Chapter 37 of 70

Bab 37 — Ingatan yang Bukan Miliknya

1.6k words

Rasa panas di telapak tangan Ignis bertahan hingga fajar. Garis perak itu tidak bertambah panjang, tetapi juga tidak menghilang. Lengkungannya menyerupai sayap kecil yang belum selesai terbentuk. Di bawah cahaya lampu, garis tersebut tampak tertanam di dalam kulit, bukan berada di permukaannya. Ignis mencoba menekan bagian itu dengan ibu jari. Tidak sakit. Namun, ketika dia memusatkan mana ke telapak tangannya, muncul sensasi seperti menyentuh permukaan air yang membeku. Aliran mananya terhenti. Bukan diserap. Bukan pula dipantulkan. Seolah-olah tubuhnya sendiri menolak mengalirkannya melewati bagian tersebut. “Menarik,” gumamnya. “Kalau Tuan Muda mengatakan sesuatu itu menarik sambil menatap tangan sendiri sebelum matahari terbit, biasanya sesuatu yang buruk telah terjadi.” Ignis menoleh. Mira berdiri di ambang pintu dengan pakaian kerja dan nampan sarapan. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak bisa disembunyikan. “Kau mendengar sesuatu?” “Tidak, Tuan Muda. Saya hanya melihat Anda belum tidur lagi.” Ignis menghela napas. Dia lupa bahwa Mira cukup peka untuk memperhatikan perubahan kecil dalam kebiasaannya. “Tidurku terganggu.” “Apakah lukanya sakit?” “Bukan itu.” Mira meletakkan nampan, lalu mendekat. Tatapannya jatuh pada tangan kiri Ignis. “Tuan Muda, tangan Anda…” Ignis spontan menarik tangannya. Gerakan itu justru membuat Mira semakin curiga. “Ada sesuatu yang harus saya laporkan kepada Lord Alistair?” “Belum.” Mira terdiam. Dia tidak memaksa, tetapi ekspresinya berubah menjadi sedih. “Saya tidak tahu apa yang sedang Anda hadapi. Namun, Anda tidak harus menanggung semuanya sendirian.” Kalimat sederhana itu membuat Ignis kehilangan kata-kata selama beberapa saat. Dalam kehidupan pertamanya, dia terbiasa menyembunyikan rasa sakit. Dia belajar bahwa semakin sedikit orang mengetahui kelemahannya, semakin kecil kemungkinan mereka dimanfaatkan musuh. Tetapi kehidupan keduanya mulai memperlihatkan sisi lain dari kebiasaan itu. Dengan menyembunyikan semuanya, dia juga membuat orang-orang yang peduli kepadanya tidak tahu bagaimana membantu. Ignis menurunkan tangannya. “Aku belum tahu apa artinya. Kalau aku menemukan jawabannya, aku akan memberitahumu.” Mira tersenyum kecil. “Itu sudah cukup untuk saat ini.” --- Menjelang siang, kabar dari rumah perawatan tiba. Edmon sadar. Kondisinya masih lemah, tetapi dia sudah mampu berbicara tanpa kehilangan kesadaran. Alistair memutuskan untuk mengirim Caelan dan Garrick menemuinya, sementara Ignis harus tetap tinggal. Keputusan tersebut membuat Ignis kesal, tetapi dia tidak membantah. Luka-lukanya memang belum pulih, dan kali ini dia membutuhkan jawaban yang hanya bisa diberikan oleh saksi. Sebelum Caelan berangkat, Ignis menyampaikan beberapa pertanyaan. “Jangan langsung menanyakan nama orang yang dia ingat. Minta dia menjelaskan pertemuannya terlebih dahulu.” Caelan mengangguk. “Supaya kita bisa memastikan apakah ingatannya konsisten?” “Benar. Tanyakan tempat, pakaian, suara, dan urutan kejadiannya. Kalau kita menyebutkan nama lebih dahulu, kita bisa memengaruhi jawabannya.” “Baik.” “Dan jangan memaksanya mengingat sesuatu yang tidak mampu dia ingat.” Caelan tersenyum tipis. “Kau terdengar seperti seorang pemeriksa kesaksian berpengalaman.” Ignis hanya menatapnya. Caelan pun berhenti tersenyum. “Maaf. Aku lupa.” Tidak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh. Beberapa jam kemudian, Caelan kembali dengan sebuah laporan tertulis. Garrick berjalan di belakangnya, membawa ekspresi yang jauh lebih serius daripada ketika mereka berangkat. Ignis langsung berdiri. “Apa yang dia katakan?” Caelan meletakkan laporan di atas meja. “Edmon mengingat seorang pria yang mengunjungi Rumah Peristirahatan Veyr sekitar dua belas tahun lalu. Pria itu datang tanpa pengawal, mengenakan mantel biru tua dengan kancing perak. Dia tidak pernah menyebutkan namanya, tetapi semua petugas dipaksa memanggilnya Tuan Penerima.” “Siapa yang memaksakan perintah itu?” “Edmon tidak ingat. Dia hanya mengingat bahwa perintah tersebut datang dari atasannya.” Ignis membaca laporan dengan cepat. “Lalu?” “Pria itu datang setiap beberapa bulan. Dia tidak pernah membawa barang apa pun ketika tiba. Namun, setiap kali dia pergi, jumlah penjaga di bangunan itu berkurang satu.” Garrick menyilangkan tangan. “Edmon mengira para penjaga dipindahkan. Belakangan, dia menyadari tidak seorang pun dari mereka pernah kembali bertugas.” Ruangan terasa lebih dingin. “Apakah Edmon melihat mereka dibunuh?” tanya Ignis. “Tidak. Dia tidak memiliki bukti tentang apa yang terjadi kepada mereka.” Ignis mengangguk. Jangan mengisi kekosongan dengan dugaan. Itu aturan yang harus dia patuhi, sekalipun imajinasinya mulai menghubungkan berbagai kemungkinan. Caelan melanjutkan. “Ketika ditanya tentang pintu di ruang bawah tanah, Edmon mengatakan pria itu pernah membukanya di hadapannya. Di balik pintu tersebut memang hanya ada dinding batu. Namun, pria itu berbicara seolah-olah sedang menemui seseorang.” “Apakah Edmon mendengar jawaban?” “Dia mengaku mendengar suara dari balik dinding. Hanya satu kalimat.” Caelan membuka halaman berikutnya. “Penerimaan ditunda sampai pewaris kembali.” Ignis berhenti membaca. Pewaris kembali. Bukan pewaris lahir. Bukan pewaris ditemukan. Kembali. “Edmon yakin mendengar kata itu?” tanyanya. “Dia mengulanginya tiga kali dengan susunan yang sama. Aku juga meminta Garrick menanyainya secara terpisah. Jawabannya tidak berubah.” Ignis memandang laporan itu lebih lama. Bisa jadi Edmon benar-benar mendengar kalimat tersebut. Bisa juga ingatannya berubah akibat ketakutan, cedera, atau pengaruh sesuatu yang belum mereka pahami. Namun, ada satu hal yang jelas. Kalimat itu tidak masuk akal bagi orang yang tidak mengetahui apa pun tentang regresi Ignis. Tidak seorang pun di keluarga Pendragon tahu bahwa dia telah hidup sampai usia tiga puluh lima tahun sebelum kembali menjadi anak delapan tahun. Bahkan Ignis sendiri belum memahami penyebabnya. Jadi, siapa yang menunggu seorang pewaris untuk kembali? Dan dari mana mereka tahu bahwa dia akan kembali? --- Sore harinya, Ignis meminta Caelan membuka salinan catatan kematian lama yang berkaitan dengan pengelolaan Rumah Peristirahatan Veyr. Mereka tidak mencari bukti baru secara acak. Kali ini, mereka hanya memeriksa satu nama: Edric Halvern. Dokumen pertama menyatakan bahwa Edric menjabat sebagai petugas pengiriman khusus. Dokumen kedua mencatat pemindahannya ke wilayah utara. Setelah itu, jejaknya menghilang dari administrasi. Tidak ada catatan kematian. Tidak ada laporan pensiun. Tidak ada surat pengunduran diri. Namun, pada dokumen yang ditemukan Caelan di antara catatan pajak lama, terdapat sebuah keterangan tambahan. EDRIC HALVERN — STATUS: MENINGGAL. Tanggal kematiannya tercatat empat belas tahun lalu. Dua tahun sebelum kunjungan pertama pria bermantel biru tua yang diingat Edmon. Ignis mengerutkan kening. “Siapa yang mengesahkan dokumen ini?” Caelan memeriksa bagian bawah halaman. “Nama pejabatnya sudah terhapus. Namun, cap administrasinya asli.” “Apakah ada laporan pemakaman?” “Tidak ada yang berhasil kutemukan.” “Catatan ahli waris?” “Tidak ada.” “Barang-barang pribadinya?” Caelan menggeleng. “Seolah-olah dia meninggal hanya di atas kertas.” Ignis bersandar di kursinya. Ada beberapa kemungkinan. Edric mungkin benar-benar meninggal, sementara seseorang menggunakan namanya setelah kematiannya. Bisa juga kematiannya dipalsukan untuk menghapusnya dari pengawasan. Kemungkinan lain adalah catatan yang mereka temukan dibuat untuk menutupi sesuatu yang lebih besar. Mereka belum bisa memilih salah satunya. “Cari dokumen asli yang mendasari pengesahan kematiannya,” kata Ignis. “Bukan salinan administrasi. Aku ingin tahu siapa yang pertama kali menyatakan dia meninggal.” Caelan mencatat perintah itu. Namun, sebelum dia menutup buku, Ignis melihat sesuatu di tepi halaman. Sebuah bekas tekanan pena. Tulisan di permukaan kertas sudah hilang, tetapi lekukannya masih terlihat samar. Caelan menggeser lampu agar cahayanya menyapu halaman dari samping. Perlahan-lahan, sebagian tulisan itu menjadi terbaca. PENERIMA TIDAK DAPAT DINYATAKAN MENINGGAL SEBELUM SERAH TERIMA SELESAI. Mereka bertiga terdiam. Garrick mengusap rahangnya. “Ini bukan kalimat yang biasa ditemukan dalam laporan kematian.” “Karena mungkin ini bukan laporan kematian biasa,” jawab Ignis. Dia menatap bekas tulisan itu. Jika catatan tersebut memang berkaitan dengan Edric, maka seseorang telah membuat aturan khusus untuk memastikan statusnya tidak berubah sebelum sebuah serah terima selesai. Tetapi apa yang harus diserahkan? Kepada siapa? Dan mengapa kematian seorang petugas administrasi harus bergantung pada proses pengiriman? Ignis mengalihkan pandangan ke jendela. Matahari mulai tenggelam di balik menara kediaman. Untuk pertama kalinya, dia merasa bahwa mereka tidak sedang mencari satu orang yang hilang dari sejarah. Mereka sedang mencari sebuah proses yang belum pernah dinyatakan selesai. --- Malam itu, garis perak di telapak tangan Ignis kembali terasa panas. Dia sedang duduk di ranjang ketika rasa panas itu menjalar sampai ke pergelangan tangan. Tidak menyakitkan, tetapi cukup kuat untuk membuatnya menjatuhkan buku yang sedang dibaca. Ignis membuka telapak tangannya. Garis perak itu telah berubah. Lengkungannya kini membentuk setengah sayap, dengan tiga garis kecil di bawahnya. Dia tidak menyentuh kunci dua sayap. Benda itu masih disimpan di ruang pengamanan keluarga, terpisah darinya. Namun, saat Ignis menatap tangannya, dia mendengar suara yang sama dari alam kutukan. “Jangan menerima ingatan yang bukan milikmu.” Ignis segera duduk tegak. “Apa maksudmu?” “Ingatan dapat menjadi pintu. Dan pintu dapat dibuka dari kedua sisi.” Garis perak itu berdenyut sekali. Tiba-tiba, Ignis melihat bayangan yang bukan miliknya. Sebuah ruangan batu. Seorang pria bermantel biru tua berdiri di hadapan pintu tanpa pegangan. Di belakangnya, sembilan orang berlutut dengan kepala tertunduk. Wajah mereka kabur, seolah-olah disembunyikan oleh lapisan air. Pria itu mengangkat sebuah kunci. Lalu berkata, “Serah terima akan dilanjutkan setelah pewaris kembali.” Bayangan itu lenyap. Ignis terengah-engah. Rasa sakit menjalar dari telapak tangan ke bahunya, membuatnya terpaksa bersandar pada dinding. Dia tidak tahu siapa pria itu. Dia tidak tahu kapan kejadian tersebut berlangsung. Yang paling mengganggunya, dia tidak tahu apakah bayangan itu benar-benar sebuah ingatan atau hanya gambaran yang ditanamkan ke dalam pikirannya. Suara dari alam kutukan kembali terdengar. “Kau melihatnya?” Ignis mengepalkan tangan, menahan rasa nyeri. “Ya.” “Jangan mencoba mengingat lebih banyak.” “Kenapa?” Jawaban yang datang begitu pelan hingga hampir tidak terdengar. “Karena kali ini, bukan kau yang sedang mengingat.” Ignis membeku. “Lalu siapa?” Tidak ada jawaban. Garis perak di telapak tangannya meredup, tetapi tidak menghilang. Ignis menatapnya dengan napas yang perlahan kembali teratur. Dia telah mendapatkan sebuah petunjuk baru. Namun, petunjuk itu datang bersama kemungkinan yang jauh lebih berbahaya daripada yang dia bayangkan. Bagaimana jika ingatan yang mulai muncul bukan berasal dari kehidupan pertamanya? Bagaimana jika sesuatu sedang mencoba menanamkan masa lalu orang lain ke dalam dirinya? Dan jika ingatan itu benar-benar milik orang lain, apa yang akan terjadi ketika Ignis mulai menganggapnya sebagai miliknya sendiri? Bersambung. Teaser Bab 38 — Orang yang Sudah Mati Penyelidikan terhadap kematian Edric Halvern membawa Ignis pada dokumen yang seharusnya tidak pernah ada. Sementara itu, garis perak mulai memperlihatkan potongan kejadian dari masa lalu yang tidak dikenalnya. Ketika rombongan Pendragon akhirnya bersiap menuju Rumah Peristirahatan Veyr, sebuah kabar datang dari utara: seseorang telah membuka pintu di ruang bawah tanah—dan kali ini, ada jejak kaki di sisi yang sebelumnya hanya berupa dinding batu.

End of Chapter 37