang. Kulitnya pucat keabu-abuan, sementara tulang rusuknya terlihat menonjol di bawah permukaan tubuh. Kepalanya tidak memiliki mata, hanya celah vertikal yang terbuka dari dahi hingga rahang. Makhluk itu mengendus udara. Lalu kepalanya berputar ke arah Ignis. Sebuah suara melengking keluar dari tenggorokannya. Ignis mundur setengah langkah. Ia tidak memiliki senjata. Tubuhnya hanya tubuh seorang anak delapan tahun, dan mana di sekitarnya tidak merespons seperti yang ia harapkan. Namun, ia tidak panik. Ia memperhatikan cara makhluk itu berdiri, posisi kakinya, dan bagaimana kepalanya bergerak setiap kali menangkap getaran. Tidak ada mata. Kemungkinan besar mengandalkan suara, getaran, atau energi. Makhluk itu menerjang. Ignis bergeser ke samping. Gerakannya terlambat. Cakar makhluk itu menggores lengan kirinya, melemparkannya ke tanah. Rasa sakit meledak di sepanjang lengannya. “Ghh—!” Ia berguling untuk menghindari serangan kedua. Cakar makhluk itu menghantam batu, memecahkan permukaannya. Ignis segera menyadari kesalahannya. Ia masih berpikir seperti petarung dewasa. Ia memperkirakan jarak dan kecepatan berdasarkan kemampuan tubuh yang telah ia miliki selama puluhan tahun. Namun, tubuh kecil ini tidak dapat mengikuti perhitungan tersebut. Ia terlalu lambat. Terlalu lemah. Dan jika terus bertarung dengan cara yang sama, ia akan mati. Makhluk itu berbalik. Ignis meraih pecahan batu tajam di dekat kakinya. Kalau aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan, aku harus menggunakan lingkungan. Ia melempar batu itu ke sisi berlawanan. Batu menghantam reruntuhan dan menghasilkan suara nyaring. Kepala makhluk itu langsung berputar. Ignis berlari ke arah sebaliknya. Ia tidak mencoba menyerang. Tidak mencoba membuktikan bahwa dirinya masih seorang petarung hebat. Ia hanya berusaha bertahan hidup. Makhluk itu menyadari tipuannya beberapa detik kemudian dan kembali mengejar. Ignis melompati retakan tanah, menyelinap di antara dua pilar runtuh, lalu menjatuhkan pecahan batu lain ke dalam celah sempit. Makhluk itu menerjang tanpa memperhitungkan pijakannya. Kaki depannya masuk ke celah. Tubuhnya terjungkal, dan kepalanya menghantam ujung batu tajam. Ignis tidak membuang kesempatan. Ia mengambil batu lain dan menghantam bagian belakang kepala makhluk itu berkali-kali sampai gerakannya berhenti. Ia terengah-engah. Lengan kirinya terasa panas. Kakinya gemetar. Napasnya tidak beraturan. Ia baru saja memenangkan pertarungan melawan satu makhluk. Dan hampir mati karenanya. Ignis memandangi bangkai tersebut. Dalam kehidupan pertamanya, ia pernah membunuh monster yang ukurannya puluhan kali lebih besar daripada makhluk ini. Ia pernah berdiri menghadapi Bahemod, makhluk yang konon dapat menelan sebuah benua. Namun, saat ini, satu makhluk kecil hampir merenggut nyawanya. Ia tertawa pendek tanpa kegembiraan. “Baiklah. Aku mengerti.” Ia mengangkat tangan kanannya. “Aku mungkin membawa ingatan seorang pria berusia tiga puluh lima tahun, tetapi aku tetap memiliki tubuh seorang anak delapan tahun.” Ia memandangi darah gelap yang menetes dari lengannya. “Kalau aku ingin bertahan hidup di sini, aku harus belajar kembali dari awal.” Untuk sesaat, sesuatu berkilau di dekat bangkai makhluk itu. Ignis berjongkok. Di antara abu yang menempel pada tubuhnya, terdapat sebuah serpihan kecil berwarna merah tua. Bentuknya tidak beraturan, tetapi di permukaannya terdapat pola yang menyerupai sembilan garis melengkung. Jantung Ignis berdegup lebih cepat. Ia mengenali bentuk tersebut. Bukan karena pernah melihatnya dalam buku. Melainkan karena bentuknya hampir sama dengan simbol yang sempat ia lihat ketika kutukannya menarik jiwanya dari tubuh. Lingkaran hitam. Sembilan garis menyerupai tanduk. Ignis mengulurkan tangan. Begitu ujung jarinya menyentuh serpihan itu, benda tersebut berubah menjadi debu dan terserap ke dalam kulitnya. Ia tersentak. Sebuah sensasi dingin mengalir dari ujung jari menuju dadanya. Lalu, selama sepersekian detik, ia merasakan sesuatu di dalam dirinya bergerak. Bukan jantung. Bukan mana. Sesuatu yang jauh lebih dalam. Sebuah denyut. Kemudian semuanya kembali normal. Ignis berdiri perlahan. Ia tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Tetapi untuk pertama kalinya, ia memperoleh petunjuk yang dapat diamati secara langsung. Kutukannya memiliki simbol. Simbol itu muncul di tempat ini. Dan serpihan yang menyerupainya bereaksi terhadap dirinya. Ia mengingat semuanya dengan cermat. Kalau aku bisa menemukan lebih banyak serpihan seperti ini, mungkin aku bisa memahami struktur kutukannya. Sebuah rencana mulai terbentuk di kepalanya. Namun, sebelum ia sempat melanjutkan pikirannya, suara langkah terdengar dari kejauhan. Bukan satu pasang. Banyak. Ignis menoleh. Di antara kabut merah, puluhan siluet mulai bermunculan. Makhluk-makhluk itu bergerak perlahan di antara reruntuhan, sebagian merangkak, sebagian berjalan dengan dua kaki, dan beberapa lainnya melayang tanpa menyentuh tanah. Mereka semua menghadap ke arahnya. Ignis merasakan tengkuknya menegang. Ia tidak mungkin menghadapi semuanya. Bahkan dengan tubuh dewasanya, ia tidak akan bertaruh melawan jumlah sebanyak itu tanpa persiapan. Ia mundur. Lalu sebuah suara terdengar kembali di dalam pikirannya. Kau selalu ingin memahami segalanya sebelum waktunya. Ignis membeku. Suara itu. Makhluk-makhluk di kejauhan berhenti bergerak. Satu per satu, mereka menundukkan kepala. Bukan kepada Ignis. Melainkan kepada sesuatu yang berada di belakangnya. Udara mendadak terasa berat. Ignis tidak berani langsung menoleh. Ia sudah bertarung melawan terlalu banyak makhluk untuk mengabaikan naluri yang memperingatkannya tentang bahaya. Suara itu berbisik sekali lagi. Bangkitlah, pewaris Pendragon. Perjalananmu baru dimulai. Kegelapan menyapu seluruh pandangannya. --- Ignis terbangun dengan sentakan keras. Ia langsung duduk di ranjang, napasnya memburu. Cahaya matahari pagi menembus jendela. Burung-burung berkicau di taman, dan suara air mancur kembali terdengar dari halaman kediaman. Ia berada di kamarnya. Di dunia nyata. Ia segera memeriksa lengan kirinya. Tidak ada luka. Namun, ketika ia membuka telapak tangannya, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam. Serbuk hitam menempel di ujung jarinya. Jumlahnya sangat sedikit. Begitu sedikit hingga orang lain mungkin mengira itu hanyalah debu dari kamar. Ignis menggosoknya dengan ibu jari. Serbuk itu menghilang. Ia menatap tangannya dalam waktu lama. “Jadi, itu bukan sekadar mimpi.” Ia turun dari ranjang dan mengambil buku catatannya. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menulis semua yang diingatnya: simbol sembilan garis, makhluk tanpa mata, serpihan merah, serta suara yang menyebutnya pewaris kecil. Ia menambahkan satu kalimat di bagian bawah halaman. Hipotesis pertama: kutukan membawaku ke sebuah tempat nyata, atau ke suatu dimensi yang memiliki hukum dan ekosistem sendiri. Ia berhenti sejenak. Kemudian menambahkan: Hipotesis kedua: sesuatu di tempat itu mengetahui identitasku dan mungkin telah menungguku sejak sebelum regresi. Ignis menutup buku tersebut. Ia belum tahu apakah suara itu adalah musuh, penjaga, atau sesuatu yang jauh lebih rumit. Ia juga belum tahu apakah makhluk-makhluk yang ditemuinya benar-benar hidup atau hanya bentuk yang diciptakan kutukan untuk menyiksanya. Tetapi ia memiliki sesuatu yang tidak pernah dimilikinya selama kehidupan pertama. Kesempatan untuk mengamati kutukan itu sejak awal. Dan kali ini, ia tidak akan menyia-nyiakannya. Ignis memandang ke luar jendela. Matahari telah naik lebih tinggi, menyinari atap-atap batu putih dan taman hijau di kediaman Pendragon. Dunia di luar kamarnya tampak damai. Namun, jauh di balik tidurnya, sebuah tempat asing menunggu. Di sana, makhluk-makhluk yang tidak dikenal manusia telah menundukkan kepala di hadapan sesuatu yang tak terlihat. Dan di tengah reruntuhan, pada tempat Ignis pertama kali terbangun, sebuah tanda sembilan tanduk perlahan muncul di atas tanah. Seolah sesuatu sedang mencatat kedatangannya. Seolah permainan yang telah berlangsung selama berabad-abad akhirnya memasuki babak baru. Bersambung — Bab 4: Anak yang Mulai Menentang Takdir

End of Chapter 3