Chapter 36 of 70

Bab 36 — Kunci Dua Sayap

1.8k words

Pagi itu, Ignis memutuskan untuk tidak menyentuh kunci yang muncul di kamarnya. Keputusan tersebut bukan karena takut. Dia hanya tidak menyukai benda yang muncul tanpa penjelasan, terlebih setelah seseorang berhasil meninggalkan simbol di jendelanya tanpa melewati penjagaan. Kunci itu diletakkan di atas meja, di dalam kotak kaca yang biasanya digunakan untuk menyimpan benda-benda berharga. Dua kesatria berjaga di luar ruangan, sementara Garrick memeriksa kamar untuk ketiga kalinya. Hasilnya tetap sama. Tidak ada pintu rahasia. Tidak ada jendela yang terbuka. Tidak ada jejak kaki atau tanda kerusakan. Benda itu seolah-olah muncul dari udara kosong. “Kalau ini lelucon seseorang, dia memiliki selera humor yang buruk,” gumam Garrick. Ignis duduk di sofa, memegangi cangkir susu hangat yang disediakan Mira. “Menurutku, orang yang bisa melewati penjagaan tanpa meninggalkan jejak tidak akan bersusah payah melakukan lelucon.” “Justru itu yang membuatku ingin memukul sesuatu.” “Kalau begitu, jangan pukul mejanya. Ayah akan menyuruhmu menggantinya.” Garrick mendengus. “Kadang-kadang aku lupa bahwa kau masih anak-anak.” “Dan aku kadang-kadang lupa bahwa kau mudah terpancing.” “Baiklah, Tuan Muda. Simpan lidah tajammu untuk musuh.” Pintu terbuka sebelum Ignis sempat menjawab. Caelan masuk membawa sarung tangan kulit, sebuah kaca pembesar, dan beberapa lembar kertas. Wajahnya menunjukkan bahwa dia sudah memikirkan benda itu sejak menerima laporan semalam. “Aku sudah memeriksa gambar kunci yang kau kirimkan,” katanya. “Dan aku membawa peralatan untuk memeriksa benda aslinya.” “Apakah kau menemukan sesuatu?” “Beberapa hal. Tidak semuanya menyenangkan.” Caelan mengenakan sarung tangan, lalu membuka kotak kaca dengan hati-hati. Kunci itu berukuran sedikit lebih panjang daripada telapak tangan orang dewasa. Warnanya hitam keperakan, dengan dua lengkungan pada bagian kepala yang menyerupai sayap. Tidak ada lubang untuk menggantungkan kunci, dan batangnya memiliki alur yang terlalu rumit untuk sebuah kunci biasa. Caelan memutarnya perlahan. “Materialnya bukan besi biasa. Aku tidak bisa memastikan jenis logamnya hanya dari penampilan, tetapi permukaannya tidak menunjukkan korosi meskipun bentuknya menyerupai benda kuno.” “Bisa jadi benda itu baru dibuat dengan gaya lama,” kata Garrick. “Benar. Itu salah satu kemungkinan.” Caelan mengarahkan kaca pembesar ke kepala kunci. “Namun, lihat bagian ini.” Ignis mendekat. Di antara dua sayap terdapat lingkaran kecil yang terbelah menjadi dua bagian. Jika dilihat sekilas, bentuknya tampak seperti hiasan. Akan tetapi, dari dekat, terlihat sembilan guratan tipis mengelilingi lingkaran tersebut. Sembilan garis. Lagi. “Lambang ini memiliki dua lapisan,” lanjut Caelan. “Lapisan pertama adalah dua sayap. Lapisan kedua berupa sembilan guratan yang tersembunyi di bawah ukiran permukaan.” “Apakah kau pernah melihatnya di arsip?” “Belum pernah melihat kunci seperti ini. Tetapi susunan lambangnya mengingatkanku pada gambar di dokumen PACTUM SANGUINIS.” Ignis terdiam. Di bawah Biara Velmora, sembilan pilar telah menjadi bagian dari segel yang mengenali darahnya. Sekarang sebuah kunci menggabungkan simbol sembilan garis dengan lambang dua sayap. Terlalu spesifik untuk dianggap kebetulan. Namun, kesamaan lambang tidak membuktikan bahwa keduanya dibuat oleh pihak yang sama. Ignis sudah belajar dari kehidupan pertamanya bahwa kesimpulan yang terlalu cepat bisa sama berbahayanya dengan kebohongan. “Periksa bagian batangnya,” katanya. Caelan mengangguk dan memutar kunci ke arah cahaya. Mula-mula tidak terlihat apa-apa. Kemudian dia menemukan sebuah celah sempit pada sisi batang. Dengan ujung alat logam, dia membuka penutup kecil yang hampir tidak terlihat. Di dalamnya terdapat sebuah kepingan tipis berwarna perak. Caelan mengangkatnya dengan pinset. Kepingan itu begitu kecil sehingga nyaris tidak lebih besar daripada kuku jari. Pada permukaannya terukir rangkaian garis pendek dan panjang yang tampak acak. Caelan membawanya ke meja dan mulai membuat sketsa. “Ini bukan tulisan yang kukenal.” “Apakah itu sandi?” tanya Garrick. “Mungkin. Atau penanda mekanis yang memiliki arti hanya jika ditempatkan pada perangkat tertentu.” Ignis memperhatikan kepingan tersebut. Ada sembilan garis utama. Tiga di antaranya terputus di tengah, sementara satu garis melengkung ke arah yang berlawanan. Pola itu mengingatkannya pada simbol di alam kutukan. Bukan bentuk yang persis sama. Lebih seperti bagian dari pola yang jauh lebih besar. Tanpa sadar, telapak tangan kirinya mulai terasa dingin. Ignis segera mengepalkan tangan. Tidak ada cahaya perak. Tidak ada garis yang muncul di kulitnya. Namun, dingin itu semakin kuat ketika kepingan tersebut didekatkan ke kunci. “Jauhkan benda itu,” katanya. Caelan berhenti. “Ada apa?” “Jauhkan dulu.” Caelan meletakkan kepingan itu di atas kain, lalu menggesernya menjauh. Perlahan-lahan, sensasi dingin di telapak tangan Ignis menghilang. Garrick memperhatikan gerakan itu dengan serius. “Kau merasakan sesuatu?” “Sedikit.” Ignis tidak menjelaskan lebih jauh. Dia tidak tahu apakah reaksi itu berasal dari kutukan, dari darah Pendragon, atau dari sesuatu yang tertanam di dalam kunci tersebut. Dan dia tidak berniat menguji semuanya hanya demi memuaskan rasa ingin tahu. --- Menjelang siang, mereka membawa kunci itu ke ruang kerja Alistair. Sang kepala keluarga mendengarkan penjelasan Caelan tanpa menyela. Setelah pemeriksaan selesai, dia meminta semua orang keluar kecuali Ignis, Garrick, dan Caelan. “Aku pernah melihat lambang dua sayap ini,” katanya. Ignis langsung mengangkat kepala. “Di mana?” Alistair membuka sebuah laci yang selama ini jarang digunakan. Dari dalamnya, dia mengeluarkan kotak kayu kecil yang dibungkus kain gelap. “Ini milik kakekmu. Aku menemukannya di antara barang-barang pribadinya setelah beliau meninggal.” Dia membuka kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah cincin perak dengan ukiran dua sayap. Ignis berdiri untuk melihatnya lebih dekat. Bentuk sayapnya hampir sama dengan lambang pada kunci, tetapi lingkaran di tengahnya tidak terbelah. Tidak ada sembilan garis tersembunyi. “Kenapa benda ini tidak pernah disebutkan sebelumnya?” tanya Ignis. “Karena aku tidak tahu artinya. Ayahku pun tidak pernah menjelaskan asal-usulnya. Dia hanya berpesan agar cincin ini tidak diberikan kepada orang di luar keluarga.” Alistair mengangkat cincin tersebut ke arah cahaya. “Aku pernah bertanya apakah lambang ini berhubungan dengan sejarah Pendragon. Beliau hanya menjawab bahwa ada beberapa hal yang lebih baik dibiarkan tertidur.” Ignis merasakan sesuatu mengencang di dadanya. Bukan rasa sakit kutukan. Melainkan perasaan aneh bahwa dia baru saja menemukan pintu menuju bagian sejarah keluarganya yang sengaja disembunyikan. “Apakah Ayah tahu siapa yang membuatnya?” “Tidak.” “Apakah Kakek pernah pergi ke Velmora?” Alistair terdiam. “Aku tidak ingat pernah mendengar nama tempat itu darinya.” Jawaban tersebut tidak membantu. Namun, Ignis tidak kecewa. Setidaknya, sekarang mereka memiliki bukti bahwa lambang dua sayap tidak hanya muncul dalam dokumen kuno. Lambang itu juga pernah diwariskan secara pribadi di dalam keluarganya. Alistair meletakkan cincin di samping kunci. Keduanya tampak serupa, tetapi tidak identik. Ketika kedua benda itu berdekatan, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada cahaya. Tidak ada getaran. Tidak ada suara misterius. Hanya dua benda tua di atas meja. “Jangan mencoba menggabungkan keduanya,” kata Alistair. “Kita belum tahu apakah kunci itu berbahaya.” Ignis mengangguk. “Aku setuju.” Garrick mengangkat alis, seolah tidak percaya mendengar Ignis menyetujui larangan tanpa perdebatan. Ignis mengabaikannya. Dia memang penasaran. Tetapi rasa penasaran bukan alasan untuk bertindak bodoh. --- Sore harinya, kabar dari utara tiba. Edmon telah dipindahkan ke sebuah rumah perawatan di bawah pengawasan dua kesatria Pendragon. Kondisinya masih lemah, tetapi dia sempat sadar selama beberapa menit. Dia tidak ingat bagaimana dirinya dibawa ke Rumah Peristirahatan Veyr. Namun, dia mengingat sesuatu sebelum kehilangan kesadaran. Seseorang telah memberinya perintah untuk menjaga sebuah ruangan di bawah bangunan itu. Bukan menjaga peti. Bukan menjaga dokumen. Melainkan menjaga pintu. Ketika Garrick bertanya apa yang ada di balik pintu tersebut, Edmon hanya menjawab satu kalimat. “Tidak ada ruangan di baliknya.” Jawaban itu membuat Garrick mengira pria tersebut masih belum pulih sepenuhnya. Namun, Edmon bersikeras. Pintu itu benar-benar ada. Dia pernah membukanya sendiri bertahun-tahun lalu. Di baliknya hanya terdapat dinding batu yang padat, tanpa lorong atau ruangan lain. Meski begitu, setiap beberapa bulan, seseorang datang untuk memeriksa pintu tersebut. Dan setiap kali orang itu datang, mereka selalu membawa sebuah kunci. Kunci dengan dua sayap. Ignis membaca laporan itu dua kali. Lalu dia menatap kunci di atas meja. “Jadi, selama ini mereka menjaga pintu yang tidak mengarah ke mana pun.” Caelan menggeleng pelan. “Atau pintu itu mengarah ke sesuatu yang tidak bisa kita lihat.” Ignis tidak langsung menjawab. Dia teringat tulisan di bawah Biara Velmora: DARAH MEMBUKA PINTU. INGATAN MENENTUKAN APA YANG DIBANGUNKAN. Pintu yang tidak memiliki ruangan di baliknya. Kunci yang merespons darahnya. Dan sebuah pesan yang mengatakan bahwa penerima terakhir telah menunggunya sebelum dia dilahirkan. Mungkin semua itu berkaitan. Tetapi dia belum tahu bagaimana. “Garrick,” katanya akhirnya. “Siapkan perjalanan ke Veyr. Kita akan berangkat setelah Edmon cukup kuat untuk memberikan kesaksian lengkap.” “Dan kuncinya?” Ignis menatap benda itu. “Kita akan membawa tiruan seperti rencana awal. Kunci asli tetap di sini.” Alistair yang sejak tadi berdiri di dekat jendela mengangguk. “Kali ini, jangan mengambil risiko yang tidak perlu.” Ignis tersenyum tipis. “Aku akan berusaha.” Garrick mendengus. “Itu bukan jawaban yang menenangkan.” “Kalau begitu, anggap saja itu janji yang masih dalam proses.” --- Malam datang lebih cepat daripada yang Ignis harapkan. Setelah makan malam, dia kembali ke kamar dengan ditemani Mira. Penjaga telah diganti, seluruh jendela diperiksa, dan ruangan disapu ulang untuk memastikan tidak ada benda asing yang tertinggal. Kunci dua sayap disimpan di ruang pengamanan keluarga. Cincin milik kakeknya kembali berada di kotak kayu. Tidak ada alasan bagi sesuatu untuk muncul lagi. Ignis duduk di ranjang dan memandangi tangannya. “Apa kau akan menjawab jika aku bertanya?” bisiknya. Tidak ada suara. Dia mencoba sekali lagi. “Apakah kau tahu siapa penerima terakhir itu?” Hening. Ignis mendengus pelan. “Setidaknya konsistenlah dalam ketidakbergunaanmu.” Dia berbaring dan menutup mata. Beberapa saat kemudian, kesadarannya mulai tenggelam. Namun, kali ini, alam kutukan tidak langsung menyambutnya dengan kegelapan. Dia berdiri di sebuah lorong batu yang panjang. Di sepanjang dinding terdapat sembilan pintu hitam. Masing-masing memiliki lambang yang berbeda, tetapi semua pintu dililit rantai. Di ujung lorong berdiri sebuah pintu berwarna perak. Dua sayap terukir di permukaannya. Ignis melangkah mendekat. Setiap langkah membuat suara rantai bergema di belakangnya. Ketika dia berhenti di depan pintu itu, sebuah suara terdengar dari baliknya. Bukan suara yang selama ini memperingatkannya. Suara ini lebih tenang. Lebih dekat. Seolah-olah pemiliknya berdiri tepat di sisi lain pintu. “Pewaris Pendragon.” Ignis menahan napas. “Siapa kau?” Sebuah bunyi terdengar dari balik pintu. Klik. Seperti kunci yang diputar. “Aku adalah orang yang seharusnya menerima kedatanganmu.” “Kalau begitu, buka pintunya.” Hening beberapa detik. Lalu suara itu menjawab. “Belum.” Ignis mengepalkan tangan. “Kenapa?” “Karena kau masih membawa terlalu banyak ingatan yang bukan milikmu.” Jantung Ignis berdetak keras. Sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, pintu perak itu bergetar. Sembilan rantai di sepanjang lorong menegang secara bersamaan. Dari balik pintu terdengar suara lain, lebih berat dan penuh kebencian. “JANGAN BIARKAN DIA MEMBUKA PINTU ITU!” Lorong berguncang. Salah satu pintu hitam retak. Ignis terbangun dengan napas tersengal. Kamar masih gelap. Kedua penjaga masih berada di luar. Tidak ada simbol di jendela, tidak ada kunci di meja, dan tidak ada tanda seseorang memasuki ruangan. Namun, telapak tangan kirinya terasa panas. Ignis menyalakan lampu kecil. Di kulitnya, sebuah garis perak telah muncul. Garis itu membentuk lengkungan menyerupai salah satu sayap pada lambang kuno. Dan untuk pertama kalinya sejak dia kembali ke usia delapan tahun, garis tersebut tidak segera menghilang. Bersambung. Teaser Bab 37 — Ingatan yang Bukan Miliknya Garis perak di telapak tangan Ignis bertahan setelah dia terbangun. Sementara itu, Edmon mulai mengingat siapa yang pernah membawanya ke pintu misterius di Veyr. Satu nama muncul dari ingatannya—nama seseorang yang menurut catatan resmi telah meninggal jauh sebelum Ignis dilahirkan.

End of Chapter 36