Chapter 38 of 70

Bab 38 — Orang yang Sudah Mati

1.8k words

Kabar dari utara tiba ketika hujan mulai turun. Seorang penunggang kuda memasuki kediaman Pendragon dengan pakaian basah dan napas terengah-engah. Dia membawa surat bersegel milik Garrick, tetapi sebelum menyerahkannya kepada kepala keluarga, dia meminta agar Ignis ikut dipanggil. Permintaan itu membuat Alistair mengerutkan kening. Namun, setelah membaca surat tersebut, ekspresinya berubah serius. “Panggil Caelan. Garrick meminta kita segera berangkat.” Ignis yang sedang duduk di sofa langsung berdiri. “Apa yang terjadi?” Alistair menyerahkan surat itu kepadanya. Tulisan Garrick singkat dan tergesa-gesa. Pintu ruang bawah tanah Veyr telah terbuka. Dinding yang sebelumnya menutup lorong kini berlubang. Kami menemukan jejak kaki menuju ruang yang tidak tercatat pada denah bangunan. Ada sesuatu di bawah sana. Kami menunggu bala bantuan. Ignis membaca surat itu dua kali. “Berapa lama sejak pintu itu terbuka?” “Menurut utusan, sekitar tiga jam,” jawab Alistair. “Dan Garrick belum masuk?” “Dia menunggu kita.” Ignis mengembalikan surat tersebut. “Bagus. Setidaknya dia masih menggunakan akal sehat.” Alistair tidak tersenyum. “Kau tetap tinggal di sini.” Ignis sudah menduga jawaban itu. “Ayah, kalau ada sesuatu di balik pintu yang berhubungan dengan kunci dua sayap, aku mungkin bisa mengenali reaksinya.” “Dan jika sesuatu itu bereaksi terhadapmu, kau justru akan menjadi sasaran.” “Kalau begitu, aku tidak akan menyentuh apa pun tanpa pemeriksaan.” Alistair menatap putranya lama. Ignis tahu bahwa dia sedang mempertimbangkan dua risiko yang sama-sama buruk: membiarkan anaknya pergi ke tempat berbahaya atau membiarkan anaknya berada jauh dari kejadian yang mungkin berkaitan langsung dengan kutukan. Akhirnya, Alistair mengambil keputusan. Ignis boleh ikut, tetapi hanya sampai pos penjagaan di luar Veyr. Dia tidak boleh memasuki bangunan tanpa persetujuan Garrick dan Alistair. Ignis menerima syarat itu. Untuk saat ini, berada dekat dengan lokasi jauh lebih baik daripada menunggu tanpa mengetahui apa yang terjadi. --- Perjalanan menuju utara memakan waktu beberapa jam. Hujan membuat jalan hutan licin. Roda kereta beberapa kali tergelincir di atas tanah berlumpur, memaksa kusir memperlambat laju. Ignis duduk berhadapan dengan Caelan. Di antara mereka terdapat kotak kecil berisi tiruan kunci dua sayap. Kunci asli tetap disimpan di kediaman Pendragon. “Aku masih tidak mengerti,” kata Caelan sambil memeriksa catatannya. “Kalau seseorang benar-benar berhasil membuka pintu yang sebelumnya hanya berhadapan dengan dinding, bagaimana caranya?” “Mungkin dinding itu bukan dinding biasa.” “Menurut laporan awal, tidak ada mekanisme tersembunyi. Kami juga tidak menemukan rongga ketika memeriksa bangunan sebelumnya.” Ignis memandang hujan di balik jendela. “Kalau begitu, kita punya dua kemungkinan. Seseorang menemukan mekanisme yang tidak kita ketahui, atau sesuatu mengubah ruang di balik pintu itu.” Caelan berhenti menulis. “Kau mengatakannya seolah-olah perubahan ruang merupakan hal yang biasa.” “Tidak. Aku mengatakan itu karena kita sudah melihat terlalu banyak hal yang seharusnya mustahil.” Caelan menghela napas. “Aku lebih menyukai masa ketika masalahku hanya buku yang hilang dari rak.” Ignis tersenyum tipis. “Buku tidak pernah benar-benar aman. Kadang-kadang, buku hanya menunggu orang yang salah membacanya.” “Terima kasih. Itu sama sekali tidak menenangkan.” Kereta berguncang keras ketika roda menghantam lubang. Ignis menahan tubuhnya agar tidak terlempar dari kursi. Rasa sakit menjalar dari rusuknya, mengingatkan bahwa tubuhnya belum pulih. Dia menunduk dan mengatur napas. Dalam kehidupan pertama, dia dapat menempuh perjalanan semacam ini tanpa memikirkan luka kecil. Sekarang, bahkan perjalanan biasa menuntut perhitungan. Pengetahuan masa depan tidak membuat tubuhnya lebih kuat. Dan semakin cepat dia melupakan kenyataan itu, semakin besar kemungkinan dia membuat kesalahan. --- Rumah Peristirahatan Veyr tampak lebih mengerikan ketika mereka tiba. Sebagian dinding barat telah runtuh. Hujan membasahi batu-batu tua, sementara dua kesatria berjaga di dekat pintu masuk dengan senjata terhunus. Garrick menyambut mereka di halaman. Ada luka baru di pelipisnya. “Bagaimana keadaanmu?” tanya Ignis. “Masih cukup sehat untuk menggendongmu pulang kalau kau mencoba masuk tanpa izin.” “Kalau begitu, kau memang belum cukup sehat.” Garrick mendengus, tetapi kemudian berjongkok agar wajahnya sejajar dengan Ignis. “Aku serius. Kami tidak tahu apa yang ada di bawah sana. Salah satu kesatria mendengar suara dari balik dinding, lalu melihat bayangan bergerak ketika pintu terbuka.” “Ada korban?” “Belum. Tetapi seorang penjaga menghilang selama beberapa menit setelah memeriksa lorong. Kami menemukannya di aula atas. Dia tidak terluka, hanya tidak ingat bagaimana dirinya bisa kembali.” Ignis terdiam. “Apakah dia melihat sesuatu?” “Dia mengatakan melihat seorang pria berdiri di ujung lorong. Pria itu mengenakan mantel biru tua.” Ignis dan Caelan saling pandang. Pria yang sama dengan sosok dalam ingatan Edmon. “Apakah penjaga itu mengenali wajahnya?” “Tidak. Dia mengaku wajah pria itu tertutup bayangan.” Garrick berdiri. “Sekarang, kalian berdua akan tetap di sini. Aku akan membawa dua orang turun untuk memeriksa lorong.” Ignis tidak membantah. Kali ini, dia ingin mengetahui apa yang mereka hadapi sebelum mengambil risiko. Garrick dan dua kesatria memasuki bangunan. Caelan mulai membandingkan denah lama dengan posisi ruang bawah tanah. Ignis mengamati halaman. Ada sesuatu yang salah dengan tempat itu. Bukan pada bangunannya. Melainkan pada jejak di tanah. Di antara jejak sepatu para kesatria dan bekas roda kereta, terdapat serangkaian tapak kaki kecil yang mengarah ke pintu samping. Tapak itu tidak memiliki pola sepatu. Hanya bekas telapak yang sempit dengan ujung-ujung panjang. Ignis berjongkok. Jejaknya masih baru. Air hujan belum sepenuhnya mengisi lekukan tanahnya. “Caelan.” Arsiparis itu mendekat. “Apa yang kau temukan?” “Periksa jejak ini. Jangan menginjaknya.” Caelan mengamati tanah dengan hati-hati. “Seperti jejak kaki manusia.” “Seperti,” ulang Ignis. “Tapi bukan berarti milik manusia.” Sebelum Caelan sempat menjawab, suara benturan keras terdengar dari dalam bangunan. Disusul teriakan. Ignis langsung berlari menuju pintu. Garrick muncul dari lorong dengan pedang terhunus. “Menjauh dari pintu!” Di belakangnya, sesuatu bergerak merangkak di langit-langit. Makhluk itu kurus dan tinggi, dengan anggota tubuh yang terlalu panjang. Kulitnya menyerupai kain hitam basah, sedangkan wajahnya hanya memiliki sebuah celah vertikal yang membuka dan menutup seperti insang. Makhluk itu melompat. Garrick mengayunkan pedang, memaksanya membelok ke dinding. Tubuhnya menghantam batu, tetapi ia segera merangkak kembali ke langit-langit. Salah satu kesatria menusukkan tombak. Makhluk itu memutar tubuhnya dengan gerakan yang tidak wajar. Tombak menembus sisi badannya, tetapi bukannya mengeluarkan darah, luka itu justru menganga seperti mulut kecil yang dipenuhi kegelapan. Tombak tersebut tersedot ke dalam luka. Kesatria itu terpaksa melepaskan senjatanya sebelum kehilangan keseimbangan. “Jangan biarkan ia mendekat!” teriak Garrick. Makhluk itu mengeluarkan suara melengking. Seluruh jendela di aula bergetar. Ignis merasakan telapak tangan kirinya mendadak panas. Garis perak di kulitnya menyala samar. Makhluk tersebut berhenti bergerak. Celah vertikal pada wajahnya perlahan terbuka lebih lebar. Lalu kepalanya berputar ke arah Ignis. “Pewaris…” Suaranya terdengar seperti beberapa orang berbicara bersamaan dari dasar sumur. Garrick langsung menempatkan dirinya di depan Ignis. “Jangan dengarkan dia!” Makhluk itu menerjang. Garrick menahan serangannya dengan pedang, tetapi benturannya mendorongnya beberapa langkah ke belakang. Cakar makhluk tersebut menggores lantai batu, meninggalkan bekas hitam yang berasap. Ignis mengamati gerakannya. Makhluk itu cepat, tetapi setiap kali menyerang, tubuhnya menegang sesaat sebelum melompat. Ada jeda kecil ketika berat badannya berpindah ke anggota tubuh belakang. Itulah satu-satunya celah. “Garrick! Pancing dia ke dekat tangga!” “Rencana yang bagus! Kalau kau punya rencana setelah itu, sekarang saatnya!” Ignis menunjuk ke sebuah rak kayu yang hampir roboh. “Jatuhkan raknya saat dia melompat!” Garrick segera memahami maksudnya. Dia mundur sambil memancing makhluk itu mengejar. Ketika makhluk itu menekuk tubuh untuk melompat, Garrick menebas kaki rak di sampingnya. Rak tersebut ambruk. Kayu dan pecahan batu menimpa tubuh makhluk itu tepat ketika ia meluncur ke depan. Serangannya meleset, membuatnya menghantam lantai dengan sisi tubuh terlebih dahulu. “Sekarang!” teriak Ignis. Salah satu kesatria menghantamkan perisai ke kepala makhluk itu. Garrick menyusul dengan tebasan kuat ke bagian leher. Bilah pedangnya tidak memotong seluruh tubuh makhluk tersebut, tetapi cukup dalam untuk membuatnya menjerit dan terhuyung. Ignis meraih sebuah lampu minyak yang terjatuh. Dia tidak cukup kuat untuk bertarung langsung. Namun, dia tidak perlu melakukannya. Dengan sekuat tenaga, dia melemparkan lampu itu ke tumpukan kain lap yang terkena minyak di dekat dinding. Api menyambar. Makhluk itu mendadak menggeliat hebat. Tubuh hitamnya berkontraksi, seolah-olah nyala api mengganggu sesuatu yang mempertahankan bentuknya. Garrick memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menghantamnya sekali lagi. Makhluk itu roboh. Tetapi sebelum siapa pun dapat mendekat, tubuhnya mulai terurai menjadi asap hitam. Celah di wajahnya terbuka untuk terakhir kali. “Dia… sudah… menunggu…” Asap itu lenyap ke celah-celah lantai. Ruangan mendadak sunyi. Ignis baru menyadari tangannya gemetar. Bukan karena takut. Tubuhnya telah menghabiskan terlalu banyak tenaga hanya untuk berlari dan membantu mengalihkan perhatian makhluk tersebut. Dia menekan rusuknya, menahan rasa sakit yang kembali muncul. Garrick melihat gerakannya. “Kau terluka?” “Luka lama.” “Itu bukan jawaban.” “Kalau begitu, jawabannya tetap sama.” Garrick menghela napas kesal, tetapi tidak memaksanya berbicara lebih jauh. --- Mereka akhirnya memasuki ruang bawah tanah bersama-sama. Dinding yang sebelumnya menutup lorong kini terbelah menjadi sebuah celah tinggi. Tidak ada batu runtuh di lantai. Tepi celah itu justru tampak halus, seperti dipotong oleh sesuatu yang sangat tajam. Di baliknya terdapat lorong sempit yang menurun ke dalam tanah. Caelan mengangkat lampu. “Denah bangunan tidak menunjukkan lorong ini.” Ignis menatap dinding di kedua sisi. “Ada jejak kaki?” Seorang kesatria menunjuk lantai. Di atas debu basah terdapat beberapa tapak kaki yang mengarah ke bawah. Semuanya menuju satu arah. Tidak ada jejak yang kembali. Garrick memerintahkan dua kesatria berjaga di belakang, sementara dia memimpin kelompok kecil menuruni lorong. Udara semakin dingin dengan setiap langkah. Pada ujung tangga, mereka menemukan sebuah ruangan bundar. Tidak ada perabot. Tidak ada peti. Tidak ada benda yang menunjukkan bahwa seseorang pernah tinggal di sana. Hanya sebuah pintu batu berdiri di tengah dinding seberang. Pintu itu tidak memiliki gagang. Tidak memiliki engsel yang terlihat. Dan di permukaannya terukir lambang dua sayap. Ignis berhenti bernapas sesaat. Di bawah lambang itu terdapat sembilan garis yang tersusun membentuk lingkaran. Persis seperti simbol yang selama ini menghantui penyelidikan mereka. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Di tengah pintu terdapat bekas telapak tangan. Bekas itu tidak diukir. Batu di sekelilingnya tampak meleleh, membentuk cekungan yang menyerupai tangan manusia. Caelan mendekat, tetapi Garrick segera menahan lengannya. “Jangan sentuh.” “Aku hanya ingin melihatnya.” “Lihat dari sini.” Ignis memandang bekas telapak tangan itu. Ukuran cekungannya terlalu besar untuk anak-anak, tetapi terlalu kecil untuk orang dewasa bertubuh besar. Jari-jarinya panjang dan ramping. Di bagian tengah terdapat satu garis tipis berwarna perak. Garis itu berdenyut pelan. Telapak tangan kiri Ignis terasa panas lagi. Dia mengepalkan tangannya. Dari balik pintu terdengar tiga ketukan. Pelan. Teratur. Sama seperti suara yang membangunkannya pada malam pertama. Semua orang membeku. Kemudian sebuah suara terdengar dari balik batu. “Apakah pewaris telah tiba?” Caelan mundur satu langkah. Garrick mengangkat pedangnya. Ignis tidak bergerak. Dia mengenali suara itu. Bukan karena pernah mendengarnya dalam kehidupan pertama. Melainkan karena suara tersebut sama persis dengan suara yang berbicara kepadanya di balik pintu perak dalam alam kutukan. Suara yang mengaku sebagai orang yang seharusnya menerima kedatangannya. Pintu batu bergetar. Sembilan garis pada permukaannya menyala satu demi satu. Lalu suara itu kembali terdengar. “Kalau kau sudah datang, pewaris Pendragon…” Jeda panjang menyusul. “…mengapa kau datang tanpa membawa ingatanmu?” Bersambung. Teaser Bab 39 — Pintu yang Mengenali Darah Pintu batu di bawah Rumah Peristirahatan Veyr akhirnya berbicara langsung kepada Ignis. Namun, sebelum mereka sempat mencari cara untuk membukanya, garis perak di telapak tangan sang pewaris mulai menyebar. Dan dari balik pintu, sesuatu menyebut sebuah nama yang seharusnya hanya diketahui oleh orang-orang dari masa lalu.

End of Chapter 38